6/18/2019

Bahasa Melayu Dalam Pembentukan Nasionalisme Bangsa Indonesia


Apero Fublic.- Bahasa Melayu adalah bahasa pidgin di Asia Tenggara. Bahasa pidgin bentuk bahasa kontak yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Karena pusat peradaban pertama Nusantara terletak di Palembang yang merupakan wilayah penutur bahasa Melayu, maka bahasa pidgin Nusantara berbentuk bahasa Melayu.

Sebuah negara akan lahir setelah terjadinya suatu peristiwa revolusi. Di mana bangsa-bangsa di suatu wilayah akan bersatu membentuk sebuah negara dengan kesamaan derajat dan kedudukan. Peristiwa ini disebut suatu gerakan nasionalisme yang menyatukan semua kalangan masyarakatnya.

Peristiwa nasionalisme adalah tanda zaman baru yang meruntuhkan sifat feodalisme dan monarki di dunia. Menjatuhkan dominasi keagamaan dalam panggung politik dan sosial budaya. Dalam nasionalisme ada sesuatu yang menjadi dasar atau roh dari pergerakan nasionalisme itu, sehingga semua suku bangsa merasa satu dalam kesatuan. Bangsa Arab bersatu pada masa Rasulullah saw. adalah berkat Islam.

Nasionalisme, 1. Paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; paham kebangsaan. 2.  Suatu gerakan ideologis yang secara potensial dan aktual bersamaan mencapai, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa sendiri; semangat kebangsaan.[1] Indonesia: nama negara kepulauan di Asia Tenggara yang terletak diantara benua Asia dan benua Australia.[2] Para antropolog mengenalnya sebagai “Kepulauan Melayu”. Sejarah mencatatnya sebagai “Kepulauan Rempah-rempah”. Adalah suatu kepulauan yang cemerlang teruntai menyatu dihamparan samudera  yang bening biru.[3]

Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat. Dari data penelitian sejarah, kita tahu bahwa pada abad ke-6 M kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah menggunakan Bahasa Melayu sebagai sarana perhubungan antar penduduk dan sebagai bahasa resmi negara. Beberapa prasasti yang berbahasa Melayu kuno, seperti prasasti Kedukan Bukit (683 M), Prasasti Talang Tuwo (684 M), Prasasti Kota Kapur (686 M), dan Prasasti Karang Brahi (688 M).

Menurut catatan para petualang Cina yang pernah singgah di Sriwijaya, bahasa Melayu (istilah mereka K’un-lun) telah digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pemerintahan, pengajaran agama, dan untuk perhubungan sehari-hari. Prasasti Gandasuli di sekitar Keduh, Jawa Tengah membuktikan bahwa bahasa Melayu telah berhasil “Keluar” wilayahnya sendiri dan meluas sampai kepulauan Jawa.

Prasasti itu berangka tahun 832 M. Berdasarkan bukti-bukti tertulislah kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa bahasa Melayu Kuno telah dipakai sebagai bahasa pergaulan antarsuku di wilayah Indonesia. Bahasa juga mengindikasikan sebuah kekuasaan yang berkuasa. Sebab setiap bangsa yang berkuasa akan memberikan pengaruh budaya terutama bahasa.

Dalam abad ke-15 Bahasa Melayu berkembang pesat berkat usaha sultan Malaka. Pada waktu itu Malaka adalah pusat perdagangan antar bangsa. Pada masa pemerintahan Sultan Melaka, bahasa Melayu berkembang lebih pesat dengan ditandai oleh dipakainya ejaan Jawi atau ejaan Arab-Melayu. Pujangga Abdullah bin Abdulkadir Almunsyi muncul sebagai pembaharu kesusastraan Melayu.

Kehadiran Abdullah pada awal abad ke-19 itu telah mengilhami pembaharuan-pembaharuan lainnya. Sampai pada awal abad ke-20, bahasa Melayu telah dipakai secara amat luas di Nusantara ini. Pada tahun 1901 Ch. Van Ophuijsen menyusun Kitab Logat Melayu, berisi aturan ejaan resmi yang berlaku di Indonesia. Ejaan itu berlaku sampai tahun 1947, sedangkan bahasa Melayu telah diajarkan kepada para murid sekolah-sekolah pribumi.

Dengan didirikannya sebuah komisi yang bernama Commissie voor de Inlandsche School en Volklectuur atau komisi untuk Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat oleh Belanda pada tahun 1908, penggunaan Bahasa Melayu lebih diperluas. Komisi ini pada tahun 1917 diubah namanya menjadi Balai Poestaka. Badan milik negara ini bertugas menerbitkan cerita-cerita dan terjemahan sastra 1921 menerbitkan cerita-cerita asli karangan Merah Siregar “Azab dan Sengsara”, kemudian disusul karangan Merah Rusli “Siti Nurbaya” tahun 1922.

Beberapa surat kabar yang muncul pada awal perkembangan bahasa Melayu yaitu Bianglala, Bintang Timur, Suara Umum, dan masi banyak lainnya. Beberapa surat kabar itu berperan besar dalam menyebarluaskan bahasa Melayu kepada khalayaknya. Kemudian bahasa Melayu dirubah menjadi bahasa Indonesia pada peristiwa Sumpa Pemuda tahun 1928.

Bapak Soewandi yang menjabat sebagai menteri PP dan K, pada tahun 1947 menetapkan berlakunya Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Aturan ejaan itu berlaku sejak tanggal 19 Maret 1947. Untuk lebih menetapkan Bahasa Indonesia, pemerintah pada tanggal 16 Agustus 1972 menetapkan berlakunya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Penyempurnaan meliputi penetapan pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan penggunaan tanda baca. Pada tanggal 1 Februari 1975, pemerintahan mendirikan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk menampung pendapat para cendekiawan, agar bahasa Indonesia makin modern sejalan dengan perkembangan zaman.

Sesuatu yang tumbuh, harus melalui tahap-tahap perkembangan. Hukum alam sudah mengatur semua itu, tidak mungkin sesuatu yang besar tidak berawal dari kecil serta melewati proses-proses pembentukan. Sehingga kejadian-kejadian yang terjadi hari ini tentulah ada hubungannya dengan kejadian-kejadian masa-masa lampau.

Nasionalisme Dunia.
Gelombang nasionalisme menyapu daratan Eropa yang bermula dari Inggris, Prancis, Jerman dan memasuki Turki Ottoman. Gerakan nasionalisme ini adalah bentuk berakhirnya dunia monarki absolut dan kekuasaan institusi keagamaan di dunia. Nasionlisme adalah tanda zaman baru dan demokrasi.

Nasionalisme setiap bangsa berbeda-beda sebabnya, setiap bangsa memiliki alasan-alasan tertentu dalam nasionalisme bangsanya. Sehingga nasionalisme mempunyai corak masing-masing dalam membangun negara dan politiknya tanpa terkait dengan paham suatu bangsa tertentu. Nasionalisme di Amerika Serikat berbeda dengan nasionalisme di Prancis, begitu pun nasionalisme di Jepang masa Restorasi Meiji berbeda dengan kejadian nasionalisme di India dan Korea.

Nasionalisme bukan Paham yang dimiliki sebuah bangsa, tetapi nasionalisme adalah kemauan bersatunya sebuah masyarakat di Suatu tempat untuk membentuk negara mereka sendiri dan dipimpin oleh mereka sendiri yang bebas dari penjajahan, feodalisme, etnis, dan agama.

Mereka ingin membentuk sebuah negara dan pemerintahan yang membuat semua masyarakatnya merdeka dari apa pun dan memberikan kebebasan dalam berpendapat, tanpa harus takut di doktrinasi oleh sesuatu. Dalam hal ini, semua individu tidak terdiskriminasi walau berlainan suku dan agama. Sehingga mereka mempunyai kedudukan yang sama antara satu sama lain.

Nasionalisme adalah suatu paham, yang berpendapat, bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara-kebangsaan. Perasaan sangat mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya.[4] Meski pun nasionalisme adalah gejala zaman modern, namun beberapa watak-watak nasionalisme sudah lama berkembang dalam zaman-zaman lampau.[5]

Akan tetapi baru pada akhir abad kedelapan-belas Masehi nasionalisme dalam arti kata modern menjadi suatu perasaan yang diakui secara umum. Dan nasionalisme ini makin lama makin kuat peranannya membentuk semua segi kehidupan, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat pribadi.[6]

Bangsa-bangsa adalah buah hasil tenaga hidup dalam sejarah, dan karena itu selalu bergelombang dan tak pernah membeku. Bangsa-bangsa merupakan golongan-golongan yang beraneka ragam dan tak terumuskan secara eksak. Kebanyakan bangsa-bangsa itu memiliki faktor-faktor objektif tertentu yang membuat mereka itu berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Misalnya persamaan turunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat-istiadat dan tradisi, atau persamaan agama.[7]

Akan tetapi teranglah bahwa tiada satu pun di antara faktor-faktor ini bersifat hakiki untuk menentukan ada-tidaknya atau untuk merumuskan bangsa itu. Maka rakyat Amerika Serikat tidak masyaratkan bahwa mereka harus seketurunan atau merupakan suatu bangsa, dan rakyat Swis menggunakan tiga atau empat bahasa, namun merupakan bangsa yang tegas pembatasan kebangsaannya. Meski pun faktor-faktor objektif itu penting, tetapi unsur terpenting ialah kemauan bersama yang hidup nyata.

Kemauan inilah yang kita namakan nasionalisme, yakni suatu paham yang memberi ilham kepada sebagian terbesar penduduk dan yang mewajibkan dirinya untuk mengilhami segenap anggota-anggotanya.[8] Nasionalisme menyatakan bahwa negara kebangsaan adalah cita dan satu-satunya bentuk syah dari organisasi politik dan bahwa bangsa adalah sumber daripada semua tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan ekonomi.[9]

Bagi Rousseau tak lagi aristokrasi karena keturunan atau aristokrasi karena otak yang menjadi pusat bangsa, yang memberinya kekuatan dan arah, akan tetapi rakyat itu sendirilah yang menjadi pusat bangsa. Ikut serta rakyat secara giat dan nyata sebagai warga negara yang sama derajatnya, yang dipersatukan oleh rasa persaudaraan dan kesetiaan terhadap satu sama lainnya, bagi Rosseu merupakan asas moral dan rasional satu-satunya bagi negara.[10]

Nasionalisme Revolusi Prancis menegaskan bahwa kewajiban dan kemuliaan warganegara terletak dalam kegiatan politiknya dan pemenuhan kewajiban-kewajibannya dalam persatuan sepenuhnya dengan negara-kebangsaannya.[11] Di Prancis yang menjadi penggerak nasionalisme adalah penentangan feodalisme dan gereja.

Di mana-mana di Prancis didirikan altar tanah air dengan inskripsi: “Warganegara dilahirkan, hidup dan mati untuk tanah air.” Di depan altar tersebut rakyat berkumpul, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, mengucapkan sumpah untuk menjunjung tinggi persatuan nasional dan mentaati serta melindungi pembuat undang-undang tertinggi, yakni rakyat yang berdaulat.[12]

Dan sementara itu pun Arndt mengemukakan pentingnya bahasa sebagai faktor untuk menyusun suatu bangsa; semua rakyat-rakyat yang menggunakan bahasa Jerman harus dipersatukan dalam satu tanah air. Arndt adalah salah seorang penganjur pemberontakan bangsa Jerman terhadap bangsa Perancis.[13]

Gerakan Islam khususnya telah berhasil untuk pertama kali dalam sejarah mempersatukan bangsa Arab. Maka, dalam sejarah, gerakan nasionalisme Arab berhutang budi kepada Islam.[14]

Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Indonesia.
Sebagai sarana perjuangan dan pembangunan bangsa dan negara kita yang didasarkan atas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, bahasa Indonesia memperlihatkan suatu struktur sosial yang bercorak kekeluargaan. Menurut ketentuan di dalam batang-tubuh maupun penjelasan Undang-Undang Dasar 1945, dapat kita menyimpulkan, bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 berdasar atas asas kekeluargaan.

Karena itulah amat menarik, bahwa menurut kenyataan struktur sosial bahasa Indonesia bercorak kekeluargaan. Sebagai peristiwa sejarah, pencetus Sumpah Pemuda itu tentulah tidak merupakan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan lanjutan peristiwa-peristiwa sejarah sebelumnya, terutama perjuangan nasional sejak tahun 1908 dengan terbentuknya Budi Utomo.

Dia berkaitan dengan keputusan politik tahun 1918 yang menetapkan bahwa bahasa Indonesia (pada waktu itu disebut bahasa Melayu) dapat digunakan sebagai bahasa kerja Dewan Rakyat (Volksraad). Selanjutnya, berhubungan erat dengan peristiwa-peristiwa nasional sesudah tahun 1928.

Keputusan politik tahun 1928 itu diperkuat lagi dengan keputusan politik tahun 1954. Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa “bahasa negara ialah bahasa Indonesia.” Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berpungsi sebagai sarana identitas nasional kita, sarana pemersatu kita sebagai bangsa, dan sarana perhubungan antardaerah dan antar budaya. Sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berfungsi sebagai bahasa pemerintahan, bahasa pengantar pendidikan, bahasa pengantar media massa, dan sarana pendukung pengembangan ilmu dan teknologi.

Bahasa Indonesia tumbuh dari bahasa Melayu dan berkembang sesuai dengan kebahasaan, yaitu keadaan yang multilingual, di Indonesia. Unsur serapan, baik unsur serapan dari berbagai bahasa daerah maupun unsur serapan dari bahasa asing.

Yang ada di dalam bahasa Indonesia sekarang merupakan ciri khas yang membedakannya dari bahasa asalnya, yaitu bahasa Melayu. Namun, ciri dasar bahasa asalnya itu tetap menonjol di dalam bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang. Selain di Indonesia, dengan nama bahasa Indonesia, bahasa Melayu telah berkembang juga sebagai bahasa nasional dengan nama bahasa Malaysia di Malaysia. Bahasa Melayu juga digunakan di Singapura dan Brunei.

Salah satu ciri kemelayuan yang tidak dapat dihilangkan adalah morfologi bunyi, sebutan dan bentuk yang didengar. Kosa kata bahasa apapun yang di masukkan kedalam bahasa Indonesia tidak dapat merubah kemelayuannya.

Salah satu masalah kebahasaan yang perumusan dan dasar penggarapannya perlu di cakup oleh kebijaksanaan nasional di dalam bidang kebahasaan adalah fungsi dan kedudukan Bahasa Indonesia. Secara historis, kedudukan bahasa Indonesia (BI) sebenarnya telah di perkokoh oleh dua macam faktor.

Yaitu (1). faktor aspirasi nasional dan (2). faktor konstitusional. Aspirasi nasional, yang perwujudannya berupa Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), telah mengakui dan mengangkat Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Secara konstitusional Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa negara. Penetapan ini tertuang dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36.

Dalam kedudukan sebagai bahasa negara, BI mempunyai empat fungsi, yaitu sebagai: (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial-budaya bahasanya, dan (4) alat perhubungan antar budaya dan antar daerah.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, BI mempunyai empat fungsi pula, yaitu sebagai: (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan. (3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan (4).bahasa resmi di dalam pembangunan kebudayaan dan pemamfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Di negara kita terdapat lebih kurang 400 (700 data terbaru) macam bahasa daerah, tetapi tidak ada persaingan diantara bahasa daerah yang satu dengan yang lain.[15] Beberapa bahasa yang mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia yaitu: Bahasa Sanskerta, Arab, Jawa Kuno, Portugis, Belanda, Tionghoa, Inggris, Tamil, Parsi, dan bahasa-bahasa daerah nusantara.

Bahasa Sanskerta masuk ke Indonesia bersama orang-orang India, yang berdagang ke Indonesia sambil menyebarkan ajaran agama Hindu. Mereka sangat lama tinggal di Indonesia asli. Pengaruh itu meliputi bidang bahasa, kepercayaan, tata kenegaraan, dan kesenian.

Bahasa Jawa Kuno, yaitu bahasa yang dipakai oleh penduduk Jawa tahun 750 M- 850 M. Setelah dilacak lebih lanjut ternyata berasal dari Bahasa Sanskerta. Bahasa Portugis masuk ke Indonesia bersamaan bangsa Portugis yang berdagang ke Indonesia. Sehubungan dengan itu, kosakata yang masuk dan terserap oleh Bahasa Indonesia pun kebanyakan dalam lingkungan perdagangan tersebut.

Bangsa Belanda mempengaruhi kebudayaan di Indonesia lebih kurang selama 350 tahun. Kosakata Bahasa Belanda yang terserap pun amat banyak, sehingga tidak disadari oleh pemakainya bahwa kata itu semula dari bahasa Belanda. Bahasa Tionghoa masuk ke Indonesia bersama-sama dengan orang-orang Cina perantauan yang berdagang ke wilayah Nusantara Ini.

Sehingga kosakata yang terserap pun kebanyakan berkaitan dengan dunia perdagangan, misalnya alat-alat perdagangan, Istilah judi, barang-barang perdagangan, dan lain sebagainya. Bahasa Tamil dibawa oleh para pedagang dari India. Kosakata yang terserap kebanyakan berkaitan dengan perdagangan. Bahasa Parsi hampir sama dengan Bahasa Arab, ada sebuah sumber yang menyebutkan bahwa kosakata Parsi sebagian besar dari kosa kata bahasa Arab, jumlahnya mencapai 60 persen.

Bahasa Indonesia termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia atau Melayu-Polinesia. Penyebutan Austronesia diucapkan oleh Schmidt melalui bukunya “Die Mon-Khmer Volker ein Bindeglied Swischen Volkern Zentralasiens und Austrinesiens”. Karya itu diterbitkan di Braunscheveig pada tahun 1906.

Wilayah rumpun bahasa Austronesia terbentang dari barat ke timur (Madagaskar ke pulau pasca), dan dari utara ke selatan (dari Formosa ke Selandia Baru). Kekerabatan bahasa-bahasa Austronesia ditandai dengan kesamaan atau kemiripan dalam bidang kosakata, tata bahasa, dan tata bunyi. Bahasa Indonesia kelanjutan dari Bahasa Melayu, kemudian berkembang dan mendapat pengaruh dari bahasa-bahasa asing serta bahasa-bahasa daerah.

Adanya bahasa Melayu yang sudah mempersatukan masyarakat Nusantara telah menjadi cikal bakal Indonesia di masa depan. Bahasa yang hadir secara ajaib menjadi penyatu yang kuat. Bahasa Melayu sebuah anugerah untuk bangsa Indonesia yang terpencar dan beratus-ratus bahasa.

Tidak ada yang merasa kalah atau terkalahkan menggunakan bahasa Indonesia. Sebab memang sebuah bahasa yang telah diwarisi oleh nenek moyang bangsa Indonesia beribu-ribu tahun lalu. Kalau kita berkaca pada India yang menggunakan bahasa Nasionalnya bahasa Inggris tentu kita sangat bersyukur memiliki bahasa kita sendiri.

Nasionalisme dalam konsep Islam:
Dan di antara tanda-tanda (Kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum: 22)
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujarat: 13)
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesunggunya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa ingkar kepada ‘agut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)
Sungguh, Allah menyurumu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabilah kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” Qs. An-Nisa: 58
Untumu agamamu, dan untukku agamaku.”  (Al-Kafirun: 6)

Dalam nasionalisme bangsa Arab, dikabarkan dalam Al-quran:
Dan berpegangtegulah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehinggah dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Qs. Ali ‘Imran: 103)

Menyeru persatuan:
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisi setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. ( Ali ‘Imran: 105).

Agama Islam sangat mendukung persatuan dan kesatuan dalam berbangsa. Semoga bangsa Indonesia tetap bersatu sampai akhir zaman dunia ini. Hendaklah saudara-saudara di Aceh tetap bersatu ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penggunaan bahasa Melayu yang dijadikan dasar membentuk bahasa persatuan Indonesia adalah oleh karena faktor sejarah. Dimana bahasa melayu sudah digunakan sebagai bahasa pengantar sejak zaman permulaan abad Masehi. Yang kemudian dikembangkan oleh kerajaan Sriwijaya. Sekarang bahasa Melayu atau bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa dunia.

Bahasa Melayu atau bahasa Indonesia menjadi bahasa penutur terbanyak keempat di dunia setelah Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Mandarin. Bahasa Melayu juga menjadi bahasa penyebaran agama, dimulai dari agama Buddha, agama Hindu, Agama Islam, dan terakhir penyebaran agama Kristen.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 18 Juni 2019.

Daftar Bacaan:
[1] Tim Pustaka Phoenix, Daniel Haryono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:  Media Pustaka Phoenix, 2009), h. 591.
[2] Ibid., hal. 35
[3] Widjiono Wasis (ed), Ensiklopedia Nusantar. (Jakarta: Dian Rakyat, 1991), h. 12
[4] Hans Kohn, Nasionalisme Arti Dan Sejarahnya, (Jakarta: Pustaka Sarjana, 1976), h. 11.
[5] Ibid., h. 14.
[6] Ibid., h. 11.
[7] Ibid., h. 11-12.
[8] Ibid., h. 12.
[9] Ibid., h. 12.
[10] Ibid., h. 29.
[11] Ibid., h. 31.
[12] Ibid., hal. 34
[13] Ibid., hal. 49
[14] Hazem Zaki Nuseibeh, Gagasan-Gagasan Nasionalisme Arab, (Djakarta: Bhratara, 1969), h. 18.
[15] Sulaiman Saleh. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Bahasaku Ciri Bangsaku. 1981). H. 1-2.
[16] Mohammad Ngajenan. Kamus Etimologi Bahasa Indonesia. (Semarang: Dahara Prize, 1992), hal. 82.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment