Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Teknologi Canggih: Membantu atau Mengganggu Psikologi Belajar Siswa?
APERO FUBLIC I OPINI.- Seiring dengan kemajuan zaman, saya mulai menyadari bahwa perangkat seperti ponsel, tablet, komputer, dan laptop telah menjadi bagian yang sangat penting dalam proses belajar.
Hampir setiap hari, saya bersama teman-teman memanfaatkan alat tersebut untuk menyelesaikan tugas, mencari informasi, atau sekadar berdiskusi.
Teknologi benar-benar membuat kami lebih efisien, memudahkan kerja sama, dan mempercepat akses pengetahuan baru. Namun, di balik semua kemudahan ini, saya juga menyadari bahwa teknologi dapat memberikan pengaruh yang tidak selalu positif.
Dalam pengalamanku, teknologi sangat membantu dalam belajar. saya dapat dengan cepat mencari materi, menonton video pembelajaran, dan memahami konsep-konsep yang sebelumnya sulit dipahami. Bahkan, teknologi juga membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
Namun, di sisi lain, saya juga melihat munculnya tantangan. Perkembangan teknologi sering membuat kami lupa akan batasan, sehingga nilai-nilai seperti disiplin dan tanggung jawab kadang terabaikan. Di sinilah pendidikan nilai, termasuk dari pelajaran agama, menjadi sangat relevan.
Ini membuatku merenung: apakah sebenarnya teknologi ini lebih banyak membantu atau justru mengganggu proses belajar kami? Dari pengamatanku sehari-hari, jawabannya tidak sederhana. Ada teman-temanku yang memanfaatkan teknologi dengan baik untuk belajar.
Namun, ada juga yang menggunakan ponsel atau laptop dengan dalih belajar, padahal sebenarnya mereka lebih banyak bermain game atau berselancar di media sosial.
Melalui pengamatan dan pengalaman, saya mencoba memahami bagaimana teknologi dapat digunakan dengan baik untuk mendukung kondisi mental saat belajar. Saya menemukan tiga aspek penting yang dapat dimanfaatkan, yaitu motivasi, kepercayaan diri, dan pengelolaan beban pikiran selama belajar.
Pertama, saya merasakan bahwa teknologi dapat meningkatkan semangat belajar. Saat pembelajaran disampaikan dalam bentuk permainan atau disesuaikan dengan kemampuan kita, belajar menjadi lebih menyenangkan.
Saya merasa lebih termotivasi karena bisa mengatur gaya belajarku sendiri tanpa tekanan dari orang lain. Rasa mampu dan kebebasan dalam memilih cara belajar ini memberikan dorongan semangat dari dalam diriku.
Kedua, teknologi juga membantuku untuk lebih percaya diri. Misalnya, ketika saya tidak mengerti materi di kelas, saya bisa menonton kembali penjelasan di YouTube. saya tidak perlu merasa malu atau takut melakukan kesalahan di hadapan teman-teman.
Dengan cara ini, saya bisa belajar dengan tenang sesuai kemampuanku. Seiring waktu, rasa cemas terhadap pelajaran berkurang, dan saya menjadi lebih percaya diri dengan kemampuanku.
Ketiga, saya merasakan bahwa teknologi bisa membuat proses belajar terasa lebih ringan. Ketika materi disampaikan dengan cara yang menarik, seperti melalui game atau presentasi interaktif, saya tidak cepat merasa lelah atau terbebani. Belajar jadi lebih nyaman, dan saya bisa lebih fokus tanpa merasa tertekan.
Dari semua pengalaman itu, saya sadar bahwa teknologi sebenarnya bisa membawa dua dampak: membantu atau mengganggu. Jika dimanfaatkan dengan baik, teknologi dapat meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan kenyamanan dalam belajar. Namun, jika tidak dikelola dengan tepat, teknologi justru dapat mengalihkan perhatian dan mengurangi fokus.
Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa kunci utama terdapat pada bagaimana kita menggunakan teknologi. Jika kita mampu mengendalikan teknologi, maka teknologi akan membantu meningkatkan kemampuan kita.
Namun, jika kita terjerat dalam pengaruh teknologi, maka efeknya bisa merugikan, termasuk terhadap kondisi mental kita.
Menurut pendapat saya, masa depan sistem pendidikan tidak hanya memerlukan siswa yang cerdas dalam memakai teknologi, tetapi juga yang dapat mengelolanya secara bijak.
Untuk mencapai itu, diperlukan kolaborasi antara siswa, pengajar, dan orang tua. Saya pribadi berusaha untuk belajar bagaimana memusatkan perhatian saat memanfaatkan teknologi, sementara para guru diharapkan dapat memberikan panduan yang tegas, dan orang tua serta institusi pendidikan perlu membangun suasana digital yang positif.
Dengan demikian, teknologi dapat berfungsi sebagai alat yang membantu, bukan sebagai penghalang dalam proses pembelajaran.
PENULIS : Muhammad Rasyidin
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment