Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

6/06/2020

Pasta Gigi Herbal Halal NASA.

Apero Fublic.- Pasta Gigi NASA, adalah pasta gigi perlindungan gigi dan gusi secara menyeluruh. Pasta gigi yang mengandung minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau segar. Pasta Gigi NASA membantu memberikan perlindungan gigi dan gusi menyeluruh. Manfaat, kalsium sangat baik menjaga kekuatan gigi agar tetap sehat. Clove Oil, membantu mengurangi nafas tak sedap. Floride, kekuatan lapisan email gigi, mencegah gigi berlubang.

Calcium Karbonat, merupakan salah satu bahan pemoles atau bahan abrasif pada pasta gigi. Partikel lembutnya mampu mengikis dan membersihkan kotoran pada permukaan gigi dan menghilangkan plak. Ekstrak Cengkeh, salah satu manfaat ekstrak cengkeh, bisa dikaitkan dengan antimikroba, antijamur, antiseptik, antivirus, serta afrodisiak.

Sifat anti kumannya membuat ekstrak cengkeh sangat efektif untuk menghilangkan rasa sakit gigi, sakit gusi dan sariawan. Ekstrak cengkeh mengandung senyawa eugenol, yang telah digunakan dalam dunia kedokteran gigi selama bertahun tahun.

Berkumur dengan ekastrak cengkeh yang sudah diencerkan dengan air membatu mengurangi rasa sakit tenggorokan dan iritasi. Karakteristik bau ekstrak cengkeh juga membantu untuk menghilangkan bau mulut.

Saran pakai, gunakan minimal dua kali sehari saat pagi hari sebelum makan dan malam sebelum tidur. Untuk hasil terbaik gunakan pasta sepanjang bulu sikat gigi untuk dewasa, dan ¼ bulu sikat untuk anak-anak.

Netto. 120 gram
Badan POM NA 18141400016.
Tertarik dengan produk unggulan: WA/HP. 089607544565.

Oleh. Rama Saputra.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang. 7 Juni 2020.

Sy. Apero Fublic.

Lacoco: Intensive Treatment Eye Serum. Produk Serum Untuk Mata.

Apero Fublic.- Lacoco, "Intensive Treatment Eye Serum" produk serum untuk mata yang membantu mengurangi kerutan halus dan mencegah tanda penuaan pada kulit sekitar mata. Mengandung bahan aktif peptide yang dapat membantu mengurangi garis-garis halus pada wajah.

Mengandung lida buaya untuk menjaga kelembaban kulit sekitar mata. Dilengkapi dengan ekstrak apel yang berfungsi sebagai anti oksidan. Dapat digunakan sebelum makeup dan cocok untuk semua kulit.

Manfaat, membantu mengurangi kerutan halus. Membantu mengatasi dan mencegah tanda penuaan dini pada kulit sekitar mata. Membantu menghilangkan garis-garis halus pada wajah. Membantu menjaga kelembaban kulit sekitar mata.

Di dalam Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum, mengadung zat peptide yang membantu mengurangi garis-garis haalus. Aloe Veranya membuat kelembaban dan mengencangkan kulit area mata. Sedangkan zat apelnya sebagai anti oksidan.

Kemudian dilengkapi dengan polyglutamic acid sebagai peningkat elastisitas, mencerahkan, dan juga menjaga kelembaban kulit pada area mata. Nah, bagi anda yang peduli dengan masa muda anda, atau peduli dengan anugerah kecantikan pada wajah anda ada baiknya menggunakan Lacoco Intensive Treatmen Eye Serum.

Cara pemakaian sangat praktis. Cukup aplikasikan dibawah mata dan kelopak mata menggunakan jarimanis. Ratakan secara perlahan tanpa menekan kulit. Gunakan pada pagi hari dan pada malam hari.

Netto. 15 ml.
Badan POM NA 18180101558.
Tertarik dengan produk: WA/HP: 089607544565.

Oleh. Rita Purnama Sari.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang. 7 Juni 2020.
Sumber: Katalog produk PT. Natural Nusantara.

Sy. Apero Fublic.

6/05/2020

Cerita Rakyat. Puyang Bulanak

Apero Fublic.- Pada masa itu, kehidupan masyarakat Melayu di Indonesia terutama di Sumatera Selatan berada pada tahap peradaban purba. Yang dikenal dengan zaman megalitikum atau zaman batu besar. Mereka hidup sederhana dengan berkelompok secara geneologis, dan memiliki pemerintahan sendiri yang dikenal dengan, pedatuan.

Di Sumatera Selatan ada beberapa istilah pemerintah tradisional, seperti Sumbai dan Pedatuan. Gelar pemimpin mereka Depati, Datu, dan Puyang. Kawasan pedatuan terdiri dari gabungan puluhan Talang-Talang.

Kawasan Pedatuan dipimpin oleh seorang bergelar Depati. Talang dipimpin oleh seorang Datu. Gelar bangsawan kala itu, Puyang. Pedatuan suatu kawasan wilayah merdeka, bersifat monarki serta penduduknya masyarakat masih satu keturunan, genoalogis. Kelak pada masa-masa pengaruh hindhu-budha berkembang menjadi Pemerintahan Marga.

*****

Tersebutlah sebuah talang bernama Merbau Kembo. Salah satu talang yang terletak di Pedatuan Dataran Negri Bukit Pendape. Dinamakan Talang Merbau Kembo, karena saat nenek moyang mereka membuka talang pertamakalinya menemukan dua pohon merbau yang berdiri berdekatan. Sehingga mereka namakan Talang Merbau Kembo. Waktu itu, Talang Merbau Kembo dipimpin oleh Datu PuyangPekalang yang bijaksana. Dia dihormati dan segani rakyatnya.

Pada masa itu, lahirlah seorang anak bernama Bulanak. Lahir dari rahim wanita bertabiat buruk sekali. Ibu Bulanak membunuh suami sah-nya dengan cara diracuninya. Karena dia berselingkuh dengan seorang laki-laki beristri, yang kaya. Hubungan gelap itu diiring dengan perzinahan. Ibu Bulanak menikah dengan selingkuhannya. Hasil perselingkuhan diatelah hamil dan kemudian lahirlah anak laki-laki, yang diberi nama, Bulanak. Menjadi istri muda selingkuhan Ibu Bulanak menjalankan ambisinya untuk menguasai harta laki-laki itu. Dia kemudian meracuni istri suami barunya itu. Sehingga dia menguasai harta dan suaminya yang sudah tua itu.

Beberapa tahun kemudian, ibu Bulanak juga berselingkuh dengan adik iparnya. Namun, keburukan ibu Bulanak akhirnya diketahui oleh suaminya. Dengan membayar pembunuh bayaran ibu Bulanak akhirnya dibunuh juga. Bulanak dibesarkan kakeknya orang tua ibu-nya. Seusia remaja, Bulanak membunuh kakek dan neneknya dengan cara dicekiknya. Karena ingin menguasai uang dan harta bendanya.

*****

Bulanak mewarisi sifat ibunya. Bulanak dengan kelicikannya, dia mulai mencari harta dengan berjudi, menipu, dan meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Teman berjudinya kemudian banyak yang menjadi anak buahnya. Waktu demi waktu kekayaan dan uang terus bertambah banyak.

Bulanak yang semakin kaya dengan banyak anak buah. Suka berbuat jahat dan sewenang-wenang. Dia memperkosa seorang gadis. Setelah itu, terpaksa dinikahkan oleh orang tua gadis dengan Bulanak. Bulanak membayar denda emas dan mau bertanggung jawab. Dari istri hasil memperkosa itu, mendapatkan anak pertamanya, Binat.Sifat sombong, angkuh, serakah, tamak, gila perempuan, feodal, tidak mau kalah dari orang lain, egois, bermain judi, adalah tabiat asli Bulanak.

*****

Ada dua orang gadis cantik yang dia sukai di Talang Merbau Kembo. Bulanak tahu pasti dia akan ditolak. Pertama, dia sudah beristri dan tidak disukai orang-orang. Untuk mendapatkan gadis-gadis itu. Dia menyusun rencana licik. Dia mendekati orang tua gadis-gadis itu. Dengan cara dia pinjami emas yang berbunga. Bunga hutang juga berbunga. Sehingga hutang itu terus berlipat-lipat. Dari tahun ke tahun.

Tidak dapat membayar lagi. Bulanak terus mengintimidasi dan menagih. Ancaman anak buahnya terus menerus. Hingga akhirnya salah satu solusinya, Puyang Bulanak meminta untuk dinikahkan dengan anak gadis mereka. Maka utang emas mereka di lunaskan.Dari istri kedua dan ketiga itu, Bulanak mendapat dua anak laki-laki lagi, bernama Ukim dan Limang. Ada juga mendapat beberapa anak perempuan.

Karena sudah merasa kaya dan hebat. Bulanak menambahkan sendiri gelar bangsawan pada namanya, menjadi Puyang Bulanak. Penduduk Talang Merbau Kembo sesungguhnya mencibir saat dia memakai gelar puyang.

Sebab gelar puyang untuk orang baik, orang jujur, pemimpin baik dan amanah, serta orang yang berilmu lagi bijaksana. Bukan orang yang bertabiat buruk, suka berjudi dan berbuat dosa seperti Bulanak. Pemberian gelar puyang melalui rapat adat, bukan menambahkan sendiri.

*****

Waktu berlalu Puyang Bulanak menjadi orang kaya raya. Puyang Bulanak ingin menjadi Datu Talang Merbau Kembo. Namun dia tidak bisa, sebab kepemimpinan diwariskan turun temurun. Kecuali keluarga tidak lagi ada yang dapat melanjutkan. Maka harus dipilih Datu yang baru. Bulanak, juga tahu bahwa dirinya tidak akan dipilih oleh warga talang. Satu-satunya cara dia berencana membunuh Puyang Pekalang, Datu Talang Merbau Kembo dan keluarganya. Rencana dia susun rapi, serta menunggu waktu yang tepat.

*****

Suatu ketika Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik bernama Samida. Lalu mengutus anak buahnya untuk melamar.Tapi lamarannya ditolak mentah-mentah. Bahkan Puyang Bulanak dicaci maki karena kebusukan akhlaknya dan tidak tahu dirinya. Sudah memiliki tiga istri masih mau menikahi anak gadis orang.

Tolakan itu, membuat Puyang Bulanak naik pitam dan marah besar. Dia bermaksud merampas Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati, secara kekerasan. Lalu pergi membawa seratus orang anak buahnya. Tapi diluar dugaannya, ternyata keluarga si gadis yang hendak dia rampas ternyata keluarga pendekar. Hanya Puyang Bulanak dan dua orang anak buahnya saja yang selamat dari amukan warga Talang Gajah Mati. Itu pun, terluka para.

*****

Beberapa bulan kemudian, Samida menikah dengan pemuda bernama Kadram. Mereka yang pengantin baru tinggal berdua di ladang yang jauh dari Talang Gajah Mati. Begitulah kehidupan masyarakat zaman itu. Kehidupan keluarga baru dimulai dari berladang.

Puyang Bulanak yang busuk dan menyimpan dendam. Berniat menculik Samida dan membunuh suaminya. Suami Samida tewas ditembus tombak. Namun dalam insiden itu, mata Puyang Bulanak ditusuk dengan kayu oleh Samida sampai tercerabut keluar bola matanya.

Puyang Bulanak menjadi picak bermata satu. Sedangkan Samida yang tidak mau kehormatannya dirampas Puyang Bulanak dan tidak ingin menjadi budak nafsu Puyang Bulanak.

Samida kemudian menabrakkan dirinya pada mata tombak yang menancap di tubuh suaminya. Dia pun meninggal seketika, Puyang Bulanak pulang tanpa mendapatkan apa pun selain kehilangan mata sebelah kirinya.

Kematian Samida dilaporkan kelurga mereka ke Puyang Depati. Keluarga Samida dan Keluarga Kadram juga bersumpa akan membalas kematian keduanya. Sebagai bukti adalah biji mata yang menancap di potongan kayu. Berarti orang tersebut sekarang bermata satu. Penyelidikan dimulai, yang di curigai adalah Puyang Bulanak.

*****

Kehilangan mata sebelah kirinya tidak membuat Puyang Bulanak sadar. Dia kini menjalankan rencananya beberapa bulan lalu. Membunuh Datu Pekalang, karena dirinya ingin menjadi Datu. Setelah menjadi Datu, dia ingin menjadi Depati di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Setiap tahun para Datu menghadap Depati untuk memberi laporan dan upeti. Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya, lima prajurit talang pergi ke Pedatuan. Dua anaknya akan kepasar dan datu menghadap Depati. Di tengah jalan pulang mereka di cegat oleh puluhan orang bertopeng. Terjadilah pertarungan hidup mati. Karena pertarungan tidak seimbang. Maka terbunuhlah Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya dan lima pengawal mereka.

*****

Peristiwa menjadi gempar Pedatuan Bukit Pendape, Para Datu dan Depati mengadakan rapat besar. Mereka membahas situasi yang buruk di Pedatuan akhir-akhir ini.

“Depati, apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan kejadian perampokan-perampokan sadis beberapa tahun ini. Serta, kejadian pembunuhan sepasang suami istri di Talang Gajah Mati.” Tanya seorang laki-laki perkasa di samping depati. Mereka memperhatikan kondisi mayat yang sudah membusuk.

“Hulubalang, mungkin saja. Tapi kita belum memiliki bukti kuat. Kau tugaskan empat orang mata-mata mengawasi, menyelidiki orang-orang di Talang Merbau Kembo. Pembunuhan Datu biasanya bersangkutan dengan keinginan orang ingin menjadi datu.” Kata Depati pada Hulubalangnya.

“Siap Depati. Kemudian muncul seorang prajurit dia melaporkan kalau keluarga korban sudah datang untuk mengurus jenazah korban. Ada juga empat orang dari Talang Gajah Mati ingin bermusyawara dengan Depati. Sehingga terjadi kesepakatan untuk bekerja sama menyelidiki kejahatan yang banyak terjadi akhir-akhir ini di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

*****

Pemilihan Datu Talang berlangsung dua minggu setelah pembunuhan misterius itu. Puyang Bulanak ikut mencalonkan diri. Dia bersama pendukungnya memberikan sekeping emas pada warga talang agar memilihnya. Dengan cara membeli suara dan diikuti intimidasi dan ancaman pembunuhan, Bulanak akhirnya terpilih menjadi Datu. Datu mata satu, Puyang Bulanak.

*****

Berbekal bukti biji mata yang menancap di potongan kayu. Dengan demikian, pelakunya pasti orang matanya pecah satu. Kedua, Puyang Bulanaklah musuh satu-satunya keluarga Samida dan keluarga suaminya. Maka, kesanalah tujuan pencarian pelaku.

Tuntutan hukuman pada pelaku diberlakukan. Penyelidikan mulai dijalankan oleh Depati dan Keluarga Samida. Beberapa barang hasil rampokan juga ditemukan di rumah Puyang Bulanak.

Karena dua orang mata-mata Depati dan seorang kakak Samida berhasil meneliti kediaman Puyang Bulanak. Mereka juga menyaksikan mata Puyang Bulanak juga pecah satu. Yang dia tutup dengan ikatan kain sebelahnya.

Karena itulah, Depati mengirim sepuluh orang prajurit pedatuan untuk menangkap Puyang Bulanak. Tapi Puyang Bulanak menantang balik dan dia berkata akan mengambil alih kekuasaan Depati dan menurunkan tah-tahnya. Sepuluh prajurit dibunuh, lalu kepala mereka dikirm ke Depati. Yang membuat depati sangat marah. Sehingga dia sendiri turun tangan untuk menangkap Puyang Bulanak.

*****

Depati, dua orang Hulubalang, dan lima puluh orang prajurit. Bergerak menuju Talang Merbau Due. Mereka sudah habis kesabarannya. Depati sebagai pemimpin tertinggi harus menegakkan hukum. Serta menghukum Puyang Bulanak. Dalam perjalanan, mata-mata Puyang Bulanak mengintai.

Memberi tahu pada Puyang Bulanak kalau Pasukan Depati telah mendekat Talang Merbau Kembo. Puyang Depati tidak membawa pasukan yang banyak. Karena hanya ingin menangkap Puyang Bulanak. Tapi perhitungan Depati salah. Dan jebakan Puyang Bulanak mengena.

Sehingga Puyang Bulanak tidak mempersiapkan banyak pasukan untuk perang. Sedangkan Puyang Bulanak mempersiapkan anak buahnya yang banyak. Juga banyak penduduk yang dihasut dan dibayar untuk menjadi pasukannya. Sehingga Puyang Bulanak memiliki tiga ratus orang anak buah.

Di perbatasan Talang, ada tanah lapang berumput hijau. Di sini tampak sekitar seratus orang menghadang Pasukan Puyang Depati. Mereka bersenjata lengkap, pibang kiri dan pibang kanan milik masing-masing. Pertanda mereka siap berperang.

“Kalian tahu kalau aku Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Aku datang untuk menangkap penjahat dan pembunuh. Menegakkan ketertiban hukum di daerah kita. Agar penduduk hidup rukun dan damai.” Depati berkata pada pimpinan penghadang.

“Kami akan menjadi penguasa baru di Pedatuan kita ini. Puyang Bulanak akan menjadi Depati baru. Talang Merbau Kembo akan menjadi pusat pemerintahan. Maka tidak ada kompromi lagi. Kalian akan kami singkirkan hari ini.” Kata pemimpin mereka. Orang itu bernama Lampelu, tangan kanan Puyang Bulanak.

Tidak berapa lama secara serentak seratus orang itu menyerang lima puluh orang. Depati dan Pasukannya di kepung dan terjadi pertarungan dua lawan satu. Dengan sabar dan hati-hati, paskan terlati Depati dapat mengalahkan satu demi satu anak buah Puyang Bulanak. Beberapa saat kemudian, sepuluh pasukan gugur dan lima puluh lima anak buah Puyang Bulanak tewas.

Melihat keadaan tersebut, dari sekeliling tanah lapang tempat berperang mereka muncul dua ratusan orang anak buah Puyang Bulanak dan Puyang Bulanak yang tampak memakai penutup mata kirinya. Puyang Bulanak melangkah perlahan mendekati arena peperangan dengan tawa kemenangan. Keadaan mulai berbalik, Puyang Depati dan pasukannya kembali terjepit dan terkepung luar biasa.

“Menyerahlah Depati Tua, aku akan mengampuni dirimu. Asal kau dan pasukanmu mau menjadi anak buahku.” Kata Puyang Bulanak.

“Aku lebih baik mati dari pada menjadi budakmu, Bulanak busuk.” Jawab Depati sambil meladeni serangan bertubi-tubi. Beberapa pasukan kembali gugur dan terluka parah. Dalam keadaan genting itu. Muncul dari balik semak-semak hutan sekitar empat puluh orang laki-laki.

Mereka membawa bambu tajam yang diikat pada kayu memanjang. Sehingga mirip ranjau panjang. Lalu dibawa berlari kencang dan mengarahkan ujung bambu yang tajam pada anak buah Puyang Bulanak. Serangan tiba-tiba itu, membuat anak buah Puyang Bulanak kalang kabut. Banyak yang tewas tertembus bambu-bambu itu.

Penyerang dengan bambu tajam dilakukan berkali-kali. Serangan teratur dan terencana. Sehingga hampir seratus orang tewas di ujung bambu bambu-bambu runcing itu. Empat puluh penyerang tidak dikenal itu sangat tangkas. Satu orang dapat melawan lima orang.

Depati melihat kesempatan menang. Dia berteriak menyemangati sisa pasukannya. Dalam waktu cepat puluhan anak buah Puyang Bulanak Tewas. Banyak juga yang melarikan diri.

Puyang Bulanak hendak melarikan diri melihat keadaan yang tidak memungkinkan. Namun dia dihadang oleh dua orang penyerang. Kemudian dua penghadang membuka topeng kainnya. Ternyata keduanya adalah wanita.

“Aku ibu Samida.”

“Aku ibu Kadram.”

Puyang Bulanak kaget sekali. Dia sadar kalau penyerang baru datang adalah keluarga Kadram dan Samida. Hati Puyang Bulanak menjadi kecut. Dia tahu kalau orang-orang Talang Gajah Mati adalah kelompok pendekar silat. Puyang Bulanak menerjang dan menyabetkan pibangnya. Namun kedua wanita berumur lima puluhan tahun itu pandai mengelak.

Serangan Puyang Bulanak hanya menyabet angin. Dia menjadi kerepotan saat dua wanita itu menyerang bersama. Walau dia mempu mengimbangi. Tapi dia tidak dapat lari dari hadangan dan jepitan. Saat dia sadar ketika semua anak buanya telah tewas. Beberapa yang tertangkap tampak di penggal. Mulai ciut nyali Puyang Bulanak. Se-sosok bayangan menerjang dan menyerang Puyang Bulanak.

“Bukankah dahulu kau sudah merasakan tajamnya mata pibangku, Bulanak.” Ujar laki-laki itu. Kali ini kau tidak akan bisa lolos  dariku.” Kemudian laki-laki itu mengambil sesuatu dari balik pinggangnya yang dibungkus kain. Lalu dia melemparkan di hadapan Puyang Bulanak.

“Ini biji matamu yang ditusuk anakku. Aku akan menghukummu atas kejahatanmu.” Kata laki-laki itu, yang diiringi serangan pibang dan terjangan keras.

"Crott. Sebilah pibang kidau menancap di punggungnya. Luar biasa serangan orang itu. Cepat dan tangkas dan tak dapat dielakkan Puyang Bulanak. "Aku ayah Kadram." Katanya.

Dalam beberapa jurus kemudian, Puyang Bulanak kembali terkena sabetan di betis kiri dan bahu. Darah mengucur, dan diikuti tendangan keras di dadanya. Sabetan di kaki kanan dan membuat Puyang Bulanak tidak dapat berdiri lagi.

Dia merayap menahan sakit di jalanan menuju rumahnya. Semua mengiringi dan membiarkan Puyang Bulanak merayap, mati perlahan-lahan. Memang kematian perlahan-lahan diinginkan keluarga Samida dan Keluarga Kadram. Depati dan pasukannya menonton saja. Memang balasan setimpal untuk Puyang Bulanak.

Sementara itu, Penduduk Talang Merbau Kembo mendengar kalau Puyang Bulanaklah yang membunuh Datu mereka beberapa bulan lalu. Membuat keluarga Datu marah dan menyerang keluarga Puyang Bulanak. Puyang Bulanak yang terus merayap di tanah menuju rumahnya. Di sepanjang jalan darahnya berceceran.

“Jangan bunuh aku, Jangan!!!. Aku akan memberikan kalian emas yang banyak, ternak, padi, dan rumahku. Kata Puyang Bulanak ketakutan. Sampailah di halaman rumahnya bermaksud memberi Depati dan keluarga musuh-musuhnya harta benda untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi sesampai di depan rumahnya, dia sangat terkejut. Matanya melotot dan air matanya menetes. Sia-sia semua perjuangan busuknya selama ini.

Melihat semua rumah dibakar penduduk, harta bendanya dijarah. Dua anak laki-lakinya tampak terikat dan babak belur. Puyang Bulanak melihat anak perempuannya menangis. Penduduk sangat marah, seorang keluarga Datu Pekalang melemparkan tombak ke arah Puyang Bulanak. Lalu menembus dadanya, matanya mendelik.

Dia melihat dua anaknya yang terikat. Ketika itu, seorang laki-laki mengayunkan pibang memenggal dua anaknya berturut-turut. Puyang Bulanak sadar kalau dia sedang mendapat balasan setimpal. Semua tidak terkendali, membuat sedih Puyang Depati sebagai pemimpin. Rakyatnya terbakar emosi dan dendam.

******

Puyang Bulanak menghadapi sakaratul maut. Terlintas semua dosa dan kejahatannya selama hidup. Termasuk sumpahan dari Samida yang suaminya dia bunuh. “Dasar manusia sombong, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu mati dibantai dan terusir, dari Negeri Bukit Pendape. Kau akan terkutuk, selamanya.”

Sumpah Samida terbanyang di mata Puyang Bulanak. Sumpa Samida nantinya memang terbukti. Sampai sekarang nama Puyang Bulanak juga menjadi sebutan untuk pemimpin jahat atau orang jahat. “Dasar Puyang Bulanak.” Itulah kata-kata orang Melayu yang mengutuk seseorang pemimpin jahat. Terkutuk selamanya.

Puyang Bulanak baru tahu kalau hidup ada batasnya. Baru sadar kalau dirinya hanyalah orang rendahan yang busuk dan jahat. Hanya anak Puyang Bulanak yang bernama Binat selamat. Dia berlari entah kemana sebelumnya. Binat ikut perang di lapangan, tapi dia melarikan diri bersama beberapa anak buah Puyang Bulanak.Semua anak buah Puyang Bulanak yang tertangkap dan menyerah dibawa ke pedatuan dan dihukum sesuai kejahatannya.

*****

Ternyata sebelum penghukuman Puyang Bulanak. Ada seorang wanita buruk akhlaknya yang mengincar harta Puyang Bulanak. Wanita itu, menggoda Puyang Bulanak dan sering berzina dengan Puyang Bulanak.

Wanita itu telah hamil beberapa bulan. Saat Puyang Bulanak dihukum mati. Dari wanita itulah lahir anak laki-laki. Hidup di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape, berketurunan dan beranak cucu. Masyarakat  Pedatuan dan masyarakat Talang Merbau Kembo tidak ada yang tahu.

Konon menurut orang-orang tua. Anak Puyang Bulanak dari perzinahannya dan dari anaknya bernama Binat itulah dikemudian hari menurunkan orang-orang jahat, bandit, penjudi, pezinah, suka main perempuan, dan lainnya. Begitu juga pemimpin yang korup, membeli suara saat pemilihan, dan tidak amanah adalah keturunan Puyang Bulanak. 

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Arti Kata: Pedatuan: Pemerintahan yang bersifat geneologis dan monarki pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan di masa lalu. Pedatuan terdiri dari sebuah wilayah yang diklaim oleh sebuah masyarakat yang masi seketurunan (kepuyangan). Datu: Pemimpin pemukiman warga, Talang sama seperti Kepala Desa.

Talang: Nama tempat pemukiman sama seperti Desa, Dusun, Kampung. Puyang: Gelar pemimpin atau bangsawan. Nenek moyang. Orang tua dari kakek-nenek. Puyang juga gelar kehormatan seperti: Tuan, Teuku, Tengku, Tun, Datuk, Daeng, Sunan. Depati: Gelar pemimpin tertinggi di kawasan pedatuan (raja kecil).

Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama kawasan tradisional yang sekrang meliputi: Kecamatan Sungai Keruh, kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, sebagian kecamatan Sekayu, Sebagian dari beberapa kecamatan lainnya. Kawasan ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di seberang. Dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten PALI.

Pibang: Senjata tradisional masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Sy. Apero Fublic.

6/03/2020

Kisah Asal Usul Serai dan Lengkuas.

Apero Fublic.- Kamu tahu, mengapa serai dan lengkuas selalu bertemu di dalam belanga saat ibu-ibu memasak, gulai. Serai dan Lengkuas menjadi sepasang bumbu yang tidak terpisah. Terutama gulai pindang yang sering di masak oleh masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Tahukah kamu, kalau serai dan lengkuas hadir karena cinta kasih ibu dan cinta sejati sepasang suami istri. Masakan menandakan rasa cinta sebuah keluarga.

*****

Sebuah rumah panggung di tepi Talang Gajah Mati. Beberapa rumpun pisang dan pohon kelapa tumbuh subur di belakang rumah. Rumput hijau membentang di halaman rumah. Beberapa ayam tampak berkais di sisi halaman rumah. Dari rumah ini, kira-kira berjarak lima puluh meter baru ada rumah warga lainnya. Masa itu, lahan masih luas sehingga rumah agak berjauhan satu sama lain.

Suatu sore yang cerah, tampak seorang gadis cantik berumur dua puluhan tahun. Memakai baju kurung tenun songket, berkain sepinggang, dan rambutnya panjang terurai. Tangan indahnya sibuk merajut benang dengan tenunan. Dia sedang menenun kain songket. Jauh di depan rumah puluhan anak-anak sedang berlari-lari, bermain perang-perangan.

“Samida, jangan terlalu sore selesai menenun. Sebentar lagi, ajaklah adikmu mandi di sungai. Aku nak menumbuk padi, beras lah habis. Tinggal untuk menanak sore ini.” Ujar Ibu Samida, kemudian dia turun dari tangga dapur. Menjinjing bunang, nyirau. Kemudian dia menuju gudang kecil di bawah rumah. Mereka menamakannya bilik, atau tempat penyimpanan pangan mereka. Tersimpan padi, jagung kering, keladi-keladian, berbagai jenis labu-labuan. Ibu Samida kemudian menumbuk padi di lesung. Terdengar suara bertalu-talu, ayam-ayam pun mulai mendekat.

*****

“Samida, tunggulah. Kami juga nak mandi.” Seorang gadis manis berkulit putih memanggil. Samida dan adik gadis yang masih remaja menoleh kebelakang. Dua orang gadis seusia Samida berjalan cepat menuju mereka, Miku dan Yapi. Mereka akhirnya mandi di tepian bersama-sama.

Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati waktu itu. Banyak sekali bujang-bujang menyukainya. Namun belum ada yang berani melamar atau mendekati. Kecantikan Samida terkenal ke seluruh Dataran Negeri Bukit Pendape. Saat mereka sedang mandi, melintaslah sebuah perahu. Di dalam perahu ada empat orang.

Sepertinya mereka keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dua pemuda laki-laki. Seorang pemuda yang berumur dua puluh tiga tahun menatap pada Samida. Pandangannya lekat seakan tak mau lepas. Samida tersenyum, dan dua temannya mulai jahil menggoda Samida.

“Adu, Kak Kadram tampan yaaa.” Kata Yapi sambil tersenyum lebar. Samida memandangi wajah kedua sahabatnya. Dia tahu kalau sahabatnya itu menggodanya.

“Ia, memang tampan, tapi sayang sebentar lagi ada yang mau dia lamar. Takut berharap, nanti kecewa.” Ujar Miku diiringi tawa ringan. Begitu pun adik Samida ikut tertawa melihat kakaknya tampak malu.

“Melamar siapa, Miku. Jangan patahkan pucuk yang mau bertunas. Nanti getahnya mengucur deras.” Tambah Yapi dengan bersemangat sambil senyum-senyum.

“Yah, melamar gadislah. Yang setiap kali mandi selalu main mata dan tersenyum padanya.” Semuanya tahu kalau yang dimaksud Miku adalah Samida. Memang diam-diam Samida menyukai pemuda yang selalu pulang dari ladang dengan perahu, selalu melintas setiap sore melewati tepian madi mereka.

Sementara itu, si pemuda bernama Kadram terus mengayu perahu ke hulu Talang. Terdengar suara dayung memecah permukaan air sungai yang deras. Wajah tampan itu tampak merenung dan melamun. Dunia seakan sunyi dan hening sebab senyum si gadis cantik mengganggunya.

“Koyong, jangan melamunlah. Nanti kita menabrak tebing tanjung sungai ini.” Adik menggoda.

“Ah, kau ini. Pandai nak mainkan perasaan koyong kau. Nanti aku putar telingamu.” Si pemuda tampak kaget dan berusaha menutupi kalau dia memang melamun. Sang adik tertawa dan ayah-ibunya tersenyum.

“Kalau kau suka sama anak Ayuk Tartan. Nanti malam umak dan bak kau melamar dia untukmu. Ibu juga suka sama Samida. Gadis yang baik, sopan, berbudi bahasa yang lembut, rajin, pandai sekali menenun. Tak susa kau nak buat baju anak-anak kau nanti.” Ibu si pemuda berkata. Kata-kata itu juga di jawab ayahnya, dengan senyum dan mengiakan.

“Dah, kalau koyong tak mau. Biarlah Garnam, Mak.” Ujar sang adik sambil tertawa. Remaja berumur lima belas tahun itu berhasil membut sang kakak meradang. Namun semua kemudian tertawa ringan. Kebahagian terlihat dalam keluarga itu.

****

Di sebelah utara Talang Gajah Mati, berjarak setengah hari perjalanan kaki. Terdapat sebuah talang penduduk. Talang ini, bernama Talang Merbau Kembo. Di talang itu, hidup seorang lelaki jahat dan serakah. Dia kaya, banyak anak buah, dan banyak istri. Dia selalu ingin menikahi gadis-gadis cantik. Dia telah memiliki tiga orang istri, sekarang. Ketiga istrinya itu semuanya hasil merampas dengan penuh kelicikan.

Cara orang itu, pertama orang tua si gadis diberi pinjaman emas yang berbunga. Sehingga semakin banyak hutang mereka ketika belum lunas. Bunga hutang juga berbunga lagi. Begitulah buruknya tabiat orang itu. Karena tidak sanggup membayar lagi. Maka dia meminta anak gadis mereka sebagai bayarannya. Dialah yang dikenal orang dengan nama, Puyang Bulanak.

Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik. Maka dia mengutus dua orang anak buahnya mencari tahu. Sehingga datanglah dua anak buah Puyang Bulanak memata-matai Talang Gajah Mati. Mereka pulang melapor dan menceritakan kalau gadis itu memang sangat cantik. Namanya Samida anak Uwa Rimbing dan nama ibunya Tartan.

Puyang Bulanak mengirim utusan melamar Samida. Mereka membawa satu pikulan emas, sepuluh bilah pedang dan mata tombak sebagai hadia. Selain itu, akan ditambah hewan ternak, kerbau, sapi, kambing. Saat melangsungkan pernikahan Samida dengan Puyang Bulanak, kata utusan itu.

Ayah Samida yang sudah tahu tabiat dan kelakuan Puyang Bulanak menolak mentah-mentah. Kebusukan Puyang Bulanak sudah terkenal ke seluruh Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Tidak ada kompromi ayah Samida dengan manusia busuk seperti Puyang Bulanak. Hal tersebut membuat Puyang Bulanak sangat marah. Dia membawa pasukan sebanyak seratus orang untuk merampas Samida.

Terjadilah perang antara keluarga Samida dan Puyang Bulanak. Perang itu terjadi, namun ternyata keluarga Samida yang tidak seberapa adalah pendekar silat handal. Warga Talang Gajah Mati juga membantu, termasuk Kadram. Anak buah Puyang Bulanak hancur lululantak. Hanya tersisa dua orang anak buah Puyang Bulanak selamat, itu pun terluka para.

Puyang Bulanak berlari seperti tikus bersama dua orang anak buahnya. Di sana sini bajunya robek karena sabetan pibang. Darah mengucur dari setiap luka. Hampir saja dia juga tewas. Sejak saat itu, Puyang Bulanak tidak lagi berani dengan orang-orang Talang Gajah Mati. Namun, dasar manusia busuk yang licik dan jahat. Dia menyimpan dendam dan rasa sakit hati. Memikirkan rencana membalas kekalahannya.

Dia tidak terimah atas kekalahan telak, dan lamaran yang ditolak. Sehingga dia menyiapkan rencana. Untuk menculik Samida diam-diam. Dikirimlah mata-mata ke Talang Gajah Mati. Dua orang mata-mata tersebut bersembunyi di sekitar Talang Gajah Mati memperhatikan aktivitas Samida dan keluarganya.

****

Waktu berlalu, Kadram ditemani ayah, ibu dan keluarganya melamar Samida. Lamaran diterimah dengan sukacita oleh keluarga Samida. Mereka berdua memang cocok, satu cantik dan satunya tampan. Kulit keduanya sama-sama putih. Dilaksanakanlah upacara pernikahan. Beberpa kambing, satu ekor sapi disembelih. Pernikahan meriah sekali, tarian Melayu dengan diiringi gendang menghibur warga. Sungguh meriah pernikahan Kadram dengan Samida. Semua keluarga dan warga berbahagia.

Satu bulan berlalu, Kadram dan Samida hidup bahagia. Karena masa itu, kehidupan masyarakat hidup dari bertani ladang berpindah. Maka, Kadram dan Samida juga mulai membuka hutan untuk ladang mereka. Keduanya memulai hidup baru dan menata masa depan.

Semua kejadian tersebut, tentu saja diketahui oleh Puyang Bulanak dari laporan mata-matanya. Tempat mereka berladang pun dicari tahu. Sehingga pada suatu hari, saat Kadram dan Samida sedang beristirahat disiang hari di ladangnya. Mereka berdua begitu bahagia, dunia sangat indah untuk mereka. Duduk berdua di serambih pondok ladang mereka.

"Adik, sudah berapa bulan anak kita?." Tanya Kadram seraya memegang perut istrinya dengan lembut. "Baru satu setenga bulan." Jawab Samida dengan bahagia.

Terbentang ladang mereka yang subur. Tampak tanaman sudah mulai tumbuh. Pekerjaan Kadram sedang bersiap membuat pagar ladang mereka. Agar nanti saat tanaman sudah tumbuh besar tidak diserang hama babi. Pada waktu itu keduanya terkejut. Ketika tiba-tiba, muncul tiga puluh orang laki-laki bersenjata pibang. Ada juga yang membawa tombak. Samida dan Kadram tahu kalau mereka dalam bahaya besar. Puyang Bulanak tertawa senang dan tatapan mata sinis.

Keduanya bersiap mengambil pibang milik mereka yang tergantung di dinding pondok berdinding kulit kayu. Tidak banyak basah basih. Puyang Bulanak berkata kalau dia akan membunuh Kadram dan merampas Samida. Dia tidak suka direndahkan dan tidak terima keinginannya ditolak orang. Apalagi yang menolak itu orang biasa dan miskin.

Tiga puluh orang anak buah Puyang Bulanak menyerang. Tidak mudah menaklukkan sepasang suami istri muda itu. Mereka pandai bermain silat. Sehingga mereka mengeroyok dengan tidak tahu malu. Tapi Kadram mampu mengalakan satu demi satu, penyerangnya. Sekarang sudah lima orang roboh ditangan keduanya. Puyang Bulanak mencari akal, lain. Kalau tidak, mereka akan kalah lagi.

Dia mengatur setrategi dengan cara menyerang dan mundur sambil mengurung. Mempersempit ruang gerak Kadram dan Samida. Dia mempersiapkan serangan lemparan tombak. Banyaknya ayunan mata pibang membuat keduanya kerepotan. Kali ini, kembali lima orang anak buah Puyang Bulanak roboh bersimbah darah. Sementara Kadram dan Istrinya sudah ada beberapa sabetan mata pibang di tubuh mereka. Keduanya berdiri beradu belakang untuk saling menjaga.

Puyang Bulanak memerintahkan lima anak buahnya melemparkan tombak bersamaan. Dua tombak diatasi oleh Kadram dan dua lagi diatasi oleh Samida. Namun mata tombak ke lima tidak dapat dielakkan Samida. Kadram melompat menjadikan tubuhnya perisai tombak untuk melindungi Samida. Mata tombak menghujam tepat di dadanya tembus ke punggung belakang.

Tubuh Kadram lunglai dia tewas seketika. Kakinya tertekuk dan tubuh tersandar pada batang tombak, merunduk. Tampak mata tombak menembus satu jengkal di punggungnya. Samida histeris, tubuhnya gemetar. Suami tercinta telah tiada. Tubuhnya lemas dan lemah seketika. Pibang ditangannya terlepas. Jiwanya tidak dapat menerima dan goyah. Tentu kejiwaan wanita lebih lemah. Samida merasa tiada gunanya lagi hidup.

Puyang Bulanak melompat, dia menerjang dan mengenai tepat di punggung Samida. Samida terpental dan jatuh berguling-guling. Melihat dirinya sudah terkepung, dan Puyang Bulanak terus mendekat untuk menangkapnya. Samida tahu, dia akan ditangkap dan diculik. Lalu akan menjadi budak nafsu Puyang Bulanak. Dia tidak mau, dan akan menjaga kesuciannya sebagai seorang wanita dan seorang istri. Samida bergeser perlahan di tanah. Puyang Bulanak menyergap dan berada dihadapannya sejarak satu langkah. Senyum mengerikan dan buas menatap Samidah.

“Akhirnya kau menjadi milikku. Aku akan bersenang-senang setiap saat. Aku tidak akan pernah menerima kekalahan. Siapa yang berani menentang aku, maka dia akan mendapat balasan setimpal.” Kata Puyang Bulanak dengan sombong.

“Dasar manusia sombong, licik, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu terusir dari Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Kau akan menjadi manusia terkutuk, selamanya.” Samida mengucapkan sumpahnya dengan tajam. Puyang Bulanak membungkuk lalu memegang baju Samida dan menariknya sehingga wajah mereka berdekatan. Tiba-tiba.

“Crassss.” Sepotong kayu kecil menancap tepat di mata kiri Puyang Bulanak. Darah mengucur deras, diiringi jeritan keras. Samida terlepas, Puyang Bulakan terhuyung menjerit kesakitan. Dua puluh anak buah Puyang Bulanak mengacungkan pedang. Samida, yang tidak lagi mau hidup bertekad menyelamatkan harga dirinya.

Maka dia nekat menerabas mata-mata pibang yang terarah kearahnya. Karena tidak mau melukai Samida anak buah Puyang Bulanak menarik pibang mereka. Begitulah, sikap wanita Melayu yang selalu menjaga hargadirinya dengan baik. Adat itu sampai sekarang masih dipegang teguh oleh wanita Melayu.

Anak buah Puyang Bulanak Salah menduga. Samida ternyata ingin menabrakkan dirinya ke mata tombak yang menembus di punggung Kadram. Sehingga mata tombak juga menembus tubuhnya. Lalu tubuh keduanya terjatuh. Samida pun mati menyusul suaminya. Puyang Bulanak begitu kesal dan gusar. Betapa ruginya dia hari itu. Sepuluh anak buahnya tewas, dan mata kirinya pecah. Dia dan sisa anak buahnya pun meninggalkan mayat Kadram dan Samida.

*****

“Koyooongg.” Ayuuukkkk.” Sebuah suara memanggil dari tepi ladang.

Ayah Kadram dan adik remajanya mendatangi ladang Kadram. Maksud hendak membantu Kadram membuat pagar ladang. Garnam berteriak-teriak dari tepi ladang memanggil sang kakak. Dia bergembira sebab sudah dua minggu tidak bertemu saudara tuanya. Namun keadaan sepi dan lengang sampai mereka tiba di halam pondok.


Keduanya hampir jatuh terduduk menjumpai tubuh Samida dan Kadram yang sudah membiru kaku tertembus tombak. Di sekitarnya tampak sepuluh mayat tergeletak. Mereka tahu kalau ada pertempuran hidup mati beberapa saat lalu. Tangis keduanya pecah dan Talang Gajah Mati berduka.

Ayah Kadram dan Ayah Samida sangat yakin kalau pelaku adalah Puyang Bulanak. Kelak, saatnya yang tepat mereka akan menghukum Puyang Bulanak. Samida dan Kadram dikubur di sisi Talang. Kuburan pengantin baru itu berdampingan. Tangisan keluarga, terutama ibu keduanya tiada henti. Semua menyayangkan kejadian itu.


Mereka akhirnya melaporkan ke Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Masalah itu, dalam penyelidikan. Belum dapat bertindak karena belum ada bukti tepat. Bukti yang paling kuat adalah, satu biji bola mata yang tertancap pada sepotong ranting kayu.

*****

Ibu Samida dan ibu Kadram terus bersedih. Keduanya menangis terus menerus tanpa henti. Membuat pilu seluruh Talang Gajah Mati. Tubuh kedua orang berbesan itu kini mulai kurus. Sebab keduanya sangat mencintai anak-anak mereka dan menantu mereka. Tidak ada yang dapat membujuk mereka berdua. Sehingga semuanya menyerah dan membiarkan saja.

Suatu malam, ibu Samida dan ibu Kadram tertidur setelah lelah menangis. Ibu Samida tertidur di sisi dapurnya. Dia mengenang Samida sering memasak, terutama memasak gulai pindang dan menenun. Sedangkan ibu Kadram tertidur di serambi dapurnya. Dimana Kadram sering membuat bubu atau memulas tali jerat. Keduanya bermimpi bertemu Samida dan Kadram. Mimpi mereka sama jalan ceritanya. Dalam mimpinya, Samida dan Kadram datang bertamu kerumah. Anak pengantin baru anak tercinta mereka datang mengobati rindu.

“Kalian datang tepat pada waktunya. Ibu sudah rindu sekali.” Dalam mimpi tampak kandungan Samida sudah besar. Mereka bercerita kalau hidup di tempat yang sangat indah. Ada sebuah istana yang megah yang mereka diami. Mendengar cerita itu, ibu Samida dan Ibu Kadram menjadi bahagia sekali.

“Oh, iya. Ibu membuat gulai pindang jamur kesukaan kalian.” Ujar Ibu mereka. Memang Samida dan Kadram menyukai masakan gulai pindang jamur. Memang orang berjodoh memiliki kesamaan selera dan kesamaan kejiwaan.

“Ibu, kalau mau menggulai pindang, nanti. Supaya lebih enak, berilah sepotong serai dan sepotong lengkuas. Batang lengkuas muda juga enak dijadikan bumbu gulai pindang. Di tempat tinggal kami yang baru. Setiap kali membikin gulai pindang dibumbuhi serai dan lengkuas. Ini Samida bawakkan untuk ibu berdua.” Ujar Samida dalam mimpi mereka.

Dalam mimpi itu, mereka makan bersama. Gulai pindang dibumbuhi serai dan lengkuas yang dibawa Samida. Sehingga gulai pindang menjadi sangat sedap. Keluarga mereka makan dengan lahap, sampai kekurangan nasi. “Baru sekali ini, kita kekurangan nasi." Ujar Ibu Samida. Semua tertawa dan ayah mereka berkata. “Karena ada bumbu yang baru itu. Membuat gulai sangat sedap." Kata ayah mereka.

Ibu Samida dan Mertuanya terbangun dari mimpinya. Dia melihat sekeliling uangan, tampak adik Samida membawakkannya sepiring nasi, lalu menyuapinya. Di rumah Kadram sendiri, Gernam juga meminta ibu-nya untuk makan. Karena mimpi itu, kedua wanita itu berubah sekarang. Hati keduanya menjadi tentram. Keduanya sadar, kalau mereka telah salah, bersedi yang sudah berlebihan.

Satu bulan berlalu, Ibu Pekalang bertandang ke rumah Ibu Samida. Keduanya menceritakan mimpi yang ternyata sama persis. Siang itu, untuk mengobati rindu pada anak kesayangan mereka. Keduanya bermaksud ziarah ke kuburan anak dan menantu mereka. Setiba di kuburan, mereka melihat ada tumbuhan yang tumbuh di atas gundukan kuburan kedua anaknya. Di atas kuburan Samida tumbuh serai sebagaimana yang di lihat dalam mimpi mereka. Di atas kuburan Kadram tumbuh lengkuas seperti dalam mimpi juga. Sehingga keduanya bersyukur, walau anak mereka telah tiada di dunia ini. Tapi mereka selalu ada untuk mereka.

Sejak saat itu, lengkuas dan serai dijadikan bumbu memasak gulai. Atau berbagai jenis kuliner berkuah lainnya. Awalnya hanya ditanam di pekarangan rumah keluarga Samida dan keluarga Kadram. Kemudian warga Talang Gajah Mati juga menanam di pekarangan rumah mereka masing-masing. Lalu tersiar tentang bumbu masakan itu ke Talang-Talang lainnya. Sehingga semuanya juga menanam serai dan lengkuas di halaman rumah masing-masing.

Kemudian ditanam di ladang-ladang, kebun warga. Dari waktu ke waktu tanaman serai dan lengkuas terus tersebar ke wilayah lain. Jauh dan jauh hingga sampai sekarang serai dan lengkuas tersebar luas di bumi. Menjadi bumbu masakan gulai dan masakan berkua lainnya. Serai selalu di pasangkan dengan lengkuas untuk bumbu penyedap. Sebab memang sepasang cinta.

“Anakku, kalian tetap bersatu walau di dalam belanga. Cinta suci tidak dapat memisahkan kalain. Bahkan memberi cinta pada semua manusia. Ibu-ibu yang selalu mencintai keluarganya dengan memasak. Istri yang bersediah sehidup semati bersama suaminya. Dalam susa dan bahagia mereka.” Ujar kedua ibu mereka saat sedang memasak gulai pindang di suatu saat.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Daftar Kata: Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama tradisional dari kawasan Kecamatan Sungai Keruh, Jirak Jaya, Pelakat Tinggi dan sekitar Bukit Pendape. Atau wilayah Musi Banyuasin seberang, yang terbentang dari tebing sungai Musi sampai ke perbatasan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI.

Talang: Dusun, Kampung, Pemukiman tradisonal orang Melayu. Puyang: Gelar pemimpin atau gelar kehormatan, orang tua, orang sakti, bangsawan. Orang tua dari kakek-nenek kita. Gelar puyang sama seperti gelar: Tun, Tuan, Tengku, Teuku, Datuk, Daeng, Sunan.

Pibang: Senjata tradisional berbentuk pedang. Biasanya pibang sepasang yaitu pibang kidau dan pibang kanan. Pibang kidau berupa pisau dan pibang kanan berupa pedang pendek.

Koyong: Kakak. Bak: Ayah. Umak: Ibu. Pedatuan: Pemerintahan tradisional masyaraat di pulau Sumatera, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumsel, Jambi. Bersifat monarki dan menurut genoalogis mereka.

Sy. Apero Fublic.

6/02/2020

Cerita Kita. Lebaran Di Musim Corona

Apero Fublic.- Lebaran tahun ini sungguh berbeda dengan lebaran tahun-tahun lalu. Ya, terasa kurang semarak rasanya. Tidak ada berita liputan arus mudik dan arus balik lebaran. Hanya ada liputan pak polisi meminta orang balik kendaraan dan kembali ke kota. Jalan-jalan sepi dan tidak seramai tahun-tahun lalu.

Mulai di hari sebelum lebarang sampai dua hari setelah lebaran. Tidak ada mobil-mobil yang penuh sesak oleh penupang. Atau mobil-mobil yang penuh perabotan yang berlalu. Semuanya memakai masker, tua, muda, laki-laki, wanita, yang mengendarai motor atau yang mengendarai mobil. Ada beberapa tempat dimana pak polisi razia masker. Bagi yang tidak memakai masker, mereka diminta memakai masker.

Itulah cerita keadaan lebaran tahun ini. Di hari lebaran juga sepi tidak seperti tahun-tahun lalu. Tidak banyak orang-orang berkunjung kerumah. Teman-teman sekolahku, tidak ada yang bersilahturahmi kerumah. Jalan raya juga tidak ramai orang berpergian. Hanya ada beberapa yang berlalu. Aku pun tidak kemana-mana. Tetap di rumah dan bermain ponselku. Yang membuat bosan seandainya signal hilang. Sehingga terasa membosankan rasanya hari-hariku.

Semoga corona cepat berlalu dan berakhir. Ya, kata dirumah saja membuat sedih dan bosan. Jadi pemalas saja rasanya. Bingung mau berbuat apa, tapi tidak ada kerja. Akhirnya hanya rebahan di dalam kamar saja. Aku berdoa semoga semoga keadaan normal kembali.

Beruntung kakak-kakak ku dapat pulang dengan aman. Tidak ada yang dikhawatirkan sebab mereka hanya pulang yang bersifat lokal. Sehingga tidak terpapar virus corona. Teman-teman dekat rumah ada juga yang berkunjung. Aku bahagia bercerita dengan mereka. Kami semua mengeluhkan tentang virus corona.

Di hari lebaran idul fitri 1441 hijriyah ini. Tetap bahagia dan bersyukur sebab masih berkumpul dengan keluarga tercinta. Semoga lebaran mendatang kita dapat menikmati libur yang menyenangkan tanpa harus takut pada virus corona lagi. Kita akan bersilaturahmi seperti dahulu lagi. Ini adalah sejarah kita, cerita kita nanti pada anak cucu kita. Semoga corona cepat berakhir. Aammiiinnnnnn.

Oleh. Arini Putri
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sekayu, 3 Juni 2020.
Buat sahabat semua yang mau berbagi tentang cerita-cerita yang dialami di sekitar kita. Dapat mengirim karya cerita kita ke Apero Fublic melalui email redaksi fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com.

Manfaat cerita kita diantaranya, untuk mengasa kemampuan menulis. Untuk menajamkan imejinasi dan mengembangkan pola pikir. Melatih menyusun kalimat dalam menulis. Berbagi cerita-cerita yang dialami secara langsung. Semoga ceritamu menjadi ispirasi semua orang.

Cerita Kita jenis karya sastra yang bersifat cerita yang terjadi langsung dialami. Cerita kita adalah cerita hangat dan ringan. Bercerita tentang perasaan yang kamu alami. Cerita Kita dimana kita berbagi tentang kehidupan yang penuh kedamaian dan kebaikan.

Cerita Kita dapat dijadikan sumber promosi usaha Anda. Promosi profesi Anda, promosi tempat wisata, promosi produks, promosi karir dan promosi apa pun asalkan tidak melanggar norma-norma hukum pada masyarakat konsumsi.

Sy. Apero Fublic.