1/15/2021

Cerita Datu: Mengenal Sastra Lisan Masyarakat Sasak

Apero Fublic.- Lombok. Indonesia dan Asia Tenggara tentu memiliki suatu sistem kebudayaan lama yang kita kenal dengan kebudayaan tua, kebudayaan megalitikum. Kebudayaan masa itu adalah kebudayaan yang berkembang ditengah masyarakat Indonesia secara sendiri.

Peninggalan masa megalitikum dapat di temui di dataran tinggi di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Di Sumatera Selatan terdapat kawasan warisan kebudayaan megalitikum yang sangat luas, terletak di kaki Gunung Dempo, meliputi Pagaralam, Lahat, Muara Enim, Linggau, Empat Lawang dan lainnya.

Sekarang kita akan mengangkat tentang cerita datu. Kata Datu tersebar luas di kawasan Asia Tenggara terutama di Indonesia. Datu memiliki artian yang sama, yaitu bersipat tinggi, mulia, kuat, sakti, tua dan pemimpin. Di tengah masyarakat Sasak terdapat cerita lisan yang turun-temurun tentang datu. Datu dalam cerita lisan masyarakat sasak berarti raja atau pemimpin. Cerita Datu tersebar luas di Pulau Lombok.

Seorang Datu dianggap tokoh utama di kalangan nenek moyang masyarakat Sasak. Selain itu, roh atau arwah Datu masih menguasai kehidupan manusia. Hal tersebut terbukti dengan masih ada kepercayaan masyarakat pada kuburan Datu.

Pada beberapa waktu lampau sekitar tahun 80-an masyarakat di Desa Sukadana masih memiliki kepercayaan adanya arwah-arwah datu dapat mengganggu kehidupan manusia. Seperti, ketika tanaman padi mereka diserang hama tikus, berarti Datun Begang (Ratu Tikus) atau mertua Datu Aca Muka sedang marah atau murkah.

Agar tikus-tikus tersebut berhenti merusak tanaman padi. Maka masyarakat membawa persembahan ke kuburan Datun Tikus dan Datu Aca. Yaitu, air, bubur lima warna, jajan renggi, beras digonseng, gula merah dan ketupat nasi. Air yang tadi dibawa ke kuburan Datu Tikus atau Raja Tikus dibawa kembali pulang lalu di percik-percikkan di tengah-tengah sawah. Dengan harapan tikus-tikus tidak lagi menyerang tanaman padi mereka.

Masyarakat Sasak juga percaya bahwa dengan menyebut dirinya sebagai keturunan Datu Untal, buaya tidak akan berani menelannya. Hal ini terdapat dalam cerita Datu Untal. Selain itu, terdapat juga cerita datu-datu lain, seperti cerita Datu Aca dait Datun Begang atau cerita Raja Aca  dan Ratu Tikus.

Yang menjadi catatan kita bersama adalah pemakaian kata Datu. Kata Datu secara resmi dipakai nama kerajaan maritim Sriwijaya dengan istilah Kedatuan Sriwijaya. Kemudian kata datu juga dipakai oleh masyarakat batak yang berarti orang yang memiliki kekuatan supranatural atau dukun.

Cerita tentang datu terdapat dalam buku berjudul, Tongkat Bagas Marhusor. Di Kalimantan Timur yang dipakai Raja Tidung dan Raja Bulungan bergelar Datu. Di Banjar dan Brunai Darussalam kata Datu berarti Buyut atau orang tua dari kakek nenek kita. Datu juga berarti nenek moyang dalam Bahasa Banjar di sebut nini datu dan Brunai yaitu datu nini.

Di Kalimantan Selatan para ulama atau tokoh masyarakat meninggal zaman dahulu ditambahkan kata datu nama depannya, seperti Datu Kalampaian, Datu Landak, Datu Sanggul, Datu Nuraya, Datu Ingsat. Sementara di Filipina Selatan Datu adalah gelar dipakai oleh parah pemimpin, pangeran, atau raja yang berdaulat, seperti di Bisaya, Mindano. Berikut cuplikan cerita rakyat Sasak, berjudul Datu Untal:

Ne araq sopoq cerite si ngesahang asal mule Datu Untal. Nurut cerite leq Labu Aji araq sopoq kerajaqan bebaloq si teperentah isiq sopoq datu si tearanin maraq aran taoqne: Datu Labu Aji bedueang bije nine araq sopoq aranne Dende Peropok. Dende peropok teperanakan isiq sebiniq datu aranne Suri Nunggal keturunan bebaloq darat. Keingesan Dende Peropok langsot kesohor leq kalangan bebajangan, bebajangan lekan segara lauq dait bebajangan lekan segara daye.”

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 15 Januari 2021.
Sumber: Shaleh Saidi, dkk. Sastra Lisan Sasak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987. Wikipedia: Datu.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment