Kampus
Kimia
Kuliner
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Efektivitas Cuka dan Garam dalam Menghambatan Pertumbuhan Mikroorganisme pada Asinan
APERO FUBLIC I KULINER.- Asinan merupakan salah satu produk pangan tradisional yang banyak dijumpai di wilayah perkotaan Indonesia, khususnya Bogor. Produk ini digemari karena karakteristik rasanya yang khas, yaitu perpaduan rasa asam, asin, manis, dan pedas.
Di samping aspek sensori, asinan juga mencerminkan penerapan teknologi pengawetan pangan sederhana yang telah digunakan secara turun-temurun.
Sebelum berkembangnya sistem pendinginan dan pengawet sintetis, masyarakat memanfaatkan cuka dan garam sebagai bahan utama untuk memperpanjang umur simpan buah dan sayuran.
Praktik ini pada dasarnya merupakan penerapan prinsip kimia dan mikrobiologi pangan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai produk berbasis buah dan sayuran dengan kadar air tinggi, asinan memiliki potensi besar untuk mengalami kerusakan akibat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk maupun patogen.
Oleh karena itu, diperlukan metode pengawetan yang mampu menekan aktivitas mikroba tanpa menurunkan mutu dan keamanan produk.
Cuka dan garam dipilih karena keduanya bekerja dengan cara memodifikasi kondisi lingkungan, terutama melalui pengendalian pH dan aktivitas air (aw), yang merupakan faktor utama dalam pertumbuhan mikroorganisme
Penggunaan cuka dalam pengolahan asinan bertujuan menurunkan pH produk.
Menurut Philip M. Davidson dkk. (2013), sebagian besar bakteri patogen dan pembusuk memiliki kisaran pH optimum mendekati netral. Penurunan pH hingga di bawah 4,5 dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme secara signifikan.
Asam asetat yang terkandung dalam cuka bekerja dengan cara masuk ke dalam sel mikroorganisme dalam bentuk tidak terdisosiasi, kemudian terdisosiasi di dalam sel sehingga menurunkan pH intraseluler.
Kondisi ini mengganggu aktivitas enzim dan metabolisme mikroba, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan sel. Dalam praktik pengolahan pangan asam, pH produk umumnya dijaga pada kisaran 3,0–4,0.
Menurut Fellows (2017), rentang pH tersebut sudah cukup efektif untuk menekan pertumbuhan sebagian besar bakteri patogen, meskipun beberapa khamir dan kapang masih mampu bertahan.
Oleh karena itu, pengasaman menggunakan cuka menjadi salah satu faktor utama dalam menjamin keamanan produk asinan.
Selain pH, aktivitas air (aw) juga merupakan faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Jay dkk. (2015), sebagian besar bakteri memerlukan nilai aw di atas 0,91 untuk dapat tumbuh dengan baik.
Penambahan garam (NaCl) pada asinan berfungsi menurunkan aktivitas air dengan cara mengikat air bebas. Menurut Fellows (2017), larutan garam dengan konsentrasi 5–10% mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk melalui mekanisme tekanan osmotik, di mana air keluar dari sel mikroorganisme sehingga menyebabkan dehidrasi dan gangguan fungsi sel.
Kombinasi penggunaan cuka dan garam memberikan efek penghambatan yang lebih kuat dibandingkan penggunaan masing-masing perlakuan secara terpisah.
Menurut Tamang dkk. (2020), lingkungan yang bersifat asam dan memiliki aktivitas air rendah menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan mikroorganisme, sehingga memperpanjang umur simpan pangan tradisional.
Hal ini menjelaskan mengapa asinan dapat bertahan lebih lama dibandingkan buah dan sayuran segar.
Namun demikian, tidak semua mikroorganisme sepenuhnya terhambat oleh keberadaan garam. Menurut ICMS, beberapa bakteri bersifat halotoleran, seperti Staphylococcus aureus, masih dapat bertahan pada lingkungan dengan kadar garam tertentu dan berpotensi menghasilkan toksin.
Oleh karena itu, pengendalian pH tetap menjadi faktor kunci dalam menjamin keamanan produk. Pada pH di bawah 4,0, pertumbuhan Staphylococcus aureus dapat ditekan secara efektif sehingga risiko pembentukan toksin dapat diminimalkan.
Ditinjau dari aspek gizi dan keamanan pangan, pemahaman terhadap mekanisme pengawetan menggunakan cuka dan garam menjadi hal yang krusial, terutama bagi pelaku industri rumah tangga dan UMKM pangan.
Berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional, asinan termasuk dalam kategori pangan diasamkan (acidified food).
Oleh karena itu, pengendalian parameter proses seperti pH, konsentrasi garam, cemaran mikrobiologi, serta penerapan higiene dan sanitasi selama proses produksi menjadi faktor utama dalam penjaminan mutu dan keamanan produk.
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan asinan harus berada dalam kondisi segar, tidak mengalami kerusakan fisik, dan bebas dari kontaminan. Selain itu, bahan tambahan seperti cuka dan garam wajib memenuhi persyaratan mutu pangan.
Seluruh tahapan produksi juga harus menerapkan prinsip Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) guna meminimalkan risiko kontaminasi silang selama proses pengolahan.
Proses pengasaman menggunakan cuka bertujuan menurunkan pH produk hingga mencapai kisaran aman bagi pangan asam, umumnya ≤ 4,5.
Sementara itu, penambahan garam dengan konsentrasi sekitar 3–10% (b/b) berfungsi menurunkan aktivitas air sehingga membatasi ketersediaan air bebas yang dibutuhkan mikroorganisme untuk tumbuh.
Kombinasi kedua perlakuan tersebut terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk maupun patogen.
Dari perspektif mikrobiologi, produk asinan harus memenuhi batas maksimum cemaran mikroba, bebas dari patogen seperti Salmonella sp., serta mampu menekan pertumbuhan bakteri halotoleran.
Dengan penerapan standar mutu dan keamanan tersebut secara konsisten, produk asinan diharapkan aman untuk dikonsumsi, memiliki kualitas yang stabil, dan layak dipasarkan oleh industri rumah tangga maupun UMKM pangan lokal.
PENULIS: Nofira Atatun Ramadhani
Mahasiswi Institut Teknologi Sawit Indonesia, Program Studi teknik Kimia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment