10/10/2021

Rebut-Rebutan: Potong Kue Anggaran Negeri Antaberanta

APERO FUBLIC.- Sarce atau syair cerita ini adalah kategori syarce fiksi. Bercerita tentang sebuah negeri yang kaya-raya tapi 80% rakyatnya miskin. Negeri Antaberanta adalah sebuah negeri yang terletak di kayangan. Negeri yang kaya raya beserta subur tanahnya, banyak tambang. Negeri itu dihuni para dewa dan dewi yang baik rupa. Kendaraan dapat terbang kemana-mana di alam semesta, termasuk dapat terbang ke bumi.

Negeri Antaberanta juga demokrasi dan punya penjaga burung elang besar sekali sebagai pelindung negara sehingga negara mereka berdiri. Moto mereka, “saya Antaberanta, saya elang.” Pemimpin dan wakil rakyat bumi (WRB) Negeri Antaberanta kehidupan sangat mewa sekali. Mereka menganut paham neo-feodalisme dimana kesuksesan dirinya diukur dengan seberapa banyak dapat materialisme. 

Baju dan makan mereka diambil dari upeti rakyat mereka di bumi. Upeti itu mereka buat kue yang lezat dengan bahan dasar logam, emas, dan hasil bumi. Para pemimpin negeri Antaberanta tidak punya visi untuk memajukan negeri mereka. Tapi mereka menjadi Pemimpin atau Wakil Rakyat Bumi hanya untuk makan kue upeti dari rakyat. Kue itu, rakyat bumi namakan kue anggaran.

KUE ANGGARAN
 
Ada sebuah kue.
Kue anggaran namanya.
Adonan dibuat musyawara.
Di dalam loyang bima.
Banyak lobang dan celah-celah.
Ada untuk makan sendiri.
Ada untuk pencitra diri.
Kue itu sejenis bolu, yang bolong ditengah.
Sering dipesan oleh orang terhormat negeri Antaberanta.
 
Hari ini ulang tahun.
Ulang tahun yang ditunggu setiap tahun.
Acara meriah dihadiri orang terhormat.
Pakai jas, pakai mobil, sepatu mengkilap.
Acara dilaksanakan di gedung milik rakyat.
 
Ulang tahun dirayakan setahun sekali.
Kalau ulang tahun ada kue, tentunya.
Kue-kue yang mantap dan enak.
Kue terhidang di meja emas.
Sebelum memotong diadakan rapat.
Rapat dimulai oleh pimpinan wakil rakyat Negeri Antaberanta.
Dimulai salam, diawali ketuk palu.
Ada bentak-bentak, ada teriak-teriak.
Lalu semua akur sebab ukuran sama didapat.
Sidang pun diakhiri salam, diakhiri ketuk palu.
 
Kue yang enak dan lezat.
Sudah di bagi-bagi untuk di potong-potong.
Siap di cicip dan dilahap.
Lalu dilaksanakan oleh para dinas.
Ada juga yang dijual belikan.
Ada juga yang minta potong persen saja.
Sebab kue tidak terlalu lezat.
Lagian perutnya buncit dan berlemak sudah.
Sudah kenyang makan kue tiap tahun.
Kue yang dibuat dengan pajak dan hasil usaha negeri Antaberanta.
 
Tinggal sisa untuk dibagi sekalian.
Untuk jatah  tikus, anjing, dan srigala-srigala buas.
Kue pun mulai habis dan mulai basih.
Rakyat negeri anta beranta berkata.
Tanya rakyat antaberanta: Kenapa kue cepat hancur, mahal dan tidak enak?.
Sebab sudah di obok-obok tangan kotor.
Tangan kotor, tapi dibilang bersih.
Karena di lap dengan jas dan dasi.
Lalu dibungkus dengan agama dan gelarnya.
Mereka itulah orang terhormat, katanya.
Wangi parpumnya, busuk hati dan pikirannya.
 
Begitulah kiranya orang negeri antaberanta.
Tidak usah heran dan dilema.
Serahkan pada yang kuasa.
Sebab mereka akan mati jua.

 

Negeri Antaberanta selalu memilih pemimpin mereka dengan cara dipilih langsung oleh rakyat bumi. Saat pemilihan para calon sangat dekat dengan rakyat, serta banyak pula lukisan-lukisan mereka di pinggir-pinggir jalan. Setelah terpilih karena lapar memperkenalkan diri mereka sangat lapar sehingga akan sangat banyak memakan kue anggaran yang lezat itu. Walau pun cuma kue tapi dapat ditukar dengan berbagai macam keperluan.

Seperti keperluan memperkenalkan diri, keperluan membeli kuda, kijang, membeli wanita atau menapkahi istri muda. Kue anggaran juga ajaib, lama di simpan tidak busuk, hanya berbunga saja dan bertambah banyak. Negeri Antaberanta juga banyak agama dan kepercayaan.

Tapi tidak ada gunanya dalam membangun moral mereka. Apabila berurusan dari Rukun Bumi (RB) sampai Tingkat Kayangan I dan Tingkat Kayangan II akan lancar kalau diberi kue cemilan dari rakyat. Untung kita tinggal di Indonesia yang luar biasa.

Disusun: Tim Redaksi Apero Fublic.
Palembang, 10 Agustus 2021.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment