4/12/2022

Leluhur Di Napa (Toraja)

Apero Fublic.- Kisah ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Patora Langiq yang menikah dengan seorang laki-laki gagah perkasa bernama Datu Banua. Dari pernikahan mereka lahir dua belas orang anak. Sebelas anaknya mendiami dan menyebar di seluruh tanah Toraja. Seorang anak mereka bernama Saredadi berangkat dan pergi ke daerah disebelah barat Toraja, Rante Karua. Saredadi diwariskan oleh orang tuanya dua jimat, “Baloq Baik Ballang dan Doke Dua Loloq. Doke Dua Loloq berupa tongkat sakti berkepala dua yang sakti diwariskan oleh ayahnya. Kedua benda sakti itu selalu diberi babi peliharaan setiap malam bulan purnama.

Setelah menikah disana Saredadi kemudian mendapatkan dua orang anak. Anak laki-lakinya bernama Tali Sibaqbaq dan anak kedua seorang wanita bernama Karaeng Dua. Karena Dua seorang wainta oleh sebab itulah dia tidak merantau dan tinggal dilingkungan tempat tinggalnya saja. Saredadi kemudian mewariskan jimat pemberian orang tuanya pada kedua anaknya.

Pekerjaan Karaeng Dua berdagang kecil-kecilan di daerah Duri dan Mangkedek (Kabupaten Enrenkang-Kabupaten Tanah Toraja). Setiap kali dia pergi berdagang tongkat warisan selalu dia bawa. Wilayah sekitar berdagang terdiri batu-batu cadas berbentuk lempengan dan tanah kering. Kalau  dia haus di perjalanan, Karaeng Dua menunjuk batu dengan tongkatnya yang sakti itu. Kemudian air mengalir dari batu tersebut. Kejadian tersebut membuat semua orang yang melihat menjadi heran dan kagum.

Pedagang-pedagang yang berlalu di jalan tersebut ada juga dari daerah Palopo (Kabupaten Luwu) dan ada juga dari daerah Duri. Keajaiban yang diperbuat Karaeng Dua menjadi buah bibir semua orang di pasar. Baik oleh parah pedagang dan para pembeli. Tersiarlah berita ke seluruh wilayah Duri  dan di Kerajaan Luwu. Raja Luwu mendengar berita tersbut dan dia datang melihat keajaiban yang diperbuat oleh Karaeng Dua.

Berangkatlah Raja Luwu bersama pengawalnya dan melihat keajaiban itu. Setelah itu Raja Luwu pulang dan ke istanah. Beberapa hari kemudian Raja Luwu mengutus penghulu untuk melamar Karaeng Dua. Lamaran raja di terimah dan menikahlah Karaeng Dua dengan Raja Luwu. Setelah menikah Karaeng Dua ikut tinggal di Kerajaan Luwu.

Warisan tongkat sakti Karaeng Dua Doke Dua Loloq yang selalu diberi sajian babi peliharaan setiap bulan purnama. Sekarang tiba waktunya untuk diberi makan babi peliharaan. Sebab sewaktu itu, masyarakat di daerah Kerajaan Luwu masih memelihara babi sama seperti di tanah Toraja. Menurut berita hanyalah Raja Luwu (Datu Luwu) yang tidak memelihara babi. Menurut raja babi sangat kotor karena dia seorang Muslim.

Ketika Karaeng Dua memberi sajian babi peliharaan pada jimatnya “Doke Duo Loloq” datanglah roh leluhur babi itu, lalu mendengus-dengus dengan suara keras dari dalam rumah raja. Warga yang tinggal di sekitar istanah raja merasa heran dan bertanya-tanya di dalam hati. “Mengapa ada suara dengusan babi dari kediaman raja.”

Raja Luwu menjadi murkah sehingga seluruh wilayah kerajaannya menjadi gelap. Tidak ada sinar matahari  kecuali di komplek istanah raja yang masih normal terjadi siang dan malam. Setelah itU, Raja Luwu mengadakan musyawarah dengan seluruh tokoh-tokoh adat diseluruh wilayah kerajaan Luwu. Hasil musyawarah memutuskan bahwa tidak ada seorang pun diperkenankan memelihara babi di wilayah kerajaan. Sedangkan babi-babi yang sudah dipelihara warga dilepaskan ke hutan. Konon itulah sebabnya mengapa banyak babi hutan di daerah Luwu.

Sedangkan benda-benda pusaka seperti tongkat ajaib “Doke Duo Loloq” jimat baloq Bai Ballang, dan palung babi belang menjadi warisan kerajaan Luwu dan masih tetap disimpan di museum kerajaan sekarang ini.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Rama Saputra.
Palembang, 12 April 2022.
Sumber: Muhammad Sikki, Dkk. Struktur Sastra Lisan Toraja. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment