7/10/2022

BIMA: Mengenang Perang Donggo (1907-1909)

APERO FUBLIC.- Pada awal abad ke 20 ada sedikit masyarakat Bima yang masih menganut paham animisme, disebut dengan orang Donggo. Orang Donggo sebenarnya masih termasuk orang Bima. Tapi perbedaan itu terbentuk ketika sebagain besar orang Bima memeluk agama Islam. Sementara yang tidak mau masuk Islam pergi menjauh dan membangun pemukiman di sebelah timur teluk Bima. Mereka membuka hutan-hutan di lereng gunung-gunung dan sekitarnya. Mereka kemudian hidup menetap di sana dari berladang, berkebun, berternak, berkuda, berburu, meramu.

Walau demikian mereka tetap tunduk pada Sultan Bima. Mereka tidak mau tunduk pada pemerintah lain selain Sultan Bima. Saat mendapat kabar Kesultanan Bima telah ditundukkan oleh Belanda. Mereka menjadi gusar dan marah sekali. Kemarahan mereka kembali memuncak saat Belanda memaksa mereka untuk membayar pajak. Yang dirasakan mereka sangat berat. Oleh karena itu, dibawah pimpinan Ntehi Ama Ntihi dan Ncahu Samiu seorang wanita dari Desa Kala berkata:

Pertama, masyarakat Donggo tidak mau dijajah Belanda.  Kedua, masyarakat Donggo tidak mau membayar pajak yang ditetapkan oleh Belanda. Ketiga, masyarakat Donggo tidak lagi menyukai Sultan Bima bernama Sultan Ibrahim karena menurut mereka Sultan sudah diperalat oleh Belanda.

Sebelum terjadi perang, Sultan Ibrahim datang untuk berunding dan menyadarkan masyarakat Donggo agar tidak terlalu keras, mengalah sedikit. Sultan memikirkan masyarakat Donggo agar tidak banyak korban jiwa. Sultan menjelaskan untuk saat ini Belanda bukan tandingan mereka untuk berperang. Namun masyarakat Donggo tetap pada pendiriannya. Menurut mereka, Belanda sudah menodai kehormatan Sultan mereka dan itu berarti menodai bangsa mereka juga.

Karena permasalahan terus berlarut-larut dan dikhawatirkan akan membawa dampak meluas di Kesultanan Bima. Maka pada tahun 1907 sultan mengizinkan Belanda menyerang orang Donggo. Sebelumnya Orang Donggo telah bersiap menanti serangan Belanda. Maka mereka membuat benteng yang kuat, dan mempersiapkan jalur evakuasi ke bukit-bukit dan pegunungan kalau keadaan terdesak.

Pusat pertahanan mereka terletak di Bukit Doro Kaboe dan Mpirin Daru. Di ujung-ijung atas jalan mendaki mereka membuat berupa serambi-serambi menjorok-menggantung dengan kayu-kayu. Pada bagian ujung diikat dengan tali dan diisi dengan batu-batu. Apabila tali tersebut di potong maka batu-batu akan jatuh berguling dan akan mengejar dan menimpa orang yang berjalan mendaki. Tempat pertahanan mereka sangat di rahasiakan.

Untuk pertama kalinya kontak senjata antara Orang Donggo dan pasukan Belanda yang dibantu pasukan Sultan terjadi di Desa Oo dan Desa Kala. Berhari-hari kedua desa mereka dipertahankan oleh orang Donggo. Namun, seberapa kuat mereka bertahan tetap dapat dikalahkan karena persenjataan mereka yang tidak sebanding.

Dengan demikian masyarakat Donggo mundur ke pegunungan yang berhutan lebat. Saat di dalam hutan-hutan itulah membuat kekuatan mereka sebanding dengan kekuatan Belanda yang dibantu pasukan Sultan Bima. Di dalam hutan tersebut banyak pasukan Belanda yang terbunuh karena disergap dari balik pepohonan dan semak-semak. Dimana kekuatan serdadu Belanda dengan senapan laras panjang kurang berpungsi.

Masyarakat Donggo banyak memasang jebakan, seperti jerat, jaring dan jebakan bambu yang tajam sehingga membuat pasukan Belanda kacau dan mereka merasa ngeri. Karena perang yang berlarut-larut membuat Sultan Ibrahim turun ke medan perang. Sultan dapat melumpuhkan dua pemimpin masyarakat Donggo bernama Mangge dan Hoti dapat dia tembak.

Kemudian di bawah pimpinan Ntehi Ama Ntihi dan Ncau, orang-orang Donggo mundur ke daerah Mpiri Lua. Tentara Belanda mengejar, saat itulah jebakan yang dibuat mirip serambi setengah menggantung yang terletak di ujung atas bukit mereka potong talinya. Batu-batu yang mereka letakkan diatas serambi terjatuh dan berguling menimpa para pasukan Belanda. Dalam peperangan lanjutan itu, kembali pimpinan masyarakat Donggo gugur bernama, Samoe, Ngkati dan Ndri Ama Mundu.

Setelah itu, perlawanan masyarakat Donggo menjadi terpencar-pencar di hutan-hutan yang sangat mengganggu keamanan. Sehingga sangat mengkhawatirkan Belanda dan pihak sultan akan menjalar ke daerah-daerah lain. Sehingga perang harus diakhiri dengan segerah. Sultan Bima kembali membujuk agar mereka mau berdamai dengan Belanda. Akhirnya Ntehi Ama Ntihi bersama beberapa pengikutnya bersedia datang ke ke Bima untuk berunding.

Di Bima mereka di sambut dengan baik dan ramah tama oleh semuanya. Kemudian tibalah waktu rapat untuk memutuskan masalah mereka. Maka mereka di ajak berunding di dalam kapal perang Belanda. Namun, lagi-lagi taktik tipu muslihat Belanda berhasil, mereka di tangkap setelah berada di dalam kapal. Kemudian, mereka dibuang ke Sulawesi. Lalu daerah Donggo berhasil dihancurkan oleh Belanda setelah pimpinan utamanya ditangkap.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Palembang, 10 Juli 2022.
Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta, 1977/1978.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment