Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Cerita Fantasi dan Realita: Mengapa Remaja Lebih Suka Fiksi dari Pada Buku Pelajaran
APERO FUBLIC I ESAI.- Di tengah derasnya arus digital, remaja ternyata masih belum berhenti membaca. Mereka tetap membuka halaman demi halaman, tetapi bukan halaman buku pelajaran. Kini bacaan mulai hadir dalam bentuk e-book, aplikasi novel daring hingga platform buku bacaan yang mudah di buka di mana saja untuk membaca baik ilmu pengetahuan atau cerita fiksi.
Namun alih-alih membaca buku pelajaran, remaja lebih memilih membaca cerita fiksi. Ironisnya, ketika cerita fantasi dan novel fiksi banyak diminati, buku pelajaran justru semakin dijauhi. Dari sini, kita perlu melihat ulang soal Literasi remaja. Apakah remaja malas belajar atau malah bahan bacaan sekolah justru kurang menarik perhatian mereka?
Perubahan minat baca remaja dapat di lihat dari perpustakaan yang semakin sepi dan toko buku yang tidak ramai lagi. Sementara waktu luang remaja kini banyak tersita oleh sosial media. Fenomena ini erat kaitannya dengan kebiasaan remaja mencari informasi di era digital.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 79 persen penduduk. Angka itu menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat, termasuk remaja, hidup dekat dengan gawai.
Kebiasaan remaja yang melihat konten singkat membuat remaja semakin terbiasa menerima informasi secara cepat. Mereka cukup membaca judul, ringkasan informasi atau menonton video berdurasi singkat untuk memahami suatu hal.
Akibatnya bacaan yang membutuhkan fokus panjang akan terasa melelahkan. Buku pelajaran yang berisi paragraf dan minimnya visualisasi akhirnya kalah bersaing dengan konten digital yang lebih interaktif dan langsung menarik perhatian.
Dalam situasi seperti ini Tiktok, Instagram, YouTube dan Weebtoon menjadi ruang yang lebih sering di kunjungi dari pada perpustakaan dan toko buku. Namun ada penelitian yang menyatakan bahwa minat pembaca tidak sepenuhnya menurun, tetapi bergeser ke platfrom digital yang sesuai dengan kebiasaan remaja saat ini (Yulia, 2025).
Remaja cenderung memilih bacaan yang mudah diakses, cepat dan menarik (Annisa Tri Ning Tyas, 2024). Meski demikian, Data Perpustakaan Nasional tahun 2024 mencatat Tingkat Kegemaran Membaca Nasional mencapai 72,44 (Perpusnas RI, 2024) yang menunjukkan bahwa kebiasaan membaca belum hilang.
Setelah saya lihat sekarang ini Perubahan minat baca ini terjadi karena cara remaja menerima informasi sudah berubah. Saat ini informasi hadir dalam berbagai bentuk yang lebih singkat, cepat dan visual.
Masalahnya, kebiasaan scrolling yang terus menerus membuat remaja lebih terbiasa dengan konten dibandingkan dengan membaca buku yang tebal dan membaca kalimat padat seperti buku pelajaran. Akibatnya, buku harus bersaing dengan banyak hal lain dan membuat membaca terasa kurang menarik.
Ada alasan mengapa remaja lebih suka cerita fantasi. Pada masa remaja manusia berada di fase menemukan jati diri yang di mana faktor emosional dan imajinatifnya lebih mendominasi.
Menurut saya, Cerita fantasi cocok dengan dunia remaja saat ini dengan alur yang imajinatif tokoh yang kuat serta konflik emosional yang mampu membuat pembaca lebih dekat dengan kehidupannya.
Dalam cerita fantasi, pembaca diajak masuk ke dunia baru yang jauh dari rutinitas sehari-hari. Ada tokoh pemberani, konflik menegangkan, persahabatan kuat, dan perjalanan penuh tantangan.
Unsur-unsur seperti itu membuat remaja merasa ikut hidup di dalam cerita bahkan ada yang ikut terbawa suasana ke dalam ceritanya. Mereka bukan sekadar membaca, tetapi juga merasakan emosi dan perjalanan tokohnya.
Pengalaman seperti ini membuat membaca terasa lebih seru dan tidak membosankan. Alur cerita yang menarik membuat pembaca semakin terdorong untuk menghilangkan rasa penasarannya. Inilah sebabnya banyak remaja lebih betah menamatkan ratusan halaman novel dari pada membaca halaman pelajaran yang isinya materi pelajaran.
Saya melihat bahwa remaja masa kini, hidup di tengah tekanan sosial akademik, sosial lingkungan bahkan tekanan mental yang cukup tinggi. Dalam kondisi tersebut mereka membutuhkan ruang jeda.
Cerita Fantasi menjadi “ruang aman” untuk beristirahat dari realitas kehidupan. Mereka tidak hanya membaca namun dari cerita fantasi mereka menemukan makna hidup dan nilai yang kadang tidak dapat mereka maknai dari buku pelajaran karena bahasa yang baku juga mempengaruhi minat dan gagal membangkitkan sisi emosional kita.
Hal ini sejalan dengan temuan National Literacy Trust (2023) yang menyebutkan bahwa banyak remaja membaca fiksi karena dapat membatu relaksasi, meningkatkan suasana hati, dan memahami perasaan diri sendiri (National Literacy Trust, 2023).
Karena Itu menganggap cerita fiksi sekedar bacaan ringan merupakan pandangan yang keliru, sebab cerita fiksi juga terdapat sisi edukatifnya.
Fenomena ini bukan berarti remaja tidak peduli pada pengetahuan. Akan tetapi, dunia pendidikan perlu mulai memikirkan cara baru dalam menyampaikan materi. Buku pelajaran dapat dibuat lebih menarik melalui ilustrasi, cerita kontekstual, bahasa yang lebih ringan, serta contoh yang dekat dengan kehidupan siswa.
Guru juga dapat memanfaatkan media digital seperti video singkat, komik edukasi, atau platform belajar interaktif. Jika unsur- unsur dalam cerita fantasi dapat membangkitkan sisi emosional remaja, rasa ingin tahu dan keterlibatan membaca maka dunia pendidikan seharusnya mulai belajar dari cara tersebut, maka minat belajar siswa pun akan lebih mudah tumbuh.
Belajar tidak cukup hanya menyampaikan isi pelajaran, tetapi juga harus menciptakan pengalaman yang hidup, dekat, dan bermakna bagi siswa. jika imajinasi mampu membuka pintu pembaca, pendidikan seharusnya masuk melalui pintu yang sama.
Sumber:
Annisa Tri Ning Tyas, N. R. (2024). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Minat Baca Pada Aplikasi Komik Digital dengan Metode UTAUT (Studi Kasus: Webtoon). KONSTELASI: Konvergensi Teknologi dan Sistem Informasi, 1-14.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024, February 7). APJII jumlah pengguna internet Indonesia tembus 221 juta orang. https://apjii.or.id
National Literacy Trust. (2023). Reading for mental wellbeing: Children and young people's voices in 2023. https://literacytrust.org.uk/research-services/research-reports/reading-for-mental-wellbeing-in-2023/
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2025, October 31). Perpusnas genjot peningkatan budaya baca dan literasi melalui program inklusi dan digitalisasi. Perpusnas RI. https://perpusnas.go.id
Yulia, A. (2025). Peran Wattpad dalam Meningkatkan Minat Membaca Sastra Dikalangan Remaja. Jurnal Nakala: Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial, 165-172.
PENULIS : Hilda Nurul Ajizah Fauziah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Tarbiyah dan Keguruan, Tadris Bahasa Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment