Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Literasi Lingkungan Merupakan Kemampuan Individu dalam Memahami dan Menafsirkan Kondisi Lingkungan
APERO FUBLIC I Ada satu pertanyaan yang penting untuk kita renungkan di tengah berbagai persoalan lingkungan saat ini: Apakah seseorang sudah dapat disebut memiliki literasi lingkungan hanya karena mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga?.
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Hampir setiap hari kita dapat melihat berbagai masalah lingkungan di sekitar kita. Sampah yang menumpuk, sungai yang tercemar, banjir, berkurangnya pepohonan, serta penggunaan plastik yang berlebihan merupakan beberapa contoh yang sering kita temui. Informasi tentang lingkungan juga semakin mudah ditemukan melalui internet dan media sosial.
Namun, mengetahui informasi tentang lingkungan ternyata belum tentu berarti seseorang sudah memiliki literasi lingkungan. Seseorang mungkin mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan pencemaran. Ia mungkin juga mengetahui bahwa pohon penting bagi kehidupan dan penggunaan air harus dilakukan secara bijak.
Persoalannya, apakah pengetahuan tersebut sudah memengaruhi perilakunya dalam kehidupan sehari-hari?
Di sinilah literasi lingkungan menjadi penting. Literasi lingkungan bukan hanya kemampuan mengetahui berbagai masalah lingkungan, tetapi juga kemampuan individu dalam memahami dan menafsirkan kondisi lingkungan di sekitarnya. Sudirman dan Irwan dalam buku Pendidikan Multiliterasi menjelaskan bahwa literasi berkembang sesuai dengan kebutuhan kehidupan masyarakat.
Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi dan menggunakannya secara tepat dalam kehidupan (Sudirman & Irwan, 2023).
Dalam konteks lingkungan, seseorang tidak cukup hanya mengetahui bahwa lingkungan sedang mengalami kerusakan. Ia juga perlu memahami penyebabnya, melihat dampaknya, dan menentukan tindakan yang tepat.
Misalnya, ketika melihat sampah berserakan di lingkungan, kita tidak hanya perlu mengatakan bahwa kondisi tersebut kotor. Kita juga perlu memahami mengapa sampah tersebut dapat menumpuk, bagaimana pengelolaannya, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Hal yang sama dapat dilihat dari persoalan banjir.
Ketika terjadi banjir, masyarakat sering kali hanya menganggap hujan sebagai penyebabnya. Padahal, kondisi saluran air, sampah, berkurangnya daerah resapan, dan perubahan penggunaan lahan juga dapat berkaitan dengan kondisi tersebut. Kemampuan melihat hubungan antara berbagai keadaan seperti ini merupakan bagian dari literasi lingkungan.
Literasi lingkungan juga membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis. Saat ini berbagai informasi mengenai lingkungan dapat ditemukan dengan mudah melalui media sosial. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat langsung dipercaya.
Kita perlu memahami sumber informasi, membandingkan informasi, dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut benar atau tidak. Hal ini sejalan dengan pandangan Sudirman dan Irwan bahwa informasi yang diperoleh melalui teknologi tetap perlu dipahami, dibandingkan, dan digunakan secara bertanggung jawab.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan pendidikan?
Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan peserta didik tentang pengertian lingkungan, jenis-jenis pencemaran, atau cara menjaga kebersihan. Pendidikan juga perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melihat dan memahami persoalan lingkungan secara langsung.
Peserta didik dapat diajak mengamati kondisi lingkungan sekolah, mengelola sampah, merawat tanaman, menghemat air, serta melakukan kegiatan sederhana yang berkaitan dengan lingkungan.
Dengan cara tersebut, lingkungan tidak hanya menjadi materi pelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman belajar. Peserta didik dapat belajar memahami bahwa tindakan manusia memiliki hubungan dengan kondisi lingkungan. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa, literasi lingkungan juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Mahasiswa dapat menggunakan teknologi untuk mencari informasi mengenai lingkungan, melakukan pengamatan, membuat tulisan, menyusun kampanye, atau mengajak masyarakat melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Namun, informasi yang diperoleh tetap perlu diperiksa dan dipahami. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk membantu proses berpikir, bukan menggantikan proses berpikir tersebut.
Masalah lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Masyarakat juga memiliki peran penting. Kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, menghemat air, menjaga tanaman, dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab setiap individu.
Inilah tantangan literasi lingkungan saat ini. Kita tidak hanya hidup di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang cepat, tetapi juga di tengah berbagai perubahan kondisi lingkungan. Karena itu, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memahami informasi lingkungan, membaca kondisi di sekitarnya, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara melihat keberhasilan literasi lingkungan. Bukan hanya bertanya, “Seberapa banyak seseorang mengetahui tentang lingkungan?” Tetapi juga: “Seberapa mampu seseorang memahami kondisi lingkungannya?”, “Seberapa kritis seseorang dalam menafsirkan informasi lingkungan?”, dan “Seberapa bertanggung jawab seseorang dalam menjaga lingkungan?”
Jika pendidikan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita tidak hanya sedang membentuk seseorang yang mengetahui pentingnya lingkungan. Kita sedang membentuk manusia yang mampu memahami, menafsirkan, dan menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, pada akhirnya, memiliki pengetahuan tentang lingkungan bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah menjadi manusia yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjaga lingkungan dan kehidupan bersama.
Sumber:
Sudirman, & Irwan, M. (2023). Pendidikan multiliterasi. Jakarta: Kencana/Prenada Media. ISBN 978-623-384-523-6.
Oleh: Pilda Wardani
Mahasiswi Universitas Negeri Medan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment