Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Plastik di Sungai Indonesia dan Ujian Tanggung Jawab Warga Negara
APERO FUBLIC I Sungai seharusnya menjadi sumber kehidupan, tetapi di banyak kota di Indonesia, sungai justru menjadi tempat pembuangan sampah. Botol, kantong kresek, dan bungkus makanan mudah ditemukan mengapung di permukaan air atau tersangkut di bantaran, terutama setelah hujan deras.
Persoalan ini sering dianggap sekadar urusan kebersihan. Padahal, sampah plastik di sungai menguji kesadaran kita dalam menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara. Menurut penulis, kita belum lulus dari ujian tersebut.
Dari sudut pandang biologi, dampaknya lebih serius daripada yang terlihat. Plastik tidak hilang, melainkan terpecah menjadi partikel sangat kecil yang disebut mikroplastik. Partikel ini mudah tertelan oleh organisme air, mulai dari plankton hingga ikan.
Sejumlah penelitian di sungai perkotaan Indonesia telah menemukan mikroplastik pada air dan organisme akuatik. Dengan demikian, mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan dan berpotensi kembali kepada manusia.
Masalah ini juga berkaitan dengan nilai kewarganegaraan. Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 menjamin hak setiap orang atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Namun, hak tersebut disertai kewajiban untuk tidak merugikan orang lain.
Ketika warga di hulu membuang sampah sembarangan, warga di hilir menanggung akibatnya. Kondisi ini bertentangan dengan sila kelima Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebagian orang menganggap sampah sungai hanya tanggung jawab pemerintah. Pendapat itu kurang tepat. Pemerintah memang berperan penting dalam mengelola sampah dan menegakkan aturan, tetapi aturan tidak akan efektif tanpa dukungan perilaku warga.
Perbaikan dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, mendukung bank sampah, dan mengikuti kegiatan bersih sungai bersama komunitas.
Mahasiswa biologi memiliki peran tambahan, yaitu menjelaskan bahaya mikroplastik kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Sungai-sungai kita akan terus menguji kepedulian kita. Sudah saatnya kita menjawabnya dengan tindakan nyata.
Penulis : Oknita Catur Ramadani
Mahasiswi Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment