Kampus
Opini
Pendidikan
Kebersihan Kelas Bukan Sekedar Tugas Piket: Perspektif Behaviorisme pada Pembentukan Perilaku Anak MI
APERO FUBLIC I Budaya kebersihan di lingkungan sekolah terutama di Madrasah Ibtidaiyah Darul Muttaqien sering kali dianggap hanya sebatas kewajiban rutin anak-anak seminggu sekali melalui pembagian jadwal piket kelas. Hal tersebut cenderung menempatkan kebersihan sebagai beban tugas bergilir, sehingga tanggung jawab terhadap kondisi kelas hanya dirasakan oleh beberapa siswa yang bertugas piket kelas pada hari tersebut.
Ketika jadwal piket berakhir, siswa lainnya sering kali merasa terbebas dari kepedulian terhadap kebersihan ruang belajarnya. Jika kebiasaan ini terus berlangsung maka akan berisiko menghambat pembentukan karakter peduli lingkungan secara berkelanjutan pada anak usia sekolah dasar.
Melalui kacamata teori belajar behaviorisme, menjaga kebersihan kelas seharusnya tidak dipandang sebagai rutinitas formalitas semata, melainkan sebagai proses pengondisian perilaku (behavioral conditioning) yang dirancang secara sistematis.
Lingkungan kelas yang bersih dan tertata memberikan stimulus sensori positif yang berdampak langsung pada kenyamanan psikologis serta fokus belajar siswa. Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dari sistem piket bergiliran menuju kebiasaan menjaga kebersihan setiap hari yang melibatkan seluruh siswa tanpa terkecuali.
Teori behaviorisme, khususnya konsep Operant Conditioning yang dikembangkan oleh B.F. Skinner, menjelaskan bahwa perilaku seseorang dapat terbentuk dan bertahan melalui hubungan antara rangsangan, tindakan, dan akibat yang ditimbulkan. Dalam konteks pendidikan dasar di MI, anak-anak berada pada fase perkembangan di mana pembentukan kebiasaan sangat bergantung pada penguatan eksternal dan pengulangan terstruktur.
Ketika seorang anak mendapat arahan yang jelas untuk menjaga kebersihan, lalu ia memberikan respon berupa tindakan memungut sampah, tindakan tersebut dapat menjadi kebiasaan jika mendapat tanggapan positif. Misalnya, guru memberikan pujian kelas menjadi bersih dan nyaman serta siswa merasa senang karena dapat bekerja sama dengan teman-temannya.
Hal tersebut dapat mendorong anak untuk mengulangi perilaku baik di kemudian hari. Sebaliknya, jika perilaku tidak peduli kebersihan dibiarkan tanpa adanya teguran atau arahan, anak dapat menganggap bahwa perilaku tersebut merupakan hal yang biasa dan tidak menjadi masalah.
Proses pembentukan kebiasaan ini dimulai dari dorongan luar seperti pujian atau penghargaan hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang muncul dari kesadaran diri sendiri. Jika dilakukan secara terus-menerus, kegiatan memungut sampah tidak lagi dianggap sebagai tugas yang terpaksa dilakukan karena takut mendapatkan hukuman. Sebaliknya, siswa akan terbiasa memungut sampah dengan sendirinya setiap kali melihat sampah di sekitarnya.
Penerapan teori behavioristik dapat dilihat dari aturan yang diterapkan di MI Darul Muttaqien. Sekolah ini menerapkan aturan tegas sekaligus mendidik, yaitu setiap siswa wajib mengambil sampah yang ada di dalam kelas sebelum pulang sekolah.
Aturan ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab semua siswa buka hanya siswa yang bertugas piket kelas. Dengan demikian setiap siswa ikut berperan dalam menjaga kebersihan dan kerapihan kelas sebagai tempat mereka belajar.
Aturan memungut sampah sebelum pulang sekolah menjadi salah satu cara untuk membentuk kebiasaan baik pada siswa melalui pengalaman yang positif. Kegiatan membersihkan kelas sebelum pulang membuat siswa mengakhiri kegiatan belajar dengan melakukan hal yang bermanfaat. Mereka meninggalkan kelas dalam kondisi bersih, sehingga ketika kembali esok pagi, mereka disambut oleh ruang belajar yang segar dan siap digunakan.
Pertautan teoretis ini tergambar jelas pada visualisasi suasana kelas MI. Tiga siswa laki-laki berseragam khas MI (kemeja putih, celana merah, dan peci) tampak tersenyum bangga memperlihatkan kantong plastik dan botol yang terisi penuh oleh sampah hasil pungutan mereka sebelum pulang.
Ekspresi ceria para siswa mencerminkan bahwa tindakan memungut sampah tidak dirasakan sebagai penderitaan atau hukuman, melainkan sebagai prestasi kolektif yang menyenangkan.
Kebiasaan menjaga kebersihan setiap hari memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar membuat kelas menjadi bersih. Aturan memungut sampah sebelum pulang sekolah juga mengajarkan nilai-nilai baik yang menjadi bagian dari hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi di madrasah.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar tentang kesetaraan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan secara langsung tanpa harus selalu mendapatkan penjelasan panjang dari guru. Ketika semua siswa tanpa membedakan status atau jadwal piket bersama-sama merunduk dan membersihkan kelas, terbangun ikatan solidaritas dan rasa memiliki terhadap kelas mereka.
Kenyamanan ruang kelas sangat berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam belajar. Ruang kelas yang kotor dan berantakan dapat mengganggu pikiran serta membuat siswa merasa tidak nyaman saat belajar. Sebaliknya, lingkungan belajar yang bersih dan rapi dapat membuat siswa merasa lebih tenang, meningkatkan konsentrasi, dan lebih fokus dalam mengikuti pembelajaran.
Kesimpulan
Kebersihan kelas bukanlah sekadar kewajiban rutinitas piket bergilir, melainkan sebuah instrumen pembentukan karakter peduli lingkungan yang harus dirancang secara berkelanjutan.
Dari perspektif teori behaviorisme, pembentukan perilaku bersih pada anak Madrasah Ibtidaiyah membutuhkan stimulus lingkungan yang konsisten, pengulangan tindakan harian, serta penguatan positif yang bermakna.
Aturan di MI Darul Muttaqien yang mewajibkan setiap siswa memungut sampah sebelum pulang sekolah merupakan contoh nyata penerapan operant conditioning yang efektif. Aturan ini berhasil mengubah pemikiran tentang kebersihan dari tugas kelompok yang membebankan menjadi pembiasaan yang membanggakan.
Sebagaimana diperlihatkan pada gambar, keceriaan siswa saat mengumpulkan sampah di kelas yang bersih membuktikan bahwa pengondisian lingkungan yang tepat mampu menciptakan pembelajaran yang nyaman, harmonis, dan membentuk karakter disiplin anak sejak usia dini.
Oleh: Anti Lutviana, S.PD
Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung (UIN JUSILA, jurusan S2 Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment