1/16/2021

Legenda: Nama Desa Montong Betok

Apero Fublic.- Sudah biasa, di setiap tempat selalu ada cerita asal-usul di Indonesia atau Aisa Tenggara. Seperti cerita asal-usul nama Desa Montong Betok berikut. Desa Motong Betok terletak di Pulau Lombok yang didiami masyarakat Melayu Sasak. Desa Montong Betok terletak di Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Menurut cerita orang-orang tua di sana. Nama Montong Betok diberikan warga setelah terjadi suatu kisah pada zaman dahulu. Pada zaman dahulu tanah di sekitar Desa Montong Betok sangat subur. Aliran Sungai Gading mengalir, yang berasal dari Gunung Rinjani. Banyak ikan-ikan yang hidup di dalam aliran sungai, seperti ikan badar,  ikan mujair, ikan lele, ikan tuna, belut, dan bermacam lainnya. Di pinggiran Sungai Gading masih banyak tempat yang belum dihuni penduduk.

Diceritakan, hampir setiap hari selalu ada warga yang menangkap ikan di Sungai Gading. Datang ke tepian Sungai Gading yang belum ada penduduknya. Seperti warga, dari Desa Suranadi, Paoq Motong, Masbagik. Pada suatu hari banyak warga dari Masbagik datang mengail di Sungai Gading. Karena jauh dari desa mereka dan pulang agak telat, maka mereka semua membawa bekal makan, tidak ada lauknya.

Saat mengail rombongan warga dari Masbagik banyak mendapat ikan. Seperti ikan lele, tuna, belut dan lainnya. Ikan yang paling banyak mereka dapatkan adalah jenis ikan badar. Saat hari sudah siang, perut mereka mulai lapar. Salah satu diantara mereka diminta untuk membakar ikan badar. Untuk lauk makan siang mereka. Orang itu, kemudian mencari kayu bakar dan menyalakan api untuk memasak ikan badar.

Dia membersihkan ikan badar yang akan dimasak. Setelah itu, ikan dijepit pada panggangan yang terbuat dari kayu yang dibelah. Bara api dibuat, beberapa panggangan dia letakkan di atas bara api. Beberapa saat kemudian ikan mulai masak. Karena ikan akan segera masak, maka si pemanggang ikan pergi memberi tahu teman-temannya. Dia meninggalkan panggangan masih di atas bara api. Dengan maksud apabilah dia kembali bersama-sama teman-temannya nanti. Ikan panggang sudah masak dengan merata. Pemanggang pergi ke tepian sungai, mulai memanggil teman-temannya.

”Hoyyy, marilah kita makan. Ikan panggang sudah mulai masak.” Pagilnya. Kemudian semua temannya mendengar dan sepakat untuk makan terlebih dahulu. Mereka berjalan beriringan menuju tempat istirahat dimana terdapat tempat memanggang ikan badar. Tapi, entah mengapa saat mereka tiba. Ikan di panggangan telah terbakar dan menjadi arang kehitaman.

“Motong Betok senoq.” Teriak si pemanggang berkali-kali dan disertai rasa menyesal, saat dia melihat ikan panggangannya terbakar dan telah berwana hitam arang. Teman-temannya yang mengiringi datang juga melihat beberapa panggangan telah hangus. Bau angit tercium di sekitar. Berkali-kali pemanggang dan teman-temannya menyebut motong betok senoq, yang berarti ikan badar di panggangan telah terbakar dan jadi arang.

Teman-temannya berpendapat mungkin saat ditinggal pergi ada angin meniup api. Sehingga api menjadi menyalah. Lalu membakar panggangan ikan badar itu, sehingga jadi hangus. Mereka terpaksa membuat panggangan ikan lagi. Sambil bercerita dan beristirahat disekitar itu.

Perut yang sudah sangat lapar dan mereka menahan air liur saja. Kejadian itu, mereka ceritakan pada semua warga dan selalu memberi identipikasi tempat mencari ikan dengan nama tempat, dimana ikan badar panggang terbakar, motong betok. Perlahan, nama tempat itu menjadi Montong betok.

Waktu berlalu, penduduk bertambah banyak dan ingin mencari daerah baru. Lalu warga pindah dan mendirikan pemukiman di sisi Sungai Gading di tempat terbakarnya ikan panggang, atau motong betok senoq. Lama-kelamaan pemukiman itu menjadi desa, dan nama motong betok berubah menjadi nama desa, yaitu Desa Montong Betok.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 16 Januari 2020.
Sumber: Shale Saidi, dkk. Sastra Lisan Sasak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.
 
Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment