5/18/2022

Mengenal Doktor Psychiatri Pertama Indonesia: Mohammad Amir

APERO FUBLIC.- Daerah Talawi terletak di Kabupaten Sawalunto-Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat. Menurut cerita tutur masyarakat nama Sawalunto berasal dari area “sawah” yang dijadikan tempat tinggal oleh salah satu kelompok masyarakat Minang yang menamakan diri mereka “orang lunto.” Lambat laun dari waktu ke waktu daerah tersebut dikenal dengan nama Sawalunto.

Menjelang abad ke 20 di daerah Talawi hiduplah sebuah keluarga religius. Kepala rumah tangga bernama Datuk Malano, istrinya bernama Siti Alamah. Datuk Malano seorang pedagang ternak, dia menjual kerbau, sapi, kambing dan lainnya. Dari pernikahan Datuk Malano dan Siti Alamah mereka mendapatkan anak laki-laki yang dinamai Mohamad Amir. Seiring waktu berjalan Datuk Malano menikah lagi dan mendapat anak perempuan dinamai, Rubai.

Mohamad Amir lahir pada tanggal 27 Januari 1900 di Talawi. Pada umur tujuh tahun Mohamd Amir mulai menempuh dunia pendidikan. Masuk sekolah HIS (Hollands Inlandsche School) di Talawi. Dia dapat masuk sekolah tersebut karena ditanggung oleh pamannya (mamak) yang kebetulan mengajar di HIS Talawi, bernama Mohamad Yaman. Sekolah HIS menempuh pendidikan selama tujuh tahun dikhusukan untuk anak-anak orang Indonesia yang bekerja di Pemerintah. Seperti anak wedana, anak guru, anak Pegawai Pemerintah Belanda. Sekolah HIS mengajarkan materi pelajaran Bahasa Belanda dari kelas satu sampai kelas tujuh.

Mohamad Amir mempunyai hobi membaca buku, sehingga wawasannya terus bertambah. Membuat pemikiran Mahamad Amir tumbuh cerdas dan berkembang. Kemudian dia menjadi suka menulis untuk menuangkan ide-ide dan gagasannya. Dia selalu mengembangkan pemikirannya sehingga terbentuk kreatifitas menulis seiring bertumbuh intelektualnya. Hal tersebut didorong oleh Landjoemin Datuk Toemenggoeng salah seorang penerbit surat kabar Soeloeh Peladjar, Tjahja Hindia, dan Neratja. Dari hasil menulisnya dia mendapat honor dan digunakan untuk membayar sekolahnya.

Pada tahun 1914 beliau menamatkan sekolah HIS. Kemudian melanjutkan ke sekolah menengah ELS (Europesche Legere School) di Sawalunto. Selanjutnya dia pindah ke Bukittinggi. Di Bukittinggi dia kemudian berkenalan dengan Mohamad Hatta, Abdullah Ahmad, dan M. Thaher Marah Sutan. Ketiganya kemudian mencetuskan ide pendirian organisasi kepemudaan bernama Jong Sumatera pada tahun 1917. Mohamad Hatta menjadi ketua organisasi, sedangkan Mohamad Amir sebagai anggota biasa. Pada tahun 1918 Mohamd Amir menamatkan sekolah ELS.

Dengan bekal nilai yang baik Mohamad Amir dapat masuk ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia atau Jakarta di tahun itu juga (1918). Selama mengikuti kuliah dia menjadi redaktur surat kabar Jong Sumatera. Sejak itu dia dikenal sebagai seorang penyair dan penulis terkemuka. Walau dia sangat sibuk antara kuliah dan kerja (wartawan) dia dapat menyelesaikan studinya dengan baik pada tahun 1923. Umur 23 tahun usia sangat muda kalah itu untuk karir pendidikan. Sebagaimana kemenakannya Mohamad Yamin yang sudah berumur 29 tahun baru menyelesaikan Sekolah Hukum (Rechts Hooge School).

Kecintaannya pada ilmu pengetahuan terus tumbuh. Setahun setelah selesai sekolas STOVIA dia berangkat ke Negeri Belanda pada tahun 1924. Melanjutkan pendidikannya di Geneeskunding Hogeschool, Utrecht University, Belanda. Kuliah di sana dia mengambil jurusan ilmu jiwa, psikiater (psychiatri). Selama menjadi mahasiswa dia tidak menonjol. Namun diam-diam dia bergerak pada bidang lain bersama pemuda Indonesia lainnya di Belanda. Mohamad Amir bergabung dengan organisasi pemuda, Perhimpunan Indonesia (PI) yang sangat terkenal itu. Dia menjadi pengurus organisasi untuk periode 1924-1925 yang diketuai oleh Sukiman Wirjosandjojo. Kemudian menjadi komisaris organisasi bersama Budiarto dan Mohamd Yusup.

Empat tahun mengikuti pendidikan di Utrecht University dia berhasil menyelesaikan studinya. Sehingga dia berhak mendapat gelar arts dan doctor in de medisijn. Selama mengikuti kuliah dia terus menulis di surat-surat kabar diantaranya Neratja dan Hindia Baroe sehingga honornya dia dapat menambah uang kuliahnya. Mohamad Amir adalah orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Doktor ilmu psikiatri atau ilmu kejiwaan pada tahun 1931. Sehingga dia dapat mengabdikan dirinya pada masyarakat pada bidang ilmu sastra dan kesehatan.

*****

Setelah pulang dari negeri Belanda Mohamad Amir menjadi dokter dari tahun 1934 sampai tahun 1937, dia dan keluarganya menetap di Medan. Dari tahun 1937 sampai pendudukan militer Jepang Dr. Mohamad Amir menjadi dokter pribadi Sultan Langkat. Menetap di Tanjung Pura, Sumatera Timur. Selama hampir satu dekade beliau sangat dekat dengan kaum pergerakan dan kaum kerajaan.

Karena pengaruh Dr. Mohamad Amir yang luas, pada tahun 1945 dia diminta Pemerintah Militer Jepang menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dia bersama-sama Mr. T.M. Hasan dan Mr. A. Abas untuk mewakili Pulau Sumatera. Karena mengikuti agenda di Jakarta ikut saat terjadinya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia di Jakarta, serta mengikuti sidang-sidang PPKI.

Kembali ke sumatera dengan pesawat terbang ketiganya tiba di Palembang. Mr. A. Abas tetap di Palembang karena dia perwakilan dari wilayah Sumatera Bagian Selatan. Dr. Mohamad Amir perwakilan dari wilayah sumatera bagian Barat dan Tengah. Sedangkan TH. M. Hasan dari Sumatera bagian Utara dan Timur. Dr. Mohamad Amir dan TH. M. Hasan melanjutkan perjalanan melalui darat. Sepanjang perjalanan dimana mereka melakukan rapat dan memberitahu berita proklamasi kemerdekaan yang sudah terjadi, di Jakarta.

Tanpa sepengetahuan beliau, dia kemudian diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Pertama Republik Indonesia. Tugas dilaksanakan melalui Sumatera Timur karena dia berada di Medan. Di tahun yang sama beliau diangkat menjadi wakil gubernur Sumatera. Setahun berikutnya pada 16 Januari 1946 dia diangkat menjadi ketua Balai Penerangan dan Penyelidikan Provinsi Sumatera dan Mr. Luat Siregar sebagai wakilnya.

*****

Doktor Mohamad Amir memiliki perawakan sedang, berwajah tampan dan berambut lurus. Dia dapat dikategorikan sebagai seorang sastrawan dan digolongkan sebagai Pujangga Baru yang produktif. Pada masa jayanya hampir setiap minggu karya tulisnya dimuat pada surat-surat kabar atau majalah-majalah. Dia mudah bergaul dan memiliki pergaulan luas. Dia hobi membaca, cerdas dan jujur. Dia memiliki semangat tinggi, cermat dan menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Baik itu tugas sebagai siswa, mahasiswa, tugas organisasi, kerja dan abdi negara.

Dalam kesehariannya dia berpenampilan gaya Barat. Baik itu dalam organisasi atau dalam keluarga. Mungkin karena dia berpendidikan Barat dan beristri orang Belanda. Walau demikian dia tetap suka menolong semua orang. Sikap demikian terlihat dalam tugasnya sebagai dokter. Dia berprilaku biasa-biasa saja karena menurutnya menjadi dokter hanyalah sebuah pengabdian pada rakyat dan negara. Dia tidak memiliki sifat neo-feodalisme sebagaimana orang-orang yang merasa tinggi derajadnya hanya karena ada kedudukan atau sedikit kekayaan.

Kelemahan beliau adalah dia selalu mudah percaya pada orang-orang di hadapannya atau berita dari media. Sulit mengendalikan keinginan istrinya orang Belanda sehingga dia ragu-ragu dalam mengambil keputusan dalam hal kenegaraan. Banyak yang menduga demikian karena terlambatnya proklamasi kemerdekaan di Sumatera Utara. Kemungkinan dari jiwanya yang demikianlah yang menyebabkan dia terjebak permainan kelompok kiri. Menyebabkan terjadinya kerusuhan sosial semasa tanggung jawab gubernur padanya.

Tiada gading yang tak retak, begitulah pepatah. Setelah masa-masa itu berlalu, Dr. Mohamad Amir dipindahkan tugas ke Makasar (Ujungpandang) sebagai dokter biasa. Dalam masa itu dia menyadari kehilapannya semasa di Sumatera. Dia yang seorang nasionalis ulung yang telah dibangun sejak kecil sampai dia menjadi Pejuang Pergerakan. Namun dia harus jatuh dalam penghujung perjalanan perjuangannya.

Dalam keadaan demikian rasa bersalah yang mendalam menyerang jiwanya. Kemudian beliau jatuh sakit dan semakin parah. Lalu dia berobat ke Negeri Belanda berangkat bersama keluarganya pada tahun 1948 dimana terjadi Agresi Militer Belanda II di Indonesia. Setahun kemudian (1949) Dr. Mohamad Amir meninggal dunia. Sedangkan istri dan kedua anaknya tetap tinggal di Negara Balanda. Dr. Mohamad Amir tetaplah salah satu tokoh bangsa kita dan seorang pejuang. Kesalahan yang dia lakukan bukanlah murni dari hati nuraninya. Tetapi situasi yang terjadi diluar kendalinya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Totong Mahipal.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 18 Mei 2022.
Sumber: Wisnu Subagyo. Dr. Mohamad Amir: Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment