3/03/2021

Liputan Kebudayaan: Sedekah Uban-Uban

Apero Fublic.- Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya akan kebudayaan masyarakatnya. Beragam tradisi dan kebiasaan terdapat di tengah masyarakatnya. Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah tradisi Sedekah Uban-Uban. Tradisi yang sudah ada sejah dahulu itu, diera moderen ini. Masih dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (06/02/2021).

Menurut seorang ibu yang tidak bersedi a disebutkan namanya. “Sedakah uban-uban adalah sedekah untuk ibu-bape dari anak yang baru dilahirkan. Agar bayi tidak nakal dan tidak rewel. Sebab kalau di ganggu ibu-bape anak yang baru dilahirkan akan nakal,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan kalau sedekah uban-uban dilaksanakan dua atau tiga hari setelah melahirkan. Paling lama tujuh atau sepuluh hari. Sedangkan ibu-bape istilah penyebutan untuk penjaga anak tersebut. Semacam jin baik atau malaikat penjaga. Dengan sedekah uban-uban ibu-bape yang dimaksud tidak mengganggu anak yang baru dilahirkan.

Uniknya, sedekah uban-uban hanya untuk kaum wanita saja. Dari memasak, persiapan sedekah (ritual), pembaca mantra dan doa juga wanita. Tamu dan undangan juga wanita terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak. Untuk anak laki-laki yang masih dibawah umur sepuluh tahun dikecualikan.

Sedekah dalam istilah masyarakat Melayu adalah proses mengundang orang untuk santap makan bersama. Pengertian sedekah di sini bukan seperti sedekah sebagaimana ibadah dalam Islam. Tapi proses acara-acara keudayaan yang menghidangkan makanan. Baik itu hidangan untuk dikonsumsi manusia atau berupa makanan yang dipersembahkan ke sesuatu.

Sedekah uban-uban diambil dari warna hitam putih pada hidangan. Yaitu nasih ketan hitam atau padi arang yang ditaburi dengan kelapa parut. Sehingga tercipta warna hitam dan putih. Sebagaimana warna rambut yang sudah uban. Kalau rambut sudah uban, berarti sudah menjadi ibu dan bapak. Sehingga muncul istilah ibu-bape dalam kepercayaan masyarakat setempat.

Oleh. Rama Saputra.
Editor. Selita, S.Sos
Tatafoto. Dadang Saputra
Musi Banyuasin, 7 Februari 2021.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment