Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Lonjakan ISPA Dan Diare Ancam Anak-Anak Di Pengungsian Pasca-Bencana Sumatera
APERO FUBLIC I OPINI.- Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare pada anak-anak dilaporkan meningkat di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat kondisi sanitasi yang buruk dan keterbatasan air bersih menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyakit pada anak.
Kasus ISPA dan diare pada anak meningkat di pengungsian pascabencana Sumatra Utara dan Sumatra Barat. IDAI menilai buruknya sanitasi dan keterbatasan air bersih menjadi faktor utama risiko penyakit.
IDAI mencatat peningkatan kasus ISPA dan diare pada anak-anak di pengungsian pascabencana Sumut dan Sumbar. Sanitasi buruk dan minim air bersih membuat anak menjadi kelompok paling rentan.
Anak-anak dan warga mengungsi di sebuah gedung darurat pascabencana di Sumatra. Kondisi pengungsian yang padat dan minim fasilitas sanitasi meningkatkan risiko penyakit seperti ISPA dan diare, terutama pada anak-anak.
Lonjakan penyakit ISPA dan diare pada anak-anak di pengungsian pascabanjir bandang dan longsor di Sumatra Utara dan Sumatra Barat akibat sanitasi buruk dan keterbatasan layanan kesehatan, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare pada anak-anak dilaporkan meningkat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar).
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terdampak kondisi kesehatan di lokasi pengungsian.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat, penyakit yang paling dominan menyerang anak-anak pascabencana adalah ISPA dan diare. Kondisi pengungsian yang padat, keterbatasan air bersih, serta sanitasi yang tidak memadai menjadi faktor utama meningkatnya kasus tersebut.
Wakil Ketua IDAI Sumatra Utara, dr. Eka Airlangga, mengungkapkan bahwa hingga 30 November 2025, pihaknya mencatat 92 kasus ISPA, 23 kasus diare, 42 kasus infeksi jamur kulit (tinea), serta 4 kasus dermatitis bakteri pada anak-anak terdampak bencana.
“Sementara di wilayah Medan, terpantau 43 kasus ISPA, 6 kasus diare, dan 4 kasus tinea pada anak-anak,” ujar dr. Eka Airlangga.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Padang, Sumatra Barat. IDAI Sumatra Barat melaporkan 80 kasus ISPA pada anak-anak, 4 kasus diare, 6 kasus penyakit kulit, serta 4 kasus campak yang ditemukan dari dua lokasi pengungsian yang telah dikunjungi tim medis.
Ketua IDAI Sumatra Barat, dr. Asrawati, menyebut pendataan di sejumlah wilayah lain masih terkendala akses yang terbatas akibat dampak bencana. “Untuk wilayah lainnya di Sumatra Barat, data masih sulit didapat karena akses yang terbatas.
Kami berharap bisa segera mendatangi wilayah yang masih terisolasi,” kata dr. Asrawati. IDAI menilai kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap aspek kesehatan anak dalam penanganan bencana.
Selain bantuan logistik, ketersediaan layanan kesehatan, air bersih, fasilitas sanitasi, serta edukasi perilaku hidup bersih di pengungsian dinilai harus menjadi prioritas sejak awal masa tanggap darurat.
Jika pola peningkatan penyakit pada anak terus berulang setiap kali bencana terjadi, IDAI menilai hal tersebut mencerminkan lemahnya kesiapsiagaan dan perencanaan jangka panjang.
Perlindungan kesehatan anak pascabencana tidak hanya menyangkut penanganan medis, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kualitas generasi mendatang
Oleh: Refika Prakasa Putra Dinata
Mahasiswi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment