PT. MEDIA APERO FUBLIC

Perusahaan Pers dan Publikasi (Industri Kesastraan)

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

Apero Fublic Publisher

Penerbit Buku PT. MEDIA APERO fUBLIC

Buletin Apero Fublic

Tusisan yang bersifat ide-ide orisinal dari diri sendiri. Mulai dari kebudayaan, politik, kritik sosial, kesastraan, kemanusiaan, pendidikan dan lainnya.

Jurnal Sastra Apero Fublic

Temukan tentang kesastraan dari sastra klasik, lama, dan moderen. Lokal, Nasioan dan internasional. www.jurnalaperofublic.com

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

6/06/2020

Pasta Gigi Herbal Halal NASA.

Apero Fublic.- Pasta Gigi NASA, adalah pasta gigi perlindungan gigi dan gusi secara menyeluruh. Pasta gigi yang mengandung minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau segar. Pasta Gigi NASA membantu memberikan perlindungan gigi dan gusi menyeluruh. Manfaat, kalsium sangat baik menjaga kekuatan gigi agar tetap sehat. Clove Oil, membantu mengurangi nafas tak sedap. Floride, kekuatan lapisan email gigi, mencegah gigi berlubang.

Calcium Karbonat, merupakan salah satu bahan pemoles atau bahan abrasif pada pasta gigi. Partikel lembutnya mampu mengikis dan membersihkan kotoran pada permukaan gigi dan menghilangkan plak. Ekstrak Cengkeh, salah satu manfaat ekstrak cengkeh, bisa dikaitkan dengan antimikroba, antijamur, antiseptik, antivirus, serta afrodisiak.

Sifat anti kumannya membuat ekstrak cengkeh sangat efektif untuk menghilangkan rasa sakit gigi, sakit gusi dan sariawan. Ekstrak cengkeh mengandung senyawa eugenol, yang telah digunakan dalam dunia kedokteran gigi selama bertahun tahun.

Berkumur dengan ekastrak cengkeh yang sudah diencerkan dengan air membatu mengurangi rasa sakit tenggorokan dan iritasi. Karakteristik bau ekstrak cengkeh juga membantu untuk menghilangkan bau mulut.

Saran pakai, gunakan minimal dua kali sehari saat pagi hari sebelum makan dan malam sebelum tidur. Untuk hasil terbaik gunakan pasta sepanjang bulu sikat gigi untuk dewasa, dan ¼ bulu sikat untuk anak-anak.

Netto. 120 gram
Badan POM NA 18141400016.
Tertarik dengan produk unggulan: WA/HP. 089607544565.

Oleh. Rama Saputra.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang. 7 Juni 2020.

Sy. Apero Fublic.

Lacoco: Intensive Treatment Eye Serum. Produk Serum Untuk Mata.

Apero Fublic.- Lacoco, "Intensive Treatment Eye Serum" produk serum untuk mata yang membantu mengurangi kerutan halus dan mencegah tanda penuaan pada kulit sekitar mata. Mengandung bahan aktif peptide yang dapat membantu mengurangi garis-garis halus pada wajah.

Mengandung lida buaya untuk menjaga kelembaban kulit sekitar mata. Dilengkapi dengan ekstrak apel yang berfungsi sebagai anti oksidan. Dapat digunakan sebelum makeup dan cocok untuk semua kulit.

Manfaat, membantu mengurangi kerutan halus. Membantu mengatasi dan mencegah tanda penuaan dini pada kulit sekitar mata. Membantu menghilangkan garis-garis halus pada wajah. Membantu menjaga kelembaban kulit sekitar mata.

Di dalam Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum, mengadung zat peptide yang membantu mengurangi garis-garis haalus. Aloe Veranya membuat kelembaban dan mengencangkan kulit area mata. Sedangkan zat apelnya sebagai anti oksidan.

Kemudian dilengkapi dengan polyglutamic acid sebagai peningkat elastisitas, mencerahkan, dan juga menjaga kelembaban kulit pada area mata. Nah, bagi anda yang peduli dengan masa muda anda, atau peduli dengan anugerah kecantikan pada wajah anda ada baiknya menggunakan Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum.

Cara pemakaian sangat praktis. Cukup aplikasikan dibawah mata dan kelopak mata menggunakan jarimanis. Ratakan secara perlahan tanpa menekan kulit. Gunakan pada pagi hari dan pada malam hari.

Netto. 15 ml.
Badan POM NA 18180101558.
Tertarik dengan produk: WA/HP: 089607544565.

Oleh. Rita Purnama Sari.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang. 7 Juni 2020.
Sumber: Katalog produk PT. Natural Nusantara.

Sy. Apero Fublic.

6/05/2020

Cerita Rakyat. Puyang Bulanak

APERO FUBLIC.- Pada masa itu, kehidupan masyarakat Melayu di Sumatera Selatan berada pada tahap peradaban awal. Yang dikenal dengan zaman megalitikum atau zaman batu besar. Mereka hidup sederhana dalam satu keturunan atau kepuyangan (genoalogis). Memiliki pemerintahan sendiri yang dikenal dengan, pedatuan. Pedatuan berarti wilayah yang bersatunya para datu menjadi satu pemerintahan. Gelar pemimpin pedatuan Depati. Pemimpin talang Datu, dan gelar bangsawan atau orang yang dihormati, Puyang. Kawasan pedatuan terdiri dari gabungan puluhan Talang-Talang.

*****

Tersebutlah sebuah talang bernama Merbau Kembo. Salah satu talang yang terletak di Pedatuan Dataran Negri Bukit Pendape. Dinamakan Talang Merbau Kembo, saat nenek moyang mereka membuka talang pertamakalinya menemukan dua pohon merbau yang berdiri berdekatan. Sehingga mereka namakan Talang Merbau Kembo (Kembar). Waktu itu, talang dipimpin oleh Datu, bernama Puyang Pekalang. Dia pemimpin yang bijaksana. Sehingga dihormati dan segani rakyatnya.

Pada masa hari, ada seorang istri yang buruk sekali tabiatnya. Dia meracuni suaminya atas hasutan selingkuhannya seorang laki-laki tua, tapi kaya raya. Selain mewarisi harta suami pertamanya. Dia juga berambisi menguasai harta selingkuhannya kelak. Setelah janda, dia akan menikah dengan laki-laki selingkuhannya yang kaya. Tentu saja saat berselingkuh mereka berzina. Hasil perzinahan wanita itu pun hamil. Tibalah waktu melahirkan. Lahir anak laki-laki yang dinamakan, Bulanak. Menjadi istri muda selingkuhannya, Ibu Bulanak menjalankan ambisinya untuk menguasai harta suami barunya. Dia kemudian meracuni madunya, dan mati.

Beberapa tahun kemudian, ibu Bulanak juga berselingkuh dengan adik iparnya. Namun sayang, keburukan ibu Bulanak akhirnya diketahui oleh suami keduanya. Dengan membayar pembunuh bayaran ibu Bulanak akhirnya dibunuh juga. Bulanak dibesarkan kakeknya orang tua ibu-nya. Seusia remaja, Bulanak membunuh kakek dan neneknya dengan cara dicekiknya. Karena ingin menguasai uang dan harta bendanya. Sepertinya Bulanak mewarisi sifat ibunya.

*****

 

Bulanak dengan kelicikannya, dia mulai mencari harta dengan berjudi, menipu, dan meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Teman berjudinya kemudian banyak yang menjadi anak buahnya. Waktu demi waktu kekayaan dan uang terus bertambah banyak.

Bulanak yang semakin kaya dengan banyak anak buah. Suka berbuat jahat dan sewenang-wenang. Dia memperkosa seorang gadis. Setelah itu, terpaksa dinikahkan oleh orang tua gadis dengan Bulanak. Bulanak membayar denda adat dengan emas dan mau bertanggung jawab. Dari istri hasil memperkosa itu, mendapatkan anak pertamanya, dinamakan Binat. Sifat sombong, angkuh, serakah, tamak, gila perempuan, feodal, tidak mau kalah dari orang lain, egois, bermain judi, adalah tabiat asli Bulanak.

*****

Ada dua orang gadis cantik yang dia sukai di Talang Merbau Kembo. Bulanak tahu pasti dia akan ditolak. Pertama, dia sudah beristri dan tidak disukai orang-orang. Untuk mendapatkan gadis-gadis itu. Dia menyusun rencana licik. Dia mendekati orang tua gadis-gadis itu. Dengan cara dia pinjami emas yang berbunga. Bunga hutang juga berbunga. Sehingga hutang itu terus berlipat-lipat. Dari tahun ke tahun.

Tidak dapat membayar lagi. Bulanak terus mengintimidasi dan menagih. Ancaman anak buahnya terus menerus. Hingga akhirnya salah satu solusinya, Puyang Bulanak meminta untuk dinikahkan dengan anak gadis mereka. Maka utang emas mereka di lunaskan. Dari istri kedua dan ketiga itu, Bulanak mendapat dua anak laki-laki lagi, bernama Ukim dan Limang. Ada juga mendapat beberapa anak perempuan.

Karena sudah merasa kaya dan hebat. Bulanak menambahkan sendiri gelar bangsawan pada namanya, menjadi Puyang Bulanak. Penduduk Talang Merbau Kembo sesungguhnya mencibir saat dia memakai gelar puyang.

Sebab gelar puyang untuk orang baik, orang jujur, pemimpin baik dan amanah, serta orang yang berilmu lagi bijaksana. Bukan orang yang bertabiat buruk, suka berjudi dan berbuat dosa seperti Bulanak. Pemberian gelar puyang melalui rapat adat, bukan menambahkan sendiri seenaknya.

*****

Waktu berlalu Puyang Bulanak menjadi orang kaya raya. Puyang Bulanak ingin menjadi Datu Talang Merbau Kembo. Namun dia tidak bisa, sebab kepemimpinan diwariskan turun temurun. Kecuali kalau keluarga Datu tidak lagi ada yang dapat melanjutkan kepemimpinan. Maka harus dipilih Datu yang baru oleh masyarakat dan dilantik oleh Depati.

Selain itu Puyang Bulanak juga menyadari tidak mungkin kalau dirinya akan dipilih oleh masyarakat Talang Merbau Kembo. Satu-satunya cara dia berencana membunuh Datu Talang Merbau Kembo, Puyang Pekalang dan keluarganya. Rencana dia susun rapi, serta menunggu waktu yang tepat.

*****

Suatu ketika Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik bernama Samida. Lalu mengutus anak buahnya untuk melamar.Tapi lamarannya ditolak mentah-mentah. Bahkan Puyang Bulanak dicaci maki karena kebusukan akhlaknya dan tidak tahu dirinya. Sudah memiliki tiga istri masih mau menikahi anak gadis orang.

Tolakan itu, membuat Puyang Bulanak naik pitam dan marah besar. Dia bermaksud merampas Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati. Lalu pergi membawa seratus orang anak buahnya. Tapi diluar dugaannya, ternyata keluarga si gadis yang hendak dia rampas ternyata keluarga pendekar. Hanya Puyang Bulanak dan dua orang anak buahnya saja yang selamat dari amukan warga Talang Gajah Mati. Itu pun juga terluka para.

*****

Beberapa bulan kemudian, Samida menikah dengan pemuda bernama Kadram. Mereka yang pengantin baru tinggal berdua di ladang yang jauh dari Talang Gajah Mati. Begitulah kehidupan masyarakat zaman itu. Kehidupan keluarga baru dimulai dari berladang dan mengumpul kerangka rumah di hutan.

Puyang Bulanak yang busuk dan menyimpan dendam. Berniat menculik Samida dan membunuh suaminya. Suami Samida tewas ditembus tombak. Namun dalam insiden itu, mata Puyang Bulanak ditusuk dengan kayu oleh Samida sampai tercerabut keluar bola matanya.

Puyang Bulanak menjadi picak bermata satu. Sedangkan Samida yang tidak mau kehormatannya dirampas Puyang Bulanak dan tidak ingin menjadi budak nafsu Puyang Bulanak. Dia menabrakkan dirinya pada mata tombak yang menancap di tubuh suaminya. Dia pun meninggal seketika, Puyang Bulanak pulang tanpa mendapatkan apa pun selain kehilangan mata sebelah kirinya.

Kematian Samida dilaporkan kelurga mereka ke Puyang Depati di Pedatuan. Keluarga Samida dan Keluarga Kadram juga bersumpa akan membalas kematian keduanya. Sebagai bukti adalah biji mata yang menancap di potongan kayu. Berarti orang tersebut sekarang bermata satu. Penyelidikan dimulai oleh keluarga Samida dan Kadram.

*****

Kehilangan mata sebelah kirinya tidak membuat Puyang Bulanak sadar. Dia kini menjalankan rencananya beberapa bulan lalu. Membunuh Datu Pekalang, karena dirinya ingin menjadi Datu. Setelah menjadi Datu, dia ingin menjadi Depati di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Setiap tahun para Datu menghadap Depati untuk memberi laporan dan upeti. Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya, lima prajuritnya pergi ke Pedatuan. Dua anaknya berencana akan kepasar, sedangkan datu menghadap Depati di Balai Datu. Di tengah jalan pulang mereka di cegat oleh puluhan orang bertopeng. Terjadilah pertarungan hidup mati. Karena pertarungan tidak seimbang. Maka terbunuhlah Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya dan lima pengawal mereka.

*****

Peristiwa itu membuat gempar Pedatuan Bukit Pendape. Para Datu dan Depati mengadakan rapat besar. Mereka membahas situasi yang buruk di Pedatuan akhir-akhir ini. Terutama ada orang berani membunuh seorang datu. Setelah rapat, Depati, Hulubalang, dan seratus prajurit pergi ke tempat terbunuhnya Datu Puyang Pekalang.

“Depati, apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan kejadian perampokan-perampokan sadis beberapa tahun ini. Serta, kejadian pembunuhan sepasang suami istri di Talang Gajah Mati.” Tanya seorang laki-laki perkasa di samping depati. Mereka memperhatikan kondisi mayat yang sudah membusuk.

“Hulubalang, mungkin saja. Tapi kita belum memiliki bukti kuat. Kau tugaskan empat orang mata-mata mengawasi, menyelidiki orang-orang di Talang Merbau Kembo. Pembunuhan Datu biasanya bersangkutan dengan keinginan orang ingin menjadi datu.” Kata Depati pada Hulubalangnya.

“Siap Depati.” Jawab Hulubalang. Kemudian muncul seorang prajurit dia melaporkan kalau keluarga korban sudah datang untuk mengurus jenazah korban. Ada juga empat orang dari Talang Gajah Mati ingin bermusyawara dengan Depati. Sehingga terjadi kesepakatan untuk bekerja sama menyelidiki kejahatan yang banyak terjadi akhir-akhir ini di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

*****

Pemilihan Datu Talang berlangsung dua minggu setelah pembunuhan misterius itu. Puyang Bulanak ikut mencalonkan diri. Dia memerintahkan anak buanya membeli suara rakyat dengan memberikan sekeping emas pada setiap warga Talang Merbau Kembo agar memilihnya. Dengan cara membeli suara, yang diikuti intimidasi dan ancaman pembunuhan. Akhirnya warga memilik Bulanak menjadi Datu talang mereka. Bulanak akhirnya terpilih menjadi Datu. Tapi kedudukannya belum sah sepenuhnya, karena belum di lantik Depati dalam rapat adat. Dimana para jurai tue pedatuan ikut menyaksikan.

*****

“Ampun Depati, pelaku pembunuh adik dan saudara ipar saya pastilah orang bermata satu. Karena satu biji matanya tertancap di potongan kayu ini.” Kata seorang keluarga Samida saat bermusyawarah dengan Depati.

“Baiklah Adinda, tapi kita belum dapat menghukum seseorang sebelum terbukti kejahatannya.” Jawab Depati, semua setuju dan bekerja sama untuk menyelidiki permasalahan tersebut.

“Kami mencurigai Bulanak yang melakukan pembunuhan keji itu. Karena hanya dia yang bermasalah dengan Samida dan suaminya.” Kata ayah Samida.

Penyelidikan mulai dijalankan oleh Depati dan Keluarga Samida. Seorang mata-mata dan keluarga Samida berhasil menyusup ke kediaman Bulanak. Mereka menemukan beberapa barang hasil rampokan. Selain itu, sebelah mata Bulanak juga di tutup dengan kain.

Atas laporan mata-mata Depati dan seorang kakak Samida. Depati menunda pelantikan Datu. Tapi mengirim sepuluh orang prajurit pedatuan untuk menangkap Bulanak. Tapi Puyang Bulanak menantang balik para prajurit. Dia merobek kaghas penangkapan dirinya. Kaghas adalah nama surat zaman dahulu yang terbuat dari kulit pohon gaharu dan ditulis dengan aksara kaghanga.

“Prajurit, katakan pada Depati kalau Aku yang membunuh Datu Puyang Pekalang. Tapi Aku tidak akan tunduk pada Depati. Bahkan tidak lama lagi Aku akan menurunkannya dari tahtah pedatuan dan menggantikannya dengan diriku dan anak keturunanku.” Ujar Bulanak, lalu dia memerintahkan anak buanya untuk menyerang sepuluh prajurit. Sembilan prajurit tewas, satunya dibiarkan hidup dan kembali dengan telinga di potong kiri-kanan. Hal itu, membuat depati sangat marah. Sehingga dia sendiri turun tangan untuk menangkap Puyang Bulanak.

*****

Depati, dua orang Hulubalang, dan lima puluh orang prajurit. Bergerak menuju Talang Merbau Kembo. Mereka sudah habis kesabarannya. Depati sebagai pemimpin tertinggi harus menegakkan hukum. Serta menghukum Bulanak. Dalam perjalanan, mata-mata Bulanak mengintai.

Memberi tahu pada Puyang Bulanak kalau Pasukan Depati telah mendekat Talang Merbau Kembo. Puyang Depati tidak membawa pasukan yang banyak. Karena hanya ingin menangkap Puyang Bulanak. Tapi perhitungan Depati salah. Sehingga jebakan Puyang Bulanak mengena. Dia telah memiliki banyak sekali pasukan bersenjata lengkap.

Selain itu, banyak penduduk yang dihasut dan dibayar untuk menjadi pasukannya. Sehingga Puyang Bulanak memiliki tiga ratus orang anak buah. Di perbatasan talang, ada tanah lapang berumput hijau. Di sini tampak sekitar seratus orang menghadang Pasukan Puyang Depati. Mereka bersenjata lengkap, pibang kiri dan pibang kanan milik masing-masing. Pertanda mereka siap berperang.

“Kalian tahu kalau Aku Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Aku datang untuk menangkap penjahat dan pembunuh. Menegakkan ketertiban hukum di pedatuan kita. Agar penduduk hidup rukun dan damai.” Depati berkata pada pimpinan penghadang.

“Kami akan menjadi penguasa baru di Pedatuan kita ini. Puyang Bulanak akan menjadi Depati baru. Talang Merbau Kembo akan menjadi pusat pemerintahan. Maka tidak ada kompromi lagi. Kalian akan kami singkirkan hari ini. Aku sudah diangkat menjadi hulubalang.” Kata pemimpin anak buah Bulanak yang bernama, Lampelu.

Tidak berapa lama secara serentak seratus orang itu menyerang lima puluh orang. Depati dan Pasukannya di kepung dan terjadi pertarungan dua lawan satu. Dengan sabar dan hati-hati, paskan terlati Depati dapat mengalahkan satu demi satu anak buah Bulanak. Beberapa saat kemudian, sepuluh pasukan gugur dan lima puluh lima anak buah Bulanak tewas.

Melihat keadaan tersebut, dari sekeliling tanah lapang tempat berperang mereka muncul dua ratusan orang anak buah Bulanak. Bulanak muncul, dia tampak memakai penutup mata di mata kirinya. Bulanak melangkah perlahan mendekati arena peperangan dengan tawa kemenangan. Keadaan bertambah buruk, Puyang Depati dan pasukannya kembali terjepit dan terkepung.

“Menyerahlah Depati Tua, Aku akan mengampuni dirimu. Asal kau dan pasukanmu mau menjadi anak buahku.” Kata Bulanak.

“Aku lebih baik mati dari pada menjadi budakmu, Bulanak busuk.” Jawab Depati.

“Agar Depati tidak mati penasaran, Aku mengakui kalau akulah perampok selama ini, pembunuh Datu, pembunuh Samida yang telah menolak lamaranku. Sekarang giliran Depati akan berakhir hari ini.” Kata Bulanak dengan bangga dia merasa di atas angin. Kemudian Bulanak memerintahkan anak buanya menyerang mereka bersamaan.

*****

Beberapa orang prajurit Depati kembali gugur dan terluka parah. Keadaan sangat genting, bahkan Depati dan hulubalang telah banyak luka-luka. Mereka juga sudah mulai pasrah, tapi terus berjuang sehingga puluhan pengeroyok juga tewas.

“Heeeeeaaaaa. Heeaaaaaaa.” Puluhan orang-orang berteriak muncul dari dalam hutan dan semak-semak. Membawa bambu runcing yang diikat pada kayu yang memanjang. Sehingga mirip ranjau bambu memanjang. Kalau tertancap di ujung-ujung bambu runcing itu, pastilah segerah tewas.

Serangan tiba-tiba dan diluar perhitungan pasukan Bulanak. Membuat anak buah Bulanak kalang kabut. Banyak yang tewas tertembus bambu-bambu itu. Depati, Hulubalang dan sisa pasukannya menjadi legah. Mereka semakin semangat berperang.

Penyerang dengan bambu tajam dilakukan berkali-kali. Serangan teratur dan terencana. Kemana pasukan Bulanak lari, ada yang akan menghadang dengan bambu runcing. Sehingga hampir seratus orang tewas di ujung bambu bambu-bambu runcing itu. Empat puluh penyerang tidak dikenal itu sangat tangkas. Satu orang dapat melawan lima orang.

“Ayooo, kita habisi penjahat Bulanak ini.” Teriak Depati berapi-api. Dalam waktu cepat puluhan anak buah Bulanak Tewas. Banyak juga yang melarikan diri.

Bulanak tidak habis pikir dari mana penyerang bertopeng itu datang. Keadaan sudah tidak lagi menguntungkan. Maka dia juga hendak melarikan diri. Namun dia dihadang oleh dua orang penyerang. Kemudian dua penghadang membuka topeng kainnya. Ternyata keduanya adalah wanita.

“Aku ibu Samida.”

“Aku ibu Kadram.”

Bulanak kaget sekali. Dia sadar kalau penyerang baru datang adalah keluarga Kadram dan Samida. Hati Bulanak menjadi kecut. Dia tahu kalau orang-orang Talang Gajah Mati adalah kelompok pendekar silat. Melwan satu orang saja sulit, apalagi puluhan orang. Bulanak tidak menyia-nyiakan waktu, kalau bisa secepatnya dia melarikan diri. Lalu menerjang dan menyabetkan pibang kanannya. Namun kedua wanita berumur lima puluhan tahun itu pandai mengelak.

Serangan Puyang Bulanak hanya menyabet angin. Dia menjadi kerepotan saat dua wanita itu menyerang bersamaan. Walau dia mempu mengimbangi. Tapi dia tidak dapat lari dari hadangan dua wanita itu. Saat dia sadar ketika semua anak buanya telah tewas. Beberapa yang tertangkap tampak di penggal langsung oleh Depati. Sesosok bayangan menerjang dan menyerang Puyang Bulanak.

“Bukankah dahulu kau sudah merasakan tajamnya mata pibangku, Bulanak.” Ujar laki-laki itu. Kali ini kau tidak akan bisa lolos dariku.” Kemudian laki-laki itu mengambil sesuatu dari balik pinggangnya yang dibungkus kain. Lalu dia melemparkan di hadapan Bulanak.

“Ini biji matamu yang ditusuk anakku. Aku akan menghukummu atas kejahatanmu. Aku ayah Samidah akan menuntut belah.” Kata laki-laki itu, yang diiringi serangan pibang dan terjangan keras bertubi-tubi.

"Crott. Sebilah pibang kidau menancap di punggung Bulanak. Luar biasa serangan orang itu. Cepat dan tangkas dan tak dapat dielakkan Puyang Bulanak. "Aku ayah Kadram." Katanya.

“Crottt.” Pibang kanan milik ayah Samida menancap di pahan sebelah kiri. Dua kali jeritan Bulanak terdengar dan darah mulai membasahi tubuhnya.

“Dukkkk.” Tendangan keras ayah Kadram bersarang di dadanya. Bulanak tertelentang dan dia berbalik untuk bangkit. Kembali tendangan keras mengenai rusuknya oleh ayah Samida. Darah segar keluar dari mulutnya, semua orang mulai melihatnya. Sementara mayat bergelimpangan di hamparan tanah lapang itu.

“Depati, ini orang yang mengaku hulubalang Bulanak tadi.” Kata Hulubalang prajurit depati, dia menggiring seorang laki-laki yang tubuhnya penuh luka. Kemudian dia jatu berlutut di tanah karena tidak kuat berdiri.

“Heeeaaaa.” Teriak Depati.

“Craasss.” Depati langsung memenggal anak buah Bulanak itu.

“Inilah hukuman yang pantas untuk pembunuh.” Ujar Depati yang sangat marah. Sekilas Bulanak melihat anak buanya itu.

*****

Bulanak tidak berdaya lagi. Dia merayap di atas tanah menahan sakit, menuju rumahnya. Semua mengiringi dan membiarkan Bulanak merayap. Menikmati atas kematian Bulanak perlahan-lahan. Memang kematian perlahan-lahan diinginkan keluarga Samida dan eluarga Kadram. Depati dan pasukannya menonton saja. Untuk balasan setimpal pada Bulanak.

“Bulanak manusa terkutuk, semoga tidak ada lagi orang seburuk dirimu. Kau rasakan betapa sakitnya kematian yang tidak kau inginkan.” Ujar Ibu Kadram.

Sementara itu, Penduduk Talang Merbau Kembo mendengar kalau Bulanak yang membunuh Datu Puyang Pekalang dan dua anaknya. Membuat keluarga besar Datu marah dan menyerang keluarga Bulanak. Sedangkan Bulanak terus merayap di tanah menuju rumahnya. Di sepanjang jalan darahnya berceceran.

“Jangan bunuh Aku, Jangan!!!. Aku akan memberikan kalian emas yang banyak, ternak, padi, dan rumahku. Ambillah untuk kalian semua. Asal jangan bunuh Aku.” Pintanya sambil menangis. Sampailah di halaman rumahnya bermaksud memberi Depati dan keluarga musuh-musuhnya harta benda untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi sesampai di depan rumahnya, dia sangat terkejut. Matanya melotot dan air matanya menetes lebih deras. Sia-sia semua perjuangan busuknya selama ini.

Rumahnya telah terbakar, harta bendanya dijarah. Dua anak laki-lakinya tampak terikat dan babak belur. Puyang Bulanak melihat anak perempuan, para istrinya menangis. Penduduk sangat marah. Seorang keluarga Datu Puyang Pekalang melemparkan tombak ke arah Bulanak. Lalu menembus dadanya, dan matanya mendelik.

Sebelum Bulanak mati, dia melihat dua anak laki-lakinya yang terikat. Seorang laki-laki mengayunkan pibang memenggal dua anaknya berturut-turut. Puyang Bulanak sadar kalau dia sedang mendapat balasan setimpal.

Semua tidak terkendali, membuat sedih Puyang Depati sebagai pemimpin. Rakyatnya terbakar emosi dan api dendam. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa dalam keadaan itu. Seharusnya keluarga Bulanak tidak dizalimi.

*****

Puyang Bulanak menghadapi sakaratul maut. Terlintas semua dosa dan kejahatannya selama hidup. Termasuk sumpah dari Samida sebelum mati.

“Dasar manusia sombong, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu mati dibantai dan terusir dari Pedatuan Bukit Pendape. Namamu akan terkutuk selamanya.” Sumpah Samida terbanyang di mata Puyang Bulanak. Puyang Bulanak baru tahu kalau hidup ada batasnya. Baru sadar kalau dirinya hanyalah orang rendahan yang busuk dan jahat.

*****

Ternyata beberapa bulan sebelum kejadian itu. Bulanak memiliki selingkuhan seorang wanita. Wanita itu juga buruk akhlaknya. Dia berselingkuh dengan Bulanak karena mengincar harta Bulanak. Kemudian terjadilah perzinahan yang menyebabkan wanita itu hamil. Beberapa bulan setelah hancurnya Bulanak, wanita itu melahirkan anak laki-laki.

Dari anak laki-laki itulah keturunan Puyang Bulanak menurun sampai sekarang. Tentu saja sifat dan tabiat Bulanak juga akan menurun pada anak keturunannya. Kalau kamu menemukan orang yang membeli suara saat pemilihan apa saja. Pastilah dia keturunan Bulanak. Dosen mesum, pejabat mesum, orang suka berjudi dan berzinah, wanita yang selingkuh dan wanita yang menikah karena harta, atau orang membunuh karena harta. Itulah ciri-ciri mereka keturunan Bulanak.

Demikianlah orang-orang memanggil pemimpin yang jahat, dengan sebutan.

“Puyang Bulanak.”


Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Arti Kata: Pedatuan: Pemerintahan yang bersifat geneologis dan monarki pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan di masa lalu. Pedatuan terdiri dari sebuah wilayah yang diklaim oleh sebuah masyarakat yang masi seketurunan (kepuyangan). Datu: Pemimpin pemukiman warga, Talang sama seperti Kepala Desa.

Talang: Nama tempat pemukiman sama seperti Desa, Dusun, Kampung. Puyang: Gelar pemimpin atau bangsawan. Nenek moyang. Orang tua dari kakek-nenek. Puyang juga gelar kehormatan seperti: Tuan, Teuku, Tengku, Tun, Datuk, Daeng, Sunan. Depati: Gelar pemimpin tertinggi di kawasan pedatuan (raja kecil).

Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama kawasan tradisional yang sekrang meliputi: Kecamatan Sungai Keruh, kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, sebagian kecamatan Sekayu, Sebagian dari beberapa kecamatan lainnya. Kawasan ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di seberang. Dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten PALI.

Pibang: Senjata tradisional masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Sy. Apero Fublic.

6/03/2020

Kisah Asal Usul Serai dan Lengkuas.

APERO FUBLIC.- Kamu tahu, mengapa serai dan lengkuas selalu bertemu di dalam belanga saat ibu-ibu memasak. Serai dan Lengkuas menjadi sepasang bumbu yang tidak terpisah. Terutama gulai pindang yang sering di masak oleh masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Tahukah kamu, kalau serai dan lengkuas hadir karena cinta kasih ibu dan cinta sejati sepasang suami istri. Masakan sesungguhnya buah dari rasa cinta sebuah keluarga.

*****

Sebuah rumah panggung di tepi Talang Gajah Mati. Beberapa rumpun pisang dan pohon kelapa tumbuh subur di belakang rumah. Rumput hijau membentang di halaman rumah. Beberapa ayam tampak berkais di sisi halaman rumah. Dari rumah ini, kira-kira berjarak lima puluh meter baru ada rumah warga lainnya. Masa itu, lahan masih luas sehingga pekarangan rumah berjauhan satu sama lain.

Suatu sore yang cerah, tampak seorang gadis cantik berumur dua puluhan tahun. Memakai baju kurung tenun songket, berkain sepinggang, dan rambutnya panjang terurai. Tangan indahnya sibuk merajut benang pada tenunan. Dia sedang menenun kain songket. Jauh di depan rumah puluhan anak-anak sedang berlari-lari, bermain perang-perangan.

“Samida, jangan terlalu sore selesai menenun. Sebentar lagi, ajaklah adikmu mandi di sungai. Aku nak menumbuk padi, beras lah habis. Tinggal untuk menanak sore ini.” Ujar Ibu Samida dari dapur, kemudian dia turun dari tangga dapur. Menjinjing bunang, nyirau. Kemudian dia menuju bilik padi di bawah rumah. Tersimpan padi, jagung kering, keladi-keladian, berbagai jenis labu-labuan. Ibu Samida kemudian menumbuk padi pada lesung. Terdengar suara bertalu-talu, ayam-ayam pun mulai mendekat.

*****

“Samida, tunggulah. Kami juga nak mandi.” Seorang gadis manis berkulit putih memanggil. Samida dan adik gadis yang masih remaja menoleh kebelakang. Dua orang gadis seusia Samida berjalan cepat menuju mereka, Miku dan Yapi panggil Samida. Mereka akhirnya mandi di tepian bersama-sama.

Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati waktu itu. Banyak sekali anak-anak muda menyukainya. Namun belum ada yang berani melamar atau mendekati. Kecantikan Samida terkenal ke seluruh Dataran Negeri Bukit Pendape. Saat mereka sedang mandi, melintaslah sebuah perahu. Di dalam perahu ada empat orang.

Sepertinya mereka keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dua pemuda laki-laki. Seorang pemuda yang berumur dua puluh tiga tahun menatap pada Samida. Pandangannya lekat seakan tak mau lepas. Samida tersenyum, dan dua temannya mulai jahil menggoda Samida.

“Adu, Kak Kadram tampan yaaa.” Kata Yapi sambil tersenyum lebar. Samida memandangi wajah kedua sahabatnya. Dia tahu kalau sahabatnya itu menggodanya.

“Iya, memang tampan, tapi sayang sebentar lagi ada yang mau dia lamar. Takut berharap, nanti kecewa.” Ujar Miku diiringi tawa ringan. Begitu pun adik Samida ikut tertawa melihat kakaknya tampak malu.

“Melamar siapa, Miku. Jangan patahkan pucuk yang mau bertunas. Nanti getahnya mengucur deras.” Tambah Yapi dengan bersemangat sambil senyum-senyum.

“Yah, melamar gadislah. Yang setiap kali mandi selalu main mata dan tersenyum padanya.” Semuanya tahu kalau yang dimaksud Miku adalah Samida. Memang diam-diam Samida menyukai pemuda yang selalu pulang dari ladang dengan perahu. Selalu melintas setiap sore melewati tepian madi mereka.

*****

Sementara itu, si pemuda bernama Kadram terus mengayu perahu ke hulu Talang. Terdengar suara dayung memecah permukaan air Sungai Keruh yang deras. Wajah tampan itu tampak merenung dan melamun. Dunia seakan sunyi dan hening sebab senyum si gadis cantik mengganggunya.

“Koyong, jangan melamunlah. Nanti kita menabrak tebing tanjung sungai ini.” Adik menggoda.

“Ah, kau ini. Ada mata juga koyongmu ini. Pandai nak mainkan perasaan, nanti Aku putar telingamu.” Si pemuda tampak kaget dan berusaha menutupi kalau dia memang melamun. Sang adik tertawa dan ayah-ibunya tersenyum.

“Kalau kau suka sama anak Ayuk Tartan. Nanti malam umak dan Bak melamar dia untukmu. Ibu juga suka sama Samida. Gadis yang baik, sopan, berbudi bahasa yang lembut, rajin, pandai sekali menenun. Tak susah kau nak buat baju anak-anak kau nanti.” Ibu si pemuda berkata. Kata-kata itu juga di jawab ayahnya, dengan senyum dan mengiakan sambil mendayung di bagian depan. Sementara adiknya tampak mengangguk-angguk saat ibunya berkata seolah-olah dia membenarkan kata-kata ibunya. Kadram diam seribu bahasa, dia tidak menolak dan tidak mengiakan.

“Dah, kalau koyong tak mau. Biarlah Garnam, Mak.” Ujar sang adik sambil tertawa. Remaja berumur lima belas tahun itu berhasil membut sang kakak meradang. Namun semua kemudian tertawa ringan. Kebahagian dan kedekatan mereka terlihat dalam keluarga.

*****

Di sebelah utara Talang Gajah Mati, berjarak setengah hari perjalanan kaki. Terdapat sebuah talang bernama, Talang Merbau Kembo. Di talang itu, hidup seorang lelaki jahat dan serakah. Dia kaya, banyak anak buah, dan banyak istri. Dia selalu ingin menikahi gadis-gadis cantik. Dia telah memiliki tiga orang istri, sekarang. Ketiga istrinya itu semuanya hasil merampas dengan penuh kelicikan.

Cara orang itu, pertama orang tua si gadis diberi pinjaman emas yang berbunga. Sehingga semakin banyak hutang mereka ketika belum lunas. Bunga hutang juga berbunga lagi. Begitulah buruknya tabiat orang itu. Karena tidak sanggup membayar lagi. Maka dia meminta anak gadis mereka sebagai bayarannya. Dialah yang dikenal orang dengan nama, Puyang Bulanak.

Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik. Maka dia mengutus dua orang anak buahnya mencari tahu. Sehingga datanglah dua anak buah Puyang Bulanak memata-matai Talang Gajah Mati. Mereka pulang melapor dan menceritakan kalau gadis itu memang sangat cantik. Namanya Samida anak Uwa Rimbing dan nama ibunya Tartan.

Puyang Bulanak mengirim utusan melamar Samida. Mereka membawa satu pikulan emas, sepuluh bilah pedang dan mata tombak sebagai hadia.

“Selain dari hadia itu, saat pernikahan juga akan diberikan lagi keping emas dan perak, juga diberikan sepuluh ekor sapi, sepuluh kerbau, dan sepuluh kambing.” Ujar utusan itu pada ayah Samida.

“Katakan pada Bulanak, dia sudah tua dan punya banyak istri. Maka saya tidak bisa menerima lamarannya. Harta benda tidak perlu, bagi kami tabiat yang baik yang utama.” Kata ayah Samida. Selain itu, ayah Samida juga tahu tabiat dan kelakuan Puyang Bulanak. Hal tersebut membuat Puyang Bulanak sangat marah. Dia idak bisa ditolak, apalagi oleh keluarga miskin begitu.

“Kurang apa lagi mereka, emas dan perak berpikul-pikul Aku berikan. Akan Aku rampas gadis itu, biar dia tahu siapa Puyang Bulanak sebenarnya.” Kata Bulanak marah-marah. Keesokan harinya, dia membawa anak buahnya sebanyak seratus orang untuk merampas Samida.

Terjadilah perang antara keluarga Samida dan Puyang Bulanak. Namun diluar perkiraan Bulanak, ternyata keluarga besar Samida yang tidak seberapa banyaknya adalah pendekar silat handal. Warga Talang Gajah Mati juga membantu, termasuk Kadram. Anak buah Puyang Bulanak hancur lululantak. Hanya tersisa dua orang anak buah Bulanak yang masih hidup, itu pun terluka para.

Bulanak berlari seperti tikus bersama dua orang anak buahnya. Di sana sini bajunya robek karena sabetan pibang. Darah mengucur dari setiap luka. Hampir saja dia juga tewas. Sejak saat itu, Puyang Bulanak tidak lagi berani dengan orang-orang Talang Gajah Mati. Namun, dasar manusia busuk yang licik dan jahat. Dia menyimpan dendam dan rasa sakit hati. Dia selalu memikirkan rencana membalas kekalahannya.

Dia tidak terimah atas kekalahan dan penolakan orang padanya. Bulanak menganggap dirinya hebat dan orang kaya hebat. Sehingga dia menyiapkan rencana jahat. Untuk menculik Samida diam-diam. Dikirimlah mata-mata ke Talang Gajah Mati. Dua orang mata-mata tersebut bersembunyi di sekitar Talang Gajah Mati memperhatikan aktivitas Samida dan keluarganya.

****

Satu bulan setelah itu, Kadram ditemani ayah, ibu dan keluarga besarnya melamar Samida. Lamaran diterimah dengan sukacita oleh keluarga Samida. Mereka berdua memang cocok, satu cantik dan satunya tampan. Kulit keduanya sama-sama putih. Lalu dilaksanakanlah upacara pernikahan. Beberpa kambing, satu ekor sapi disembelih. Pernikahan meriah sekali, tarian Melayu dengan diiringi gendang menghibur warga. Sunggu meriah pernikahan Kadram dengan Samida. Begitu juga semua keluarga dan warga.

Satu bulan berlalu, Kadram dan Samida hidup bahagia, menikmati bulan madu mereka. Masa itu, kehidupan masyarakat hidup dari bertani ladang berpindah. Maka, Kadram dan Samida juga mulai membuka hutan untuk ladang mereka. Keduanya memulai hidup baru dan menata masa depan. Selain membuka ladang Kadram juga mulai mengumpulkan kayu untuk kerangka rumah mereka di talang nantinya. Semua kejadian tersebut tentu saja diketahui oleh Bulanak dari laporan mata-matanya. Tempat mereka berladang pun dicari tahu.

Suatu hari, Kadram dan Samida sedang beristirahat. Duduk di serambi pondok dan dihembus angin berlalu.

"Adik, sudah berapa bulan anak kita." Tanya Kadram seraya memegang perut istrinya dengan lembut.

"Baru satu setenga bulan, kanda." Jawab Samida dengan bahagia.

Terbentang ladang mereka yang subur. Tampak padi dan tanaman lain sudah mulai tumbuh besar. Pekerjaan Kadram yang tinggal sedikit adalah membuat pagar ladang. Agar nanti saat tanaman sudah tumbuh besar tidak diserang hama babi.

Saat sedang berbincang dan bercanda keduanya terkejut. Tiba-tiba muncul tiga puluh orang laki-laki bersenjata pibang. Ada juga yang membawa tombak. Samida dan Kadram tahu kalau mereka dalam bahaya besar. Puyang Bulanak tertawa senang dan dengan tatapan mata sinis.

“Akhirnya Aku dapatkan juga kau wanita keras kepala. Aku akui, memang cantik sekali dirimu.” Kata Bulanak dengan senyuman senang.

Kadram dan Samida bangkit, mengambil pibang kidau dan pibang kanan mereka yang terselip di dinding pondok. Puyang Bulanak berkata kalau dia akan membunuh Kadram dan merampas Samida. Dia tidak suka direndahkan dan tidak terima keinginannya ditolak orang. Apalagi yang menolak itu orang biasa dan miskin.

“Heaaaa. Heeaaaa.” Kadram dan Samida siap bertarung. Melompat ke halaman pondok. Tiga puluh orang anak buah Bulanak menyerang. Tidak mudah menaklukkan sepasang suami istri muda itu. Mereka pandai bermain silat. Sehingga mereka mengeroyok dengan tidak tahu malu. Tapi Kadram mampu mengalakan satu demi satu, penyerangnya. Sekarang sudah lima orang roboh ditangan keduanya. Puyang Bulanak mencari akal, lain. Kalau tidak, mereka akan kalah lagi.

Dia mengatur setrategi dengan cara menyerang dan mundur sambil mengurung. Mempersempit ruang gerak Kadram dan Samida. Dia mempersiapkan serangan lemparan tombak. Banyaknya ayunan mata pibang membuat keduanya kerepotan. Kali ini, kembali lima orang anak buah Bulanak roboh bersimbah darah. Sementara Kadram dan Istrinya sudah ada beberapa sabetan mata pibang di tubuh mereka. Keduanya berdiri beradu belakang untuk saling menjaga.

Puyang Bulanak memerintahkan lima anak buahnya melemparkan tombak bersamaan. Dua tombak diatasi oleh Kadram dan dua lagi diatasi oleh Samida. Namun mata tombak ke lima tidak dapat dielakkan Samida. Kadram melompat menjadikan tubuhnya perisai tombak untuk melindungi Samida. Mata tombak menghujam tepat di dadanya tembus ke punggung belakang.

Tubuh Kadram lunglai dia tewas seketika. Kakinya tertekuk dan tubuh tersandar pada batang tombak, merunduk. Tampak mata tombak menembus satu jengkal di punggungnya. Samida histeris, tubuhnya gemetar. Suami tercinta telah tiada. Tubuhnya lemas dan lemah seketika. Pibang ditangannya terlepas. Jiwanya tidak dapat menerima dan goyah. Tentu kejiwaan wanita lebih lemah. Samida merasa tiada gunanya lagi hidup.

Bulanak melompat, dia menerjang dan mengenai tepat di punggung Samida. Samida terpental dan jatuh berguling-guling. Melihat dirinya sudah terkepung, dan Bulanak terus mendekat untuk menangkapnya. Samida tahu, dia akan ditangkap dan diculik. Lalu akan menjadi budak nafsu Bulanak. Dia tidak mau, dan akan menjaga kesuciannya sebagai seorang wanita dan seorang istri. Samida bergeser perlahan di tanah. Puyang Bulanak menyergap dan berada dihadapannya sejarak satu langkah. Senyum mengerikan dan buas menatap Samidah.

“Akhirnya kau menjadi milikku. Aku akan bersenang-senang setiap saat. Aku tidak akan pernah menerima kekalahan apa pun. Siapa yang berani menentang Aku, maka dia akan mendapat balasan setimpal.” Kata Bulanak dengan sombong.

“Dasar manusia sombong, licik, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu terusir dari Pedatuan Bukit Pendape. Kau akan menjadi manusia terkutuk, selamanya.” Samida mengucapkan sumpahnya dengan tajam. Bulanak membungkuk lalu memegang baju Samida dan menariknya sehingga wajah mereka berdekatan. Tiba-tiba.

“Crassss.” Sepotong kayu kecil menancap tepat di mata kiri Puyang Bulanak. Darah mengucur deras, diiringi jeritan keras. Samida terlepas, Puyang Bulakan terhuyung menjerit kesakitan. Dua puluh anak buah Puyang Bulanak mengacungkan pedang. Samida, yang tidak lagi mau hidup bertekad menyelamatkan harga dirinya.

Maka dia nekat menerabas mata-mata pibang yang terarah kearahnya. Karena tidak mau melukai Samida anak buah Puyang Bulanak menarik pibang mereka. Begitulah, sikap wanita Melayu yang selalu menjaga hargadirinya dengan baik. Adat itu sampai sekarang masih dipegang teguh oleh wanita Melayu.

Anak buah Puyang Bulanak Salah menduga. Samida ternyata ingin menabrakkan dirinya ke mata tombak yang menembus di punggung Kadram. Sehingga mata tombak juga menembus tubuhnya. Lalu tubuh keduanya terjatuh. Samida pun mati menyusul suaminya. Bulanak begitu kesal dan gusar. Betapa ruginya dia hari itu. Sepuluh anak buahnya tewas, dan mata kirinya pecah. Dia dan sisa anak buahnya pun meninggalkan mayat Kadram dan Samida secepatnya.

*****

Dua hari setelah kejadian itu. Ayah dan Adik Kadram datang berkunjung ke ladang mereka.

“Koyooongg.” Ayuuukkkk.” Sebuah suara memanggil dari tepi ladang.

Ayah Kadram dan adik remajanya mendatangi ladang Kadram. Maksud hendak membantu Kadram menyelesaikan pagar ladang. Sebentar lagi padi mereka berbuah. Garnam berteriak-teriak dari tepi ladang memanggil sang kakak. Dia bergembira sebab sudah tiga minggu tidak bertemu saudara tuanya. Namun keadaan sepi dan lengang sampai mereka tiba di halam pondok.

Keduanya hampir jatuh terduduk menjumpai tubuh Samida dan Kadram yang sudah membiru kaku tertembus tombak. Di sekitarnya tampak sepuluh mayat tergeletak. Mereka tahu kalau ada pertempuran hidup mati beberapa hari lalu. Tangis keduanya pecah, dan Talang Gajah Mati menjadi gempar dan berduka.

Ayah Kadram dan Ayah Samida sangat yakin kalau pelaku adalah si Bulanak. Pada saatnya mereka akan menuntut belah, menghukum Bulanak. Samida dan Kadram dikubur di sisi Talang. Pekuburan tidak jauh dari rumah orang tua mereka. Kuburan pengantin baru itu berdampingan. Tangisan keluarga, terutama ibu keduanya tiada henti meratapi. Semua menyayangkan kejadian itu.

Mereka akhirnya melaporkan ke Depati Pedatuan Bukit Pendape. Masalah itu, dalam penyelidikan hulubalang pedatuan. Belum dapat bertindak karena belum ada bukti tepat. Bukti yang paling kuat adalah, satu biji bola mata yang tertancap pada sepotong ranting kayu.

*****

Ibu Samida dan ibu Kadram terus bersedih. Keduanya menangis terus menerus tanpa henti. Membuat pilu seluruh Talang Gajah Mati. Tubuh kedua orang berbesan itu kini mulai kurus. Sebab keduanya sangat mencintai anak-anak mereka dan menantu mereka. Tidak ada yang dapat membujuk mereka berdua. Sehingga semuanya menyerah dan membiarkan saja.

Suatu malam, ibu Samida dan ibu Kadram tertidur setelah lelah menangis. Ibu Samida tertidur di sisi dapurnya. Dia mengenang Samida sering memasak, terutama memasak gulai pindang. Sedangkan ibu Kadram tertidur di serambi dapurnya. Dimana Kadram sering membuat bubu atau memulas tali jerat. Keduanya bermimpi yang sama bertemu Samida dan Kadram. Mimpi mereka sama jalan ceritanya. Dalam mimpinya, Samida dan Kadram datang bertamu kerumah. Anak mereka yang pengantin baru datang mengobati rindu.

“Kalian datang tepat pada waktunya. Ibu sudah rindu sekali.” Dalam mimpi tampak kandungan Samida sudah besar. Mereka bercerita kalau hidup di tempat yang sangat indah. Ada sebuah istana yang megah yang mereka diami. Mendengar cerita itu, ibu Samida dan Ibu Kadram menjadi bahagia sekali.

“Oh, iya. Ibu membuat gulai pindang jamur kesukaan kalian.” Ujar Ibu Kadram. Memang Samida dan Kadram menyukai masakan gulai pindang jamur. Memang orang berjodoh memiliki kesamaan selera dan kesamaan kejiwaan.

“Ibu, kalau mau menggulai pindang, lagi. Supaya lebih enak, berilah sepotong serai dan sepotong lengkuas. Batang lengkuas muda juga enak dijadikan bumbu gulai pindang. Di tempat tinggal kami yang baru. Setiap kali membikin gulai pindang dibumbuhi serai dan lengkuas. Ini Samida bawakkan untuk ibu berdua.” Ujar Samida dalam mimpi mereka.

Dalam mimpi itu, mereka makan bersama. Gulai pindang dibumbuhi serai dan lengkuas yang dibawa Samida. Sehingga gulai pindang menjadi sangat sedap. Keluarga mereka makan dengan lahap, sampai kekurangan nasi.

“Baru sekali ini, kita kekurangan nasi." Ujar Ibu Samida. Semua tertawa dan kedua ayah mereka berkata.

“Karena ada bumbu yang baru itu. Membuat gulai tambah sedap." Kata ayah Samida.

“Boleh di tanam di pekarangan rumah atau di ladang.” Tanya ayah kadram.

*****

Hari akan turun hujan lebat, petir berbunyi dan angin berhembus deras. Ibu Samida dan ibu mertuanya terbangun dari mimpinya. Dia melihat sekeliling ruangan, tampak adik Samida membawakkannya sepiring nasi, lalu menyuapinya. Di rumah Kadram sendiri, Gernam juga meminta ibu-nya untuk makan dan masuk kedalam rumah. Karena mimpi itu, kedua wanita itu berubah sekarang. Hati keduanya menjadi tentram. Keduanya sadar, kalau mereka telah salah, bersedi yang sudah berlebihan.

*****

Satu bulan berlalu, Ibu Pekalang bertandang ke rumah Ibu Samida. Keduanya menceritakan mimpi yang ternyata sama persis. Siang itu, untuk mengobati rindu pada anak kesayangan mereka. Keduanya bermaksud ziarah ke kuburan anak dan menantu mereka. Setiba di kuburan, mereka melihat ada tumbuhan yang tumbuh di atas gundukan kuburan kedua anaknya. Di atas kuburan Samida tumbuh serai sebagaimana yang di lihat dalam mimpi mereka. Di atas kuburan Kadram tumbuh lengkuas seperti dalam mimpi juga. Sehingga keduanya bersyukur, walau anak mereka telah tiada di dunia ini. Tapi mereka selalu ada untuk mereka.

“Mari, kita tanam di halaman rumah dan di ladang. Rasa melihat mereka hidup kembali.” Kata ibu Kadram.

“Iya, benar sekali Yuk.” Jawab Ibu Samida.

Sejak saat itu, lengkuas dan serai dijadikan bumbu memasak gulai. Atau bumbu berbagai jenis kuliner berkuah lainnya. Awalnya hanya ditanam di pekarangan rumah keluarga Samida dan keluarga Kadram. Kemudian warga Talang Gajah Mati juga menanam di pekarangan rumah mereka masing-masing. Lalu tersiar tentang bumbu masakan itu ke talang-talang lainnya. Sehingga semuanya juga menanam serai dan lengkuas di halaman rumah masing-masing.

Lalu ditanam di ladang-ladang, dan kebun warga. Dari waktu ke waktu tanaman serai dan lengkuas terus tersebar ke wilayah lain. Jauh dan jauh hingga sampai sekarang serai dan lengkuas tersebar luas di bumi. Serai selalu di pasangkan dengan lengkuas untuk bumbu penyedap. Sebab memang sepasang kekasih pengantin baru.

“Anak-anakku, kalian tetap bersatu walau di dalam belanga. Cinta suci kalian telah menyatukan kalian sepanjang zaman. Bahkan memberi cinta pada semua manusia. Ibu-ibu yang selalu mencintai keluarganya dengan memasak. Istri yang bersediah sehidup semati bersama suaminya. Dalam susa dan bahagia mereka.” Ujar kedua ibu mereka saat sedang memasak gulai pindang di suatu hari.


Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Daftar Kata: Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama tradisional dari kawasan Kecamatan Sungai Keruh, Jirak Jaya, Pelakat Tinggi dan sekitar Bukit Pendape. Atau wilayah Musi Banyuasin seberang, yang terbentang dari tebing sungai Musi sampai ke perbatasan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI.

Talang: Dusun, Kampung, Pemukiman tradisonal orang Melayu. Puyang: Gelar pemimpin atau gelar kehormatan, orang tua, orang sakti, bangsawan. Orang tua dari kakek-nenek kita. Gelar puyang sama seperti gelar: Tun, Tuan, Tengku, Teuku, Datuk, Daeng, Sunan.

Pibang: Senjata tradisional berbentuk pedang. Biasanya pibang sepasang yaitu pibang kidau dan pibang kanan. Pibang kidau berupa pisau dan pibang kanan berupa pedang pendek.

Koyong: Kakak. Bak: Ayah. Umak: Ibu. Pedatuan: Pemerintahan tradisional masyaraat di pulau Sumatera, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumsel, Jambi. Bersifat monarki dan menurut genoalogis mereka.

Sy. Apero Fublic.