Kampus
Kesenian
Mahasiswa
Pendidikan
Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Seni Muatan Lokal Tari Sambut di Sekolah Dasar Bangka Belitung
Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Tari Sambut, Muatan Lokal, Kearifan Lokal, Sekolah Dasar.Kurikulum Merdeka.
APERO FUBLIC I Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan pendidikan karena tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan moral, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial peserta didik.
Menurut Lickona, pendidikan karakter mencakup tiga komponen utama, yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral), yang perlu dikembangkan secara terpadu agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pannudin (2011) menjelaskan bahwa pendidikan karakter merupakan proses membantu peserta didik memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai moral melalui pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan.
Namun, implementasi pendidikan karakter di Sekolah Dasar masih menghadapi tantangan karena pembelajaran lebih berfokus pada aspek akademik. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu diintegrasikan melalui pembelajaran yang kontekstual, salah satunya melalui seni berbasis muatan lokal sebagai sarana pembentukan karakter sekaligus pelestarian budaya daerah.
Basari (2014) menjelaskan bahwa pembelajaran muatan lokal bertujuan membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik daerah sekaligus melestarikan budaya. Di Bangka Belitung, Tari Sambut menjadi salah satu kearifan lokal yang relevan sebagai media pembentukan karakter di Sekolah Dasar.
Pembelajaran Tari Sambut tidak hanya mengajarkan teknik gerak tari, tetapi juga mengenalkan sejarah, filosofi, busana adat, dan tata cara penyambutan tamu. Selama proses pembelajaran, peserta didik dilatih bekerja sama, mematuhi aturan, menjaga kostum dan properti tari, serta tampil percaya diri.
Pengalaman tersebut membantu menanamkan karakter disiplin, tanggung jawab, kerja sama, sopan santun, percaya diri, dan rasa bangga terhadap budaya lokal. Rosala (2016)
Kajian Literatur
Pendidikan karakter bertujuan membentuk peserta didik yang memiliki nilai moral, sikap, dan perilaku sesuai dengan norma kehidupan. Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter mencakup tiga komponen utama, yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral).
Wahyudi et al. (2023) menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka berorientasi pada penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila dengan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Mokorowu et al. (2023) menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter lebih efektif jika diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran melalui aktivitas yang menumbuhkan kolaborasi, tanggung jawab, penghargaan terhadap budaya, dan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.
Pannudin (2011) menyatakan bahwa pendidikan karakter merupakan proses yang dilakukan secara sadar untuk membantu peserta didik memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai moral melalui pembelajaran, keteladanan, penguatan, dan pembiasaan.
Implementasi pendidikan karakter di sekolah tidak dilakukan melalui mata pelajaran tersendiri, melainkan diintegrasikan ke dalam seluruh kegiatan pembelajaran. Wibowo (2010) menjelaskan bahwa nilai-nilai karakter, seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, percaya diri, dan hormat, perlu ditanamkan melalui pembelajaran yang terencana. Guru berperan sebagai teladan dan fasilitator agar peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Muatan lokal merupakan bagian dari kurikulum yang dikembangkan berdasarkan potensi, budaya, dan kebutuhan daerah. Pembelajaran muatan lokal bertujuan agar peserta didik mengenal lingkungan, memahami budaya daerah, serta memiliki keterampilan yang sesuai dengan karakteristik wilayah tempat tinggalnya.
Basari (2014) menjelaskan bahwa muatan lokal memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang mendukung pelestarian budaya serta memperkuat identitas peserta didik sebagai bagian dari masyarakat daerahnya.
Muatan lokal menjadi sarana yang efektif dalam pendidikan karakter karena pembelajarannya bersumber dari kehidupan dan budaya daerah. Melalui pembelajaran berbasis budaya lokal, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki, menghargai, dan melestarikan budaya sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Pembelajaran seni tari memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan karakter peserta didik karena melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara terpadu.
Rosala (2016) menjelaskan bahwa pembelajaran seni tari di sekolah mengembangkan potensi peserta didik melalui pengalaman belajar yang mengandung nilai budaya dan moral. Pembelajaran berbasis kearifan lokal juga menumbuhkan karakter disiplin, tanggung jawab, kerja sama, percaya diri, serta sikap menghargai budaya daerah.
Tari Sambut merupakan warisan budaya Bangka Belitung yang berfungsi sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan. Tarian ini mencerminkan nilai keramahan, penghormatan, kesopanan, dan kebersamaan, serta mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, menjaga tata krama, dan melestarikan budaya daerah.
Oleh karena itu, Tari Sambut relevan dijadikan materi pembelajaran seni muatan lokal di Sekolah Dasar. Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka, (2023). Dalam pembelajaran Tari Sambut, peserta didik tidak hanya mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami sejarah, makna gerakan, busana adat, aksesori, dan tata cara penyambutan tamu.
Proses pembelajaran ini menjadi sarana internalisasi nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, sopan santun, percaya diri, serta cinta budaya. Oleh karena itu, Tari Sambut memiliki potensi sebagai media penguatan pendidikan karakter melalui pembelajaran seni muatan lokal di Sekolah Dasar Bangka Belitung.
Analisis Kritis dan Opini
Implementasi pendidikan karakter melalui pembelajaran Seni Muatan Lokal Tari Sambut di Sekolah Dasar Bangka Belitung merupakan salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan tujuan pendidikan nasional.
Pembelajaran ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian keterampilan seni, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter peserta didik melalui pengalaman belajar yang nyata. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan kajian literatur, pendidikan karakter akan lebih efektif jika peserta didik menginternalisasi nilai melalui pengalaman belajar yang bermakna. Dalam pembelajaran Tari Sambut, siswa tidak hanya mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami filosofi, makna penyambutan tamu, busana adat, dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Proses ini sejalan dengan konsep moral knowing, moral feeling, dan moral action Thomas Lickona, karena peserta didik tidak hanya memahami nilai karakter, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut penulis, kekuatan utama pembelajaran Tari Sambut terletak pada prosesnya, bukan hanya pada hasil pementasan.
Selama latihan, peserta didik dibiasakan hadir tepat waktu, mengikuti arahan guru, menjaga kostum dan aksesori tari, serta bekerja sama dengan anggota kelompok agar gerakan menjadi selaras. Aktivitas tersebut secara tidak langsung membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, gotong royong, dan saling menghargai.
Ketika siswa tampil di depan guru, orang tua, atau masyarakat, mereka juga belajar membangun rasa percaya diri, keberanian, serta kemampuan berkomunikasi. Dengan demikian, pembelajaran Tari Sambut menghasilkan pengalaman belajar yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersamaan.
Penggunaan busana adat Melayu Bangka Belitung beserta aksesori seperti mahkota, selendang, dan properti penyambutan memiliki nilai edukatif karena mencerminkan penghormatan, keramahan, dan identitas budaya daerah.
Guru tidak hanya mengajarkan cara penggunaannya, tetapi juga menjelaskan makna filosofisnya agar peserta didik memahami pentingnya melestarikan warisan budaya. Pemahaman tersebut dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal, cinta tanah air, dan kepedulian terhadap pelestarian budaya.
Implementasi pembelajaran Tari Sambut sebagai media pendidikan karakter masih menghadapi berbagai kendala. Di beberapa sekolah, pembelajaran seni lebih berorientasi pada hasil pertunjukan daripada proses penanaman nilai karakter.
Selain itu, keterbatasan sarana, seperti kostum, aksesori, ruang latihan, serta minimnya pelatihan bagi guru menjadi hambatan dalam mengintegrasikan pendidikan karakter secara optimal.
Oleh karena itu, pembelajaran Tari Sambut perlu diposisikan sebagai media pembentukan karakter, bukan sekadar materi seni budaya. Guru perlu mengintegrasikan refleksi, pemaknaan budaya, pembiasaan sikap positif, serta penilaian karakter ke dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, Tari Sambut tidak hanya berperan dalam melestarikan budaya Bangka Belitung, tetapi juga membentuk peserta didik yang disiplin, bertanggung jawab, percaya diri, mampu bekerja sama, dan bangga terhadap budaya daerah.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil kajian literatur dan analisis kritis, penguatan pendidikan karakter melalui pembelajaran Seni Muatan Lokal Tari Sambut di Sekolah Dasar Bangka Belitung memerlukan kolaborasi antara sekolah, guru, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap tahap pembelajaran dengan mengenalkan filosofi Tari Sambut, makna gerakan, busana adat, dan aksesori sebagai bagian dari pembelajaran budaya.
Sekolah perlu menyediakan sarana pendukung, seperti kostum, aksesori, alat musik, dan media pembelajaran yang memadai.
Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan pelatihan guru serta bekerja sama dengan sanggar seni agar pembelajaran lebih kontekstual. Selain keterampilan menari, penilaian hendaknya mencakup perkembangan karakter peserta didik.
Kesimpulan
Pembelajaran Seni Muatan Lokal Tari Sambut merupakan salah satu bentuk implementasi pendidikan karakter yang relevan diterapkan di Sekolah Dasar Bangka Belitung. Melalui proses pembelajaran yang mencakup pengenalan sejarah tari, filosofi gerakan, penggunaan busana adat dan aksesori, latihan, hingga pementasan, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mampu mengembangkan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terpadu.
Nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, percaya diri, sopan santun, rasa hormat, serta kecintaan terhadap budaya lokal dapat diinternalisasikan melalui setiap tahapan pembelajaran.
Namun demikian, implementasi pendidikan karakter melalui Tari Sambut masih menghadapi tantangan, antara lain pembelajaran yang lebih berorientasi pada hasil pertunjukan, keterbatasan sarana pendukung, serta belum optimalnya integrasi nilai karakter dalam proses pembelajaran.
Oleh karena itu, diperlukan komitmen seluruh pihak untuk menjadikan Tari Sambut tidak hanya sebagai materi seni budaya, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter peserta didik dan pelestarian kearifan lokal Bangka Belitung.
Dengan implementasi yang terencana dan berkelanjutan, pembelajaran Tari Sambut dapat berkontribusi dalam mewujudkan generasi yang berkarakter, mencintai budaya daerah, serta mampu menjaga identitas budaya bangsa di tengah perkembangan zaman.
Oleh: Dio Jovanka
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment