Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Perpustakaan
Klik atau kunjungi? Dilema generasi Z terhadap perpustakaan
APERO FUBLIC I ESAI. - Di era di mana smartphone menjadi ekstensi tangan dan algoritma mengatur alur informasi sehari-hari, generasi Z—mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012—ditempatkan di persimpangan epistemologis yang rumit: memilih kecepatan "klik" di dunia digital atau kedalaman "kunjungi" ke perpustakaan tradisional.
Fenomena ini mencerminkan konflik antara kenyamanan instan dan pengalaman autentik, di mana survei Pew Research Center (2023) mengungkapkan bahwa 78% Gen Z lebih memilih konten digital daripada buku fisik, sementara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) mencatat penurunan kunjungan fisik hingga 30% sejak 2019 akibat pandemi dan maraknya platform seperti TikTok serta Google.
Namun, di balik dominasi digital, ada kerinduan akan ruang fisik yang menawarkan ketenangan dan interaksi manusiawi, sebagaimana ditunjukkan oleh survei Universitas Indonesia (UI, 2023) di mana 52% Gen Z masih mengunjungi perpustakaan untuk kegiatan sosial dan belajar mendalam.
Artikel ini menggali dilema tersebut melalui analisis mendalam, studi kasus nyata, identifikasi tantangan, serta kesimpulan dan rekomendasi praktis, dengan tujuan mendorong Gen Z untuk mengadopsi pendekatan hibrida yang optimal.
Generasi Z adalah digital native sejati, dibesarkan di tengah ledakan internet dan media sosial yang menjanjikan akses informasi tanpa batas.
Statista (2024) melaporkan bahwa 65% Gen Z di Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam sehari di platform digital, dengan "klik" sebagai pilihan utama: pencarian Google memberikan jawaban dalam 0,5 detik, aplikasi seperti Libby atau Kindle menyediakan jutaan ebook gratis, dan konten pendek di YouTube atau Wattpad memenuhi kebutuhan hiburan-belajar.
Algoritma canggih di TikTok bahkan mempersonalisasi rekomendasi, menciptakan gelembung informasi yang adiktif. Keunggulan ini tak terbantahkan—kenyamanan, variasi, dan nol biaya transportasi—seperti yang diakui dalam Reuters Institute Digital News Report (2023), di mana 60% Gen Z merasa lebih efisien belajar online.
Namun, ada sisi gelap: studi American Psychological Association (APA, 2022) menemukan rentang perhatian Gen Z hanya 8 detik karena fragmentasi konten, ditambah risiko misinformasi yang merajalela, dengan 55% responden kesulitan membedakan hoaks.
Sebaliknya, "kunjungi" perpustakaan menawarkan nilai yang tak tergantikan oleh pixel layar. Perpustakaan modern telah berevolusi; National Library Board (NLB) Singapura, misalnya, menyediakan VR reading room dan co-working space yang meningkatkan kunjungan Gen Z hingga 40% (NLB Annual Report, 2023).
Di Indonesia, Perpusnas Jakarta melalui program "Perpus Digital" (Kemdikbud, 2024) mengintegrasikan 1 juta buku digital dengan fasilitas fisik seperti WiFi super cepat dan event komunitas.
Survei Goodreads (2024) menunjukkan 70% Gen Z yang rutin ke perpustakaan melaporkan peningkatan kreativitas dan literasi kritis, berkat akses buku kurasi, diskusi tatap muka, dan lingkungan bebas distraksi. Pengalaman sensorik—aroma buku, suara halaman dibalik—membangun koneksi emosional yang absen di dunia virtual.
Studi Kasus : Rina Putri, mahasiswi UI berusia 21 tahun, mengilustrasikan dilema ini secara konkret. Sebagai content creator TikTok dengan 50.000 followers, Rina awalnya bergantung pada "klik" untuk riset: Google untuk fakta cepat, Blinkist untuk ringkasan buku.
"Efisien, tapi tugas kuliahku sering superficial dan kurang depth," katanya dalam wawancara UI Survey (2023). Pandemi memperburuk situasi; produktivitasnya turun karena notif konstan. Pada 2022, dosennya merekomendasikan Perpusnas.
Di sana, Rina menemukan arsip media digital langka, bergabung book club, dan menyelesaikan esai dengan nilai A. Kini, ia hybrid: klik untuk screening, kunjungi untuk verifikasi.
Kasus serupa terjadi pada Alex Tan, mahasiswa ITB (dokumentasi ITB Library, 2024), yang beralih dari YouTube ke perpustakaan untuk proyek AI, menghasilkan publikasi jurnal berkat akses database fisik.
Tantangan Utama: Dalam dilema ini bersifat multifaset. Pertama, aksesibilitas: Banyak perpustakaan di daerah terpencil kekurangan fasilitas digital, sementara urban overcrowding (Perpusnas RI, 2023).
Kedua, kebiasaan digital: 45% Gen Z mengaku "malas" ke perpustakaan karena takut FOMO (Fear of Missing Out) di medsos (Pew, 2023).
Ketiga, kualitas konten: Digital penuh hoaks, sementara buku fisik kadang outdated tanpa update digital.
Keempat, biaya waktu: Kunjungi butuh effort, kontras dengan klik instan. Kelima, pandemi legacy: Kebiasaan WFH membuat perpustakaan terasa usang (APA, 2022).
Simpulan dan Rekomendasi
Dilema "klik atau kunjungi" bagi generasi Z terhadap perpustakaan bukanlah pertarungan zero-sum, melainkan peluang sinergi yang luar biasa di mana kecepatan serta aksesibilitas dunia digital dapat melengkapi kedalaman pengetahuan dan kekuatan komunitas dari ruang fisik perpustakaan.
Sebagai generasi pivot yang mewarisi era informasi hybrid, Gen Z dituntut untuk mengambil peran aktif guna menghindari jebakan digital fatigue seperti penurunan rentang perhatian dan misinformasi, sambil turut merevitalisasi perpustakaan tradisional menjadi pusat inovasi.
Saran praktis meliputi adopsi model hybrid dengan menggunakan klik untuk eksplorasi awal dan kunjungi untuk analisis mendalam seperti dalam kasus Rina; challenge 30 hari kunjungi perpustakaan seminggu sekali yang dikombinasikan dengan aplikasi tracking reading seperti Goodreads.
Penguatan infrastruktur oleh pemerintah melalui peningkatan anggaran Perpusnas menuju target 50% digitalisasi sesuai rencana Kemdikbud 2025; integrasi edukasi literasi di sekolah via workshop "Digital vs Fisik"; serta kolaborasi komunitas dengan menjadikan Gen Z sebagai ambassador perpustakaan melalui challenge TikTok.
Dengan menerapkan langkah-langkah ini, generasi Z tidak hanya mampu mengubah dilema menjadi keunggulan kompetitif di dunia informasi hybrid, tetapi juga membentuk masa depan literasi yang inklusif dan berkelanjutan saatnya klik bijak dan kunjungi sadar.
PENULIS : Muthia Naila Ansharia Arzahwar
Mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment