Feature
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Alienasi Diri Dalam Relasi Yang Tidak Memberi Ruang Emosi
APERO FUBLIC I OPINI.- Fenomena alienasi diri dalam relasi yang tidak memberi ruang emosi semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Di tengah ritme hidup yang terasa semakin padat dan tuntutan untuk selalu tampak baik-baik saja, ruang untuk benar-benar merasakan dan mengungkapkan emosi justru semakin menyempit.
Banyak hubungan berjalan dengan standar ketenangan semu selama tetap hadir, tidak banyak mengeluh, dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan, maka semuanya dianggap baik-baik saja. Dalam situasi seperti ini, perasaan tidak dihapus, tetapi juga tidak disambut.
Kondisi tersebut sangat sering tumbuh dalam keluarga dan relasi personal. Sejak dini, banyak orang belajar bahwa emosi tertentu perlu disimpan agar suasana tetap terjaga. Tangis dianggap berlebihan, kesedihan diminta segera berlalu, dan kecemasan ditanggapi dengan nasihat singkat agar tidak berlarut.
Budaya “harus kuat” perlahan menggantikan empati, membuat perasaan hanya boleh hadir sejauh tidak mengganggu keseimbangan relasi. Dalam suasana seperti ini, manusia belajar menahan diri bukan karena mampu, melainkan karena takut kehilangan penerimaan.
Carl Rogers, melalui psikologi humanistik, menjelaskan bahwa tanpa unconditional positive regard, individu akan mulai meninggalkan bagian-bagian dirinya sendiri demi bertahan dalam relasi. Penerimaan yang bersyarat membuat emosi terasa tidak aman untuk ditampilkan.
Perasaan yang muncul tidak lagi dipercaya sebagai sesuatu yang sah, melainkan dianggap sebagai kelemahan yang perlu dikendalikan. Dari sinilah proses alienasi diri bermula perlahan, diam-diam, dan sangat menyedihkan.
Kesedihan menjadi semakin dalam ketika empati tidak dipahami sebagai tanggung jawab moral. Albert Bandura menyebut mekanisme ini sebagai moral disengagement, ketika seseorang dapat merasa telah berbuat cukup tanpa perlu menanggung beban emosional dari sikap yang ditampilkan.
Kalimat-kalimat yang terdengar wajar sering kali menjadi pembenaran yang menutup ruang refleksi. Tidak ada dorongan untuk memahami dampak emosional, karena semua telah dianggap normal.
Ada batin yang terus belajar memaklumi, menyesuaikan diri, dan menyimpan rasa yang tidak pernah benar-benar selesai. Dalam jangka panjang, lingkungan relasional seperti ini membentuk luka yang tidak selalu disadari.
Marsha Linehan menjelaskan bahwa invalidasi emosi yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengatur emosinya sendiri.
Ketika perasaan berulang kali tidak direspons secara memadai, muncul kebiasaan meragukan pengalaman batin. Emosi tidak lagi diproses, tetapi ditekan, hingga tubuh dan pikiran menanggung beban yang tidak pernah diberi bahasa.
Media sosial kemudian memperkuat pola ini. Di ruang digital, kebahagiaan sering ditampilkan sebagai standar, sementara kerentanan hanya diterima sejauh tidak terlalu lama dan tidak terlalu dalam.
Ada tekanan halus untuk selalu tampak kuat, tenang, dan terkendali. Dalam lanskap seperti ini, banyak orang memilih diam, bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi karena takut kembali merasa tidak dipahami.
Ironisnya, pembicaraan tentang kesehatan mental semakin sering terdengar, tetapi empati justru semakin jarang benar-benar hadir dalam relasi sehari-hari. Individu diminta mengelola emosinya sendiri, memahami keadaannya sendiri, dan pulih dengan caranya sendiri.
Pola relasi yang dingin terhadap emosi terus dibiarkan berjalan tanpa refleksi. Dalam kondisi seperti ini, alienasi diri bukan kegagalan pribadi, melainkan konsekuensi dari lingkungan yang tidak menyediakan ruang aman bagi perasaan.
Persoalan kesehatan mental hari ini tidak dapat dilepaskan dari kualitas relasi yang dibangun dalam keluarga dan kehidupan sosial.
Alienasi diri tumbuh bukan karena manusia terlalu lemah, melainkan karena terlalu sering diminta menyesuaikan diri dengan dunia yang tidak ramah terhadap kerentanan.
Selama empati tidak diposisikan sebagai tanggung jawab bersama, kelelahan batin akan terus mengendap sunyi, panjang, dan perlahan menggerus rasa kemanusiaan dari dalam.
PENULIS: Eliza Rahmawati
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Siliwangi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment