Kampus
Mahasiswa
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Ketika Atlet Indonesia Bertanding Melawan Komentar: Media Sosial dan Tekanan Mental di Era Digital
APERO FUBLIC I OPINI.- Pada era digital saat ini, para atlet Indonesia tidak lagi hanya secara fisik bertanding di lapangan tetapi juga mulai menghadapi berbagai tekanan yang sangat besar di media sosial. Ketika para atlet mulai mengalami berbagai kekalahan, dan melakukan kesalahan demi kesalahan, para atlet akan menjadi bahan hujatan dari publik diberbagai media sosial.
Fenomena ini sudah berlangsung lama di Indonesia, dan menurut saya fenomena ini mulai menjadi masalah yang sangat amat serius walaupun juga sering diabaiakan oleh masyarakat.
Netizen Indonesia sering merasa dirinya bebas di media sosial dengan memberikan berbagai komentar jahat serta serangan secara verbal kepada para atlet tanpa berpikir dampak yang dihasilkan nantinya.
Media sosial seharusnya membawa berbagai manfaat bagi dunia olahraga dan atlet, karena mereka dapat berinteraksi dengan para penggemarnya, membangun personal branding, dan mendapatkan peluang kerja dengan sponsor. Namun, pada akhirnya media sosial mulai menjadi tempat munculnya perundungan dan hujatan secara masif kepada para atlet.
Fenomena ini semakin besar karena jumla pengguna media sosial di Indonesia juga terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan survei APJII tahun 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 229 juta jiwa dengan tingkat penetrasi internet sebesar 80,66 persen.
Selain itu, laporan DataReportal Indonesia 2025 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 143 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia. Besarnya jumlah pengguna media sosial membuat komentar dan opini publik di media sosial semakin sulit untuk dikendalikan.
Pendapat saya, masyarakat Indonesia masih tidak bisa membedakan antara kritik dan perundungan. Seharusnya kritik disampaikan secara objektif dengan tujuan membangun tanpa harus menghina dan masuk ke ranah pribadi, sedangkan perundungan mengarah pada penghinaan dan serangan pribadi.
Hal ini sering terjadi ketika atlet sepak bola, bulu tangkis, esports Indonesia dan berbagai macam olahraga lainnya ketika mengalami kekalahan atau melakukan kesalahan ketika sedang bertanding.
Pada akhirnya banyak pelatih mengharuskan para atletnya untuk membatasi penggunaan media sosial ketika sedang menjalani perlombaan demi menjaga kondisi mental dan psikis para atlet.
Dalam perspektif Pendidikan Kewarganegaraan, masalah ini berkaitan dengan nilai kemanusiaan dan etika digital. Sila kedua Pancasila menegaskan pentingnya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Artinya, masyarakat harus mampu menghargai orang lain, termasuk saat memberikan komentar di media sosial.
Tekanan mental dari media sosial dapat memengaruhi performa atlet secara langsung. Atlet yang terus menerima hujatan biasanya mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, dan kehilangan fokus saat bertanding. Jika kondisi ini terus terjadi tanpa adanya kesadaran masyarakat, para atlet Indonesia bisa kehilangan performa terbaiknya karena tekanan mental yang berlebihan.
Menurut saya, masyarakat harus mulai bijak dalam menggunakan media sosial terutama ketika berkomentar. Kritik memang penting dalam dunia olahraga karena dapat membangun para atlet agar lebih baik dalam bertanding, tetapi juga dapat menjadi pedang bermata dua bagi atlet sehingga memengaruhi kondisi mental mereka.
Seharusnya tidak perlu disertai hinaan dan komentar kasar yang mengarah ke hal-hal yang bersifat pribadi bagi atlet. Pemerintah dan federasi olahraga juga perlu memberikan pendampingan psikologis kepada para atlet agar kesehatan mental mereka tetap terjaga dari hal-hal buruk akibat hujatan di media sosial.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang dukungan bagi para atlet dan bukan tempat untuk menjatuhkan mental mereka. Jika masyarakat ingin melihat atlet Indonesia menorehkan prestasinya maka dukungan dan sikap bijak di media sosial juga harus menjadi bagian dari budaya olahraga di Indonesia.
Referensi
APJII. 2025. Survei Internet Indonesia 2025.
DataReportal. 2025. Digital 2025 Indonesia.
PENULIS : Rafael Prima Adiswara
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment