Cerpen
Ilmu Kesastraan
Jambi
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Resensi
Kritik Sastra : Cerpen Sepotong Roti - Realitas Kehidupan
APERO FUBLIC I Kemiskinan dan perjuangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup adalahhal sering ditemukan pada kehidupan sekarang, ketika sebagian masyarakat harusbekerja keras dengan penghasilan yang tidak tetap hanya untuk memenuhi kebutuhansehari-hari.
Keterbatasan pendidikan juga membuat seseorang memiliki pilihanpekerjaan yang terbatas. Selain kemiskinan, ketidakadilan sosial dan kebiasaanmasyarakat dalam menghakimi seseorang tanpa memahami keadaannya. Fenomena seperti ini masih relevan pada zaman sekarang, ketika seseorang terkadang dinilai hanyaberdasarkan kesalahan atau keadaan yang terlihat tanpa mengetahui latar belakangnya.
Kondisi ini mengingatkan kita, bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita perlumemiliki rasa empati dan tidak mudah menghakimi orang lain, terutama mereka yangsedang berada dalam kondisi sulit. Ada sebuah cerpen yang sangat menggambarkan fenomena kehidupan seperti itu, yang ditulis atau diciptakan oleh Rini Kustiasih dengan judul Sepotong Roti.
Cerpen inibergenre sosial-realis karena cerita menggambarkan kehidupan masyarakat kecil yanghidup dalam kemiskinan, bekerja sebagai pemulung, dan berjuang memenuhi kebutuhansehari-hari dengan unsur drama keluarga.
Adapun unsur tragis, terutama pada bagianakhir ketika tokoh aku mengalami kekerasan setelah mengambil roti karena tidakmempunyai uang, kemudian mengalami kondisi yang mengarah pada kematian.
Cerita memperlihatkan kehidupan keluarga yang tinggal di rumah sederhana, tidakmemiliki banyak makanan, dan bergantung pada pekerjaan memulung. Tokoh Ayahbahkan harus melakukan berbagai pekerjaan kasar karena tidak memiliki pendidikan.
Tokoh utama hidup dalam kondisi serba kekurangan. Sepotong roti yang bagi sebagianorang mungkin merupakan makanan biasa, bagi tokoh aku justru memiliki nilai yangsangat besar karena berkaitan dengan kenangan keluarga dan kebutuhan untuk makan.
Roti menjadi simbol kasih sayang dalam keluarga. Pada masa kecil, satu roti dibagibertiga antara ayah, ibu, dan anak. Setelah ayah pergi, roti tersebut menjadi kenanganyang sangat dirindukan oleh tokoh aku dan ibunya.
Cerpen ini juga menunjukkanbagaimana orang miskin dapat dipandang secara negatif. Bahkan terdapat kritikbahwa menyebut atau mengumpat seseorang dengan kata “miskin” dapat melukai hargadirinya. Jadi, persoalan utama cerpen ini adalah kemiskinan yang menyebabkan tokohutama dan keluarganya berada dalam kondisi sulit, hingga mendorong terjadinyakonflik keluarga dan tindakan mengambil/mencuri roti karena kebutuhan.
Setelah membaca cerpen ini, hal yang paling membekas adalah sepotong roti yangmenjadi simbol kasih sayang keluarga. Bagi tokoh “aku”, roti bukan hanya makanan, tetapi mengingatkannya pada masa kecil ketika ayah dan ibunya masih bersama.
Mereka bertiga dapat menikmati satu roti dengan sederhana, tetapi terasa penuhkebahagiaan. Bagian akhir juga sangat membekas karena tokoh “aku” rela mengambilroti untuk diberikan kepada ibunya, tetapi akhirnya mengalami kejadian yang tragis.
Bahkan ketika sudah tidak berdaya, ia masih memikirkan roti tersebut sebagai makananuntuk ibunya. Juga persoalan sosial yang paling kuat terlihat dari cara masyarakatmemperlakukan orang miskin. Tokoh “aku” melakukan kesalahan dengan mengambilroti, tetapi reaksi masyarakat terhadapnya menjadi sangat berlebihan.
Banyak orang ikutmengejar dan melakukan kekerasan terhadapnya. Hal ini membuat saya berpikir bahwamasyarakat terkadang lebih cepat memberikan hukuman daripada memahami latarbelakang seseorang.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah seseorang yang melakukankesalahan karena keadaan ekonomi harus langsung dianggap sebagai orang jahat tanpamelihat kehidupan yang telah dilaluinya.
Cerpen ini terasa dekat karena menggambarkan kehidupan keluarga sederhana yangberusaha bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit, terutama kemiskinan, memulung, kelaparan, dan kekerasan yang dialami tokoh utama.
Bagian yang paling mengganggupikiran adalah konflik antara ayah dan ibu karena perkataan ibu tentang kemiskinanayah ternyata sangat melukai harga dirinya. Setelah itu, ayah pergi dan tidak pernahkembali. Hal ini juga yang menjadi pertanyaan saya, mengapa penulis membuat tokohayah pergi meninggalkan keluarganya?
Karna menurut saya perkataan tokoh ibumemang kenyataan yang seharusnya menjadi pengintropeksian diri dan seharusnyatokoh ayah menjadi sosok yang lebih kuat dengan merangkul keluarganya. Bagi saya, cerpen ini meninggalkan kesan bahwa kehidupan manusia tidak dapatdilihat hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Di balik seseorang yangmengambil sepotong roti, terdapat rasa lapar, kenangan, kasih sayang, dan perjuangan hidup yangpanjang. Cerpen ini juga mengajarkan bahwa kemiskinan tidak seharusnya menjadialasan untuk merendahkan seseorang.
Sebaliknya, kita perlu melihat manusia denganlebih empati dan memahami keadaan yang mungkin melatarbelakangi tindakannya. Cerpen ini tidak hanya menceritakan kehidupan sebuah keluarga miskin, tetapi jugamenggambarkan persoalan sosial yang masih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tokoh ayah bekerja sebagai pemulung dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan ibu bekerja sebagai buruh cuci. Meskipun hidup dalam keterbatasan, merekatetap berusaha memberikan kasih sayang dan kebahagiaan kepada anaknya. Hal initerlihat ketika sepotong roti menjadi simbol kebahagiaan sederhana bagi keluarga tersebut.
Cerpen kemudian memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dapat memengaruhi hubungan dalam rumah tangga. Kemiskinan membuat tokoh ayah merasa rendah diri, terutama ketika perkataannya tentang kondisi ekonomi menjadi sumber konflik denganibu.
Pada akhirnya, konflik tersebut menyebabkan ayah meninggalkan keluarganya. Persoalan tersebut dapat dihubungkan dengan perubahan dan persoalan masyarakat, khususnya masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, dan sulitnya mendapatkankehidupan yang layak.
Tokoh ayah digambarkan sebagai seseorang yang bekerja keras, tetapi karena tidak memiliki pendidikan, pilihan pekerjaannya sangat terbatas. Ia pernahmenjadi kuli, tukang sapu, dan pemulung. Ini menunjukkan bahwa kondisi sosial danpendidikan dapat memengaruhi kesempatan seseorang untuk memperoleh pekerjaanyang lebih baik.
Selanjutnya, cerpen juga berhubungan dengan pengalaman manusiahari ini. Sampai sekarang masih banyak orang yang harus bekerja keras untukmemenuhi kebutuhan dasar seperti makanan. Sepotong roti dalam cerpen bukan hanyamakanan, tetapi menjadi lambang kasih sayang, perjuangan, kenangan keluarga, sekaligus harapan.
Ketika tokoh anak mencuri roti karena ingin memberikannya kepadaibunya, cerita tersebut memperlihatkan bagaimana kemiskinan dan rasa lapar dapatmenempatkan seseorang dalam situasi yang sulit. Dengan membaca cerpen ini mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana, seperti sepotong roti, dapat memiliki makna yang sangat besar bagi seseorang.
Rotibukan hanya makanan, tetapi menjadi kenangan tentang kasih sayang ayah dan ibu. Cerita ini juga membuat kita menyadari bahwa kemiskinan tidak seharusnya membuatseseorang kehilangan harga diri dan harapan.
Kasih sayang keluarga sering kali menjadikekuatan terbesar dalam menghadapi kehidupan yang sulit. Apresiasi penuh ditujukankepada penulis atau pencipta cerpen ini, karena membuat cerpen dengan tema, alur, danjuga konflik yang sangat realita di kehidupan sekarang.
Realita yang sangat terasa bagisebagian masyarakat indonesia, apalagi dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi dinegara kita sekarang ini. Semoga dengan membaca cerpen ini, kita memiliki pikiranbahwa bersyukur itu penting di bandingkan orang yang sekiranya belum mampu bahkantidak bisa merasakan apa yang kita rasakan saat ini.
Orang melakukan hal tercela belumtentu karna disengaja, tetapi keadaanlah yang memaksa. Dan pendidikan itu pentingagar kelak kehidupan generasi kita bahagia, juga tidak ada salahnya jika kita membantuorang yang sedang membutuhkan. Menghukum orang karena salah itu hal wajar, tetapiapakah wajar jika sampai menyebabkan kematian dan penyesalan?
Oleh: Dwi Wahdani
Mahasiswi Universitas Jambi, Sastra Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment