Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Mengaji Bukan Perlombaan Mengejar Jilid: Memahami Kecepatan Belajar Anak dari Sudut Pandang Psikologi Pembelajaran
APERO FUBLIC I Pendidikan Al-Qur’an di indonesia pada masa saat ini kerap kali di warnai oleh kompetisi tak tertulis di antara para orang tua maupun lingkungan sosial. Kenaikan tingkatan jilid dalam metode membaca Al-Qur’an sering kali dijadikan sebagai tolak ukur orang tua terhadap keberhasilan belajar anaknya.
Ketika seorang anak sudah mampu menyelesaikan jilid demi jilid dalam waktu yang singkat, maka seketika anak tersebut mendapatkan banyak sekali apresiasi terutama dari orang tuanya ataupun orang lain yang mengetahui.
Sebaliknya, jika seorang anak dalam mengaji membutuhkan waktu yang lebih panjang pada satu jilid tertentu akan jarang sekali mendapatkan apresiasi dari orang lain ataupun orang tuanya sendiri, karena anak yang dianggap tertinggal dalam belajar Al-Qur’an di anggap mengalami ketertinggalan kognitif atau kurang tekun dalam belajar.
Penguasaan teknis membaca Al-Qur’an yang mencakup ketepatan tajwid, ketepatan makhraj, dan kelancaran membaca terbukti berkolerasi dengan peningkatan kesiapan psikologis siswa dalam belajar membaca Al-Qur’an. Memaksa anak untuk berpindah jilid sebelum struktur kognitif dan keterampilan artikulasi motorik atau makhrajnya matang akan berpengaruh terhadap pembelajaran membaca Al-Qur’an pada jilid selanjutnya.
Oleh karena itu, dalam pendidikan islam nonformal proses belajar sebaiknya tidak hanya berfokus pada mempercepat kemampuan belajar membaca Al-Qur’an anak, tetapi juga perlu memperlihatkan perkembangan, kesiapan, dan kebutuhan anak sesuai dengan tahap usianya.
Setiap anak lahir dengan kemampuan dan cara berpikir yang berbeda-beda. Prinsip perbedaan individual dalam psikologi perkembangan menegaskan bahwa anak-anak memiliki kecepatan pemrosesan, kapasitas memori kerja, serta gaya kognitif yang bervariasi.
Dalam kegiatan membaca Al-Qur'an, perbedaan kemampuan setiap anak dapat mempengaruhi kecepatan mereka dalam mengenali huruf hijaiyah, membedakan harakat, serta mengatur gerakan lidah dan tenggorokan agar dapat melafalkan huruf dengan benar.
Secara kognitif, proses membaca Al-Qur'an seorang anak terlebih dahulu melihat dan mengenali bentuk huruf hijaiyah serta harakatnya. Setelah itu, otak memproses informasi tersebut untuk membantu anak memahami cara membaca huruf sesuai dengan aturan tajwid yang diajarkan guru.
Selanjutnya seorang anak menggerakkan lidah dan organ bicaranya untuk melafalkan huruf dengan benar sesuai makhraj dan panjang pendek bacaannya. Jika anak dipaksa mempelajari materi baru sebelum dia benar-benar memahami dan mengingat materi sebelumnya maka kemampuan membaca Al-Qur'an nya dapat terganggu.
Oleh karena itu, anak perlu diberi waktu yang cukup untuk memahami, meningkatkan, dan mempraktikkan setiap materi sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
Teori Perkembangan Sosio-Kultural yang dicetuskan oleh Lev Vygotsky memberikan landasan teoretis mengenai pentingnya menghargai ritme belajar anak. Vygotsky mengintroduksi konsep zona perkembangan proksimal (ZPD), yaitu rentang antara tingkat perkembangan aktual anak yang diukur dari kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang dapat dicapai melalui bimbingan orang dewasa seperti gurunya atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih bisa daripada anak tersebut.
Pemberian bantuan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak sangat penting dalam teori zona perkembangan proksimal (ZPD) yang dikemukakan oleh Vygotsky. Misalnya, guru mengaji perlu membimbing anak sesuai dengan kemampuannya dan tidak memaksakan anak untuk naik ke jilid berikutnya sebelum menguasai materi sebelumnya.
Jika anak dipaksa menyelesaikan jilid dengan cepat demi memenuhi target lembaga atau harapan orang tua, proses belajarnya dapat terganggu. Anak bisa merasa kesulitan memahami materi, mengalami kelelahan dalam belajar, bahkan merasa cemas dan takut ketika mengikuti kegiatan mengaji.
Oleh karena itu, guru perlu memberikan bimbingan secara bertahap agar dapat belajar dengan nyaman, memahami materi dengan baik, dna berkembang sesuai dengan kemampuannya.
Konstruksi teoretis mengenai pentingnya memahami kecepatan belajar anak menemukan bentuk konkretnya dalam sistem pengajaran di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) An-Nahl, yang berlokasi di Desa Putra Buyut, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, di bawah naungan Yayasan Darul Muttaqin.
Praktik pembelajaran di TPA An-Nahl memadukan Metode An-Nahdliyyah, pencatatan Buku Prestasi Santri, dan interaksi belajar yang santai, berbuka, dan melibatkan semua anak untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman, menghargai setiap anak, dan memiliki tujuan dan penilaian yang jelas.
Pembelajaran di lembaga ini memanfaatkan Metode As-Nahdliyyah, sebuah metode pengajaran Al-Qur'an yang memiliki ciri khas pada keteraturan ritme dan penggunaan ketukan. Secara psikologis, penggunaan ritme dan ketukan dalam Metode As-Nahdliyyah berfungsi sebagai stimulator memori auditori dan pengatur tempo kognitif.
Anak tidak didorong untuk membaca secara tergesa-gesa sebaliknya, struktur ketukan memaksa anak untuk menginternalisasi durasi panjang-pendek bacaan (mad) dan artikulasi dengung (ghunnah) secara konsisten. Pembiasaan ini membentuk skema kognitif yang kokoh sebelum anak dialihkan ke tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Buku prestasi santri di TPA An-Nahl Putra Buyut memiliki peran penting untuk mengetahui perkembangan dan kesulitan belajar setiap anak. Buku ini bukan hanya digunakan untuk mencatat atau memeriksa hasil belajar santri, tetapi juga membantu guru menyesuaikan cara mengajar dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.
Evaluasi tidak dilakukan dengan membandingkan capaian seorang anak terhadap anak lainnya, melainkan dengan membandingkan capaian anak terhadap titik mula perkembangan dirinya sendiri.
Suasana belajar di TPA An-Nahl Putra Buyut yang dilakukan secara lesehan di atas meja kayu sederhana menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan tidak membuat anak merasa tertekan.
Dalam psikologi pendidikan, lingkungan belajar yang ramah baik dari segi tempat maupun hubungan sosial dapat membantu mengurangi rasa takut salah, malu, ataupun cemas saat belajar. Dengan demikian, anak dapat lebih mudah menerima penjelasan guru dan berlatih melafalkan huruf dengan benar.
Para santri juga terlihat belajar berdampingan meskipun berada pada jilid yang berbeda. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak-anak dapat belajar bersama dalam satu lingkungan yang saling mendukung. Kebersamaan tersebut dapat menumbuhkan rasa diterima, kebersamaan, dan semangat belajar dari dalam diri anak.
Mengabaikan perbedaan kecepatan belajar anak dan memaksakan mereka menyelesaikan jilid dalam waktu yang sama dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kemampuan membaca maupun pembentukan karakter anak dalam jangka panjang.
Salah satu dampaknya adalah anak mengalami kesulitan melafalkan huruf Al-Qur'an dengan benar karena terlalu terburu-buru mengejar target kenaikan jilid. Akibatnya, ketepatan pengucapan huruf dan penerapan sifat-sifat huruf kurang diperhatikan. Jika kesalahan tersebut terus diulang tanpa adanya bimbingan dan latihan yang cukup, anak dapat terbiasa membaca dengan cara yang kurang tepat.
Kebiasaan ini akan lebih sulit diperbaiki di kemudian hari. Oleh karena itu, guru perlu memastikan bahwa anak telah memahami dan mampu membaca materi dengan benar sebelum melanjutkan ke jilid berikutnya, sehingga kemampuan membaca Al-Qur'an dapat dibangun dengan baik sejak awal.
Dampak lainnya berkaitan dengan perkembangan psikologis dan spiritual anak. Pendidikan Al-Qur’an sejak dini bertujuan menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an serta membiasakan mereka mengamalkan nilai-nilainya.
Jika kegiatan mengaji dilakukan dengan tekanan, paksaan, dan tuntutan untuk cepat naik jilid, anak dapat merasa cemas dan menganggap mengaji sebagai beban. Sebaliknya, jika anak diberi kesempatan belajar sesuai kemampuannya, seperti di TPA An-Nahl Putra Buyut, mereka akan merasa lebih nyaman, tenang, dan senang dalam belajar mengaji.
Untuk menciptakan suasana mengaji yang nyaman, guru TPA dan orang tua perlu bekerja sama. Orang tua perlu memahami bahwa Buku Prestasi Santri digunakan untuk memantau perkembangan anak, bukan untuk membandingkannya dengan anak lain. Keberhasilan anak menyelesaikan setiap jilid perlu dihargai sebagai bagian dari proses belajarnya sesuai kemampuan masing-masing.
Kesimpulan
Mengaji bukanlah sebuah arena perlombaan untuk mengejar penyelesaian jilid semata, melainkan sebuah proses pembentukan karakter, keterampilan artikulasi, dan pemahaman spiritual yang membutuhkan ketelitian serta kematangan perkembangan.
Sudut pandang psikologi pembelajaran mengonfirmasi bahwa setiap anak memiliki ritme kognitif dan kecepatan belajar yang berbeda. Memaksa anak melanjutkan ke jilid berikutnya sebelum menguasai materi sebelumnya dapat menyebabkan kesalahan dalam membaca Al-Qur’an, terutama dalam tajwid dan makhraj, serta mengurangi semangat anak untuk belajar mengaji.
Oleh: Anti Lutviana,S.Pd
Mahasiswi Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung (UIN JUSILA, jurusan S2 Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment