7/21/2022

DONGENG WOLIO: Asal Usul Pohon Enau

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulu, hiduplah seorang putri yang sangat cantik di suatu kampung di lereng pegunungan. Karena kecantikannya membuat semua pemuda tertarik saat melihatnya. Apabila berjumpa orang-orang akan terpaku melihat dirinya.

Pada suatu hari diadakan sebuah acara keramaian di kampungnya. Putri cantik itu datang untuk melihat-lihat. Dalam kesempatan itulah seorang pemuda menyatakan perasaannya dengan sindiran-sindiran. Tapi sudah menjadi sifat wanita, kalau dia tidak akan mau menjawab langsung. Tetapi gerak dan tingkah lakunya menandakan keinginan yang tersembunyi di dalam hatinya

Menurut dugaan pemuda itu, putri cantik itu juga menyukainya. Kemudian dia memutuskan mengajak orang tuanya untuk melamar si putri. Putri itu, akhirnya menerima lamarannya. Dengan adat dan istriadat yang berlaku di kampong mereka. Karena tidak baik menolak hajat orang yang bertujuan baik. Karena hal tersebut akan membawa dampak buruk padanya di kemudian hari. Maka dari itu, keluarga si pemuda pulang dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk pernikahannya.

Di luar dugaan dua hari kemudian datang juga seorang pemuda dan keluarganya dan melamar si putri cantik. Karena lamaran pemuda pertama belum resmi dan pasti sekali. Maka terpaksa si putri cantik juga menerima lamaran si pemuda kedua. Dua hari kemudian kembali datang pemuda melamar lagi. Sampai akhirnya pelamar si putri sudah mencapai empat puluh orang. Keempat puluh pemuda tidak ada yang saling mengenal dan mengetahui kalau si putri sudah dilamar banyak pemuda. Hingga pada suatu hari semua pemuda yang melamar si putri hadir secara bersamaan di rumah putri untuk memastikan lamaran dan kapan pernikahan. Mereka bertanya satu sama lain, dan terkejut karena tujuan sama.

Putri yang cantik itu kebingungan, siapa yang akan dia terima jadi suaminya. Dia tidak dapat menentukan siapa yang akan dia pilih. Oleh karena itu, putri meminta waktu selama tujuh hari untuk menentukan pilihannya. Maka semua pemuda itu pulang dan datang kembali tujuh hari kemudian.

Saat ke empat puluh pemuda itu tiba di rumah putri cantik itu. Keadaan tubuh si putri telah berubah bentuk lain. Kakinya telah tertanam ke dalam tanah dan muncul akar-akar yang kita kenal dengan akar pohon enau.

“Kakanda semua, datanglah tujuh hari lagi. Aku akan menentukan siapa yang akan menikah denganku.” Kata si putri cantik. Keempat puluh pemuda itu kemudian pulang. Tujuh hari kemudian hanya setengah dari mereka yang tiba. Dua puluh orang pemuda menemui tubuh si putri sudah setengah berubah menjadi pohon enau.

“Kakanda semua, datanglah tujuh hari lagi agar Aku bias menentukan siapa yang akan menikah denganku.” Kata putri itu.

Tujuh hari kemudian seluruh tubuh putri cantik itu telah benar-benar berubah. Kuku menjadi akar, badannya menjadi batang, bagian dadanya menjadi buah enau muda, kepala menjadi daun, sedangkan rambutnya menjadi ijuk. Dalam tujuh hari itu juga, sudah ada kemayang yang menggantung dan siap di sadap.

Pada hari yang ketujuh terakhir itu. Yang datang hanya seorang pemuda, dialah yang melamar pertama kalinya. Sedangkan pemuda yang lainnya tidak mau lagi dan mengundurkan diri dari lamarannya. Pemuda itu, akhirnya merawat pohon enau itu. Dia memanen buah enau dan dibuat kolang-kaling. Dia juga menyadap bungah dan mendapat air nira. Kemudian dia jadikan gula merah dan semacam minuman memabukkan. Daunnya dia jadikan sapu lidi. Ijuk dia gunakan menjdi sapu dan atap rumah.

Sebelumnya putri cantik itu menjadi pohon enau, dia bersumpah, “barang siapa meminum airku besok lusa, dia akan merasa pusing dan ketagihan.” Itulah yang kita kenal dengan tuak enau. Pemuda itulah yang benar-benar mencintai si putrid an semua pemuda yang lainnya hanyalah tertarik sebab kecantikannya. Seburuk apa pun rupa kalau disyukuri pastilah ada maknanya.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Joni Apero.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 21 Juli 2022.
Sumber. M.Arief Mattalitti, Dkk. Sastra Lisan Wolio. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: 1985.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment