8/04/2020

Sastra Klasik Nusantara: Geguritan Pakang Raras.

Apero Fublic.- Naskah Panji dalam Sastra Klasik di Bali ditulis dengan bentuk geguritan, yaitu Geguritan Pakang Raras. Naskah Geguritan Pakang Raras terdapat di Gedong Kirtya Singaraja, di sini tersimpan banyak sastra klasik Bali dalam bentuk, kidung, geguritan, dan satua.

Geguritan adalah sastra berbentuk lirik terikat (tembang). Apabila sastra tersebut berbentuk prosa maka diistilahkan dengan, satua. Satua adalah jenis cerita dongeng dalam masyarakat Bali.

Geguritan terbentuk oleh pupuh. Pupuh adalah istilah sub-sub bab tapi dengan konsisten atau monoton untuk semua jenis geguritan. Geguritan apa pun judul dan tema ceritanya pupuh tetap konsisten.

Misalnya pada Geguritan Pakang Raras ada pupuh pangkur, pupuh ginada di karya sastra lain juga menggunakan pupuh tersebut. Kalau sastra modern sub-sub bab akan menampilkan judul berbeda sesuai pembahasan. Pupuh diikat oleh tiga unsur, pertama unsur jumlah baris (carik), kedua jumlah suku kata (kecap), dan ketiga bunyi akhir setiap baris.

Geguritan Pakang Raras bercerita tentang kisa cinta putra mahkota Kerajaan Jenggala di Bali, bernama Raden Mantri Koripan, dengan Raden Galu Daha di Kerajaan Kerajaan Kediri. Kedua kerajaan yang berseberangan di selat Bali.

Kisah bermulah saat Raden Mantri Koripan pergi berburu. Kemudian datang angin topan yang besar. Lalu Raden Mantri Koripan pingsan dan tubuhnya melayang dibawa angin lalu jatuh di taman Putri Raden Galuh Daha. Raden Mantri Koripan tidak mengakui kalau dia seorang putra raja Jenggala. Namanya, dia ganti menjadi Pakang Raras.

Dari sinilah judul naskah diambil, Geguritan Pakang Raras. Cerita geguritan Pakang Raras adalah bentuk saduran dari Cerita Panji dari sastra klasik nusantara. Naskah ini, terdiri dari 623 bait pupuh ginada. Berikut cuplikan, Geguritan Pakang Raras.

1.Ada Kidung Satwa Mela.
Tutur Malate kesembir,
Matembang Ginada reka,
Nanging twara pasti mupuh,
Suduke katahan singsal,
“Dewa Gusti,
Aksama tityang manyurat.”

Terjemahan.
Tersebutlah sebuah sajak yang menarik.
Bersumberkan cerita Malat.
Memakai tembang Ginada,
Tetapi tidak sesuai dengan peraturan.
Lebih banyak yang janggal.
“tuan-tuan,
Maafkanlah saya mengarang.”

2.Sang perabu ring Jenggala,
Agunge manyakrawerti,
Mabala ndatan paingan,
Madue putra aukud,
Mapsengan Mantri Koripan,
Anom alit,
Wau ida madwe mendra.

Terjemahan:
Seorang raja di Jenggala,
Pemerintahannya sangat luas,
Rakyatnya tidak terbilang,
Berputra seorang diri,
Bernama Mantri Koripan.
Muda belia.
Baru belia akil balig.

3.Kadi Hyang Smara
Ngindarat,
Rupane twara madenin,
Yening sasoring akasa,
Tong ada ratu mamandung,
Sakadi ring warnanida,
Tuhu lewih,
Baguse ngenyudang manah.

Terjemahan:
Bagaikan Dewa Asmara,
Menjelma,
Wajahnya tidak ada yang menandingi.
Kalau di bawah langit.
Tidak ada raja yang menandingi.
Sebagai wajah beliau.
Sungguh elok.
Tampannya menarik hati.

Cerita Geguritan Pakang Raras cukup populer dan penting pada masyarakat Bali. Bukan hanya karena tersebar luas ditengah masyarakat tetapi juga karena geguritan Pakang Raras memiliki nilai sastra dan budaya.

Geguritan Pakang Raras juga memiliki ungkapan dan kata-kata asli masyarakat Bali. Karena ditulis dimana pengaruh budaya luas belum begitu luas. Naskah yang ditulis pada tahun 1913 Masehi atau 1835 Saka.

Kemungkinan, naskah Geguritan Pakang Raras adalah naskah salinan jauh sebelumnya. Masa penulisan, Pulau Bali belum masuk dalam administrasi Pemerintahan Kolonial Belanda. Sehingga unsur budaya asing belum mempengaruhi bahasa Bali.

Oleh: Tim Apero Fublic
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 5 Agustus 2020.
Sumber: I Gusti Ngurah Bagus. Cerita Panji Dalam Sastra Klasik di Bali. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment