Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Fenomena Pembulian Remaja di Era Modern
APERO FUBLIC I OPINI.- Pada era modern yang ditandai dengan dominasi teknologi digital, kehidupan remaja mengalami perubahan yang cukup besar. Kemajuan teknologi, terutama media sosial, memberikan kemudahan dalam berinteraksi serta memperoleh informasi.
Namun demikian, di balik berbagai keuntungan tersebut, muncul tantangan baru berupa meningkatnya kasus pembulian (bullying) di kalangan remaja.
Jika pada masa sebelumnya pembulian lebih sering terjadi secara langsung, saat ini fenomena tersebut berkembang ke ranah digital dalam bentuk cyberbullying yang dampaknya tidak kalah serius, bahkan cenderung lebih berbahaya.
Pembulian adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh individu maupun kelompok terhadap pihak yang dianggap lebih lemah. Bentuknya sangat beragam, mulai dari kekerasan fisik, hinaan secara verbal, pengucilan sosial, hingga penyebaran konten negatif melalui media sosial.
Dalam era digital saat ini, cyberbullying menjadi bentuk yang paling sering terjadi, misalnya melalui komentar yang bersifat menghina, penyebaran informasi yang tidak benar, serta tindakan mempermalukan seseorang di ruang publik daring.
Sumber: https://shorturl.asia/id/4cnbs |
Fenomena ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi telah benar-benar terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu peristiwa yang menarik perhatian publik pada tahun 2025 adalah kasus perundungan di Universitas Udayana, Bali.
Telah terjadi pada seorang mahasiswa bernama Timothy Anugerah Saputra. Korban ditemukan dalam keadaan mengalami luka serius setelah terjatuh dari lantai dua gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan kemudian meninggal dunia akibat cedera tersebut.
Kasus ini mendapat perhatian luas setelah tersebarnya tangkapan layar percakapan di media sosial yang memperlihatkan adanya ejekan, penghinaan, serta sikap kurang empati dari sejumlah mahasiswa terhadap korban.
Meskipun pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian, dugaan adanya perundungan, khususnya dalam bentuk cyberbullying, menimbulkan kekhawatiran yang besar terhadap dampak tekanan sosial di lingkungan pendidikan.
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyatakan bahwa peristiwa ini harus dijadikan sebagai peringatan serius bagi dunia pendidikan. Ia menekankan perlunya refleksi dan pembenahan budaya kampus agar tercipta lingkungan yang aman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.
Disisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga mendorong dilakukannya penyelidikan secara menyeluruh serta penguatan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pembulian, baik yang terjadi secara langsung maupun melalui media digital, dapat menimbulkan tekanan psikologis yang sangat besar bagi korban. Dalam situasi tertentu, tekanan tersebut bahkan dapat berujung pada dampak yang sangat serius.
Maka diperlukan langkah nyata dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa lingkungan pendidikan benar-benar menjadi tempat yang aman bagi setiap individu.
Sumber: https://shorturl.asia/id/h6A9H |
Selain itu, kasus cyberbullying juga semakin banyak terjadi di Indonesia dengan berbagai bentuk. Sebagai contoh, seorang remaja dapat menjadi target ejekan di media sosial karena penampilannya yang dianggap berbeda. Korban sering kali menerima komentar negatif dan hinaan dari warganet yang tidak dikenal.
Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis, seperti menurunnya kepercayaan diri, munculnya kecemasan, hingga kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Hal tersebut menunjukkan bahwa media sosial berpotensi menjadi ruang yang tidak aman apabila tidak dimanfaatkan secara bijaksana.
Terjadinya Pembulian Dipengaruhi Oleh Berbagai Faktor
Pertama, faktor lingkungan sosial, seperti budaya senioritas, tekanan dari kelompok, serta keinginan individu untuk diterima dalam pergaulan.
Kedua, faktor keluarga, yang meliputi kurangnya perhatian, komunikasi, dan pengawasan dari orang tua.
Ketiga, pengaruh media sosial yang menyediakan ruang anonim bagi pelaku, sehingga mereka merasa bebas dari konsekuensi atas tindakannya. Selain itu, rendahnya tingkat empati dan kontrol diri juga turut memperparah perilaku pembulian.
Dampak pembulian terhadap korban sangat serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dari sisi psikologis, korban dapat mengalami stres, kecemasan, depresi, hingga trauma. Dari sisi sosial, korban cenderung mengasingkan diri dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan, dalam kasus tertentu, pembulian dapat mendorong korban untuk melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri. Tidak hanya korban, pelaku pembulian juga berpotensi mengalami gangguan perilaku apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Upaya untuk mengatasi pembulian memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Lembaga pendidikan perlu menciptakan lingkungan yang aman serta menerapkan kebijakan anti-pembulian secara tegas.
Orang tua juga harus berperan aktif dalam memberikan pendidikan karakter, menanamkan nilai empati, serta mengawasi perkembangan anak, khususnya dalam penggunaan media sosial. Di sisi lain, remaja perlu dibekali dengan literasi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, fenomena pembulian remaja di era modern merupakan permasalahan yang kompleks dan tidak dapat dianggap remeh. Berbagai kasus yang terjadi menunjukkan bahwa pembulian memiliki dampak yang luas dan mendalam.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung bagi perkembangan remaja di masa mendatang.
PENULIS : Rifka Zahera
( Mahasiswa Prodi PBSI Universitas Rokania )
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment