1/15/2021

Si Kera dan Si Tikus

Apero Fublic.- Cerita lisan masyarakat Sasak. Pada suatu masa, Kera berteman dengan Tikus. Setiap hari mereka selalu bersama-sama bermain-main. Kera memiliki sifat berlagak pintar tetapi sebenarnya dia bodoh. Kera tukang mengajak, tukang rencana, egois atau ingin selalu menang sendiri, dan pendengki. Sedangkan Tikus memiliki sifat yang baik dan jujur, dia pintar dan suka mengalah.

Suatu hari, Kera mengajak Tikus bermain ke sawah. Waktu itu, orang-orang baru saja membersihkan batang padi. Sawah bersih, sedangkan batang padi sudah bertumpuk di pematang sawah. Kedaunya asik bermain, berkejaran dan bermain lemparan di tengah sawah. Lama bermain mereka beristirahat, kelelahan.

“Bagaimana, kalau sekarang kita bermain saling bakar?.” Kata Kera.

“Kita saling bakar?.” Kata Tikus tidak mengerti. Kera mengiakan dan tikus bertanya lagi.” Siapa yang lebih dahulu dibakar, Aku atau Kau?.”

“Tentu kau, Tikus. Sebab kau lebih kecil.” Ujar Kera, Tikus setuju. Kera meminta Tikus untuk berbaring seperti tertidur. Kera kemudian mengambil batang padi kering di pematang sawah, lalu ditimbun ke tubuh tikus. Batang padi pun sudah menumpuk seperti gundukan tanah di atas tubuh tikus.

“Bagaimana Tikus, sudah bisakah aku bakar tumpukan batang padi kering ini?.” Tanya Kera.

“Nanti dulu, saya perbaiki tempat tidur saya dulu.” Jawab Tikus dari balik tumpukan batang padi. Kera menunggu, beberapa saat dia bertanya lagi pada Tikus.

“Bagaimana Tikus, sudah bisa aku bakar batang padi kering ini?.” Tanya Kera.

“Nanti dulu, saya membuat bantal untukku, berbaring?.” Jawab Tikus. Dalam hati Kera sudah tidak sabar, karena Tikus lama sekali. Lalu dia berkata lagi. “Bagaimana Tikus, mengapa lama sekali!. Apa sudah bisa Aku bakar jerami ini?.” Kata Kera.

“Tunggu Kera, saya mau menggaruk pantatku dulu?.” Jawa Tikus. Kera kembali berkata di dalam hatinya. “Sekarang gatal pantat, nanti gatal kepala, gatal tangan dan lain lagi.” Kera sudah tidak sabar lagi. Lalu dia berkata pada tikus.

“Sekarang saya akan bakar batang padi kering ini, Tikus. Saya tidak mau lagi menunggu.” Kera berkata dengan tidak sabar.

“Kalau kau tidak mau menunggu, maka bakarlah hai Kera.” Jawab Tikus. Mendengar itu, Kera langsung membakar tumpukan batang padi kering itu. Dalam waktu cepat api menyalah jadi. Kera menari-nari mengelilingi api itu. Dia tertawa terbahak-bahak menertawai Tikus yang pasti mati terbakar itu, pikir Kera.

“Bodoh sekali kamu Tikus, berani sekali kamu dibakar terlebih dahulu.” Kata Kera. Api pembakar jerami telah padam. Tinggal sedikit asap yang masih mengepul di balik abu-abu batang padi. Kera mengambil sebatang kayu untuk mengorek-orek tumpukan abu. Dia ingin melihat sisa-sisa tubuh Tikus yang terbakar. Tapi Kera terkejut, Tikus tiba-tiba melompat keluar dari balik tumpukan abu pembakaran, sambil tertawa.

“Mengapa kau tidak terbakar Tikus?. Bagaimana caramu sehingga tidak terbakar seperti itu?.” Tanya Kera dengan heran bercampur terkejut. Karen di luar perkiraannya sama sekali.

“Yah, caranya seperti tadilah yang aku katakan. Tempat tidur perbaiki, membuat bantal, yang gatal di garuk-garuk.” Kata Tikus. Lalu dia melanjutkan. “Sekarang giliranmu Kera, yang di bakar.” Kata Tikus. Kera setuju dan dia mengingat kata-kata Tikus tadi. Maka Kera akan mengikuti cara Tikus tadi agar tidak terbakar. Kera kemudian berbaring layaknya benar-benar akan tidur. Kemudian Tikus menimbun tubuh Kera dengan batang padi kering. Setelah tubuh Kera diliputi oleh batang padi kering. Tikus mulai bertanya seperti yang Kera tanyakan tadi.

“Bagaimana Kera, sudah bisakah saya bakar batang padi kering ini?.” Tanya Tikus. Kera ingat kata-kata Tikus tadi, dia memperbaiki posisi berbaringnya. Kera tidak tahu, sesunggunya Tikus saat Kera bertanya demikian. Tikus menggali lubang ke dalam tanah. Saat Kera membakar batang padi kering, lalu api berkobar jadi. Tikus masuk lobang dan dia tidak terbakar. Saat api padam, dan Kera mengorek dengan kayu tumpukan abu. Tikus melompat dan tentu Tikus tidak terbakar.

Sementara Kera tidak tahu, maka dia benar-benar hanya memperbaiki posisi berbaring di dalam tumpukan batang padi kering. Menggaruk-garuk tubuh gatal terkena batang padi. Setelah siap, Tikus kemudian mulai membakar. Kera berpikir dia akan selamat seperti tikus tadi. Sebab dia sudah meniru cara Tikus tadi. Tapi, Kera sekarang kena batunya sendiri.

Sikap jahatnya pada temannya mendapat balasan juga. Api membakar tumpukan padi berkobar-kobar. Kera pun terbakar dan bulunya habis, dia melompat dan tidak tahan panas. Tubuhnya sakit dan  luka bakar disekujur tubuhnya. Begitulah, cerita orang yang berbuat jahat pada teman sendiri atau saudara sendiri.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 15 Januari 2021
Seumber: Shaleh Saidi, dkk. Sastra Lisan Sasak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment