-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Kampus Kerinci Mahasiswa Opini Pendidikan Kurikulum Merdeka: Merdeka untuk Siapa?
Kampus Kerinci Mahasiswa Opini Pendidikan

Kurikulum Merdeka: Merdeka untuk Siapa?

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
18 Dec, 2025 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Penulis : Folin Volinda

APERO FUBLIC  I  MAHASISWA.-  Sungai Penuh, Kerinci – Kurikulum Merdeka hadir dengan tekad untuk membebaskan metode pembelajaran dari pola lama yang rigid dan seragam. Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan dapat belajar sesuai dengan minat serta bakat mereka, sementara guru diberikan kesempatan untuk berinovasi dalam penyampaian materi. Namun, di balik istilah “merdeka” yang megah ini, muncul pertanyaan penting yang perlu dipikirkan bersama: merdeka untuk siapa sebenarnya? Apakah kebebasan itu benar-benar dirasakan oleh siswa dan guru di dalam kelas, atau hanya sebatas konsep kebijakan di tingkat pusat?

Dalam praktiknya, pelaksanaan Kurikulum Merdeka di wilayah seperti Kerinci memperlihatkan kenyataan yang tidak selalu sejalan dengan harapan. Kesiapan sekolah yang bervariasi, fasilitas yang terbatas, serta pemahaman guru yang belum merata menyebabkan arti kebebasan belajar menjadi tidak jelas. Di satu sisi, kurikulum ini memberikan fleksibilitas, tetapi di sisi lain justru menciptakan kebingungan dalam penerapannya. Kebebasan yang seharusnya memandu siswa menuju pengalaman belajar yang bermakna, terkadang dianggap hanya sebagai pengurangan tuntutan akademis tanpa tujuan yang jelas.

Keadaan ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka bukan sekadar tentang mengganti kurikulum lama dengan istilah baru, melainkan bagaimana kebijakan pendidikan benar-benar memperhatikan kondisi yang ada di lapangan. Jika kebebasan belajar tidak diimbangi dengan kesiapan sistem, pendampingan yang konsisten, serta pemahaman yang menyeluruh, maka pertanyaan “Kurikulum Merdeka, merdeka untuk siapa? ” akan terus menjadi relevan untuk diajukan sebelum kita menggali lebih dalam tentang janji, tantangan, dan realitas pelaksanaannya.


1. Janji Besar di Balik Kurikulum Merdeka

Apakah Kurikulum Merdeka benar-benar memberi kebebasan kepada para siswa, atau justru hanya terdengar merdeka di kertas saja?

Kurikulum Merdeka datang membawa janji besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Ia diharapkan bisa menjadi solusi bagi sistem belajar yang kaku, seragam, dan terasa membebani. Dengan kurikulum ini, siswa diharapkan bisa belajar sesuai dengan minat dan bakatnya, sementara guru diberi ruang untuk merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kehidupan nyata dan bermakna. Secara konsep, gagasan ini terdengar sangat baik dan penuh harapan.

Dalam narasi resmi, Kurikulum Merdeka ingin memindahkan pusat pembelajaran dari guru ke siswa. Siswa tidak lagi dianggap sebagai orang yang hanya menerima materi, melainkan sebagai pribadi yang aktif, bisa berpikir, mengeksplorasi, dan mencipta. Pembelajaran berbasis proyek diperkenalkan agar siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Itulah seharusnya makna dari kata “merdeka”.

Namun, realitanya tidak se-simple itu. Kurikulum tidak akan hidup hanya karena adanya konsep atau dokumen kebijakan. Ia harus berhadapan langsung dengan kondisi sekolah yang sangat beragam. Siap tidaknya guru, fasilitas sekolah, budaya belajar siswa, serta dukungan kebijakan menjadi penentu utama keberhasilan Kurikulum Merdeka. Jika aspek-aspek tersebut belum siap, janji besar kurikulum ini bisa jadi hanya slogan kosong.

Secara filosofis, Kurikulum Merdeka selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, yang mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses memerdekakan manusia sesuai dengan kodratnya. Pendidikan seharusnya membimbing, bukan memaksa. Namun, di lapangan, makna kebebasan ini sering diartikan salah. Kebebasan belajar kerap dipahami sebagai pengurangan tuntutan akademik, bukan sebagai kesempatan untuk belajar secara lebih bertanggung jawab dan bermakna.

Itulah tantangan awal Kurikulum Merdeka. Jika kebebasan tidak disertai pemahaman yang cermat, arah pembelajaran justru menjadi tidak jelas. Alih-alih melahirkan siswa yang mandiri dan kritis, yang muncul justru adalah siswa yang bingung dalam praktik belajar. Ini menunjukkan bahwa kebebasan belajar bukan soal mengurangi aturan, melainkan tentang membangun kesadaran belajar yang lebih dewasa.

Dengan demikian, janji besar Kurikulum Merdeka sebenarnya membawa peluang perubahan yang penting. Namun, peluang itu hanya bisa terwujud jika konsep idealnya diubah menjadi praktik nyata dan didukung oleh kesiapan semua pihak. Tanpa itu, pertanyaan “merdeka untuk siapa?” akan tetap relevan.

2. Antara Ideal dan Kehidupan di Kelas

Apakah Kurikulum Merdeka benar-benar siap diterapkan di semua kelas, atau justru membuat sekolah terburu-buru tanpa sempat belajar bertahap?

Secara teori, Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi, metode, dan cara penilaian sesuai kebutuhan siswa. Dalam dokumen, kurikulum ini terdengar menggiurkan. Namun, ketika diterapkan di kelas, ide-ide tersebut sering bertabrakan dengan kenyataan sekolah yang beragam dan berbeda.

Masalah utamanya bukan pada konsep Kurikulum Merdeka sendiri, melainkan pada kesiapan sekolah dalam menerapkannya. Tidak semua sekolah memiliki kondisi yang sama. Ada yang sudah memiliki fasilitas memadai, pelatihan guru yang cukup, dan budaya belajar yang mendukung. Namun, banyak sekolah yang masih menghadapi keterbatasan di berbagai aspek, seperti kurangnya bantuan, guru yang belum siap, dan kekurangan fasilitas.

Dalam penerapan, guru harus mampu memahami tujuan pembelajaran, mengatur proses, merancang penilaian, hingga membuat materi ajar secara mandiri. Tuntutan ini membutuhkan kemampuan yang kuat dan waktu yang cukup. Sayangnya, tidak semua guru menerima pelatihan yang merata dan terus-menerus. Akibatnya, pemahaman tentang Kurikulum Merdeka tidak seragam bahkan menyebabkan kebingungan dalam pelaksanaannya.

Perbedaan pemahaman ini memengaruhi proses belajar mengajar. Ada guru yang mampu mengadaptasi kurikulum secara kreatif dan sesuai konteks, tetapi ada juga yang hanya mengganti kata-kata tanpa mengubah metode pembelajaran lama. Di sisi lain, siswa juga harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang terus berubah, tanpa selalu dijelaskan secara jelas mengenai tujuan dari perubahan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Kurikulum Merdeka tidak bisa dilihat hanya dari kurikulum itu sendiri. Kuncinya adalah manajemen perubahan yang baik. Perubahan metode belajar harus disertai bimbingan yang cukup, waktu adaptasi yang realistis, serta kebijakan yang memperhatikan situasi di lapangan. Tanpa itu, jarak antara ide dan praktik akan semakin lebar.

Pada akhirnya, Kurikulum Merdeka seharusnya menjadi sarana untuk melahirkan pembelajaran yang lebih manusiawi, bukan menambah beban bagi guru dan siswa. Jika realitas di kelas diabaikan, maka semangat kemerdekaan belajar hanya akan tetap menjadi konsep indah yang sulit dirasakan manfaatnya.

3. Ketika Kebebasan Belajar Kehilangan Arah

Apakah kebebasan belajar benar-benar membawa perkembangan bagi siswa, atau justru membuat arah pendidikan menjadi tidak jelas?

Kurikulum Merdeka hadir dengan janji besar, yaitu memberi ruang bagi siswa untuk belajar sesuai minat, bakat, dan potensi mereka. Dalam konsep yang ideal, kebebasan ini seharusnya membentuk siswa yang mandiri, kritis, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Namun, di dunia nyata, kebebasan belajar sering kali tidak memiliki arah yang jelas. Di banyak sekolah, kata "merdeka" sering dipahami sebagai pengurangan tuntutan akademik. Tugas dinilai bisa diminimalkan, target belajar diturunkan, dan disiplin akademik tidak lagi menjadi prioritas. Akibatnya, kebebasan yang seharusnya memerdekakan justru bisa meredupkan semangat belajar siswa. Mereka merasa lebih bebas, tetapi tidak selalu lebih bertanggung jawab.

Faktanya, kebebasan dalam pendidikan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu beriringan dengan tanggung jawab. Ki Hajar Dewantara sejak awal menekankan bahwa kemerdekaan belajar harus tetap memiliki panduan. Artinya, siswa diberi ruang untuk berkembang, tetapi tetap dalam koridor nilai, tujuan, dan arah pendidikan yang jelas. Tanpa itu, kebebasan bisa berubah menjadi pembiaran.

Masalah semakin terasa ketika guru diminta menjadi fasilitator pembelajaran, tapi tidak semua gurupun siap dengan peran baru ini. Mengelola kelas yang fleksibel membutuhkan kemampuan mengajar yang baik, perencanaan yang kuat, serta bimbingan yang konsisten. Ketika hal itu tidak terpenuhi, proses belajar menjadi longgar, tetapi tidak memiliki makna yang jelas.

Kondisi seperti ini menggambarkan bahwa tantangan Kurikulum Merdeka bukan terletak pada konsep kebebasannya, tetapi pada kesiapan sistem pendidikan dalam mengelola kebebasan ini. Kebebasan belajar membutuhkan desain pembelajaran yang terarah, indikator capaian yang jelas, serta bimbingan yang berkelanjutan. Tanpa hal-hal tersebut, kebebasan justru berisiko menghilangkan esensi pendidikan: membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan bertanggung jawab.

Akhirnya, pertanyaan penting yang perlu dipikirkan adalah: apakah Kurikulum Merdeka benar-benar memerdekakan siswa, atau hanya memberi kebebasan tanpa arah yang jelas? Jika kebebasan tidak disertai dengan orientasi dan tuntunan, maka kemerdekaan belajar bisa berubah menjadi kebingungan belajar.

4. Perubahan Kurikulum dan Tantangan Konsistensi Kebijakan Pendidikan

Kenapa dunia pendidikan kita selalu terlihat sibuk mengganti kurikulum, tapi belum terasa benar-benar berubah?

Perubahan kurikulum bukanlah hal baru dalam sejarah pendidikan Indonesia. Setiap kali ada kurikulum baru, selalu ada semangat untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem pendidikan. Kurikulum Merdeka pun hadir dengan visi yang progresif, yaitu pembelajaran yang lebih fleksibel, berfokus pada siswa, dan sesuai dengan kebutuhan masa kini. Namun, masalah muncul ketika perubahan terjadi terlalu cepat, sementara guru dan siswa belum siap sepenuhnya menerimanya.

Bagi sekolah dan guru, perubahan kurikulum bukan hanya sekadar mengganti dokumen atau istilah. Ini juga memerlukan penyesuaian cara berpikir, metode mengajar, cara menilai, hingga budaya belajar. Jika kurikulum baru diterapkan sebelum kurikulum lama benar-benar berkembang, guru dan siswa akan terus menghadapi siklus penyesuaian yang berulang. Energi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar justru terbuang untuk menyelesaikan tugas administratif dan menyesuaikan metode teknis.

Masalah ini menunjukkan bahwa tantangan utama dalam pendidikan tidak hanya dari desain kurikulum itu sendiri, tetapi juga dari konsistensi kebijakan. Kurikulum membutuhkan waktu untuk diujicobakan, dievaluasi, dan diperbaiki secara perlahan. Tanpa konsistensi, perubahan kurikulum bisa jadi proyek jangka pendek yang tidak mampu memberikan dampak mendalam terhadap proses belajar-mengajar.

Dalam praktiknya, banyak sekolah masih berada dalam proses transisi. Beberapa menerapkan Kurikulum Merdeka secara terbatas, sementara yang lain masih menggunakan kurikulum lama. Kondisi ini menyebabkan ketidakmerataan dalam penerapan dan kebingungan di lapangan. Ketika kebijakan terus berubah, sekolah terpaksa menyesuaikan diri tanpa arah yang jelas untuk jangka panjang.

Kurikulum Merdeka memang punya potensi besar untuk membawa perubahan positif. Namun, potensi tersebut hanya bisa terwujud jika didukung oleh kebijakan yang konsisten, pendampingan yang terus-menerus, dan evaluasi yang jujur terhadap kondisi di lapangan. Pendidikan membutuhkan stabilitas agar semua pihak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. 

Akhirnya, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya “kurikulum apa yang terbaik”, tetapi seberapa konsisten kita memberikan ruang bagi kurikulum itu untuk bekerja dengan baik. Tanpa konsistensi kebijakan, bahkan kurikulum yang baik pun bisa kehilangan maknanya.


Kesimpulan

Kurikulum Merdeka, merdeka untuk siapa?

Pertanyaan ini menjadi refleksi penting setelah melihat jarak antara ide yang ada dan kondisi di lapangan. Kurikulum Merdeka hadir dengan semangat memberikan kebebasan kepada peserta didik, memberi ruang bagi guru untuk berinovasi, serta menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman. Namun, di lapangan, kebebasan tersebut belum dirasakan secara merata oleh semua pihak.

Masalah-masalah muncul mulai dari kesiapan sekolah yang berbeda, pemahaman guru yang tidak seragam, hingga makna kebebasan belajar yang kerap disalahartikan. Di beberapa kelas, kebebasan itu justru diartikan sebagai leluasa tanpa tujuan. Di sisi lain, guru terbebani dengan tuntutan administrasi, adaptasi teknologi, dan perubahan kebijakan yang terus berlangsung cepat.

Perubahan kurikulum yang terus-menerus juga menunjukkan ketidak konsistenan dalam kebijakan pendidikan. Kurikulum yang seharusnya diberi waktu untuk berkembang dan dievaluasi justru sering diubah sebelum dampaknya benar-benar terlihat. Akibatnya, fokus dalam pendidikan bergeser dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi sekadar menyesuaikan diri dengan aturan baru.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka belum benar-benar memberikan kemerdekaan bagi semua pihak. Kemerdekaan masih terasa lebih sebagai konsep, bukan pengalaman nyata. Untuk Kurikulum Merdeka benar-benar bermakna, diperlukan kesiapan sumber daya manusia, dukungan yang berkelanjutan, pemahaman yang utuh tentang makna kebebasan belajar, serta kebijakan pendidikan yang konsisten dan berpihak pada kondisi nyata di lapangan.

Jika tidak, Kurikulum Merdeka hanya akan menjadi nama besar tanpa dampak mendalam. Dan pertanyaan “merdeka untuk siapa?” akan terus bergema di tengah ruang-ruang kelas kita.

Penulis. Folin Volinda
Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Kerinci, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
Editor. Tim Redaksi

Sy. Apero Fublic

Via Kampus
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Monday, August 03, 2020
Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Saturday, March 07, 2026
Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Thursday, March 05, 2026

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Korupsi ASN di Sumatera Utara 2025: Sinyal Bahaya Bagi Integritas Publik dan Pendidikan Kewarganegaraan

PT. Media Apero Fublic- Thursday, March 26, 2026 0
Korupsi ASN di Sumatera Utara 2025: Sinyal Bahaya Bagi Integritas Publik dan Pendidikan Kewarganegaraan
APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Lonjakan jumlah kasus korupsi di Provinsi Sumatera Utara sepanjang tahun 2025 tidak hanya mencerminkan data statistik …

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 2026496
  • 20251139
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019281

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Utara Alor Amerika Serikat Anambas Andai-Andai Angkat Besi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bali Bandung Bangka Barat Bangkinang Banjarmasin Banjarnegara Banten Banyuasin Batam Batang Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Bekasi Beladiri Belanda Belu Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Bengkulu Selatan BENGSEL Berita Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biologi Biruisme Bisnis BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Bosnia Brand Brazil Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Cililin Cina Dairi Daratan dan Hutan Deli Serdang Dompu Dongeng Dongeng Dunia DPD RI DPR RI DPRD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Fotografi Gatget Gunung Sitoli Gunungsitoli Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ideologi Ilmu Kesastraan Indragiri Hulu Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik Kabar Buku Kabar Desa KALBAR KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolri Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kepahiang Kepemimpinan Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita Ketapang Kimia Kisah Legenda KKN Kolaka Konawe Selatan KONSEL Korupsi Kota Kota Bengkulu Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu Labura LABURA Lahat Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Magang Mahasiswa Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Mappi Marinir Mask Medan Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Morowali Morut MORUT Muara Enim Muaro Jambi MUBA MURA Muratara Musi Rawas Musik Nasional NTB NTT Ogan Ilir OKI OKU OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Ormas Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Palangkaraya Palembang Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Barat Daya Papua Selatan Parigi Moutong Pariwisata Partai Pasaman Barat Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintah Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang Politik Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi PPKn Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI MUBA PWI SumSel Renang Riau Rote Ndao Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Sidoarjo Sijunjung Silat Simalungun Singapura Skil Wanita Smart TV Solok Sorong Sosial Masyarakat Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA SUMBAR Sumber Air Sumedang SUMSEL SUMUT Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Datar Tangerang TANJABAR Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPTENG Tebing Tinggi Teknologi Temanggung TNI TNI AD TNI AL TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi UKM-Bisnis Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly
    Sepeda Motor Listrik Produksi U^Winfly APERO FUBLIC.- U^Winfly merupakan Perusahaan Industrial pada sektor bergerak industri kendaraan list...
  • Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.
    Apero Fublic.- Raja Syahriyuna yang memerintah di negeri Banduburi mempunyai seorang putri yang cantik dan berbudi luhur bernama Budiwangi. ...
  • Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia
    Ilustrasi: Hukumonline APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Konstitusi merupakan dasar hukum tertinggi yang menjadi landasan penyelengga...
  • Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan
    APERO FUBLIC   I  ENERGI . -  Setiap hari, pabrik kelapa sawit di berbagai daerah Indonesia menghasilkan tumpukan tandan kosong ...
  • Rahasia Ikan Tahan Lama: Mengungkap Cara Terbaik Memperpanjang Umur Simpan Ikan
    Ilustrasi: Penulis APERO FUBLIC  I  OPINI .-  Setiap tahun, sebagian hasil perikanan di Indonesia terbuang akibat pembusukan ya...
  • Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Indonesia sebagai wilayah tropis menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesegaran bahan pangan. Su...
  • Efisiensi dan Kualitas dalam Pengawetan Buah Segar dengan Metode Termal dan Non- Termal
    Sumber: Nowicka et al., 2021. 1.   Pendahuluan Buah segar memegang peranan strategis dalam sistem pangan global, baik dari aspek nutrisi...
  • Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama
    APERO FUBLIC   I  FEATURE .-  Daging merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami penurunan mutu. Jika penanganan dan peng...
  • Dari Buah Segar ke Buah Kering: Peran Teknologi Pengeringan Sebagai Strategi Pengawetan Buah
    APERO FUBLIC   I  OPINI . -  Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan produksi buah. Namun dibalik melimpahnya produksi ters...

Editor Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Mengenal Pohon Serdang

Mengenal Pohon Serdang

Saturday, August 05, 2023

Popular Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Monday, August 03, 2020
Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Saturday, March 07, 2026
Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Thursday, March 05, 2026
Rahasia Ikan Tahan Lama: Mengungkap Cara Terbaik Memperpanjang Umur Simpan Ikan

Rahasia Ikan Tahan Lama: Mengungkap Cara Terbaik Memperpanjang Umur Simpan Ikan

Saturday, March 07, 2026
Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Tuesday, March 10, 2026
Efisiensi dan Kualitas dalam Pengawetan Buah Segar dengan Metode Termal dan Non- Termal

Efisiensi dan Kualitas dalam Pengawetan Buah Segar dengan Metode Termal dan Non- Termal

Saturday, March 07, 2026
Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama

Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama

Wednesday, March 11, 2026
Dari Buah Segar ke Buah Kering: Peran Teknologi Pengeringan Sebagai Strategi Pengawetan Buah

Dari Buah Segar ke Buah Kering: Peran Teknologi Pengeringan Sebagai Strategi Pengawetan Buah

Tuesday, March 10, 2026

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 58 Berita 1420 Berita Daerah 1453 Berita Internasional 34 Berita Nasional 1166 Brand 117 Budaya Daerah 33 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 38 Cerita Rakyat 12 Cerpen 18 Dongeng 67 Ekonomi 27 Elektronik 21 FASHION 12 Fauna 4 Flora 62 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 1 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 3 Jurnalisme Kita 18 Kampus 327 Kesehatan 22 Kisah Legenda 10 Kuliner 30 Mitos 15 Opini 267 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 39 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 56 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 1 Sastra Kita 36 Sastra Klasik 53 Sastra Lisan 13 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 28 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 8 Tablet 20 Teknologi 154 Tokoh Wanita 11 UKM-Bisnis 24 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us