Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Pertanian
Singkong untuk Indonesia:Mengubah Stigma Menjadi Strategi Ketahanan Pangan
APERO FUBLIC I OPINI.- Indonesia menyimpan sebuah ironi yang menarik untuk dicermati soal pangan. Di satu sisi, kita dikenal sebagai negara pertanian yang besar. Tapi di sisi lain, kita justru terus-terusan membeli gandum dari luar negeri dalam jumlah yang sangat besar.
Pada 2022 saja, Indonesia mengimpor lebih dari 11 juta ton gandum, yang membuat kita masuk dalam daftar negara pembeli gandum terbesar di dunia (Badan Pusat Statistik, 2022). Di saat yang sama, singkong yang tumbuh subur di tanah kita sendiri malah diabaikan, bahkan masih dipandang sebelah mata sebagai makanan orang tidak mampu.
Padahal, ini bukan sekadar soal selera makan, melainkan tanda bahwa kita belum benar-benar memanfaatkan kekayaan pangan lokal yang kita miliki.
Pertanyaannya bukan lagi apakah singkong layak menjadi pilar pangan nasional. Secara agronomis dan ekonomis, jawabannya jelas: ya. Pertanyaan sesungguhnya adalah mengapa potensi ini belum juga dioptimalkan, dan apa yang harus segera dilakukan.
Stigma sosial terhadap singkong bukan fenomena baru. Dalam sejarah pangan Indonesia, singkong lekat dengan masa penjajahan dan kemiskinan. Ia hadir sebagai pengganti nasi ketika beras tidak terjangkau. Konstruksi sosial inilah yang membuat masyarakat secara kolektif menganggap konsumsi singkong sebagai kemunduran, bukan pilihan cerdas.
Sayangnya, stigma ini membawa kerugian yang nyata. Saat masyarakat lebih memilih produk berbahan gandum impor dan meninggalkan singkong, uang negara terus mengalir ke luar untuk membayar gandum dari negeri orang. Belum lagi, terlalu bergantung pada satu jenis bahan pangan membuat kita mudah goyah.
Buktinya, ketika El Nino melanda pada 2023, harga beras langsung melonjak hingga 20% dalam waktu singkat. Ini membuktikan bahwa sistem pangan kita masih sangat rapuh.
Masalah berikutnya adalah singkong belum diolah secara serius.
Kebanyakan petani menjual singkong begitu saja dalam bentuk mentah dengan harga yang murah. Akibatnya, keuntungan yang didapat sangat kecil dan petani pun tidak punya cukup alasan untuk menanam lebih banyak atau meningkatkan kualitasnya. Selama singkong tidak diolah menjadi produk bernilai lebih, potensinya akan terus terbuang sia-sia.
Data menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya telah duduk di atas tambang emas pangan yang belum digarap serius. Menurut data Kementerian Pertanian (2022), Indonesia merupakan produsen singkong terbesar ketiga di dunia dengan produksi mencapai 17,8 juta ton per tahun, setelah Nigeria dan Thailand.
Namun, produktivitas rata-rata lahan singkong Indonesia masih berada di kisaran 20 hingga 22 ton per hektar, jauh di bawah potensi optimal yang dapat mencapai 40 ton per hektar dengan teknologi budidaya yang tepat.
Dari sisi gizi, singkong mengandung karbohidrat kompleks sebesar 38 gram per 100 gram bahan, serta merupakan sumber serat, vitamin C, dan kalium yang signifikan. Dengan fortifikasi protein sederhana melalui fermentasi atau penambahan kedelai, nilai gizinya dapat ditingkatkan secara substansial.
Adapun tepung mocaf (Modified Cassava Flour), produk inovasi berbasis singkong, telah terbukti mampu mensubstitusi 30 hingga 60 persen kebutuhan tepung terigu dalam berbagai produk bakeri tanpa mengubah kualitas secara signifikan (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, 2021).
Dari sisi lingkungan, singkong membutuhkan input produksi yang jauh lebih rendah dibanding tanaman pangan lain. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan dengan curah hujan rendah antara 600 hingga 1.500 mm per tahun, toleran terhadap tanah masam, dan tidak memerlukan irigasi intensif.
Di tengah ancaman krisis air dan degradasi lahan akibat perubahan iklim, karakteristik ini menjadikan singkong sebagai tanaman pangan masa depan yang sangat relevan.
Pertama, pemerintah perlu serius membangun jalur pengolahan singkong dari hulu ke hilir. Artinya, perlu ada pabrik pengolahan mocaf di daerah penghasil singkong, keringanan pajak bagi perusahaan makanan yang mau menggunakan singkong lokal, serta harga minimum yang menjamin petani tidak merugi ketika harga pasar jatuh.
Cara seperti ini sebenarnya sudah berhasil diterapkan pada kelapa sawit, dan bisa ditiru untuk singkong.
PENULIS:
- Cantika Sausan Aurelita
- Ellena Marizka
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Pertanian Peternakan
Teknologi Pangan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment