Feature
Kampus
Mahasiswa
PKM
Mahasiswa Universitas Pamulang Serang Bekali Siswa-Siswi SMKS Mathla’ul Anwar Rangkasbitung Mengenai Edukasi Literasi Kebijakan Politik di Era Digital
APERO FUBLIC I Dalam memperkuat upaya peran strategis generasi muda dalam system demokrasi, Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang PSDKU Serang menyelenggarakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bagi siswa SMKS Mathla’ul Anwar pada Kamis, (15/10/2026).
Kegiatan yang bertajuk “Edukasi Literasi Kebijakan Politik di Era Digital Kepada Siswa-Siswi SMKS Mathla’ul Anwar Rangkasbitung ” ini dipimpin langsung oleh selaku ketua PKM Moh Abdurrohman, dan melibatkan sejumlah dosen pembimbing serta mahasiswa dari program studi tersebut.
Kegiatan ini yang berlangsung di salah satu kelas SMKS Mathla’ul Anwar Rangkasbitung ini diikuti oleh siswa-siswi 18 orang, yang sangat antusias menggali wawasan tentang edukasi politik digital kepada siswa-siswinya.
Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar bahwa edukasi literasi politik bukan sekedar tentang kita memanfaatkan teknologi semata, melainkan proses kita untuk mengambil keputusan dari apa yang kita lihat dalam bermedia.
Melalui edukasi literasi politik, siswa mengajak untuk memahami bagaimana kebijakan politik itu berlangsung, menganalisis isu public secara kritis, dan berani berpatisipasi aktif dalam bermedia guna membentuk budaya politik yang sehat.
Dalam pemaparannya, Moh Abdurrohman menekankan bahwa generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis dalam struktur demokrasi Indonesia. Mereka bukan hanya menjadi pemilih pemula dalam setiap gelaran pemilu, tetapi juga agen perubahan yang harus dijalankan.
"Sebagai generasi muda, kalian memiliki peran strategis sebagai pemilih pemula, agen perubahan yang harus dijalankan. Jangan pernah meremehkan suara kalian, karena suara kalian menentukan arah bangsa ini lima hingga sepuluh tahun ke depan itu ditentukan oleh kalian generasi muda" ujar Moh Abdurrohman dalam paparannya di hadapan para siswa.
Ia juga menambahkan bahwa memahami politik sejak dini akan membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu sensitif dan mampu membedakan mana kebijakan yang pro-rakyat dan mana yang tidak.
Selain edukasi literasi politik digital, kegiatan ini juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai demokrasi yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai seperti toleransi, tanggung jawab, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi inti dari pembekalan yang diberikan.
Para siswa didorong untuk tidak hanya menjadi penonton pasif dalam proses demokrasi digital, tetapi juga menjadi pelaku aktif yang cerdas dalam memahami kebijakan politik. Di tengah banyaknya informasi politik di media sosial, mereka diajak untuk mampu membedakan mana opini, mana fakta, dan mana kebijakan yang benar-benar berpangaruh pada kehidupan masyarakat.
Kegiatan ini menekankan pentingnya literasi kebijakan politik, yaitu kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan mengkritisi setiap program dan keputusan politik secara objektif, tanpa terjebak dalam polarisasi, ujaran kebencian, atau hoaks.
Siswa diajarkan untuk menghormati perbedaan pandangan politik, menjunjung tinggi musyawarah sebagai budaya demokrasi Indonesia, serta mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Dengan literasi digital dan politik yang mumpuni, generasi muda diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan, melainkan mampu menjadi filter, edukator, dan agen perubahan yang mendorong terciptanya ruang digital yang sehat, demokratis, dan berkeadilan.
Moh Abdurrohman menekankan pentingnya edukasi literasi kebijakan politik di era digital agar siswa mampu membedakan opini yang memecah belah dari arah kebijakan publik yang benar. Tanpa pemahaman kebijakan dan literasi digital yang kuat, generasi muda rentan tergiring oleh berita bohong dan ujaran kebencian yang dikemas seolah-olah sebagai pandangan politik yang benar.
"Kalian hidup di era keterbukaan informasi digital, tempat kebijakan negara dan isu politik bercampur aduk dengan opini publik. Jangan langsung percaya, cermati isi kebijakannya, cek sumber resminya, dan tanyakan apa dampak kebijakan ini bagi masyarakat sebelum menyebarkannya," pesan Moh Abdurrohman.
Salah satu peserta, Destiana mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai edukasi literasi kebijakan politik di era digital yang sebelumnya tidak ia dapatkan di bangku kelas.
"Selama ini saya pikir politik itu urusan orang dewasa dan DPR saja. Sekarang saya sadar bahwa melalui edukasi literasi kebijakan politik di era digital, siswa seperti saya juga punya tanggung jawab untuk ikut mengawasi dan berpartisipasi, setidaknya dengan memilih pemimpin yang tepat," ujar Destiana.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa Universitas Pamulang secara berkelanjutan berkomitmen menjalankan tri dharma perguruan tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Fokus utama dari PKM ini adalah edukasi dan pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan politik bagi generasi muda.
Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, Universitas Pamulang berharap siswa SMKS Mathlaul Anwar Rangkasbitung dapat tumbuh menjadi pemilih yang cerdas, kritis menyaring informasi di media sosial, serta memahami arah kebijakan publik. Dengan kesadaran politik dan pemahaman digital yang kuat, mereka diharapkan siap menjadi agen perubahan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Dengan terselenggaranya program ini, diharapkan lahir generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam menyikapi arus informasi digital dan matang dalam berpolitik. Sebab, masa depan demokrasi Indonesia sangat tergantung pada kesiapan serta kecerdasan generasi mudanya hari ini.
Liputan: Tim PKM SMKS Mathla’ul Anwar
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment