Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

8/05/2020

Nongkrong: Puncak Meranti Bayur.

Apero Fublic.- OKU Selatan. Kabar wisata kali ini berasal dari sebuah kecamtan di Ogan Komering Ulu Selatan. Tepatnya di Kecamatan Muaradua Kisam, OKU Selatan, Sumatera Selatan. Kebutuhan rekreasi adalah kebutuhan pokok pada psikologis keseharian manusia. Pada masa damai tempat rekreasi masuk dalam daftar kebutuhan pokok masyarakat tak benda.

Salah satu tempat destinasi wisata lokal di Kecamatan Muaradua Kisam, OKU Selatan adalah di Puncak Meranti Bayur, Desa Sugihan. Disini menjadi tempat tongkrongan anak-anak muda di sore hari atau dihari-hari libur.

View perbukitan yang menghijau dengan lekuk-lekuk bukit menjadikan Puncak Meranti Bayur sangat menawan. Dengan memandang alam dan perbukitan akan menjadi pelipur lara bagi hati yang sedang kosong dan akan bahagia bagi jiwa yang ceriah.

Puncak Meranti Bayur selalu dikunjungi anak-anak muda sekitar. Menjadi tempat tongkrongan menghabiskan waktu senggang. Membawa buku dan minuman ringan, ditemani angin sore. Tentu menjadi hal yang menyenangkan di sini.


Seandainya kamu seorang fotografer atau pelukis akan baik untuk berinspirasi. Untuk kamu yang ingin melangsungkan pernikahan. Dapat memulai foto praweding di Puncak Merati Bayur. Itulah sedikit inspirasi untuk kita semua dalam mengembangkan destinasi wisata lokal kita.

Semoga anak-anak muda di Kecamatan Muaradua Kisam dapat menjalin kekompakan bersama dalam membangun destinasi wisata lokal. Namun dalam pengembangan wisata di daerah kita. Ada lima faktor yang harus kita jaga bersama.

Pertama, kebersihan lingkungan alam tempat wisata. Jangan membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Kedua, menjaga norma susilah adat dan budaya kita sebagai orang Melayu-Islam.

Seperti, jangan berdua-dua dengan yang bukan mahram dan berbuat tidak sesuai dengan ajaran agama dan adat istiadat kita. Ketiga, melakukan kunjungan berkalah bersama-sama serta mempromosikan ke media massa atau media sosila kita masing-masing agar diketahui masyarakat luas.

Keempat, kita membangun fasilitas yang diperlukan untuk menunjang kondisi destinasi wisata. Kelima, jangan berbuat yang tidak pantas seperti memakai Narkoba atau minum-minuman keras di sekitar tempat wisata kita. Sekian, semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk kita semua.

Oleh. Zulkipli Adi Putra. S.Hum.
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto: Dadang Saputra.
OKU Selatan. 6 Agustus 2020.


Sy. Apero Fublic.

OKU Selatan: Jembatan Sungai Lubuk Suban Semakin Memprihatinkan.

Apero Fublic.- OKU Selatan. Kabar memiluhkan untuk masyarakat Kecamatan Muaradua Kisam. Dimana jembatan penghubung di Sungai Lubuk Suban bertambah rusak parah. Entah sampai kapan keadaan jembatan tersebut akan terus memprihatikan demikian. Setiap mobil yang melintas harus ekstra berhati-hati dan terhambat di tengah jembatan yang hancur.

Untuk para penduduk yang menggunakan sepeda motor tidak begitu sulit. Mereka meletakkan sekeping papan seperti jembatan di kebun atau di atas gunung. Lalu mereka mengendarai sepeda motornya di atas sekeping papan tersebut.

Tidak mengapa, sebab sebentar lagi merayakan HUT RI Ke 75. Hitung-hitung latihan untuk perlombaan perayaan 17-an. Bagi masyarakat yang belum mahir seperti pembalap formula 2000. Maka orang yang di bonceng diminta turun untuk mengurangi beban.

Penduduk tampak enjoy saja dengan keadaan tersebut. Karena sudah terbiasa dan memang tidak perlu diributkan. Sebab orang kecil hanya berharga saat kampanye saja. Negara sudah merdeka 75 tahun lamanya. Merdeka penduduk di kota-kota dimana fasilitas lengkap. Seandainya rusak langsung diperbaiki.

Tapi kemerdekaan itu sebab tidak ada lagi penjajah asing. Kalau kita membaca berita dimana Pemerintah Cina mengirim misi ke planet Mars. Tentu sangat iri sekali, apabila kita melihat jembatan Sungai Lubuk Suban. Jangankan ke Planet Mars ke Kota Kabupaten saja kita sulit.
Sekarang zaman covid 19, uang rakyat atau diistilahkan uang negara habis untuk penangganan covid 19. Tapi bukan sebuah masalah, sebab hanyalah sebuah opini dan kabar berita saja. Mengabarkan pada rakyat dan dunia bahwa jembatan Sungai Lubuk Suban, di Kecamatan Muaradua Kisam, Kabupaten OKU Selatan sangat memprihatinkan. Dihimbau untuk semua pengguna jalan setempat agar berhati-hati dan mengurangi beban kendaraan saat akan melintasi jembatan (6/8/2020).

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
OKU Selatan. 8 Agustus 2020.

Sy. Apero Fublic.

Kaba: Sastra Klasik Melayu Minangkabau.

Apero Fublic.- Indonesia yang sangat kaya dengan ragam kebudayaan, memiliki berbagai macam jenis karya sastra di tengah masyarakat masa lalu. Seiring waktu, karya klasik mulai terlupakan dan kala oleh karya sastra modern, seperti film dan cerpen dan lainnya.

Salah satu karya sastra klasik nusantara Indonesia yaitu, Kaba. Apabila dipersamakan dengan kesastraan zaman sekarang, kaba sama dengan novelet atau novel pendek. Tapi bersifat kisah fiksi atau sama dengan dongeng. Yang berfungsi sebagai hiburan, nasihat, dan kreatifitas jiwa seni pengarang.

Kaba jenis karya sastra klasik Melayu di kawasan Minangkabau. Kaba termasuk dalam jenis karya sastra prosa masyarakat Melayu di Minangkabau. Kesastraan Kaba, hampir sama dengan cerita sistem pantun dalam satra Melayu Sunda dalam pembahasanya. Misalnya dalam penyampaiannya dengan bahasa yang berirama atau prosa liris.

Kesastraan kaba juga dapat disamakan dengan Hikayat dalam kesastraan Melayu lainnya. Dimana cerita yang berisi hayalan, hal-hal ajaib, dan rekaan semata. Satra kaba adalah kesastraan masyarakat yang menonjol pada masyarakat Melayu Minangkabau.

Diantara kaba yang terkenal yaitu, Kaba Cindua Mato, Kaba nan Tongga Magek Jabang, Kaba Umbuik Mudo dengan Putri Galang Banyak, Kaba Malin Deman, Kaba Untuang Sudah, Kaba Magek Manandin, Kaba si Ali Amat, dan Kaba Mamak si Hetong.

Kaba biasanya disampaikan secara lisan, didendangkan atau dialagukan sesuai dengan nada dan irama dalam kalimat. Kaba sudah sejak lama ditulis dengan aksara Arab Melayu. Pada masa masuknya pengaruh Eropa kaba juga mulai ditulis dengan aksara latin.

Bahasa yang digunakan tentu bahasa Melayu Minangkabau. Dalam penulisan sastra kaba, kalimat disusun berderet ke bawah. Kalimatnya pendek, padat, dan berirama. Dalam bait-bait kalimat berirama yang menyambung-nyambung. Biasanya terdiri dari delapan sampai duabelas baris. Tapi, aturan baris tidak mengikat. Itulah mengapa kaba digolongkan pada prosa rilis.

Kesastraan kaba kemungkinan sudah ada jauh sebelum masa moderen. Karena banyak unsur Hindhu dalam setiap cerita kaba. Dengan demikian kaba sudah ada sejak masuknya pengaruh kebudayaan India di Indonesai pada abad ke 5 masehi. Dapat juga sebelum masa itu, kesastraan kaba sudah ada.

Mengingat sistem kesastraan pantun adalah kebudayaan asli Indonesia. Kaba masih terikat dengan sistematis pantun. Pantun, bentuk kesastraan pertama Bangsa Indonesia. Berikut ini, cuplikan dari kaba, kesastraan Melayu Minangkabau klasik.

KABA: MAMAK SI HETONG.

Tatkalo mula-mulanya.
Alum basuri Kurai Taji.
Alun batiku Pariaman.
Alun basintuang Lubuak Aluang.
Bumi ka tarhantam turun.
Langik ka tasintak naiak.
Laut salaweh daun marunggi.
Dunia salawe tapak kudo.
Buruang batolan-tolanan.
Dagang babondong-bondongan.
        Ado sapakaro.
Duo dalam Ulak Tanjuang Bungo.
Di nagari Camin Taruih.
Di itiak Muaro Itan.
Di ranah Payuang Sakaki.
Di anak nan kecil-kecil.
Di lagundi nan linggayuran.
Di karambia atua Tungku.
Di pinang nan lamah-lamah.
Di cubadak gadang tinggi.
Di lakat kanji satampuak.
Kok tinggi duo jo randah.
Kok hino duo jo mulia.
Kok elok duo jo buruak.
Kok kayo duo jo sukar.
        Sialah urang non kayo.
Iolah Datuak Bendaharo........

Terjemahan ke Bahasa Indonesia.
Tatkala mula-mulanya.
Belum bersuri Kurai Taji.
Belum bertiku Pariaman.
Belum basintuang Lubuak Aluang.
Bumi akan terhantam turun.
Langit akan tersentak naik.
Laut seluas duan merunggi.
Dua seluas tapak kuda.
Burung bertolan-tolanan.
Dagang berbondong-bondongan.
        Ada suatu perkara.
Dua dalam Ulak Tanjuang Bungo.
Di Negeri Cermin Taruih.
Di itiak Muara Itan.
Di ranah Payuang Sakiki.
Di anak yang kecil-kecil.
Di Lagundi nan linggayuran.
Di Kelapa atau tungku.
Di pinang yang lemah-lemah.
Di nangka besar tinggi.
Dilekat kanji setampuk.
Kalau tinggi dua dengan rendah.
Kalau hina dua dengan mulia.
Kalau elok dua dengan buruk.
Kalau kaya dua dengan miskin.
        Siapakah orang yang kaya.
Ialah Datuk Bendaharo.............

Cuplikan cukup untuk menggambarkan bagaimana kesastraan klasik Melayu Minangkabau, kaba. Tentu tidak jauh berbeda dengan jenis-jenis kesastraan Melayu klasik nusantara lainnya. Mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang satu sejak zaman awal munculnya manusia di Asia Tenggara.

Tidak heran kalau memiliki kesastraan yang sama juga. Buku dokumentasi kesastraan Kaba Mamak si Hetong diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta pada tahun 1990. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut dapat mencari buku di perpustakaan-perpustakaan milik pemerintah.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 6 Agustus 2020.
Sumber: Edwar Djamaris. Terjemahan Kaba Mamak si Hetong. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990.

Sy. Apero Fublic.

8/04/2020

Sastra Klasik Nusantara: Geguritan Pakang Raras.

Apero Fublic.- Naskah Panji dalam Sastra Klasik di Bali ditulis dengan bentuk geguritan, yaitu Geguritan Pakang Raras. Naskah Geguritan Pakang Raras terdapat di Gedong Kirtya Singaraja, di sini tersimpan banyak sastra klasik Bali dalam bentuk, kidung, geguritan, dan satua.

Geguritan adalah sastra berbentuk lirik terikat (tembang). Apabila sastra tersebut berbentuk prosa maka diistilahkan dengan, satua. Satua adalah jenis cerita dongeng dalam masyarakat Bali.

Geguritan terbentuk oleh pupuh. Pupuh adalah istilah sub-sub bab tapi dengan konsisten atau monoton untuk semua jenis geguritan. Geguritan apa pun judul dan tema ceritanya pupuh tetap konsisten.

Misalnya pada Geguritan Pakang Raras ada pupuh pangkur, pupuh ginada di karya sastra lain juga menggunakan pupuh tersebut. Kalau sastra modern sub-sub bab akan menampilkan judul berbeda sesuai pembahasan. Pupuh diikat oleh tiga unsur, pertama unsur jumlah baris (carik), kedua jumlah suku kata (kecap), dan ketiga bunyi akhir setiap baris.

Geguritan Pakang Raras bercerita tentang kisa cinta putra mahkota Kerajaan Jenggala di Bali, bernama Raden Mantri Koripan, dengan Raden Galu Daha di Kerajaan Kerajaan Kediri. Kedua kerajaan yang berseberangan di selat Bali.

Kisah bermulah saat Raden Mantri Koripan pergi berburu. Kemudian datang angin topan yang besar. Lalu Raden Mantri Koripan pingsan dan tubuhnya melayang dibawa angin lalu jatuh di taman Putri Raden Galuh Daha. Raden Mantri Koripan tidak mengakui kalau dia seorang putra raja Jenggala. Namanya, dia ganti menjadi Pakang Raras.

Dari sinilah judul naskah diambil, Geguritan Pakang Raras. Cerita geguritan Pakang Raras adalah bentuk saduran dari Cerita Panji dari sastra klasik nusantara. Naskah ini, terdiri dari 623 bait pupuh ginada. Berikut cuplikan, Geguritan Pakang Raras.

1.Ada Kidung Satwa Mela.
Tutur Malate kesembir,
Matembang Ginada reka,
Nanging twara pasti mupuh,
Suduke katahan singsal,
“Dewa Gusti,
Aksama tityang manyurat.”

Terjemahan.
Tersebutlah sebuah sajak yang menarik.
Bersumberkan cerita Malat.
Memakai tembang Ginada,
Tetapi tidak sesuai dengan peraturan.
Lebih banyak yang janggal.
“tuan-tuan,
Maafkanlah saya mengarang.”

2.Sang perabu ring Jenggala,
Agunge manyakrawerti,
Mabala ndatan paingan,
Madue putra aukud,
Mapsengan Mantri Koripan,
Anom alit,
Wau ida madwe mendra.

Terjemahan:
Seorang raja di Jenggala,
Pemerintahannya sangat luas,
Rakyatnya tidak terbilang,
Berputra seorang diri,
Bernama Mantri Koripan.
Muda belia.
Baru belia akil balig.

3.Kadi Hyang Smara
Ngindarat,
Rupane twara madenin,
Yening sasoring akasa,
Tong ada ratu mamandung,
Sakadi ring warnanida,
Tuhu lewih,
Baguse ngenyudang manah.

Terjemahan:
Bagaikan Dewa Asmara,
Menjelma,
Wajahnya tidak ada yang menandingi.
Kalau di bawah langit.
Tidak ada raja yang menandingi.
Sebagai wajah beliau.
Sungguh elok.
Tampannya menarik hati.

Cerita Geguritan Pakang Raras cukup populer dan penting pada masyarakat Bali. Bukan hanya karena tersebar luas ditengah masyarakat tetapi juga karena geguritan Pakang Raras memiliki nilai sastra dan budaya.

Geguritan Pakang Raras juga memiliki ungkapan dan kata-kata asli masyarakat Bali. Karena ditulis dimana pengaruh budaya luas belum begitu luas. Naskah yang ditulis pada tahun 1913 Masehi atau 1835 Saka.

Kemungkinan, naskah Geguritan Pakang Raras adalah naskah salinan jauh sebelumnya. Masa penulisan, Pulau Bali belum masuk dalam administrasi Pemerintahan Kolonial Belanda. Sehingga unsur budaya asing belum mempengaruhi bahasa Bali.

Oleh: Tim Apero Fublic
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 5 Agustus 2020.
Sumber: I Gusti Ngurah Bagus. Cerita Panji Dalam Sastra Klasik di Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.

Sy. Apero Fublic.

Mengenal Istilah-Istilah Dalam Kesastraan Bali Klasik

Apero Fublic.- Pada naskah-naskah klasik yang memuat karya sastra lama Bali. Terdapat beberapa istilah yang tidak diketahui oleh masyarakat yang bukan penduduk Bali. Kesastraan klasik Bali hampir sama dengan keastraan klasik Jawa. Berikut ini sedikit informasi tentang pengetahuan mengenai kesastraan kalsik masyarakat di Pulau Bali.

Geguritan adalah jenis karya sastra yang berbentuk tembang terikat. Tembang pembentuk geguritan memiliki tiga unsur. Pertama, jumlah baris dalam tiap bait. Kedua jumlah suku kata dalam tiap baris. Ketiga bunyi akhir pada tiap-tiap baris. Satua adalah dongeng yang diceritakan secara turun temurun pada masyarakat Bali. Karya sastra satua biasanya berbentuk prosa.

Pupuh: Pupuh adalah pembentuk karya sastra klasik Jawa dan Bali yang berupa judul sub-sub bab. Tapi pupuh adalah sub bab yang monoton. Karena nama-nama pupuh dipakai juga pada setiap karya sastra lainnya. Seperti contoh: Pupuh sinom, pangkur, ginada, ginanti, maskumambang, asmarandana, dandangdula, durma, pucung, mijil, dan banyak lagi.

Kidung: adalah karya sastra berbentuk tembang. Berupa tulisan berbait-bait yang dibawakan secara merdu dan mendayu-dayu. Parikan: adalah karya sastra berbentuk geguritan tapi ceritanya diambil dari karya sastra kuno Jawa.

Kesastraa Bali dibagi menjadi tujuh jenis. Pertama kelompok weda yaitu weda, mantra, dan kalpasastra. Kelompok kedua adalah kelompok agama, palakerta, sasana dan niti. Kelompok sastra ketiga adalah wariga meliputi wariga, tutur, kanda, dan usada. Keempat kelompok itihasa, yaitu kakawin, kidung, parwa dan geguritan. Kelima, kelompok babad meliputi pamancangah, usaha, dan uwug. Keenam, kelompok tantri yaitu tantri dan satua. Ketujuh, kelompok lelampahan.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 5 Agustus 2020.
Sumber: I Gusti Ngurah Bagus. Cerita Panji Dalam Sastra Klasik di Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.

Sy. Apero Fublic.

Cerita Panji Versi Bali: Geguritan Pakang Raras.

Apero Fublic.- Raja Jenggala mempunyai seorang putra yang sangat tampan, bernama Mantri Koripan. Pada suatu hari sang Pangeran berburu ke hutan diiringi tiga orang punakawan, Punta, Jrudeh, Kartala dan para Kepala Desa.

Suatu ketika para pengiring dan ketiga punakwan bersama anjing buruannya itu memburu seekor kijang. Sampai jauh kijang itu belum tertangkap. Akhirnya mereka tersesat dan terpisah dari sang Pangeran. Sedangkan sang Pangeran beristirahat seorang diri di bawah pohon kroya.

Saat itu, keadaan cuaca tiba-tiba berubah. Langit menjadi mendung, hujan turun lebat, guntur dan petir sabung menyabung, seketika itu juga hutan menjadi gelap gulita. Kemudian angin topan juga melanda hutan itu. Dalam keadaan pingsan sang Pangeran diterbangkan oleh angin ribut. Lalu terjatuh di taman Kerajaan Daha.

Sedangkan para penggiringnnya tetap tersesat di dalam hutan. Setelah keadaan kembali normal, para kepala desa mencari kawan-kawan, teman dan sang Pangeran. Setelah itu, mereka pergi ke istana dan melaporkan kejadian yang menimpa mereka dan sang Pangeran. Raja dan Permaisurinya menjadi sangat berduka.

Sementara itu, Raden Mantri Koripan dibantu oleh Raden Galuh Daha. Dia seorang putri yang sangat cantik jelita, Putri Raja Kediri (Daha). Ketika diusut, Raden Koripan tidak menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya. Oleh sebab itu dia diberi nama I Mage Pakang Raras. Setelah beberapa lama dia tinggal di Daha. Raden Mantri Koripan dan Raden Galu Daha saling jatuh cinta.

Raja Kediri sangat murka ketika mengetahui hal tersebut. Diam-diam baginda memerintahkan patih Kerajaan Kediri untuk membunuh Pakang Raras. Pakang Raras menyadari kesalahannya dan menyerahkan dirinya pada Paman Patih. Sebelum dibunuh, Pakang Raras meminta agar dia di kubur di Daha. Pakang Raras juga mengirim surat pada Raden Galuh, menceritakan kalau dia sebenarnya adalah putra Raja Jenggala, kakak sepupu Raden Galuh Sendiri.

Pangeran meminta putri untuk mengambil pakaiannya yang dia tanam di bawah pohon nagasari untuk dijadikan kenang-kenangan. Raden Galuh juga sangat berduka membaca cerita itu. Kemudian dia melarikan diri dari istanah bersama seorang dayang. Putri bertekad menyusul kemana saja Raden Mantri Koripan Pergi.

Raja Kediri sangat menyesal atas kejadian tersebut. Kesedihannya bertambah ketika mendapat laporan paman Patih kalau Pakang Raras tenyata seorang bangsawan. Terbukti dari darahnya berbauh harum pertanda dia seorang putra raja. Dalam suasana itu, raja memerintahkan untuk mencari tuan putri yang melarikan diri, sampai bertemu.

Punta, Jrudeh, dan Kartala yang sudah lama tersesat di dalam hutan mendengar suara yang menyerukan agar mereka pergi ke kuburan Daha. Disana mereka dikabarkan akan berjumpa dengan junjungan mereka, Raden Mantri Koripan. Saat tiba, mereka menemukan darah yang berceceran di dekat sebuah kuburan yang baru saja dibuat.

Mereka akhirnya menggali kuburan baru tersebut. Menemukan jenazah Raden Mantri Koripan. Melihat itu, ketiganya sangat marah dan mau mengamuk. Tapi, datang seekor burung gagak putih. Gagak putih mencegah amarah ketiganya.

Gagak putih berkata kalau dia akan pergi ke kayangan dan akan melaporkan peristiwa yang terjadi. Berjanji akan menolong Raden Mantri Koripan atau Pakang Raras. Benar adanya, setelah kembali dari kayangan gagak putih itu menghidupkan Raden Mantri Koripan.

Setelah itu, Raden Mantri Koripan dan tiga kawannya kembali ke Jenggala. Dia menceritakan suka duka selama menghilang. Setelah bercerita, dia meminta pada ayahnya untuk meminangkan Raden Galuh Daha di Kediri. Utusan tiba di Kediri, raja menceritakan kalau Raden Galuh Daha menghilang dan dalam pencarian.

Sementara itu, Raden Mantri Koripan yang pergi berburu. Dalam perjalanan itu dia bertemu dengan tuan putri Raden Galuh Daha di Repogembong. Kemudian Raden Mantri Koripan kembali lagi ke istanah dan melaporkan ke orang tuanya.

Baginda segerah mengirim kurir menyusul utusan ke Kediri. Sekaligus mengabarkan cerita gembira tersebut atas ditemukannya Raden Galuh Daha. Beberapa waktu kemudian, pesta pernikahan Raden Mantri Koripan dan Raden Galuh Daha di langsungkan dengan meriah.

Keterangan:
Cerita singkat di atas adalah cerita ringkasan dari naskah klasik Geguritan Pakang Raras. Geguritan Pakang Raras sendiri bersumber dari cerita Panji dalam versi kesastraan Bali. Cerita Panji memang populer semasa Indonesia masih dalam pengaruh kebudayaan Hindhu.

Cerita Panji telah di sadur kedalam berbagai kelompok budaya di Indonesia, dari budaya Melayu, Jawa, Bali. Semasa masuknya Islam cerita Panji juga berganti dengan corak Islam. Cerita Geguritan Pakang Raras di tulis pada tahun 1835 tahu saka atau 1913 Masehi. Buku transliterasi Geguritan Pakang Raras di terbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, 1984.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 4 Agustus 2020.
Sumber: I Gusti Ngurah Bagus, Dkk. Cerita Panji Dalam Sastra Klasik di Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.

Sy. Apero Fublic.

8/03/2020

Karena Anak Tidak Mendengar Orang Tua.

Apero Fublic.- Pada zaman dahulu hiduplah beberapa anak-anak muda yang sombong, congkak dan tinggi hati. Masing-masing bernama, si Ratu Adioa, kedua si Ratu Walawanna, ketiga si Wonte Ulu, keempat Wonte Halaa dan kelima si Wonte Tembaga.

Pekerjaan si Ratu Adioa memanah burung. Pekerjaan si Ratu Wulawanna hanya luntang-lantung. Si Wonte Ulu seorang nelayan, si Wonte Halaa adalah pembuat perahu dan si Wonte Tembaga adalah tukang besi.

Mereka hidup cukup, malahan seorang diantara mereka hidup lebih dari cukup. Hidup cukup itu karena ada orang tuanya, bekerja. Suatu hari mereka bersepakat dan Ratu Adioa berkata. “Bagaimana ikhtiar kita?. Jawab Ratu Wulawanna. “Untuk menguji dan melihat kejantanan kita, sebaiknya kita bunuh orang tua kita?. “Baiklah. Lusa akan kita bunuh mereka.” Kata Ratu Adiora.

Semenjak hari itu, Ratu Adioa menyisikan waktunya, membersihkan sebuah gua di hutan untuk dijadikan tempat persembunyian orang tuanya. Setelah tiba saat yang mereka sepakati. Mulailah mereka membuh kedua orang tua mereka masing-masing. Namun, Ratu Adioa tidak membunuh orang tuanya.

Tapi dia antar kedua orang tuanya ke gua yang sudah dia persiapkan untuk persembunyian mereka. Sekarang mereka sudah menjadi yatim piatu semuanya, kecuali Ratu Adioa yang pura-pura menjadi anak yatim. Mereka sekarang hidup sendiri tanpa ada yang membimbing dan menuntun mereka dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kehidupan Ratu Adioa lebih cukup dari kehidupan teman yang lain.

Pada suatu hari, datanglah tiga buah kapal berlabu di kampung mereka. Lalu dijemputlah masyiso (suruhan) penduduk menuju ketiga kapal tersebut. Kemudian ditanyai dari mana asal mereka. Mereka menjawab.

“Kami ini Raja dari arah Angin Timur.”

“Lalu apa maksud kalian?. Berdagang atau mencari musuh?.” Lalu utusan menjawab. “Kami hanya membawa teka-teki. Seandainya kalian dapat menerkanya, seluruh isi dari ketiga kapal kami akan ditinggalkan. Sebaliknya kalau tidak berhasil menerka, maka seluruh yang kalian miliki akan kami bawa. “Apa teka teki kalian?.

“Dengarkan: Pertama, ini ada dua buah tengkorak. Tunjukkan mana tengkorak laki-laki dan mana tengkorak perempuan. Kedua, ini ada dua ekor anak ayam. Tunjukkan mana anak ayam jantan dan mana anak ayam betina. Ketiga, ini ada air di dalam dua gayung. Terkalah, mana air laut dan mana air tawar. Hanya itu, teka teki kami.

Kembalilah masyino darat atau orang suruhan dari darat dan menceritakan kalau mereka mempunyai teka-teki. “Teka-teki apa?.” Tanya Ratu Adioa. Lalu dia bercerita sebagaimana yang disebutkan dan dijelaskan orang di kapal. Dua tengkorak, dua anak ayam, dan dua gayung. Mendengar teka-teki tersebut, Ratu Adioa bersama teman-teman yang telah membuh orang tua berkumpul memikirkan jawaban teka-teki tersebut. Berkatalah si Ratu Wulawana. “Bagaimana ada yang berhasil menerka, apa imbalannya?.

“Siapa yang berhasil menerka, dialah yang menjadi pemimpin dan dialah yang akan memerintah kita semua.” Kata Wonte Ulu.

“Baiklah.” Kata Ratu Adioa. “Kalau ada yang berhasil menerka teka-teki itu diantara kita dia akan diangkat raja.” Semuanya setuju dengan perjanjian tersebut. Mereka kemudian menemui masyio atau kurir. “Pergilah beritahukan bahwa kami meminta waktu seminggu.” Kata Ratu Adioa.

Kemudian Ratu Adioa pergi menjumpai orang tuanya, menceritakan tiga buah perahu yang datang dan tiga teka-tekinya. “Teka-teki apa anakku?.” Tanya orang tuanya.

“Pergilah. Pertama ambillah sebuah lidi lalu tusukkan pada lobang telinga tengkorak. Kalau lurus, itu tandanya tengkorak laki-laki. Apabila lubangnya bengkok itu berarti perempuan. Untuk membedakan anak ayam jantan dan betina. Ambillah segenggam beras. Yang makan sambil menengada, itulah anak ayam jantan. Kalau yang makan hanya merunduk mematuk tanpa menengada berarti anak ayam betina. Untuk membedakan air laut dan air tawar. Tiuplah air di dalam gayung itu. Jika airnya beriak, itu tandanya air laut dan jika tidak beriak pertanda itulah air tawar. Pergilah, berkah tuhan menyertaimu.

Ratu Adioa kembali menuju teman-temannya. Setibanya mereka saling bertanya siapa gerangan di antara mereka yang sanggup menjawab teka-teki tersebut. Kata mereka, hanya Ratu Adioa yang diharapkan dapat menjawab teka-teki tersebut. Oleh karena itu, mereka kembali memerintahkan masyino mereka menemui para tamu atau awak kapal naik kedarat menemui mereka. Kembali mereka bersepakat siapapun yang dapat menjawab dialah yang akan memerintah mereka.

Semua berkumpul, orang dari kapal, penduduk dan Ratu Adioa berkumpul untuk melaksanakan menjawab teka-teki tersebut. Ratu Adioa langsung maju dan menerka semua teka-teki secara berurutan. Sebelumnya dia menyiapkan lidi dan segenggam beras.

“Tengkorak dua ini; Yang lobang telinganya lurus adalah tengkorak laki-laki. Sedangkan yang lobang telinganya bengkok adalah tengkorak perempuan.” Lalu dia memberi anak ayam dengan beras. “Anak ayam ini, yang makan sambil menengada adalah anak ayam jantan. Sedangkan anak ayam yang makan mematuk saja adalah anak ayam betina.” Lalu dia meniup air di dalam dua gayung. “Yang airnya beriak adalah air laut, dan yang tidak beriak air tawar.” Jawab Ratu Adioa. Para awak perahu bersedih karena jawaban Ratu Adioa benar semua dan mereka terpaksa meninggalkan isi perahu mereka.

Dengan demikian, Ratu Adioa menjadi pemimpin atau memerintah di daerahnya. Kemudian dia memerintahkan banyak orang untuk menjemput kedua orang tuanya yang dia sembunyikan di gua. Dulu dimana dia  dan teman-temannya pernah sepakat membunuh kedua orang tua masing-masing. Karena ingin menjadi hebat dan tanpa beban. Menyadari apa yang dilakukan Ratu Adioa, membuat teman-teman menyesal karena benar-benar membunuh orang tua mereka.

Pengajaran: Cerita ini memberi penjelasan kalau kebaikan dan keberhasilan anak tergantung dari keadaan orang tua. Sangat sulit bagi anak-anak untuk berkembang tanpa bimbingan orang tua. Disini ada tanggung jawab orang tua dan bagaimana cara bersikap anak kepada kedua orang tuanya.

Rewrite: Tim Apero Fublic.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 3 Agustus 2020. 
Sumber: Paul Nebarth. Sastra Lisan Sangir Talaud. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984. h. 66-68.


Sy. Apero Fublic.