10/09/2021

Mengenal Swarsih Djojopuspito: Penulis Yang Mahir Berbahasa Belanda.

APERO FUBLIC.- Sastrawan wanita bernama Swarsih Djojopuspito adalah salah satu sastrawan wanita Indonesia angkatan pertama. Masa dimana awal perkembangan kesastraan modern Indonesia. Swarsih lahir pada 20 April 1912 di Cibadak, Bogor. Dia masuk pendidikan di Sekolah Kartini, MULO, dan Europesche Kweekschool. Setelah selesai menempuh pendidikan dia bekerja sebagai guru Perguruan Rakyat di tahun 1931. Mengajar di Taman Siswa tahun 1939, Pasundan Istri tahun 1937, dan mengajar di HIS tahun 1939.

Bidang organisasi di tahun 1945 sampai 1950 menjadi anggota Komite Nasional Pusat. Di tahun 1946 sampai tahun 1947 menjadi wakil kepala Biro Perjuangan bagian wanita. Membantu sebuah majalah berbahasa Belanda, Critiek en Opbouw, Het Inzicht dan Majalah Orientatie. Karena menguasai bahasa Belanda Swarsi menulis sebuah buku berbahasa Belanda berjudul Buiten Het Gareel. Namun hasil karya tersebut tidak masuk sebagai kesastraan Indonesia.

Buku kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Empat Serangkai yang diterbitkan Pustaka Rakyat di Jakarta pada tahun 1954. Judul empat serangkai memberikan penjelasan kalau buku tersebut memuat empat buah cerita pendek. Judul pertama berjudul, Seruling di Malam Sepi. Cerita Pendek bercerita tentang seorang istri yang ditinggal suami bekerja keluar negeri. Sehingga sang istri mendapat godaan-godaan dari lelaki lain. Dalam cerita tersebut sang Suami bernama Purnomo mengatakan padanya:

“Seorang lelaki tak dapat setia, Maryati. Dia dikodrti mengingini wanita lain dari istrinya. Dia tak harus tinggal pada satu istri saja. Ini bukan soal cinta dan kasih sayang, hanya suatu keperluan tubuh belaka.”

Dari kata-kata itu membuat hati Maryati tidak tenang. Dalam pada itu seorang lelaki bernama Haryadi. Akhirnya Maryati menyerah dalam pelukan lelaki itu. Saat sang suami pulang berkatalah Maryati. “Seorang wanita juga dapat ingin pada lelaki lain, dan Aku inging melihat kau, bagaimana sikapmu jika aku berbuat seperti lelaki. Aku tetap mencintai kau.”

Namun ternyata Purnomo tidak bisa menerima, dia menolak Maryati setelah mengakui dosa-dosanya. Cerpen kedua berjudul, Artina. Bercerita tetang seorang gadis bernama Artina yang memiliki banyak cita-cita dan baik hati. Namun semua cita-citanya harus berakhir karena menikah. Cerpen ketiga berjudul Badju Merah yang mengisahkan tentang seorang lelaki buaya dimana banyak wanita yang menjadi korbannya.

Cerpen keempat berjudul Perempuan Djahat yang mengisahkan seorang wanita bernama Hersini yang menikah dengan seorang lelaki yang tidak dia cintai. Dia menikah atas dasar kasihan saja bernama Slamet. Tetapi suami selalu menyakitinya dan dia berusaha mempertahankan rumah tangganya. Beberapa waktu dia berselingkuh dengan seorang lelaki bernama Iskandar.

Namun sikat sang suami masih tidak berubah, kemudian di pergi ke rumah saudaranya di Surabaya. Dia meminta bercerai dengan suaminya, namun sang suami tidak mau memberikannya.  Akhir cerita Hersini meninggal dunia setelah melahirkan anak dengan selingkuhannya Iskandar. Dalam cerpen-cerpen tersebut memberikan gambaran bahwa penulis memberikan kritikan pada kaum laki-laki.

Disusun: Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 9 Oktober 2021.
Sumber: Th. Sri Rahaju Prihatmi. Pengarang-Pengarang Wanita Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya, 1977.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment