7/09/2021

Hikayat Si Buyung: Nasihat Buat Para Guru

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wanita miskin bersama anaknya yang bodoh bernama si Buyung. Suaminya sudah lama meninggal sehingga membuat ekonomi keluarganya menjadi sulit. Si Buyung hidup sederhana bersama ibunya. Si Buyung terkenal sebagai anak yang rajin belajar, tapi sayang dia sangat bodoh. Sangat sulit menerima pelajaran dan dia hampir tidak bisa apa pun walau sudah belajar lama.

Tidak jauh dari rumahnya, ada seorang guru mengaji. Kebiasaan anak-anak di desa setiap malam setelah magrib belajar mengaji. Setiap malam berpuluh-puluh murid datang belajar mengaji, termasuk si Buyung yang miskin dan bodoh. Saat masuk mengaji, si Buyung diantar oleh ibunya. Di halaman rumah si Buyung terdapat sebatang pohon jambu, yang selalu berbuah. Kalau anak-anak lain selalu membawa berbagai macam barang untuk diberikan pada guru mengaji. Sedangkan si Buyung hanya membawa buah jambu saja, selama dia belajar mengaji untuk guru mengajinya.

Bertahun-tahun Buyung belajar mengaji, tapi tidak ada yang dia mengerti. Dia hanya bisa membaca basmallah saja. Sedangkan teman-temannya sudah pandai semua mengaji dan ilmu agama lainnya. Selama itu hanya basmallah yang dia bisa, bertahun-tahun belajar. Selain basmallah dia juga bisa wudhu dan shalat saja. Karena yang dia bisa hanya itu-itu saja, membuat guru mengaji juga bosan mengajarkannya.

Bukan hanya itu, si guru ternyata juga tidak begitu peduli pada si Buyung yang miskin, bodoh dan hanya memberinya jambu saja. Sehingga si guru bertambah segan mengajarinya yang sangat bodoh itu. Guru tidak simpati lagi pada si buyung. Pada suatu malam setelah semua murid selesai, berkatalah si Buyung pada gurunya.

“Jadi bagaimana Tengku, tolong ajarkan Aku semua tentang sembahyang ini.” Pinta si Buyung. Buyung ingin belajar semua tata cara shalat wajib dan sunnah.

“Em, eh. Begini sajalah Buyung. Kau susa menerima pelajaran. Ini Aku ajarkan saja doa sajalah terlebih dahulu.” Ujar gurunya. Dalam hati gurunya berkata kalau tidak ada gunanya mengajarkan si Buyung, sebab dia tidak akan bisa juga, menghabiskan waktu saja. Selain itu, Buyung juga hanya membawa buah jambu saja setiap hari untuknya. Buyung mengiakan, dan doa apa yang akan gurunya ajarkan.

“Kau dengar baik-baik dan kau hapalkan, setelah hapal lalu kau amalkan “Bismillahirrahmanirrahim, tebang birah iko lesung, si Buyung pande ngaji, ade aye ade ikan, yang mati diidupkan.” Ujar guru Buyung, dan buyung mengingat serta menghafalnya. Kalau dalam bahasa indonesia bira tanaman sejenis keladi, iko:ini, pande=pandai, aye:air, ade:ada, idup:hidup. Hanya itulah yang berhasil Buyung hafalkan.

*****

Suatu hari, si Buyung pergi berjalan-jalan disekitar desanya. Di tengah jalan pulang dia menemukan seekor burung puyuh mati tergelatak. Buyung menghampiri dan memperhatikan, mengapa kiranya burung puyuh itu mati. Kemudian dia ingat apa yang di ajarkan gurunya.

Buyung berpikir mungkin apa yang diajarkan gurunya dapat membantu burung puyuh itu. Dia bawak pulang bangkai burung puyuh, kemudian dia berwudhu seingatnya yang dia bisa. Setelah itu dia duduk di dekat bangkai burung puyuh, dan dia mengucapkan apa yang diajarkan gurunya. “Bismillahirrahmanirrahim, tebang birah iko lesong, Si Buyung pande mengaji, ada aye ade ikan, yang mati idup lagi.” Ucap si Buyung.

Beberapa detik kemudian bangkai burung puyuh itu bergerak-gerak, lalu melompat dan terbang. Buyung terkejut, dan dia merasa gembira sekali. “Nah, sudah mapan ilmuku.” Kata Buyung dengan ceria. Buyung semakin yakin dengan keilmuan gurnya. Semakin rajin buyung membawa buah jambu ke rumah gurunya, sebab itulah yang dia dapat berikan pasa sang guru. Walau bodoh, Buyung suka bertanya-tanya pada gurunya. Oleh gurunya si Buyung tidak dianggap serius. Sesuka hatinya saja dia menjawab.

“Tengku, bagaimana caranya orang pergi ke Mekkah, naik haji.” Tanya si Buyung dengan serius, dan banyak lagi yang dia pertanyakan tentang Mekah dan haji pada gurunya.

“Mengapa kau bertanya, kau mau naik haji?.” Kata guru Buyung dengan remeh.

“Iya Tengku, sepertinya Aku mau pergi haji.” Jawab Buyung.

“Oh, tidak susah-susah kalau kamu mau pergi haji ke Mekkah.” Jawab gurunya, dia tahu kalau ke Mekkah perlu biaya yang tidak sedikit. Sementara si Buyung makan saja kurang, dan bodoh minta ampun. Belajar hanya membawa jambu, dan tidak pernah membawa hal yang lebih seperti murid-murid yang lain.

“Bagaimana caranya, Tengku?.” Tanya si Buyung dengan serius sekali. Dia yakin dan percaya apa yang dikatakan dan diajarkan gurunya.

“Kamu sudah Aku ajari shalat.” Kata Gurunya. Buyung mengiyakan dan berkata kalau dia belum aktif lima waktu shalatnya, dua atau tiga waktu saja dia laksanakan.

“Ada pohon kelapa di dekat rumahmu?.” Tanya sang guru. Buyung jawab ada. Lalu gurnya melanjutkan. “Besok sebelum subuh kamu bangun, kemudian wudhu. Panjat pohon kelapa dan jangan lupa baca basmallah sebelum memanjat. Sampai di atas pohon kelapa kau shalat subuh. Setelah shalat subuh, kau berdiri dan pejamkan mata. Kemudian kau baca doa yang aku ajarkan waktu itu. Setelah selesai membaca doa itu, kau melompat dari atas pohon kelapa, dan sampailah kau ke Mekkah. Kalau kau mau pulang, begitu juga caranya. Kau naiklah pohon kurma yang banyak di Mekah.” Kata sang guru dengan nada mengolok-olok. Dia berkata demikian hanyalah mempermainkan si Buyung saja, mungkin juga bercanda. Sementara si Buyung sangat yakin dan percaya apa yang dikatakan gurunya.

Si Buyung pulang dari rumah gurunya, dia tersenyum dan bergembira. Sesampai di rumah dia menceritakan pada ibunya, bahwa dia diajarkan oleh gurunya cara pergi haji ke Mekkah. Ibu Buyung agak kurang yakin apa yang diceritakan si Buyung. Namun si Buyung tampak begitu yakin dengan apa yang dikatakan si guru. Melihat keyakinan anaknya, ibu si Buyung mengizinkan anaknya pergi haji ke Mekkah.

“Entahlah anakku, tapi kalau kau begitu yakin dengan apa yang dikatakan gurumu seperti itu, kau cobalah?.” Ujar ibu si Buyung dengan ikhlas. Keesokan pagi, sebelum waktu subuh si Buyung bangun. Dia kemudian berwudhu dan berjalan mendekat pohon kelapa di samping rumahnya. Sebelum memanjat pohon kelapa dia membaca basmallah. Sampai di atas pohon kelapa, ayam berkokok dan waktu subuh tiba.

Si Buyung mengetahui waktu subuh tiba, dia shalat subuh. Setelah shalat subuh dia berdiri diatas pelepah-pelepah daun pohon kelapa. Kemudian memejamkan matanya dan mengucapkan doa yang diajarkan gurunya. “Bismillahirrahmanirrahim, tebang birah iko lesong, Si Buyung pande mengaji, ada aye ade ikan, yang mati idup lagi.” Kata Buyung. Setelah selesai membaca doa, si Buyung tanpa ragu sedikit pun kemudian melompat dari atas pohon kelapa.

“Wussss.” Si Buyung melompat dengan mata terpejam.

Dalam waktu melompat buyung terpejam. Hanya angin agak deras dan tanpa disadari tubuh si Buyung melesat bagaikan kedipan mata. Beberapa waktu kemudian si Buyung membuka mata. Si Buyung terkagum-kagum bukan kepalang, sekarang dirinya sudah berada di Mekkah. Dari jauh dia melihat Masjidil Haram.

Si Buyung akhirnya mengikuti haji dengan cukup rukun hajinya di tahun itu. Setelah selesai ibadah hajinya, si Buyung mau pulang. Tapi sebelum pulang dia mau membeli oleh-oleh untuk ibunya. Tapi dia tidak punya uang, dan diam berpikir. Dalam waktu itu, tanpa sengaja dia menyentuh kantong sakunya. Dia merasa ada sesuatu dan dia mengambilnya.

Ternyata itu kantong uang dinar emas. Maka banyaklah si Buyung memberi oleh-oleh untuk dia bawak pulang. Setelah selesai, dia menunggu waktu subuh. Buyung membawa naik semuanya satu per satu ke atas pohon kurma. Karena di waktu subuh ramai orang keluar hendak shalat subuh ke masjidil haram. Ada juga yang melihat si Buyung diatas pohon kurma. Mereka merasa aneh dan heran mengapa ada orang shalat di atas pohon kurma.

Belum habis keheranan mereka, setelah selesai shalat subuh tubuh buyung bersama barang bawaannya melesat cepat ke langit dan menghilang. “Subhanallah.” Itulah ucapan orang-orang, mereka berpendapat pastilah orang tersebut bukan orang sembarangan. Beberapa saat kemudian, buyung tiba di halaman rumahnya. Matahari tampak kemerahan di langit timur. Ibu buyung tampak sedang memasak di dapur.

“Assalamualikum,” Mak, Buyung sudah pulang dari Mekkah.” Kata Buyung. Ibu Buyung terkejut dan dia buru-buru keluar dan membuka pintu.

“Waalaikum salam, Alhamdulillah kau sudah pulang anakku.” Ibu Buyung memeluk anak satu-satunya itu. Kemudian dia membawa semua barang yang dibawa si Buyung. Ada buah kurma, kain tenun, baju gamis untuk ibunya, dan jenis kacang-kacangan, dan air zam-zam. Semua benda-benda yang dia bawah asli dari Mekkah.

*****

Teman-teman si Buyung yang awalnya mengejek, sekarang menjadi kagum pada si Buyung. Sebulan Buyung menghilang, tenyata benar-benar pergi ke Mekkah. Sekarang tersiar kabar kalau si Buyung sudah pulang dari Mekkah. Teman-teman Buyung ingin membuktikan kalau dia memang benar-benar dari Mekkah. Maka bertandanglah mereka ke rumah si Buyung. Sesampai di rumah si Buyung mereka dihidangkan buah kurma dan minum air zam-zam. Percayalah mereka kalau Buyung benar-benar dari Mekkah berhaji.

Hari menjelang siang, tamu dan si Buyung mulai lapar. Maka Buyung meminta ibunya untuk memasak. Untuk menjamu teman-temannya. Buyung bertanya pada ibunya, apa yang ada dapat dimasak.

“Kalau beras ada sedikit, cukuplah ibu rasa. Hanya lauknya tidak ada.” Kata ibu Buyung. Buyung bertanya apakah ada buah kelapa. Ibu menjawab ada di dalam bilik penyimpanan hasil panen. Buyung kemudian turun kebawa rumahnya, lalu mengupas buah kelapa. Setiap kali hendak membelah buah kelapa, dia membaca doa yang diajarkan gurunya.

““Bismillahirrahmanirrahim, tebang birah iko lesong, Si Buyung pande mengaji, ada aye ade ikan, yang mati idup lagi.” Keajaiban muncul lagi, dari dalam buah kelapa melompat ikan cukup besar, ikan Lamedok. Buyung berkata perlu berapa membuka buah kelapa. Ibunya meminta sekalian dibuka lima biji. Mungkin ibu si Buyung mau buat kue nantinya selebih memasak. Buyung membuka buah kelapa lima biji, bersamaan itu lima ekor ikan besar juga muncul. Mereka, makan siang dengan nasi dan gulai pindang ikan Lamedok, yang lezat sekali.

*****

Buyung juga memberikan oleh-oleh pada gurunya. Baru sekali itu saja dia memberi gurunya yang lain dari buah jambu. Guru si Buyung menjadi heran dan dengki. Dia pada awalnya hanya mengolok-olok si Buyung dengan doa yang dia ajarkan. Begitu juga dengan apa yang dia ajarkan bagaimana cara pergi ke Mekkah.

Suatu hari, bertandanglah guru si Buyung ke rumahnya. Buyung dan ibunya begitu bangga dikunjungi oleh guru si Buyung. Setelah banyak berbincang-bincang, bertanyalah guru si Buyung bagaimana dia dapat pergi haji ke Mekkah.

“Buyung, bagaimana caranya kau pergi ke Mekkah waktu itu?.” Tanya gurunya.

“Yah, seperti yang Tengku ajarkan waktu dululah. Begitulah caraku pergi dan pulangnya.” Jawab si Buyung.

“Ohhh, hanya begitu saja.” Jawab guru si Buyung singkat. Di dalam hati guru si Buyung dia ingin mencobanya. Dia berpikir, dia pasti dapat seperti si Buyung, sebab si Buyung dia yang mengajarkannya seperti itu. Walau sebenarnya duluh dia hanya mengolok-olok si Buyung. Di rasa cukup guru si Buyung permisi pulang. Di tahun kemudian saat musim haji tiba, guru si Buyung akan mencoba sebagaimana si Buyung lakukan. Dia ingat bagaimana cara dia mengajarkan pada si Buyung.

Sebelum subuh guru si Buyung bangun, dia berwudhu dan mendekat batang pohon kelapa di samping rumahnya. Membaca basmallah, lalu memanjat ke atas pohon kelapa. Ayam berkokok, waktu shalat subuh tiba. Shalatlah guru si buyung di atas pohon kelapa. Setelah itu, dia memejamkan matanya dan membaca apa yang dia ajarkan pada si Buyung.

““Bismillahirrahmanirrahim, tebang birah iko lesong, Si Buyung pande mengaji, ada aye ade ikan, yang mati idup lagi.” Kata guru si Buyung. Kemudian dia melompat dari atas pohon kelapa.

“Wussss.” Kemudian terdengar suara benda jatuh. “Gedebukkk.” Guru si Buyung jatuh ke tanah dan berakibat buruk. Tulang-tulang badannya patah, dan dari mulutnya keluar darah. Kemudian guru si Buyung meninggal dunia. Dia tidak tiba di Mekkah, tapi tiba di alam barzah. Mendengar kabar meninggal gurunya, dia terkejut dan sedihlah hati si Buyung.

Demikianlah kisah seorang guru yang membeda-bedakan diantara muridnya berdasarkan harta, dan mengajar tidak ikhlas. Jadilah guru selalu berkata-kata baik walau pun murid bodoh dan sulit mengerti. Guru, tugasnya hanya mengajarkan ilmunya. Membuat mengerti dan membuat pandai bukan tugas guru. Sebab Allahlah yang memberikan hidayah pemahaman dan hikmanya.

Rewrite: Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 9 Juli 2021.
Sumber: Wildan, Dkk. Struktur Sastra Lisan Tamiang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment