6/08/2021

Tokoh Dunia: Mengenal Said Nursi Ulama-Cendekiawan Muslim dari Turki (1876-1960).

APERO FUBLIC.- Said Nursi lahir di sebuah perkampung Qadha (Khaizan), Desa Nursi, terletak di daerah Bitlis, Anatolia Timur, semasa Daulah Utsmania (Republik Turki) pada tahun 1876 (1293 H). Nama Said, penambahan Nursi menunjukkan asal desa dimana dia dilahirkan, menjadi Said Nursi. Desa Nursi memiliki alam yang indah, bergunung-gunung, tertutup salju abadi.

Ayah beliau bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriah. Ayahnya seorang sufi yang sangat ta’at, yang diteladani sebagai orang yang menjauhkan diri dari memakan sesuatu yang haram. Begitu juga dengan ibunda beliau juga sangat memegang nilai-nilai Islam dalam mendidik anak-anaknya.

Salah satunya, saat hendak menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil. Selalu berwudhu terlebih dahulu baru dia menyusui anak-anaknya. Ayah beliau dikaruniahi Allah tujuh orang anak, yaitu Diryah, Khanim, Abdullah, Said (Said Nursi), Muhammad, Abdul Majid, dan Marjan.

Said Nursi saat kecil sudah tampak kalau dia mencintai ilmu pengetahuan. Said kecil selalu mengikuti kajian-kajian yang untuk orang dewasa. Sejak kecil sudah pandai memelihara harga diri dan integritas. Tidak mau berbuat zalim dan sewenang-wenang, dan tidak suka pada tindakan sewenang-wenang.

Pendidikan pertama masuk madrasah (Kuttab) di Desa Thag, pimpinan Syaik Muhammad Afandi. Said juga belajar dengan kakaknya, Abdullah saat libur akhir pekan. Belajar kemudian pindah ke sebuah madrasah di Desa Birmis (1882). Tahun 1888 dia pindah ke sekolah Syaikh Amin Afandi di Bitlis. Disini hanya satu bulan, ditolak karena faktor usia yang masi terlalu muda.

Pinda ke sekolah di Mukus, kemudian kembali pergi lagi ke sekolah Bayazid di Agra. Di sini dia mulai belajar ilmu-ilmu dasar agama Islam. Sekolah terakhir Said dibawah bimbingan Syaikh Muhammad Jalali. Setiap hari dia membaca dua ratus halaman buku dan dapat memahami. Tiga bulan kemudian dia lulus dan mendapatkan ijazah dari Syaikh Muhammad Jalali.

Hal yang paling disenangi beliau adalah membaca buku dari berbagai disiplin ilmu. Selain itu, beliau juga dianugerahi hafalan yang sangat kuat. Sehingga beliau banyak menghafal buku-buku yang dia baca. Tidak heran kalau beliau menjadi sangat bijaksana dan berpandangan luas ke depan.

Pada tahun 1892 beliau berangkat ke Kota Mardin. Untuk mengisi pengajian di Masjid Raya Kota. Sudah menjadi kebiasaan penguasa yang selalu curiga dengan seorang ulama. Walikota Mardin waktu itu bernama, Nadir Bek. Dia termakan kabar burung dan isu-isu kerusuhan dan kejahatan dengan hadirnya Said Nursi. Sehingga Nadir Bek meminta agar Said Nursi untuk meninggalkan Kota Mardin. Dengan tangan diborgol Said Nursi digiring keluar kota, sampai ke Kota Bitlis kembali. Di Bitlis untuk beberapa waktu dia tinggal di rumah walikota Bitlis, Umar Pasya.

Tahun 1984 dia pergi ke Kota Wan, atas undangan wali kota disana. Di sini beliau berjumpa dengan ulama-ulama yang menguasai ilmu pengetahuan umum diantanya ilmu geografi, kimiah dan lainnya. Oleh karena pengetahuannya masih kurang dibidang itu. Maka beliau mempelajarinya dan menguasainya. Walau sudah terkenal sebagai ulama besar, beliau tidak malu untuk belajar dan mengakui kekurangannya.

Di tahun 1907 beliau pergi ke Kota Istambul. Di sana dia tinggal di sebuah penginapan zaman dulu yang dikenal dengan Khan asy-Syakrizi, wilayah Fatih. Penginapan semacam ini terdapat di kota-kota atau diperlintasan perjalanan. Di Istambul beliau ingin mengusulkan pada Sultan Abdul Hamid agar di Anatolia Timur dibangun sekolah-sekolah yang mengajarkan disiplin ilmu-ilmu umum berdampingan dengan ilmu agama Islam, seperti matematika, kimiah, fisika, sejarah, kesehatan dan lainnya.

Said Nursi menjuluki Sultan Abdul Hamid sebagai sultan al-Mazhlun seorang waliyullah dan khalifah Kaum Muslimin. Berbanding terbalik dengan tuduhan orang-orang Barat dan kemalis. Namun, hal demikian tidak disambut baik oleh orang-orang dekat Sultan Abdul Hamid. Said Nursi dibawah ke dokter jiwa. Setelah selesai pemeriksaan dokter itu berkata; “jika ada sedikit saja kegilaan pada Said Nursi, maka tidak ada orang yang berakal sehat di muka bumi ini.”

Said Nursi kemudian dikirim ke Menteri Dalam Negeri, dan terjadi dialog. Hal dibicarakan bahwa sultan akan menaikan gajinya menjadi 30 lira, dan ada hadia khusus 80 lira. Menteri berkata kalau ilmu pengetahuan yang dia sebarkan dibahas oleh dewan para menteri. Said Nursi berkata kalau dia tidak membicarakan soal gaji dan uang.

“bila demikian, mengapa penyebaran ilmu pengetahuan mengalami keterlambatan, sedangkan masalah gaji tidak? mengapa kalian memprioritaskan kepentingan pribadiku daripada kepentingan umum?.” Jawaban beliau tersebut sangat bijak. Disini juga dapat dilihat kalau beliau adalah manusia jujur dan ikhlas, serta berjuang untuk kebaikan masyarakat banyak (Islam).

Mengutamakan Persaudaraan Islam dan Musyawarah.

Syaikh Said Nursi dalam pandangan persaudaraan dia mementingkan perdamaian dan persaudaraan. Hal demikian diungkapnya dalam pidatonyo di Salonika. Di hadapan para tokoh al-Ittihad Wa at-Taraqi (Persatuan dan Kemajuan).

Beliau menyuarakan dan menyerukan kebebasan dan prinsip musyawarah secara Islami. Hal demikian untuk menghindari pertumpahan dara dan perpecahan antar kelompok dalam Islam. Yang hakikatnya adalah satu dan bersaudara. Kebebasan juga berbeda dari liar, bebas dimana sesuatu masih mengikuti aturan dan beretika.

Saat meletusnya revolusi di wilayah timur Turki yang dipimpin oleh Syaikh Sa’id Chiran. Dia seorang pemimpin Thariqat Naqsyabandiah sekaligus pemimpin terkemuka Suku Kurdi. Revolusi adalah bentuk oposisi pada Mustafa Kemal yang bersifat memusuhi Islam. Sebelum revolusi meletus Syaikh Sa’id Chiran mengirim surat pada Said Nursi. Tetapi beliau menolaknya, dia pun terlibat dialog dengan seorang pemuka Kurdi. Salah satu kutipan jawaban beliau berikut ini, yang menjunjung tinggi persaudaraan Islam.

“Pasukan tentaranya itu adalah putra-putra negeri ini. Mereka adalah saudara-saudaramu dan saudara-saudaraku juga. Siapa membunuh siapa? Coba pikirkan dan pahamilah? Langkamu ini hanya akan membuat saudara membunuh saudaranya lagi.” Jawab Siad Nursi.

Ulama dan Panglima Perang

Said Nursi juga seorang pejuang dan mencintai tanah airnya. Turki Usmani terlibat perang Dunia I. Sementara Rusia berambisi untuk menguasai Anatolia atau wilayah Turki. Menyadari keadaan gawat demikian, beliau membentuk pasukan rakyat dari kalangan para murid-murid beliau. Mereka berlati perang dan membangun markas di Kota Wan. Pemberontak Armenia kala itu sangat takut dengan pasukan Said Nursi.

Perang dunia satu meletus, front utama di Kaukasus. Pada 16 Februari 1916, pasukan Rusia yang berjumlah tiga kali lipat dari pasukan kaum muslim berhasil menguasai Kota Ardarum. Said Nursi ikut menghadapi langsung tentara Rusia. Saat pasukan Rusia masuk ke Bitlis Said Nursi dan pasukan bertahan mati-matin. Namun karena kekuatan tidak seimbang, maka mereka kalah.

Beliau terluka dan akhirnya tertangkap dan menjadi tahanan perang di Qustarma, Timur Rusia. Di sini beliau hampir dihukum mati karena mempertahankan akidah Islamnya. Dimana manusia tidak boleh merendah dari manusia lain. Tersebutlah jenderal bernama Nikolay Nikolayev, dia paman Tsar Rusia dari pihak ibunya.

Panglima besar pasukan Rusia untuk fron Kaukasus. Karena tidak mau menghormat dia dianggap menghina Tsar Rusia dan diadili lalu diponis hukuman mati. Beberapa perwira Jerman dan Turki menyarankan agar beliau meminta maaf.

Namun beliau tidak mau dan menerima hukuman mati. Sesaat hukuman belum dilaksanakan, dia meminta izin untuk shalat. Setelah itu, Nikolay Nikolayev datang dan meminta maaf, hukuman kemudian dibatalkan. Nikolay menghormati akidah Said Nursi atau akidah Islam.

Pada saat terjadi revolusi proletar atau kaum komunis Rusia. Said Nursi dapat melarikan diri dari kam tahanan perang Rusia. Dia berjalan menuju Jerman dan kembali ke Turki melalui Warsawa dan Viena, lalu tiba di Istambul. Di Istambul beliau kemudian diangkat menjadi anggota organisasi Darus Hikma Al-Islamiyyah (13 Agustus 1918).

Menjadi Orang Buangan dan Keluar Masuk Penjarah.

Syaik Said Nursi hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara dan pembuangan. Dia selalu diawasi dan dimata-matai pihak pemerintah, baik semasa Daulah Usmaniah dan setelah berdirinya Republik Turki. Beliau bersama murid-muridnya selalu menggunakan komunikasi rahasia. Sebab selalu diawasi oleh pihak keamanan.

Salah satu tempat bersejarah dalam pembuangan beliau adalah di daerah Perlah yang kumu. Menuju kesana dia diantar oleh seorang tentara menggunakan perahu. Tiba di Perla pada musim dingin tahun 1926. Wilayah ini terletak di Asbarithah, wilayah barat Anatolia. Masa-masa itu, Turki dalam kegelapan dibawah kediktatoran sekulerisme ekstrim dibawah Kemal yang sangat memusuhi Islam.

Pembuangan tempat terpencil dan tenang itu dimaksudkan agar  dia larut dalam zikir dan ibadah saja. Jauh dari umat dan murid-muridnya. Namun Allah berkehendak lain, kelak dari desa kecil terpencil akan muncul pancaran cahaya Islam yang akan kembali menerangi Turki. Said Nursi kemudian selalu bertafakur dan merenung untuk memulai menyusun risalah an-Nur. Dia tinggal di desa tersebut selama delapan tahun setengah. Rumah tempat tinggalnya kemudian dikenal sebagai Madrasah Nuriyah Pertama.

Syaikh Said Nursi orang yang tidak memperhatikan masalah konsumsi. Dia diceritakan dalam kesehariannya hanya memakan semangkuk sop dan beberapa potong roti saja. Penduduk sesungguhnya hanya memberikan makanan yang sedikit itu secara ikhlas. Namun beliau tidak mau, dia selalu membayarnya.

Beliau selau memegang prinsip hidup; untuk tidak menerima atau mengambil sesuatu dari siapa pun secara cuma-cuma. Dia selalu hidup hemat dan sederhana dalam segala hal. Tabungannya selalu digunakan seperlunya. Sementara itu, intel pemerintah selalu memonitor tanpa jedah. Sehingga penduduk Perla menjauhi Syaik Said Nursi.

Pada musim panas, seperti biasa beliau pergi naik ke puncak gunung. Hanya itulah yang dapat dia lakukan selain dari ibadah dan tafakur di Perla. Saat diatas gunung, turun hujan lebat dan dia basah kuyup. Saat pulang tubuhnya yang basah, dan kotor. Sendal yang sederhana juga rusak di perjalanan pulang. Dia terpaksa menjinjing sendalnya yang rusak.

Di sebuah sumber air tampak kerumunan warga Perla. Hari itu, entah mengapa mereka melihat sosok Said Nursi begitu berbeda. Dia seakan memiliki karisma dan cahaya kewibawaan seorang ulama besar. Ada rasa iba dan kasihan yang menyentuh hati mereka, dan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Salah seorang penduduk menghampiri beliau, lalu meraih alas kakinya, dan mencucikannya. Dari kejadian itu, penduduk itu adalah yang pertama berkenalan dengan Said Nursi, namanya Sulaiman.

Sulaiman kemudian menjadi murid pertama beliau, lalu semakin banyak. Awalnya puluhan, ratusan dan kemudian menjadi ribuan. Risalah an-Nur mulai tersebar luas, melai merambah keluar Perla, dan masuk ke kota-kota. Kaum wanita juga tidak ketinggalan, mereka bersedia menggantikan pekerjaan suami mereka supaya suaminya dapat belajar risalah an-Nur.

Percetakan tidak lagi mencetak dengan hurup Arab, tapi sudah diganti dengan hurup latin. Sehingga cetakan dengan tulisan Arab tidak lagi beroperasi. Sehingga risalah an-Nur disalin dengan tulisan tangan. Lalu penyalinan berlanjut secara tersembunyi dan menyebar ke seluruh Turki. Pemerintah sekuler ekstrim bertindak cepat. Mereka mengawasi dan menggeledah rumah-rumah murid Syaikh Said Nursi. Mereka ada yang dipenjara dan diawasi, penjara adalah penjara Yusufiah bagi mereka. Tapi semuanya berlapang dada dan menerima dampak buruk dari pemerintah. Penulisan risalah an-Nur hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumbernya. Risalah an-Nur selama 20 tahun tersebar secara rahasia. Madrasa Said Nursi kemudian dikenal dengan Madrasah an-Nur.

Pada tahun 1923 Pemerintah Sekuler  Turki melarang adzan dengan bahasa Arab, diganti dengan bahasa Turki. Di sebuah masjid kecil, Siad Nursi dan beberapa muridnya tetap mengumandangkan adzan dengan bahasa aslinya. Suatu hari, pihak berwajib menyerbu masjid Syaikh Nursi, menangkap Syaikh Nursi, Sulaiman, Abdullah Jawisy, Mustafa Jawisy. Kemudian dibawa ke Kota Igridir dengan berjalan di atas salju. Lalu dimasukkan kedalam penjara dan dilarang berbicara satu sama lain.

Tahun 1934 beliau dipindahkan ke Asbarithah. Di sini beliau menyusun beberapa bagian dari risalah an-Nur. Tahun 1935 militer kembali menyerbu ke tempat Syaikh Nursi. Hari itu juga polisi menggeledah rumah 120 murid beliau. Kemudian mereka ditangkap dan dalam pengawasan ketat mereka. Lalu dibawa ke ruma tahanan, Isky Syahr.

Setelah sebelas bulan di Isky Syahr, Syaik Nursi dipindahkan ke Kota Qasthumi dimusim semi tahun 1936. Di sini beliau menjalin komunikasi dengan para murid beliau melalui surat-surat. Kemudian adanya sistem penyalinan surat dan disebarkan ke murid-murid beliau. Sehingga kemudian muncul kumpulan surat-surat beliau (Mulhaq Qasthumi), bahkan ada murid beliau yang dapat menyalin seribu surat.

Proses penyalinan tulis tangan terus berkembang, sehingga ada sekitar 600 ribu eksemplar risalah an-Nur tersebar di seluruh Turki. Terciptalah pasukan gerilya di seluruh Turki yang menyebarkan risalah an-Nur secara rahasia.

Usaha untuk menjatuhkan Said Nursi terus berlanjut. Berkali-kali polisi menggerebek kediaman beliau. Yang ditemukan hanyalah tulisan dan makalah tentang syariat Islam, seperti tentang iman, akhlak, akhirat dan sejenisnya. Tanggal 31 Agustus 1943 beliau sakit, akibat keracunan yang dimasukkan polisi rahasia di dalam makanan beliau. Hal tersebut diketahui atas keterangan dokter resmi bahwa beliau telah diracuni polisi dan perlu perawatan.

Setelah sembuh, beliau kembali dikirim ke ruma tahanan di Dinzili. Beberapa saat kemudian kembali beliau dipindahkan ke penjara (1944), dia dipaksa menempati sebuah rumah di Amir Dag yang pintunya dijaga oleh seorang petugas. Petugas tidak boleh pergi kemana-mana agar mengawasi semua gerak-gerik beliau. Begitulah kehidupan beliau selalu di buang berpindah-pindah dan diawasi pihak berwajib setiap detik.

Pada tahun 1948 pengadilan Afiyun membentuk tim ahli yang bertugas meneliti Risalah an-Nur. Sidang pengadilan risalah an-Nur berlangsung selama delapan tahun. Hasil penelitian menyatakan kalau Risalah an-Nur tidak menyalahi Undang-Undang di Turki. Pada akhirnya pengadilan pengadilan mengelurkan keputusannya tertanggal 25/5/1956.

Dengan demikian risalah an-Nur dapat di cetak dan diterbitkan secara legal. Beliau berkata, bahwa semua itu merupakan kemenangan risalah an-Nur. Walau pemerintahan sekuler ekstrim Turki dapat menahan beliau di penjara atau rumah tahanan. Namun mereka tidak lagi dapat membungkan risalah an-Nur yang sudah tersebar di tengah masyarakat Turki.

Sikap Politik Said Nursi

Dalam pemilu beliau mendukung dan memilih Partai Demokrat pimpinan Adnan Menderes. Namun militer pendukung dan orang-orang sekulerisme ekstrim Turki melakukan kudeta. Menggulingkan pemerintahan Demokratis yang dipimpin Adnan Menderes. Puncaknya pada tanggal 17 Mei 1960 terjadi kudeta militer di Turki.

Adnan Menderes dan dua menterinya dibunuh oleh hukum Turki. Berikutnya, Syaikh Nursi wafat pada hari Rabu, pada 25 Ramadhan 1379 Hijriyah atau tanggal 23 Maret 1960). Sehingga masyarakat Turki berduka dengan ditinggalkan banyak pemimpin yang baik dan diantara putra terbaik bangsa mereka.

Setelah berkuasa pihak sekuler menunjukkan kembali kebencian mereka pada Islam. Mereka selalu tidak suka dan menampakkan bermusuhan pada setiap hal berbauh Islam. Terutama kelompok pelajar an-Nur yang didirikan Said Nursi. Pada 11 Juli 1960, walikota Urfah, bersama Panglima Militer Wilayah Timur terbang menuju Kota Qunia. Di sana tinggal saudara kandung Said Nursi, Ustazd Abdul Majid. Abdul Majid kemudian diundang ke kantor walikota, terjadilah percakapan diantara mereka.

“Kami akan memindahkan jenazah saudaramu, Said Nursi dari Urfah. Pemindahan ini akan dilaksanakan berdasarkan permintaanmu. Dengan demikian tandatangani saja surat ini.” Kata pihak pemerintah.

“Tapi aku tidak pernah memintanya.” Jawab Abdul Majid.

“Jangan banyak alasan, tandatangi saja surat ini.” Kata mereka memaksa Abdul Majid. Di sana hadir tiga Jendral, dua diantaranya Jendral Jamal Taurah, dan Jendral Rafiq Taulqa. Saat memindahkan jenazah Said Nursi, tampak jasad beliau masih utuh walau sudah dimakamkan selama lima bulan. Tentara yang melaksakan tugas tampak ketakutan, namun karena perintah mereka terpaksa melaksanakannya.

Peti jenazah diangkut pesawat menuju Afiyun. Dilanjutkan menuju Asbarithah diangkut dengan ambulan. Di mana jasad beliau dimakamkan disana sampai hari ini belum ada yang mengetahuinya.

Orang-orang sekuler ingin melenyapkan pengaruh Islam. Sebab makam Syaikh Said Nursi selalu dikunjungi ribuan orang muslim dari mana saja. Dikhawatirkan Islam akan membuat pengaruh dan mempengaruhi orang-orang. Kemudian akan menentang sekulerisme. Namun apakah mereka berhasil memadamkan cahaya Islam di Turki.

Apakah Said Nursi hilang dari hati umat Islam. Jawabnya tidak dan sekulerisme akan terkikis oleh Islam pada waktunya. Hal yang baik dari dirahasiakannya makam Said Nursi adalah tidak terjadinya kesyirikan dan tahayul pada makamnya.

Menteri urusan tanah jajahan Inggris, Gladystone di depan anggota parlemen dengan menggenggam AL-Qur’an berkata. “Selama Al-Qur’an ini berada di tangan kaum muslimin, kita pun tidak akan pernah mampu menguasai mereka. Dengan demikian, bagi kita tidak ada jalan lain kecuali melenyapkannya atau memutus hubungan kaum muslimin dengannya.” Berita tersebut dimuat surat kabar Inggris. Membaca itu, Said Nursi bergetar dan bertekad untuk mengabdikan seluruh hidupnya agar mujizat Al-Quran berkibar dan kaum muslimin terikat dengannya.

Foto Syaikh Said Nursi bersama keponakannya.

Foto Syaikh Said Nursi yang ditemukan pemerintah Jerman saat beliau berhasil melarikan diri dari kem tahanan perang di Rusia.

Foto ruma tempat tinggal Syaik Said Nursi di Perla. Di sini beliau menghabiskan waktu selama delapan tahun setengah hidupnya. Rumah ini sebagai tempat madrasah an-Nur pertama.

Foto Syaik Said Nursi sesat beliau tiba di daerah pembuangannya di Perla.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 7 Juni 2021.
Sumber: Ihsan Kasim Salih. Said Nursi: Pemikir dan Sufi Besar Abad 20-Membebaskan Agama dari Dogmatisme dan Sekularisme. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment