Kampuu
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Olahraga untuk Sehat, Bukan Tempat Menghakimi Bentuk Tubuh
“Badannya terlalu besar buat olahraga.”
“Kurusan dulu baru cocok masuk gym.”
“Kayak gitu mau jadi atlet?”
APERO FUBLIC I OPINI.- Kalimat demikian masih sering muncul di lingkungan olahraga maupun media sosial. Banyak orang menganggapnya hanya candaan biasa, padahal komentar tentang bentuk tubuh bisa meninggalkan dampak yang tidak kecil bagi seseorang.
Fenomena body shaming saat ini semakin mudah ditemukan, terutama di era digital. Media sosial membuat siapa saja bebas berkomentar terhadap penampilan orang lain. Ironisnya, ruang olahraga yang seharusnya menjadi tempat membangun kesehatan justru kadang berubah menjadi tempat saling menghakimi fisik.
Tidak sedikit orang akhirnya merasa minder untuk mulai berolahraga karena takut diejek atau dibandingkan dengan standar tubuh ideal di internet. Padahal, setiap orang memiliki proses dan tujuan yang berbeda saat berolahraga. Ada yang ingin hidup lebih sehat, menurunkan berat badan, membangun kepercayaan diri, atau sekadar menjaga kebugaran tubuh.
Masalah ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Body shaming dapat memengaruhi kondisi mental seseorang, menurunkan rasa percaya diri, bahkan membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam beberapa kasus, seseorang bisa kehilangan motivasi untuk menjalani pola hidup sehat hanya karena komentar negatif dari orang lain.
Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, khususnya sila kedua tentang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, perilaku body shaming jelas bertentangan dengan sikap saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Pancasila mengajarkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi tanpa direndahkan karena kondisi fisiknya.
Selain itu, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan juga menjelaskan bahwa olahraga memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan, membangun karakter, dan mempererat persatuan masyarakat.
Artinya, olahraga seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi semua orang, bukan tempat untuk menjatuhkan orang lain karena penampilannya.
Sayangnya, budaya mengejek fisik masih sering dianggap hal normal, terutama di kalangan anak muda. Konten olahraga di media sosial pun sering dipenuhi komentar yang lebih fokus pada bentuk tubuh dibanding usaha atau semangat seseorang untuk hidup sehat. Jika kondisi ini terus dianggap biasa, lingkungan olahraga bisa menjadi semakin tidak nyaman bagi banyak orang.
Karena itu, penting untuk mulai membangun budaya olahraga yang lebih suportif. Memberikan dukungan tentu jauh lebih berarti dibanding melontarkan komentar yang menjatuhkan. Menghargai proses orang lain juga merupakan bagian dari sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.
Kampus, sekolah, komunitas olahraga, maupun gym juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang positif. Edukasi mengenai body shaming dan kesehatan mental perlu lebih sering disampaikan agar masyarakat memahami bahwa komentar tentang fisik bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Mahasiswa sebagai generasi muda pun dapat menjadi contoh dalam membangun budaya komunikasi yang lebih sehat, baik di kehidupan nyata maupun media sosial. Hal sederhana seperti berhenti memberi komentar negatif tentang bentuk tubuh orang lain bisa menjadi langkah awal menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi.
Pada akhirnya, olahraga bukan tentang siapa yang memiliki tubuh paling ideal. Olahraga seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh, sehat, dan membangun rasa percaya diri tanpa takut dihakimi oleh orang lain.
Sebab, tujuan utama olahraga bukan untuk memenuhi standar tubuh tertentu, melainkan untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental.
Oleh : Dian Puspita Yulianti
Mahasiswi Program Studi Ilmu Keolahragaan, Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Aktif menaruh minat pada isu olahraga, pendidikan, dan sosial masyarakat.
Email: dianpuspitayulianti@gmail.com
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampuu

Post a Comment