-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Dongeng Cerita Rakyat. Puyang Bulanak
Dongeng

Cerita Rakyat. Puyang Bulanak

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
05 Jun, 2020 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
APERO FUBLIC.- Pada masa itu, kehidupan masyarakat Melayu di Sumatera Selatan berada pada tahap peradaban awal. Yang dikenal dengan zaman megalitikum atau zaman batu besar. Mereka hidup sederhana dalam satu keturunan atau kepuyangan (genoalogis). Memiliki pemerintahan sendiri yang dikenal dengan, pedatuan. Pedatuan berarti wilayah yang bersatunya para datu menjadi satu pemerintahan. Gelar pemimpin pedatuan Depati. Pemimpin talang Datu, dan gelar bangsawan atau orang yang dihormati, Puyang. Kawasan pedatuan terdiri dari gabungan puluhan Talang-Talang.

*****

Tersebutlah sebuah talang bernama Merbau Kembo. Salah satu talang yang terletak di Pedatuan Dataran Negri Bukit Pendape. Dinamakan Talang Merbau Kembo, saat nenek moyang mereka membuka talang pertamakalinya menemukan dua pohon merbau yang berdiri berdekatan. Sehingga mereka namakan Talang Merbau Kembo (Kembar). Waktu itu, talang dipimpin oleh Datu, bernama Puyang Pekalang. Dia pemimpin yang bijaksana. Sehingga dihormati dan segani rakyatnya.

Pada masa hari, ada seorang istri yang buruk sekali tabiatnya. Dia meracuni suaminya atas hasutan selingkuhannya seorang laki-laki tua, tapi kaya raya. Selain mewarisi harta suami pertamanya. Dia juga berambisi menguasai harta selingkuhannya kelak. Setelah janda, dia akan menikah dengan laki-laki selingkuhannya yang kaya. Tentu saja saat berselingkuh mereka berzina. Hasil perzinahan wanita itu pun hamil. Tibalah waktu melahirkan. Lahir anak laki-laki yang dinamakan, Bulanak. Menjadi istri muda selingkuhannya, Ibu Bulanak menjalankan ambisinya untuk menguasai harta suami barunya. Dia kemudian meracuni madunya, dan mati.

Beberapa tahun kemudian, ibu Bulanak juga berselingkuh dengan adik iparnya. Namun sayang, keburukan ibu Bulanak akhirnya diketahui oleh suami keduanya. Dengan membayar pembunuh bayaran ibu Bulanak akhirnya dibunuh juga. Bulanak dibesarkan kakeknya orang tua ibu-nya. Seusia remaja, Bulanak membunuh kakek dan neneknya dengan cara dicekiknya. Karena ingin menguasai uang dan harta bendanya. Sepertinya Bulanak mewarisi sifat ibunya.

*****

 

Bulanak dengan kelicikannya, dia mulai mencari harta dengan berjudi, menipu, dan meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Teman berjudinya kemudian banyak yang menjadi anak buahnya. Waktu demi waktu kekayaan dan uang terus bertambah banyak.

Bulanak yang semakin kaya dengan banyak anak buah. Suka berbuat jahat dan sewenang-wenang. Dia memperkosa seorang gadis. Setelah itu, terpaksa dinikahkan oleh orang tua gadis dengan Bulanak. Bulanak membayar denda adat dengan emas dan mau bertanggung jawab. Dari istri hasil memperkosa itu, mendapatkan anak pertamanya, dinamakan Binat. Sifat sombong, angkuh, serakah, tamak, gila perempuan, feodal, tidak mau kalah dari orang lain, egois, bermain judi, adalah tabiat asli Bulanak.

*****

Ada dua orang gadis cantik yang dia sukai di Talang Merbau Kembo. Bulanak tahu pasti dia akan ditolak. Pertama, dia sudah beristri dan tidak disukai orang-orang. Untuk mendapatkan gadis-gadis itu. Dia menyusun rencana licik. Dia mendekati orang tua gadis-gadis itu. Dengan cara dia pinjami emas yang berbunga. Bunga hutang juga berbunga. Sehingga hutang itu terus berlipat-lipat. Dari tahun ke tahun.

Tidak dapat membayar lagi. Bulanak terus mengintimidasi dan menagih. Ancaman anak buahnya terus menerus. Hingga akhirnya salah satu solusinya, Puyang Bulanak meminta untuk dinikahkan dengan anak gadis mereka. Maka utang emas mereka di lunaskan. Dari istri kedua dan ketiga itu, Bulanak mendapat dua anak laki-laki lagi, bernama Ukim dan Limang. Ada juga mendapat beberapa anak perempuan.

Karena sudah merasa kaya dan hebat. Bulanak menambahkan sendiri gelar bangsawan pada namanya, menjadi Puyang Bulanak. Penduduk Talang Merbau Kembo sesungguhnya mencibir saat dia memakai gelar puyang.

Sebab gelar puyang untuk orang baik, orang jujur, pemimpin baik dan amanah, serta orang yang berilmu lagi bijaksana. Bukan orang yang bertabiat buruk, suka berjudi dan berbuat dosa seperti Bulanak. Pemberian gelar puyang melalui rapat adat, bukan menambahkan sendiri seenaknya.

*****

Waktu berlalu Puyang Bulanak menjadi orang kaya raya. Puyang Bulanak ingin menjadi Datu Talang Merbau Kembo. Namun dia tidak bisa, sebab kepemimpinan diwariskan turun temurun. Kecuali kalau keluarga Datu tidak lagi ada yang dapat melanjutkan kepemimpinan. Maka harus dipilih Datu yang baru oleh masyarakat dan dilantik oleh Depati.

Selain itu Puyang Bulanak juga menyadari tidak mungkin kalau dirinya akan dipilih oleh masyarakat Talang Merbau Kembo. Satu-satunya cara dia berencana membunuh Datu Talang Merbau Kembo, Puyang Pekalang dan keluarganya. Rencana dia susun rapi, serta menunggu waktu yang tepat.

*****

Suatu ketika Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik bernama Samida. Lalu mengutus anak buahnya untuk melamar.Tapi lamarannya ditolak mentah-mentah. Bahkan Puyang Bulanak dicaci maki karena kebusukan akhlaknya dan tidak tahu dirinya. Sudah memiliki tiga istri masih mau menikahi anak gadis orang.

Tolakan itu, membuat Puyang Bulanak naik pitam dan marah besar. Dia bermaksud merampas Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati. Lalu pergi membawa seratus orang anak buahnya. Tapi diluar dugaannya, ternyata keluarga si gadis yang hendak dia rampas ternyata keluarga pendekar. Hanya Puyang Bulanak dan dua orang anak buahnya saja yang selamat dari amukan warga Talang Gajah Mati. Itu pun juga terluka para.

*****

Beberapa bulan kemudian, Samida menikah dengan pemuda bernama Kadram. Mereka yang pengantin baru tinggal berdua di ladang yang jauh dari Talang Gajah Mati. Begitulah kehidupan masyarakat zaman itu. Kehidupan keluarga baru dimulai dari berladang dan mengumpul kerangka rumah di hutan.

Puyang Bulanak yang busuk dan menyimpan dendam. Berniat menculik Samida dan membunuh suaminya. Suami Samida tewas ditembus tombak. Namun dalam insiden itu, mata Puyang Bulanak ditusuk dengan kayu oleh Samida sampai tercerabut keluar bola matanya.

Puyang Bulanak menjadi picak bermata satu. Sedangkan Samida yang tidak mau kehormatannya dirampas Puyang Bulanak dan tidak ingin menjadi budak nafsu Puyang Bulanak. Dia menabrakkan dirinya pada mata tombak yang menancap di tubuh suaminya. Dia pun meninggal seketika, Puyang Bulanak pulang tanpa mendapatkan apa pun selain kehilangan mata sebelah kirinya.

Kematian Samida dilaporkan kelurga mereka ke Puyang Depati di Pedatuan. Keluarga Samida dan Keluarga Kadram juga bersumpa akan membalas kematian keduanya. Sebagai bukti adalah biji mata yang menancap di potongan kayu. Berarti orang tersebut sekarang bermata satu. Penyelidikan dimulai oleh keluarga Samida dan Kadram.

*****

Kehilangan mata sebelah kirinya tidak membuat Puyang Bulanak sadar. Dia kini menjalankan rencananya beberapa bulan lalu. Membunuh Datu Pekalang, karena dirinya ingin menjadi Datu. Setelah menjadi Datu, dia ingin menjadi Depati di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Setiap tahun para Datu menghadap Depati untuk memberi laporan dan upeti. Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya, lima prajuritnya pergi ke Pedatuan. Dua anaknya berencana akan kepasar, sedangkan datu menghadap Depati di Balai Datu. Di tengah jalan pulang mereka di cegat oleh puluhan orang bertopeng. Terjadilah pertarungan hidup mati. Karena pertarungan tidak seimbang. Maka terbunuhlah Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya dan lima pengawal mereka.

*****

Peristiwa itu membuat gempar Pedatuan Bukit Pendape. Para Datu dan Depati mengadakan rapat besar. Mereka membahas situasi yang buruk di Pedatuan akhir-akhir ini. Terutama ada orang berani membunuh seorang datu. Setelah rapat, Depati, Hulubalang, dan seratus prajurit pergi ke tempat terbunuhnya Datu Puyang Pekalang.

“Depati, apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan kejadian perampokan-perampokan sadis beberapa tahun ini. Serta, kejadian pembunuhan sepasang suami istri di Talang Gajah Mati.” Tanya seorang laki-laki perkasa di samping depati. Mereka memperhatikan kondisi mayat yang sudah membusuk.

“Hulubalang, mungkin saja. Tapi kita belum memiliki bukti kuat. Kau tugaskan empat orang mata-mata mengawasi, menyelidiki orang-orang di Talang Merbau Kembo. Pembunuhan Datu biasanya bersangkutan dengan keinginan orang ingin menjadi datu.” Kata Depati pada Hulubalangnya.

“Siap Depati.” Jawab Hulubalang. Kemudian muncul seorang prajurit dia melaporkan kalau keluarga korban sudah datang untuk mengurus jenazah korban. Ada juga empat orang dari Talang Gajah Mati ingin bermusyawara dengan Depati. Sehingga terjadi kesepakatan untuk bekerja sama menyelidiki kejahatan yang banyak terjadi akhir-akhir ini di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

*****

Pemilihan Datu Talang berlangsung dua minggu setelah pembunuhan misterius itu. Puyang Bulanak ikut mencalonkan diri. Dia memerintahkan anak buanya membeli suara rakyat dengan memberikan sekeping emas pada setiap warga Talang Merbau Kembo agar memilihnya. Dengan cara membeli suara, yang diikuti intimidasi dan ancaman pembunuhan. Akhirnya warga memilik Bulanak menjadi Datu talang mereka. Bulanak akhirnya terpilih menjadi Datu. Tapi kedudukannya belum sah sepenuhnya, karena belum di lantik Depati dalam rapat adat. Dimana para jurai tue pedatuan ikut menyaksikan.

*****

“Ampun Depati, pelaku pembunuh adik dan saudara ipar saya pastilah orang bermata satu. Karena satu biji matanya tertancap di potongan kayu ini.” Kata seorang keluarga Samida saat bermusyawarah dengan Depati.

“Baiklah Adinda, tapi kita belum dapat menghukum seseorang sebelum terbukti kejahatannya.” Jawab Depati, semua setuju dan bekerja sama untuk menyelidiki permasalahan tersebut.

“Kami mencurigai Bulanak yang melakukan pembunuhan keji itu. Karena hanya dia yang bermasalah dengan Samida dan suaminya.” Kata ayah Samida.

Penyelidikan mulai dijalankan oleh Depati dan Keluarga Samida. Seorang mata-mata dan keluarga Samida berhasil menyusup ke kediaman Bulanak. Mereka menemukan beberapa barang hasil rampokan. Selain itu, sebelah mata Bulanak juga di tutup dengan kain.

Atas laporan mata-mata Depati dan seorang kakak Samida. Depati menunda pelantikan Datu. Tapi mengirim sepuluh orang prajurit pedatuan untuk menangkap Bulanak. Tapi Puyang Bulanak menantang balik para prajurit. Dia merobek kaghas penangkapan dirinya. Kaghas adalah nama surat zaman dahulu yang terbuat dari kulit pohon gaharu dan ditulis dengan aksara kaghanga.

“Prajurit, katakan pada Depati kalau Aku yang membunuh Datu Puyang Pekalang. Tapi Aku tidak akan tunduk pada Depati. Bahkan tidak lama lagi Aku akan menurunkannya dari tahtah pedatuan dan menggantikannya dengan diriku dan anak keturunanku.” Ujar Bulanak, lalu dia memerintahkan anak buanya untuk menyerang sepuluh prajurit. Sembilan prajurit tewas, satunya dibiarkan hidup dan kembali dengan telinga di potong kiri-kanan. Hal itu, membuat depati sangat marah. Sehingga dia sendiri turun tangan untuk menangkap Puyang Bulanak.

*****

Depati, dua orang Hulubalang, dan lima puluh orang prajurit. Bergerak menuju Talang Merbau Kembo. Mereka sudah habis kesabarannya. Depati sebagai pemimpin tertinggi harus menegakkan hukum. Serta menghukum Bulanak. Dalam perjalanan, mata-mata Bulanak mengintai.

Memberi tahu pada Puyang Bulanak kalau Pasukan Depati telah mendekat Talang Merbau Kembo. Puyang Depati tidak membawa pasukan yang banyak. Karena hanya ingin menangkap Puyang Bulanak. Tapi perhitungan Depati salah. Sehingga jebakan Puyang Bulanak mengena. Dia telah memiliki banyak sekali pasukan bersenjata lengkap.

Selain itu, banyak penduduk yang dihasut dan dibayar untuk menjadi pasukannya. Sehingga Puyang Bulanak memiliki tiga ratus orang anak buah. Di perbatasan talang, ada tanah lapang berumput hijau. Di sini tampak sekitar seratus orang menghadang Pasukan Puyang Depati. Mereka bersenjata lengkap, pibang kiri dan pibang kanan milik masing-masing. Pertanda mereka siap berperang.

“Kalian tahu kalau Aku Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Aku datang untuk menangkap penjahat dan pembunuh. Menegakkan ketertiban hukum di pedatuan kita. Agar penduduk hidup rukun dan damai.” Depati berkata pada pimpinan penghadang.

“Kami akan menjadi penguasa baru di Pedatuan kita ini. Puyang Bulanak akan menjadi Depati baru. Talang Merbau Kembo akan menjadi pusat pemerintahan. Maka tidak ada kompromi lagi. Kalian akan kami singkirkan hari ini. Aku sudah diangkat menjadi hulubalang.” Kata pemimpin anak buah Bulanak yang bernama, Lampelu.

Tidak berapa lama secara serentak seratus orang itu menyerang lima puluh orang. Depati dan Pasukannya di kepung dan terjadi pertarungan dua lawan satu. Dengan sabar dan hati-hati, paskan terlati Depati dapat mengalahkan satu demi satu anak buah Bulanak. Beberapa saat kemudian, sepuluh pasukan gugur dan lima puluh lima anak buah Bulanak tewas.

Melihat keadaan tersebut, dari sekeliling tanah lapang tempat berperang mereka muncul dua ratusan orang anak buah Bulanak. Bulanak muncul, dia tampak memakai penutup mata di mata kirinya. Bulanak melangkah perlahan mendekati arena peperangan dengan tawa kemenangan. Keadaan bertambah buruk, Puyang Depati dan pasukannya kembali terjepit dan terkepung.

“Menyerahlah Depati Tua, Aku akan mengampuni dirimu. Asal kau dan pasukanmu mau menjadi anak buahku.” Kata Bulanak.

“Aku lebih baik mati dari pada menjadi budakmu, Bulanak busuk.” Jawab Depati.

“Agar Depati tidak mati penasaran, Aku mengakui kalau akulah perampok selama ini, pembunuh Datu, pembunuh Samida yang telah menolak lamaranku. Sekarang giliran Depati akan berakhir hari ini.” Kata Bulanak dengan bangga dia merasa di atas angin. Kemudian Bulanak memerintahkan anak buanya menyerang mereka bersamaan.

*****

Beberapa orang prajurit Depati kembali gugur dan terluka parah. Keadaan sangat genting, bahkan Depati dan hulubalang telah banyak luka-luka. Mereka juga sudah mulai pasrah, tapi terus berjuang sehingga puluhan pengeroyok juga tewas.

“Heeeeeaaaaa. Heeaaaaaaa.” Puluhan orang-orang berteriak muncul dari dalam hutan dan semak-semak. Membawa bambu runcing yang diikat pada kayu yang memanjang. Sehingga mirip ranjau bambu memanjang. Kalau tertancap di ujung-ujung bambu runcing itu, pastilah segerah tewas.

Serangan tiba-tiba dan diluar perhitungan pasukan Bulanak. Membuat anak buah Bulanak kalang kabut. Banyak yang tewas tertembus bambu-bambu itu. Depati, Hulubalang dan sisa pasukannya menjadi legah. Mereka semakin semangat berperang.

Penyerang dengan bambu tajam dilakukan berkali-kali. Serangan teratur dan terencana. Kemana pasukan Bulanak lari, ada yang akan menghadang dengan bambu runcing. Sehingga hampir seratus orang tewas di ujung bambu bambu-bambu runcing itu. Empat puluh penyerang tidak dikenal itu sangat tangkas. Satu orang dapat melawan lima orang.

“Ayooo, kita habisi penjahat Bulanak ini.” Teriak Depati berapi-api. Dalam waktu cepat puluhan anak buah Bulanak Tewas. Banyak juga yang melarikan diri.

Bulanak tidak habis pikir dari mana penyerang bertopeng itu datang. Keadaan sudah tidak lagi menguntungkan. Maka dia juga hendak melarikan diri. Namun dia dihadang oleh dua orang penyerang. Kemudian dua penghadang membuka topeng kainnya. Ternyata keduanya adalah wanita.

“Aku ibu Samida.”

“Aku ibu Kadram.”

Bulanak kaget sekali. Dia sadar kalau penyerang baru datang adalah keluarga Kadram dan Samida. Hati Bulanak menjadi kecut. Dia tahu kalau orang-orang Talang Gajah Mati adalah kelompok pendekar silat. Melwan satu orang saja sulit, apalagi puluhan orang. Bulanak tidak menyia-nyiakan waktu, kalau bisa secepatnya dia melarikan diri. Lalu menerjang dan menyabetkan pibang kanannya. Namun kedua wanita berumur lima puluhan tahun itu pandai mengelak.

Serangan Puyang Bulanak hanya menyabet angin. Dia menjadi kerepotan saat dua wanita itu menyerang bersamaan. Walau dia mempu mengimbangi. Tapi dia tidak dapat lari dari hadangan dua wanita itu. Saat dia sadar ketika semua anak buanya telah tewas. Beberapa yang tertangkap tampak di penggal langsung oleh Depati. Sesosok bayangan menerjang dan menyerang Puyang Bulanak.

“Bukankah dahulu kau sudah merasakan tajamnya mata pibangku, Bulanak.” Ujar laki-laki itu. “Kali ini kau tidak akan bisa lolos dariku.” Kemudian laki-laki itu mengambil sesuatu dari balik pinggangnya yang dibungkus kain. Lalu dia melemparkan di hadapan Bulanak.

“Ini biji matamu yang ditusuk anakku. Aku akan menghukummu atas kejahatanmu. Aku ayah Samidah akan menuntut belah.” Kata laki-laki itu, yang diiringi serangan pibang dan terjangan keras bertubi-tubi.

"Crott. Sebilah pibang kidau menancap di punggung Bulanak. Luar biasa serangan orang itu. Cepat dan tangkas dan tak dapat dielakkan Puyang Bulanak. "Aku ayah Kadram." Katanya.

“Crottt.” Pibang kanan milik ayah Samida menancap di pahan sebelah kiri. Dua kali jeritan Bulanak terdengar dan darah mulai membasahi tubuhnya.

“Dukkkk.” Tendangan keras ayah Kadram bersarang di dadanya. Bulanak tertelentang dan dia berbalik untuk bangkit. Kembali tendangan keras mengenai rusuknya oleh ayah Samida. Darah segar keluar dari mulutnya, semua orang mulai melihatnya. Sementara mayat bergelimpangan di hamparan tanah lapang itu.

“Depati, ini orang yang mengaku hulubalang Bulanak tadi.” Kata Hulubalang prajurit depati, dia menggiring seorang laki-laki yang tubuhnya penuh luka. Kemudian dia jatu berlutut di tanah karena tidak kuat berdiri.

“Heeeaaaa.” Teriak Depati.

“Craasss.” Depati langsung memenggal anak buah Bulanak itu.

“Inilah hukuman yang pantas untuk pembunuh.” Ujar Depati yang sangat marah. Sekilas Bulanak melihat anak buanya itu.

*****

Bulanak tidak berdaya lagi. Dia merayap di atas tanah menahan sakit, menuju rumahnya. Semua mengiringi dan membiarkan Bulanak merayap. Menikmati atas kematian Bulanak perlahan-lahan. Memang kematian perlahan-lahan diinginkan keluarga Samida dan eluarga Kadram. Depati dan pasukannya menonton saja. Untuk balasan setimpal pada Bulanak.

“Bulanak manusa terkutuk, semoga tidak ada lagi orang seburuk dirimu. Kau rasakan betapa sakitnya kematian yang tidak kau inginkan.” Ujar Ibu Kadram.

Sementara itu, Penduduk Talang Merbau Kembo mendengar kalau Bulanak yang membunuh Datu Puyang Pekalang dan dua anaknya. Membuat keluarga besar Datu marah dan menyerang keluarga Bulanak. Sedangkan Bulanak terus merayap di tanah menuju rumahnya. Di sepanjang jalan darahnya berceceran.

“Jangan bunuh Aku, Jangan!!!. Aku akan memberikan kalian emas yang banyak, ternak, padi, dan rumahku. Ambillah untuk kalian semua. Asal jangan bunuh Aku.” Pintanya sambil menangis. Sampailah di halaman rumahnya bermaksud memberi Depati dan keluarga musuh-musuhnya harta benda untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi sesampai di depan rumahnya, dia sangat terkejut. Matanya melotot dan air matanya menetes lebih deras. Sia-sia semua perjuangan busuknya selama ini.

Rumahnya telah terbakar, harta bendanya dijarah. Dua anak laki-lakinya tampak terikat dan babak belur. Puyang Bulanak melihat anak perempuan, para istrinya menangis. Penduduk sangat marah. Seorang keluarga Datu Puyang Pekalang melemparkan tombak ke arah Bulanak. Lalu menembus dadanya, dan matanya mendelik.

Sebelum Bulanak mati, dia melihat dua anak laki-lakinya yang terikat. Seorang laki-laki mengayunkan pibang memenggal dua anaknya berturut-turut. Puyang Bulanak sadar kalau dia sedang mendapat balasan setimpal.

Semua tidak terkendali, membuat sedih Puyang Depati sebagai pemimpin. Rakyatnya terbakar emosi dan api dendam. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa dalam keadaan itu. Seharusnya keluarga Bulanak tidak dizalimi.

*****

Puyang Bulanak menghadapi sakaratul maut. Terlintas semua dosa dan kejahatannya selama hidup. Termasuk sumpah dari Samida sebelum mati.

“Dasar manusia sombong, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu mati dibantai dan terusir dari Pedatuan Bukit Pendape. Namamu akan terkutuk selamanya.” Sumpah Samida terbanyang di mata Puyang Bulanak. Puyang Bulanak baru tahu kalau hidup ada batasnya. Baru sadar kalau dirinya hanyalah orang rendahan yang busuk dan jahat.

*****

Ternyata beberapa bulan sebelum kejadian itu. Bulanak memiliki selingkuhan seorang wanita. Wanita itu juga buruk akhlaknya. Dia berselingkuh dengan Bulanak karena mengincar harta Bulanak. Kemudian terjadilah perzinahan yang menyebabkan wanita itu hamil. Beberapa bulan setelah hancurnya Bulanak, wanita itu melahirkan anak laki-laki.

Dari anak laki-laki itulah keturunan Puyang Bulanak menurun sampai sekarang. Tentu saja sifat dan tabiat Bulanak juga akan menurun pada anak keturunannya. Kalau kamu menemukan orang yang membeli suara saat pemilihan apa saja. Pastilah dia keturunan Bulanak. Dosen mesum, pejabat mesum, orang suka berjudi dan berzinah, wanita yang selingkuh dan wanita yang menikah karena harta, atau orang membunuh karena harta. Itulah ciri-ciri mereka keturunan Bulanak.

Demikianlah orang-orang memanggil pemimpin yang jahat, dengan sebutan.

“Puyang Bulanak.”


Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Arti Kata: Pedatuan: Pemerintahan yang bersifat geneologis dan monarki pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan di masa lalu. Pedatuan terdiri dari sebuah wilayah yang diklaim oleh sebuah masyarakat yang masi seketurunan (kepuyangan). Datu: Pemimpin pemukiman warga, Talang sama seperti Kepala Desa.

Talang: Nama tempat pemukiman sama seperti Desa, Dusun, Kampung. Puyang: Gelar pemimpin atau bangsawan. Nenek moyang. Orang tua dari kakek-nenek. Puyang juga gelar kehormatan seperti: Tuan, Teuku, Tengku, Tun, Datuk, Daeng, Sunan. Depati: Gelar pemimpin tertinggi di kawasan pedatuan (raja kecil).

Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama kawasan tradisional yang sekrang meliputi: Kecamatan Sungai Keruh, kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, sebagian kecamatan Sekayu, Sebagian dari beberapa kecamatan lainnya. Kawasan ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di seberang. Dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten PALI.

Pibang: Senjata tradisional masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Sy. Apero Fublic.
Via Dongeng
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Monday, August 03, 2020
Mengamati Dinamika Konstitusi Indonesia melalui Lensa Mahasiswa PPKn

Mengamati Dinamika Konstitusi Indonesia melalui Lensa Mahasiswa PPKn

Monday, February 16, 2026
Perempuan Kuat itu Aku

Perempuan Kuat itu Aku

Friday, February 13, 2026

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Resmikan 104 Huntap di Aceh Utara, Menko Polkam Tegaskan Negara Hadir Membantu Rakyat

PT. Media Apero Fublic- Sunday, March 15, 2026 0
Resmikan 104 Huntap di Aceh Utara, Menko Polkam Tegaskan Negara Hadir Membantu Rakyat
APERO FUBLIC   I  ACEH UTARA . – Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago secara resmi menyerahkan ba…

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 2026473
  • 20251139
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019281

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Utara Alor Amerika Serikat Anambas Andai-Andai Angkat Besi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bali Bandung Bangka Barat Bangkinang Banjarnegara Banten Banyuasin Batam Batang Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Bekasi Beladiri Belanda Belu Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Bengkulu Selatan BENGSEL Berita Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biruisme Bisnis BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Bosnia Brand Brazil Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Cililin Cina Dairi Daratan dan Hutan Deli Serdang Dompu Dongeng Dongeng Dunia DPD RI DPR RI DPRD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Fotografi Gatget Gunung Sitoli Gunungsitoli Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ilmu Kesastraan Indragiri Hulu Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik Kabar Buku Kabar Desa KALBAR KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolri Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kepahiang Kepemimpinan Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita Ketapang Kimia Kisah Legenda KKN Kolaka Konawe Selatan KONSEL Korupsi Kota Kota Bengkulu Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu Labura LABURA Lahat Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Magang Mahasiswa Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Mappi Marinir Mask Medan Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Morowali Morut MORUT Muara Enim Muaro Jambi MUBA MURA Muratara Musi Rawas Musik Nasional NTB NTT Ogan Ilir OKI OKU OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Ormas Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Palangkaraya Palembang Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Barat Daya Papua Selatan Parigi Moutong Pariwisata Partai Pasaman Barat Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintah Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang Politik Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI SumSel Renang Riau Rote Ndao Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Sidoarjo Sijunjung Silat Simalungun Singapura Skil Wanita Smart TV Solok Sorong Sosial Masyarakat Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA SUMBAR Sumber Air Sumedang SUMSEL SUMUT Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Datar Tangerang TANJABAR Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPTENG Tebing Tinggi Teknologi Temanggung TNI TNI AD TNI AL TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi UKM-Bisnis Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly
    Sepeda Motor Listrik Produksi U^Winfly APERO FUBLIC.- U^Winfly merupakan Perusahaan Industrial pada sektor bergerak industri kendaraan list...
  • Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.
    Apero Fublic.- Raja Syahriyuna yang memerintah di negeri Banduburi mempunyai seorang putri yang cantik dan berbudi luhur bernama Budiwangi. ...
  • Mengamati Dinamika Konstitusi Indonesia melalui Lensa Mahasiswa PPKn
    PENULIS:  RR. Farra Naylazzahra Pramushiva APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Seiring dengan perkembangan zaman, berbagai perubahan sosial politi...
  • Perempuan Kuat itu Aku
    PENULIS :   Norie Khoiril Qiromah Perempuan Kuat itu Aku : Perempuan yang menjahit retaknya sendiri APERO FUBLIC   I  CERITA KI...
  • Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Indonesia sebagai wilayah tropis menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesegaran bahan pangan. Su...
  • Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan
    APERO FUBLIC   I  ENERGI . -  Setiap hari, pabrik kelapa sawit di berbagai daerah Indonesia menghasilkan tumpukan tandan kosong ...
  • Mengenal Buah Raman
    APERO FUBLIC.- Buah raman atau dikenal juga dengan nama buah aman, dan gandario. Buah asli endemik Indonesia ini banyak tumbuh di pulau ...
  • Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama
    APERO FUBLIC   I  FEATURE .-  Daging merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami penurunan mutu. Jika penanganan dan peng...
  • Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia
    Ilustrasi: Hukumonline APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Konstitusi merupakan dasar hukum tertinggi yang menjadi landasan penyelengga...

Editor Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Mengenal Pohon Serdang

Mengenal Pohon Serdang

Saturday, August 05, 2023

Popular Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Monday, August 03, 2020
Mengamati Dinamika Konstitusi Indonesia melalui Lensa Mahasiswa PPKn

Mengamati Dinamika Konstitusi Indonesia melalui Lensa Mahasiswa PPKn

Monday, February 16, 2026
Perempuan Kuat itu Aku

Perempuan Kuat itu Aku

Friday, February 13, 2026
Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Tuesday, March 10, 2026
Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Thursday, March 05, 2026
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama

Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama

Wednesday, March 11, 2026
Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Saturday, March 07, 2026

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 58 Berita 1415 Berita Daerah 1451 Berita Internasional 34 Berita Nasional 1165 Brand 117 Budaya Daerah 33 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 36 Cerita Rakyat 12 Cerpen 18 Dongeng 67 Ekonomi 27 Elektronik 21 FASHION 12 Fauna 4 Flora 62 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 1 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 3 Jurnalisme Kita 18 Kampus 311 Kesehatan 22 Kisah Legenda 10 Kuliner 30 Mitos 15 Opini 250 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 39 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 56 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 1 Sastra Kita 36 Sastra Klasik 53 Sastra Lisan 13 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 28 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 8 Tablet 20 Teknologi 153 Tokoh Wanita 10 UKM-Bisnis 24 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us