8/03/2020

Karena Anak Tidak Mendengar Orang Tua.

Apero Fublic.- Pada zaman dahulu hiduplah beberapa anak-anak muda yang sombong, congkak dan tinggi hati. Masing-masing bernama, si Ratu Adioa, kedua si Ratu Walawanna, ketiga si Wonte Ulu, keempat Wonte Halaa dan kelima si Wonte Tembaga.

Pekerjaan si Ratu Adioa memanah burung. Pekerjaan si Ratu Wulawanna hanya luntang-lantung. Si Wonte Ulu seorang nelayan, si Wonte Halaa adalah pembuat perahu dan si Wonte Tembaga adalah tukang besi.

Mereka hidup cukup, malahan seorang diantara mereka hidup lebih dari cukup. Hidup cukup itu karena ada orang tuanya, bekerja. Suatu hari mereka bersepakat dan Ratu Adioa berkata. “Bagaimana ikhtiar kita?. Jawab Ratu Wulawanna. “Untuk menguji dan melihat kejantanan kita, sebaiknya kita bunuh orang tua kita?. “Baiklah. Lusa akan kita bunuh mereka.” Kata Ratu Adiora.

Semenjak hari itu, Ratu Adioa menyisikan waktunya, membersihkan sebuah gua di hutan untuk dijadikan tempat persembunyian orang tuanya. Setelah tiba saat yang mereka sepakati. Mulailah mereka membuh kedua orang tua mereka masing-masing. Namun, Ratu Adioa tidak membunuh orang tuanya.

Tapi dia antar kedua orang tuanya ke gua yang sudah dia persiapkan untuk persembunyian mereka. Sekarang mereka sudah menjadi yatim piatu semuanya, kecuali Ratu Adioa yang pura-pura menjadi anak yatim. Mereka sekarang hidup sendiri tanpa ada yang membimbing dan menuntun mereka dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kehidupan Ratu Adioa lebih cukup dari kehidupan teman yang lain.

Pada suatu hari, datanglah tiga buah kapal berlabu di kampung mereka. Lalu dijemputlah masyiso (suruhan) penduduk menuju ketiga kapal tersebut. Kemudian ditanyai dari mana asal mereka. Mereka menjawab.

“Kami ini Raja dari arah Angin Timur.”

“Lalu apa maksud kalian?. Berdagang atau mencari musuh?.” Lalu utusan menjawab. “Kami hanya membawa teka-teki. Seandainya kalian dapat menerkanya, seluruh isi dari ketiga kapal kami akan ditinggalkan. Sebaliknya kalau tidak berhasil menerka, maka seluruh yang kalian miliki akan kami bawa. “Apa teka teki kalian?.

“Dengarkan: Pertama, ini ada dua buah tengkorak. Tunjukkan mana tengkorak laki-laki dan mana tengkorak perempuan. Kedua, ini ada dua ekor anak ayam. Tunjukkan mana anak ayam jantan dan mana anak ayam betina. Ketiga, ini ada air di dalam dua gayung. Terkalah, mana air laut dan mana air tawar. Hanya itu, teka teki kami.

Kembalilah masyino darat atau orang suruhan dari darat dan menceritakan kalau mereka mempunyai teka-teki. “Teka-teki apa?.” Tanya Ratu Adioa. Lalu dia bercerita sebagaimana yang disebutkan dan dijelaskan orang di kapal. Dua tengkorak, dua anak ayam, dan dua gayung. Mendengar teka-teki tersebut, Ratu Adioa bersama teman-teman yang telah membuh orang tua berkumpul memikirkan jawaban teka-teki tersebut. Berkatalah si Ratu Wulawana. “Bagaimana ada yang berhasil menerka, apa imbalannya?.

“Siapa yang berhasil menerka, dialah yang menjadi pemimpin dan dialah yang akan memerintah kita semua.” Kata Wonte Ulu.

“Baiklah.” Kata Ratu Adioa. “Kalau ada yang berhasil menerka teka-teki itu diantara kita dia akan diangkat raja.” Semuanya setuju dengan perjanjian tersebut. Mereka kemudian menemui masyio atau kurir. “Pergilah beritahukan bahwa kami meminta waktu seminggu.” Kata Ratu Adioa.

Kemudian Ratu Adioa pergi menjumpai orang tuanya, menceritakan tiga buah perahu yang datang dan tiga teka-tekinya. “Teka-teki apa anakku?.” Tanya orang tuanya.

“Pergilah. Pertama ambillah sebuah lidi lalu tusukkan pada lobang telinga tengkorak. Kalau lurus, itu tandanya tengkorak laki-laki. Apabila lubangnya bengkok itu berarti perempuan. Untuk membedakan anak ayam jantan dan betina. Ambillah segenggam beras. Yang makan sambil menengada, itulah anak ayam jantan. Kalau yang makan hanya merunduk mematuk tanpa menengada berarti anak ayam betina. Untuk membedakan air laut dan air tawar. Tiuplah air di dalam gayung itu. Jika airnya beriak, itu tandanya air laut dan jika tidak beriak pertanda itulah air tawar. Pergilah, berkah tuhan menyertaimu.

Ratu Adioa kembali menuju teman-temannya. Setibanya mereka saling bertanya siapa gerangan di antara mereka yang sanggup menjawab teka-teki tersebut. Kata mereka, hanya Ratu Adioa yang diharapkan dapat menjawab teka-teki tersebut. Oleh karena itu, mereka kembali memerintahkan masyino mereka menemui para tamu atau awak kapal naik kedarat menemui mereka. Kembali mereka bersepakat siapapun yang dapat menjawab dialah yang akan memerintah mereka.

Semua berkumpul, orang dari kapal, penduduk dan Ratu Adioa berkumpul untuk melaksanakan menjawab teka-teki tersebut. Ratu Adioa langsung maju dan menerka semua teka-teki secara berurutan. Sebelumnya dia menyiapkan lidi dan segenggam beras.

“Tengkorak dua ini; Yang lobang telinganya lurus adalah tengkorak laki-laki. Sedangkan yang lobang telinganya bengkok adalah tengkorak perempuan.” Lalu dia memberi anak ayam dengan beras. “Anak ayam ini, yang makan sambil menengada adalah anak ayam jantan. Sedangkan anak ayam yang makan mematuk saja adalah anak ayam betina.” Lalu dia meniup air di dalam dua gayung. “Yang airnya beriak adalah air laut, dan yang tidak beriak air tawar.” Jawab Ratu Adioa. Para awak perahu bersedih karena jawaban Ratu Adioa benar semua dan mereka terpaksa meninggalkan isi perahu mereka.

Dengan demikian, Ratu Adioa menjadi pemimpin atau memerintah di daerahnya. Kemudian dia memerintahkan banyak orang untuk menjemput kedua orang tuanya yang dia sembunyikan di gua. Dulu dimana dia  dan teman-temannya pernah sepakat membunuh kedua orang tua masing-masing. Karena ingin menjadi hebat dan tanpa beban. Menyadari apa yang dilakukan Ratu Adioa, membuat teman-teman menyesal karena benar-benar membunuh orang tua mereka.

Pengajaran: Cerita ini memberi penjelasan kalau kebaikan dan keberhasilan anak tergantung dari keadaan orang tua. Sangat sulit bagi anak-anak untuk berkembang tanpa bimbingan orang tua. Disini ada tanggung jawab orang tua dan bagaimana cara bersikap anak kepada kedua orang tuanya.

Rewrite: Tim Apero Fublic.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 3 Agustus 2020. 
Sumber: Paul Nebarth. Sastra Lisan Sangir Talaud. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984. h. 66-68.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment