2/27/2021

Nasihat Keluarga: Tiga Orang Bersaudara

Apero Fublic.- Ada tiga orang laki-laki bersaudara. Yang tertua bernama Umar, yang kedua bernama Amir, dan yang bungsu bernama Amar. Orang tua mereka miskin, tidak memiliki kebun atau sawah. Harta keluarga mereka hanya memiliki itik berjumlah dua puluh lima ekor. Ketiga sudah besar dan mulai ingin berusaha, tapi tidak memiliki modal. Mereka bertiga akhirnya bermusyawara untuk meminta modal pada ayah mereka.

“Ayah, kami sudah besar sudah saatnya kami berusaha. Kami ingin erdagang dan meminta saran pada ayah, bagaimana kami mendapatkan modal. Barangkali ayah ada harta simpanan.” Kata yang tertua, Umar.

“Begituhkah anak-anakku, bagaimana aku memberi kalian modal usaha. Kita tidak memiliki keun atau sawah yang dapat dijual. Hanya memiliki dua puluh lima ekor itik. Kalau bapak berikan pada kalian, bagaimana ayah mendapatkan nafkah. Hasil telur juga kita jadikan makanan keluarga kita. Tapi ayah memiliki simpanan sembilan puluh butir telur.” Jawab ayah mereka.

“Tidak mengapa ayah, apa saja adanya. Jangan pulah ayah sampai memaksakan diri.” Kata si Umar. Ayah mereka kemudian masuk kedalam rumah dan mengambil telur simpanannya yang berjumlah sembilan puluh butir. Umar anak terutua, mendapat lima puluh butir telur karena dia lebih tua. Anak kedua mendapat tiga puluh butir, sedangkan anak bungsu hanya mendapat sepuluh butir. Anak bungsu merasa diperlakukan kurang adil, lalu berkata.

“Ayah tidak adil, kakak diberikan lebih banyak sedangkan aku lebih sedikit.” Ujar si bungsu, Amar. Mendengar itu, lalu sang ayah berkata pada anak bungsunya. “Sudah adil cara ayah membagikannya anakku. Yang lebih besar mendapat lebih banyak dan yang lebih kecil mendapat lebih sedikit. Ayah sudah memberikan secara ikhlas, dan kau juga harus menerima pemberian ayah secara ikhlas. Kalau kamu ikhlas menerimanya, insyaAllahhasilnya sama nanti. Karenanya, janganlah kalian semua cerewet menerima pemberian ayahmu ini. Besok pergilah ke pasar, jual telurmu itu. Akan tetapi kamu yang lebih muda ini, ikutilah cara kakakmu menjual; berapa harga kakakmu menjual , sekian juga kamu menjual telurmu. Dan nanti uang hasil penjualanmu itu sama.” Jelas sang ayah.

“Waduh, bagaimana akan sama, menjual dan harganya juga sama. Sedangkan telur kami tidak sama banyaknya, mustahil.” Kata si bungsu, Amar. “Janganlah kamu cerewet anakku, pergilah kalian menjual telur kepasar, insyaaAllah hasilnya akan sama banyaknya?.” Kata sang Ayah. Keesokan harinya, mereka bertiga berangkat ke pasar Labuhan Haji. Mereka bertiga duduk berderet di bawah sebatang pohon beringin. Pagi hari pasar ramai, dan banyak pembeli datang. Seorang pembeli datang untuk membeli telur mereka.

“Berapa harga telur sebutir?.” Tanya si pembeli.

“Setali, tujuh butir.” Jawab Umar. Dengan demikian, Umar dapat menjual tujuh kali tujuh telur. Karena telurnya berjumlah lima puluh butir. Sisa telur Umar satu butir lagi. Sedangkan si Amir dapat menjual telurnya empat kali tujuh, dan mendapatkan uang empat tali. Karena jumlah tiga puluh butir. Sisa telur si Amir dua butir lagi. Begitu juga si Amar, yang hanya memiliki sepuluh butir telur. Dia menjual setali, tujuh butir dan sisa telurnya tiga butir lagi. Setelah itu, sampai siang hari tidak ada lagi pembeli datang. Sementara si adik paling ungsu menjadi sedih. Dia mendapat hasil penjualan yang paling sedikit. Dia mulai merasa sedih, sebab kata-kata ayahnya yang berkata hasil penjualan mereka akan sama.

Sementara itu, seorang laki-laki pulang dari laut. Dia tidak mendapatkan ikan di laut, sehingga tidak mendapatkan lauk pauk untuk makan keluarganya. Melihat Umar dan kedua adiknya yang menjual telur, dia tertarik membelinya. “Masih untung karena ada penjual telur, pikirnya.

“Masih adakah telur kalian, berapa harganya?.” Tanya lelaki itu. Umar menjawab, karena dagangan sudah hampir habis, maka si Umar menaikkan harga telurnya. “Masih sedkit, harganya tiga tali sebutir.” Kata Umar. Sisa telur umar juga hanya sebutir. Orang itu membayar, dan juga membeli telur milik Amar, dua butir. Terakhir, telur si bungsu tinggal tiga butir, dia mengikuti harga yang ditetapkan Umar. Satu utir tiga tali. Karena telurnya masih tiga butir, maka si Amar mendapat sembilan tali.

Sekarang telur mereka sudah habis terjual. Umar yang menjual tujuh butir setali diwaktu pagi, dia mendapatkan uang tujuh tali. Sisa telur satu butirnya dia jual tiga tali. Sehingga dia mendapat sepuluh tali uang. Si Amir yang menjual telur tujuh butir satu tali, mendapatkan uang empat tali. Telur tiga puluh butir tinggal dua butir. Telur sisa dua butir dia jual tiga tali sebutir, dan mendapat enam tali. Sehingga ditambah uang jual telur disoreh hari, uangnya berjumlah sepuluh tali.

Begitu juga si bungsu, yang hanya memiliki sepuluh butir telur. Pagi tadi sudah dia jual tujuh butir dengan harga setali, dan sisa telurnya tiga butir lagi. Kemudian dibeli orang disiang hari dengan harga sebutir tiga tali. Telurnya tiga butir maka dia mendapat uang sembilan tali. Ditambah uang satu tali hasil pagi tadi, maka dia mendapat uang sepuluh tali. Sama halnya dengan jumlah uang yang didapat kedua kakaknya.

“Betul kata ayah kita.” Kata si Amar, mereka mendapat uang yang sama. Kemudian mereka pulang dengan gembira. Di rumah ayahnya bertanya tentang hasil penjualannya. Mereka menjelaskan dan membenarkan kata-kata ayahnya. Hasil penjualannya sama. “Apa kata ayah anakku, walau kalian dibagikan tidak sama banyaknya. Asal kamu ikhlas menerima pemberian orang tua, insyaaAllah hasilnya sama. Janganlah kalian saling cerewet, dan saling iri dengki sesama adik beradik.” Nasihat sang ayah.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 27 Februari 2021.
Sumber: Shaleh Saidi, dkk. Sastra Lisan Sasak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment