6/05/2020

Cerita Rakyat. Puyang Bulanak

Apero Fublic.- Pada masa itu, kehidupan masyarakat Melayu di Indonesia terutama di Sumatera Selatan berada pada tahap peradaban purba. Yang dikenal dengan zaman megalitikum atau zaman batu besar. Mereka hidup sederhana dengan berkelompok secara geneologis, dan memiliki pemerintahan sendiri.

Di Sumatera Selatan ada beberapa istilah pemerintah tradisional, seperti Sumbai dan Pedatuan. Gelar pemimpin mereka Depati, Datu, dan Puyang. Kawasan pedatuan terdiri dari gabungan, puluhan pemukiman masyarakat yang sederhana, mereka namakan Talang.

Sedangkan ibu kota pemerintahan mereka pada waktu itu di namakan Dusun. Di Dusun pemukiman lebih besar dan perumahan lebih bagus terbuat dari kayu-kayu yang sudah di olah.

Kawasan Pedatuan dipimpin oleh seorang bergelar Depati. Talang dipimpin oleh seorang Datu (Kepala Desa). Gelar bangsawan kala itu, Puyang. Pedatuan suatu kawasan wilayah merdeka, monarki serta bersifat genoalogis. Atau masih dalam satu keturunan. Kelak pada masa-masa pengaruh hindhu-budha menjadi Pemerintahan Marga.
*****
Tersebutlah sebuah talang bernama Merbau Due. Salah satu talang yang terletak di Pedatuan Dataran Negri Bukit Pendape. Dinamakan Talang Merbau Due, karena saat nenek moyang mereka membuka talang pertamakalinya menemukan dua pohon merbau yang berdiri berdekatan. Sehingga mereka namakan Talang Merbau Due. Waktu itu, Talang Merbau Due dipimpin oleh Datu Pekalang yang bijaksana. Dia di hormati dan segani warganya.

Bulanak lahir dari rahim wanita bertabiat buruk sekali. Ibu Bulanak membunuh suami sah-nya dengan cara diracuninya. Karena dia berselingkuh dengan seorang laki-laki beristri, tapi kaya. Hubungan gelap itu diiring dengan perzinahan. Kemudian hamil dan lahirlah anak laki-laki, bernama Bulanak.

Setelah itu, Ibu Bulanak juga membunuh laki-laki selingkuhan itu dengan racun. Sekaligus meracuni ibu laki-laki itu. Kemudian dia menikah dengan ayah laki-laki selingkuhannya itu.

Karena suami itu sudah tua, dia hanya ingin menikmati harta saja. Lalu, Ibu Bulanak selingkuh dan berzina juga dengan anak tirinya, adik dari selingkuhannya sebelumnya.

Ibu Bulanak mati dibunuh oleh suaminya karena ketahuan berselingkuh dengan anak tirinya. Bulanak dibesarkan kakeknya orang tua ibu-nya. Seusia remaja, Bulanak membunuh kakek dan neneknya dengan cara dicekiknya. Karena ingin menguasai uang dan harta bendanya.

Bulanak dengan kelicikannya, dia mulai mencari harta dengan berjudi, menipu, dan meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Teman berjudinya kemudian banyak yang menjadi anak buahnya. Waktu demi waktu kekayaan dan uang terus bertambah banyak.

Bulanak yang semakin kaya dengan banyak anak buah. Suka berbuat jahat dan sewenang-wenang. Dia memperkosa seorang gadis. Setelah itu, terpaksa dinikahkan oleh orang tua gadis dengan Bulanak. Bulanak membayar denda emas dan mau bertanggung jawab. Dari istri hasil memperkosa itu, mendapatkan anak pertamanya, Binat.

Sifat sombong, angkuh, serakah, tamak, gila perempuan, feodal, tidak mau kalah dari orang lain, egois, bermain judi, adalah tabiat asli Bulanak.

Ada dua orang gadis cantik yang dia sukai di Talang Merbau Due. Bulanak tahu pasti dia akan ditolak. Pertama, dia sudah beristri dan tidak disukai orang-orang. Untuk mendapatkan gadis-gadis itu.

Dia menyusun rencana licik. Dia mendekati orang tua gadis-gadis itu. Dengan cara dia pinjami emas yang berbunga. Bunga hutang juga berbunga. Sehingga hutang itu terus berlipat-lipat. Dari tahun ke tahun.

Tidak dapat membayar lagi. Bulanak terus mengintimidasi dan menagih. Hingga akhirnya salah satu solusinya, Puyang Bulanak meminta untuk dinikahkan dengan anak gadis mereka. Maka utang emas mereka di lunaskan.

Dari istri kedua dan ketiga itu, Bulanak mendapat dua anak laki-laki lagi, bernama Ukim dan Limang. Ada juga mendapat beberapa anak perempuan.

Karena sudah merasa kaya dan hebat. Bulanak menambahkan sendiri gelar bangsawan pada namanya, menjadi Puyang Bulanak. Penduduk Talang Merbau Due sesungguhnya mencibir saat dia memakai gelar puyang.

Sebab gelar puyang untuk orang baik, orang jujur, pemimpin baik dan amanah, serta orang yang berilmu lagi bijaksana. Bukan orang yang bertabiat buruk, suka berjudi dan berbuat dosa seperti Bulanak. Pemberian gelar puyang melalui rapat adat.
*****
Waktu berlalu Puyang Bulanak menjadi orang kaya raya. Puyang Bulanak ingin menjadi Datu Talang Merbau Due. Namun dia tahu bahwa dirinya tidak akan dipilih oleh warga talang. Satu-satunya cara dia berencana membunuh Puyang Pekalang, Datu Talang Merbau Due. Rencana dia susun rapi, serta menunggu waktu yang tepat.

Suatu ketika Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik bernama Samida. Lalu mengutus anak buahnya untuk melamar.

Tapi lamarannya ditolak mentah-mentah. Bahkan Puyang Bulanak dicaci maki karena kebusukan akhlaknya dan tidak tahu dirinya. Sudah memiliki tiga istri masih mau menikahi anak gadis orang.

Tolakan itu, membuat Puyang Bulanak naik pitam dan marah besar. Dia bermaksud merampas Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati, secara kekerasan. Membawa seratus orang anak buahnya. Tapi diluar dugaannya, ternyata keluarga si gadis yang hendak dia rampas ternyata keluarga pendekar silat. Hanya Puyang Bulanak dan dua orang anak buahnya saja yang selamat dari amukan warga Talang Gajah Mati. Itu pun, terluka para.

Beberapa bulan kemudian, Samida menikah dengan pemuda bernama Kadram. Mereka yang pengantin baru tinggal berdua di ladang yang jauh dari Talang Gajah Mati. Begitulah kehidupan masyarakat zaman itu.

Puyang Bulanak yang busuk dan menyimpan dendam. Berniat menculik Samida dan membunuh suaminya. Suami Samida tewas ditembus tombak. Namun dalam insiden itu, mata Puyang Bulanak ditusuk dengan kayu oleh Samida sampai tercerabut keluar bola matanya.

Puyang Bulanak menjadi picak bermata satu. Sedangkan Samida yang tidak mau kehormatannya dirampas Puyang Bulanak dan tidak ingin menjadi budak nafsu Puyang Bulanak.

Samida kemudian menabrakkan dirinya pada mata tombak yang menancap di tubuh suaminya. Dia pun meninggal seketika, Puyang Bulanak pulang tanpa mendapatkan apa pun selain kehilangan mata sebelah kirinya.

Kematian Samida dilaporkan kelurga mereka ke Puyang Depati. Keluarga Samida dan Keluarga Kadram juga bersumpa akan membalas kematian keduanya. Sebagai bukti adalah biji mata yang menancap di potongan kayu. Berarti orang tersebut sekarang bermata satu. Penyelidikan dimulai, yang di curigai adalah Puyang Bulanak.
*****
Kehilangan mata sebelah kirinya tidak membuat Puyang Bulanak sadar. Dia kini menjalankan rencananya beberapa bulan lalu. Membunuh Datu Pekalang, karena dirinya ingin menjadi Datu. Setelah menjadi Datu, dia ingin menjadi Depati di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Suatu hari, Puyang Pekalang, Datu Talang Merbau Due pergi ke Dusun Depati untuk berbelanja dipasar. Di temani dua anak laki-lakinya, dan dikawal lima prajurit pedatuan. Di tengah jalan pulang mereka di cegat oleh puluhan orang bertopeng. Terjadilah pertarungan hidup mati. Karena pertarungan tidak seimbang. Maka terbunuhlah Puyang Pekalang, dua anak laki-lakinya dan lima pengawal mereka.

“Depati, apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan kejadian perampokan-perampokan sadis beberapa tahun ini. Serta, kejadian pembunuhan sepasang suami istri di Talang Gajah Mati.” Tanya seorang laki-laki perkasa di samping depati. Mereka memperhatikan kondisi mayat yang sudah membusuk.

“Hulubalang, mungkin saja. Tapi kita belum memiliki bukti kuat. Kau tugaskan empat orang mata-mata mengawasi, menyelidiki orang-orang di Talang Merbau Due. Pembunuhan Datu biasanya bersangkutan dengan keinginan orang ingin menjadi datu.” Kata Depati pada Hulubalangnya.

“Siap Depati. Kemudian muncul seorang prajurit dia melaporkan kalau keluarga korban sudah datang untuk mengurus jenazah korban. Ada juga empat orang dari Talang Gajah Mati ingin bermusyawara dengan Depati. Sehingga terjadi kesepakatan untuk bekerja sama menyelidiki kejahatan yang banyak terjadi akhir-akhir ini di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.
*****
Pemilihan Datu Talang berlangsung dua minggu setelah pembunuhan misterius itu. Puyang Bulanak mencalonkan diri. Dia bersama pendukungnya memberikan sekeping emas pada warga talang agar memilihnya. Selain itu, mereka mengancam kalau mereka tidak mau memilih dirinya. Mereka akan membunuh semua orang yang tidak memilih Puyang Bulanak. Maka, terpilihlah Puyang Bulanak menjadi Datu Talang Merbau Due.
*****
Berbekal bukti biji mata yang menancap di potongan kayu. Dengan demikian, pelakunya pasti orang matanya pecah satu. Kedua, Puyang Bulaklah musuh satu-satunya keluarga Samida dan keluarga suaminya. Maka, kesanalah tujuan pencarian pelaku.

Tuntutan hukuman pada pelaku diberlakukan. Penyelidikan mulai dijalankan oleh Depati dan Keluarga Samida. Beberapa barang hasil rampokan juga ditemukan di rumah Puyang Bulanak.

Karena dua orang mata-mata Depati dan seorang kakak Samida berhasil meneliti kediaman Puyang Bulanak. Mereka juga menyaksikan mata Puyang Bulanak juga pecah satu. Yang dia tutup dengan ikatan kain sebelahnya.

Karena itulah, Depati mengirim sepuluh orang prajurit pedatuan untuk menangkap Puyang Bulanak. Tapi Puyang Bulanak menantang balik dan dia berkata akan mengambil alih kekuasaan Depati dan menurunkan tah-tahnya. Sepuluh prajurit dibunuh, lalu kepala mereka dikirm ke Depati. Yang membuat depati sangat marah. Sehingga dia sendiri turun tangan untuk menangkap Puyang Bulanak.
*****
Depati, dua orang Hulubalang, dan lima puluh orang prajurit. Bergerak menuju Talang Merbau Due. Mereka sudah habis kesabarannya. Depati sebagai pemimpin tertinggi harus menegakkan hukum. Serta menghukum Puyang Bulanak. Mata-mata Puyang Bulanak mengintai.

Memberi tahu pada Puyang Bulanak kalau Pasukan Depati telah mendekat Talang Merbau Due. Puyang Depati tidak membawa pasukan yang banyak. Karena hanya ingin menangkap Puyang Bulanak. Tapi perhitungan Depati salah. Dan jebakan Puyang Bulanak mengena.

Sehingga Puyang Bulanak tidak mempersiapkan banyak pasukan untuk perang. Sedangkan Puyang Bulanak mempersiapkan anak buahnya yang banyak. Juga banyak penduduk yang dihasut dan dibayar untuk menjadi pasukannya. Sehingga Puyang Bulanak memiliki tiga ratus orang anak buah.

Di perbatasan Talang, ada tanah lapang berumput hijau. Di sini tampak sekitar seratus orang menghadang Pasukan Puyang Depati. Mereka bersenjata lengkap, pibang kiri dan pibang kanan milik masing-masing. Pertanda mereka siap berperang.

“Kalian tahu kalau aku Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Aku datang untuk menangkap penjahat dan pembunuh. Menegakkan ketertiban hukum di daerah kita. Agar penduduk hidup rukun dan damai.” Depati berkata pada pimpinan penghadang.

“Kami akan menjadi penguasa baru di Pedatuan kita ini. Puyang Bulanak akan menjadi Depati baru. Talang Merbau Due akan menjadi pusat pemerintahan. Maka tidak ada kompromi lagi. Kalian akan kami singkirkan hari ini.” Kata pemimpin mereka. Orang itu bernama Lampelu, tangan kanan Puyang Bulanak.

Tidak berapa lama secara serentak seratus orang itu menyerang lima puluh orang. Depati dan Pasukannya di kepung dan terjadi pertarungan dua lawan satu. Dengan sabar dan hati-hati, paskan terlati Depati dapat mengalahkan satu demi satu anak buah Puyang Bulanak. Beberapa saat kemudian, sepuluh pasukan gugur dan lima puluh lima anak buah Puyang Bulanak tewas.

Melihat keadaan tersebut, dari sekeliling tanah lapang tempat berperang mereka muncul dua ratusan orang anak buah Puyang Bulanak dan Puyang Bulanak yang tampak menutupi mata kirinya. Puyang Bulanak melangkah perlahan mendekati arena peperangan dengan tawa kemenangan. Keadaan mulai berbalik, Puyang Depati dan pasukannya terjepit luar biasa.

“Menyerahlah Depati Tua, aku akan mengampuni dirimu. Asal kau dan pasukanmu mau menjadi anak buahku.

“Aku lebih baik mati dari pada menjadi budakmu, Bulanak busuk.” Jawab Depati sambil meladeni serangan bertubi-tubi. Beberapa pasukan kembali gugur dan terluka parah. Dalam keadaan genting itu. Muncul dari balik semak-semak hutan sekitar empat puluh orang laki-laki.

Mereka membawa bambu tajam yang diikat pada kayu memanjang. Sehingga mirip ranjau panjang. Lalu dibawa berlari kencang dan mengarahkan lancipan bambu pada anak buah Puyang Bulanak. Serangan tiba-tiba itu, membuat anak buah Puyang Bulanak kalang kabut. Banyak yang tewas tertembus bambu-bambu itu.

Penyerang melakukan berkali-kali. Serangan teratur dan terencana. Sehingga hampir seratus orang tewas di ujung bambu bambu-bambu runcing itu. Empat puluh penyerang tidak dikenal itu sangat tangkas. Satu orang dapat melawan lima orang.

Depati melihat kesempatan menang. Dia berteriak menyemangati sisa pasukannya. Dalam waktu cepat puluhan anak buah Puyang Bulanak Tewas. Banyak juga yang melarikan diri.

Puyang Bulanak hendak melarikan diri melihat keadaan yang tidak memungkinkan. Namun dia dihadang oleh dua orang penyerang. Kemudian dua penghadang membuka topeng kainnya. Ternyata keduanya adalah wanita.
“Aku ibu Samida.”
“Aku ibu Kadram.”
Puyang Bulanak kaget sekali. Dia sadar kalau penyerang baru datang adalah keluarga Kadram dan Samida. Hati Puyang Bulanak menjadi kecut. Dia tahu kalau orang-orang Talang Gajah Mati adalah kelompok pendekar silat. Puyang Bulanak menerjang dan menyabetkan pibangnya. Namun kedua wanita berumur lima puluhan tahun itu pandai mengelak.

Serangan Puyang Bulanak hanya menyabet angin. Dia menjadi kerepotan saat dua wanita itu menyerang bersama. Walau dia mempu mengimbangi. Tapi dia tidak dapat lari dari hadangan dan jepitan. Saat dia sadar ketika semua anak buanya telah tewas. Beberapa yang tertangkap tampak di penggal. Mulai ciut nyali Puyang Bulanak. Se-sosok bayangan menerjang dan menyerang Puyang Bulanak.

“Bukankah dahulu kau sudah merasakan tajamnya mata pibangku, Bulanak.” Ujar laki-laki itu. Kali ini kau tidak akan bisa lolos  dariku.” Kemudian laki-laki itu mengambil sesuatu dari balik pinggangnya yang dibungkus kain. Lalu dia melemparkan di hadapan Puyang Bulanak.

“Ini biji matamu yang ditusuk anakku. Aku akan menghukummu atas kejahatanmu.” Kata laki-laki itu, yang diiringi serangan pibang dan terjangan.

"Crott. Sebilah pibang kidau menancap di punggungnya. Luar biasa serangan orang itu. Cepat dan tangkas dan tak dapat dielakkan Puyang Bulanak. "Aku ayah Kadram." Katanya.

Dalam beberapa jurus kemudian, Puyang Bulanak kembali terkena sabetan di betis kiri dan bahu. Darah mengucur, dan diikuti tendangan keras di dadanya. Sabetan di kaki kanan dan membuat Puyang Bulanak tidak dapat berdiri lagi.

Dia merayap menahan sakit di jalanan menuju rumahnya. Semua mengiringi dan membiarkan Puyang Bulanak merayap mati perlahan-lahan. Memang kematian perlahan-lahan diinginkan keluarga Samida dan Keluarga Kadram. Depati dan pasukannya menonton saja. Memang balasan setimpal untuk Puyang Bulanak.

Sementara itu, Penduduk Talang Merbau Due mendengar kalau Puyang Bulanaklah yang membunuh Datu mereka beberapa bulan lalu. Membuat keluarga Datu marah dan menyerang keluarga Puyang Bulanak. Puyang Bulanak yang terus merayap di tanah menuju rumahnya. Di sepanjang jalan darahnya bercecer.

“Jangan bunuh aku, Jangan!!!. Aku akan memberikan kalian emas yang banyak, ternak, padi, dan rumahku. Kata Puyang Bulanak ketakutan. Sampailah di halaman rumahnya bermaksud memberi Depati dan keluarga musuh-musuhnya harta benda untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi sesampai di depan rumahnya, dia sangat terkejut. Matanya melotot dan air matanya menetes. Sia-sia semua perjuangan busuknya selama ini.

Melihat semua rumah dibakar penduduk, harta bendanya dijarah. Dua anak laki-lakinya tampak terikat dan babak belur. Puyang Bulanak melihat anak perempuannya menangis. Penduduk sangat marah, seorang keluarga Datu Pekalang melemparkan tombak ke arah Puyang Bulanak. Lalu menembus dadanya, matanya mendelik.

Dia melihat dua anaknya yang terikat. Ketika itu, seorang laki-laki mengayunkan pibang memenggal dua anaknya berturut-turut. Puyang Bulanak sadar kalau dia sedang mendapat balasan setimpal. Semua tidak terkendali, membuat sedih Puyang Depati sebagai pemimpin. Rakyatnya terbakar emosi dan dendam.
******
Puyang Bulanak menghadapi sakaratul maut. Terlintas semua dosa dan kejahatannya selama hidup. Termasuk sumpahan dari Samida yang suaminya dia bunuh. “Dasar manusia sombong, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu mati dibantai dan terusir, dari Negeri Bukit Pendape. Kau akan terkutuk, selamanya.”

Sumpah Samida terbanyang di mata Puyang Bulanak. Sumpa Samida nantinya memang terbukti. Sampai sekarang nama Puyang Bulanak juga menjadi sebutan untuk pemimpin jahat atau orang jahat. “Dasar Puyang Bulanak.” Itulah kata-kata orang Melayu yang mengutuk seseorang pemimpin jahat. Terkutuk selamanya.

Puyang Bulanak baru tahu kalau hidup ada batasnya. Baru sadar kalau dirinya hanyalah orang rendahan yang busuk dan jahat.

Hanya anak Puyang Bulanak yang bernama Binat selamat. Dia berlari entah kemana sebelumnya. Binat ikut perang di lapangan, tapi dia melarikan diri bersama beberapa anak buah Puyang Bulank.

Semua anak buah Puyang Bulanak yang tertangkap warga habisi tanpa ampun. Begitulah kalau massa mengamuk dan tidak terkendali lagi. Puyang Depati tidak dapat berbuat banyak lagi, untuk menenangkan rakyatnya.
*****
Ternyata sebelum penghukuman Puyang Bulanak. Ada seorang wanita buruk akhlaknya yang mengincar harta Puyang Bulanak. Wanita itu, menggoda Puyang Bulanak dan sering berzina dengan Puyang Bulanak.

Wanita ini menyusun siasat sendiri, namun sebelum rencananya berhasil. Puyang Bulanak dihukum warga, tewas.

Wanita itu telah hamil beberapa bulan. Saat Puyang Bulanak dihukum mati. Dari wanita itulah lahir anak laki-laki. Hidup di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape, berketurunan dan beranak cucu. Masyarakat  Pedatuan dan masyarakat Talang Merbau Due tidak ada yang tahu.

Kalau anak itu keturunan Puyang Bulanak. Keturunan Puyang Bulanak dari anak haram itulah nantinya. Menurunkan bibit-bibit manusia jahat. Sampai sekarang keturunan Puyang Bulanak masih ada di Dataran Negeri Bukit Pendape. Apabila kita menemukan seorang pemimpin, pejabat, ASN, RT, RW, Kades, Kadus, Camat, Bupati, Wakil Rakyat dan lainnya. Dia asli orang Dataran Negeri Bukit Pendape.

Kemudian dia berlaku korup, tidak adil, jahat, suka main wanita, mabuk, memakai narkoba, suka berjudi, membeli suara saat pemilihan, pokoknya pemimpin dan orang jahat. Kemungkinan besar dia itu salah satu keturunan Puyang Bulanak.

Sedangkan keturnan Puyang Bulanak dari garis Binat, menyebar ke seluruh Nusantara. Dari nama Binat juga konon katanya berkembang menjadi kata Binatang. Keturunan Binat kemudian menyebar, berlayar keseberang pulau Sumatera dan beranak pinak tanpa terlacak lagi.

Mereka juga berasimilasi dengan suku-suku setempat sampai tidak ada beda lagi. Apabila kalian menemukan pemimpin di tempat kalian dari RT sampai Menteri,  atau abdi negara, wakil rayat di mana pun posisinya. Lalu dia bersifat buruk, seperti; korup, membeli suara, memakai narkoba, main perempuan, bersifat tidak, narkoba, busuk dan jahat, serta tidak adil.

Kemungkinan orang tersebut keturunan Puyang Bulanak dari garis Binat. Kemudian orang yang mata pencahariannya suka riba atau menganakkan uang. Juga ada kemungkinan di dalam darahnya mengalir dara Puyang Bulanak dari garis Binat. Hati-hatilah kawan nanti terpilih pemimpin keturunan Puyang Bulanak!!!.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Arti Kata: Pedatuan: Pemerintahan yang bersifat geneologis dan monarki pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan di masa lalu. Pedatuan terdiri dari sebuah wilayah yang diklaim oleh sebuah masyarakat yang masi seketurunan (kepuyangan). Datu: Pemimpin pemukiman warga, Talang sama seperti Kepala Desa.

Talang: Nama tempat pemukiman sama seperti Desa, Dusun, Kampung. Puyang: Gelar pemimpin atau bangsawan. Nenek moyang. Orang tua dari kakek-nenek. Puyang juga gelar kehormatan seperti: Tuan, Teuku, Tengku, Tun, Datuk, Daeng, Sunan. Depati: Gelar pemimpin tertinggi di kawasan pedatuan (raja kecil).

Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama kawasan tradisional yang sekrang meliputi: Kecamatan Sungai Keruh, kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, sebagian kecamatan Sekayu, Sebagian dari beberapa kecamatan lainnya. Kawasan ini meliputi seluruh wilayah Kabupaten Musi Banyuasin di seberang. Dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten PALI.

Pibang: Senjata tradisional masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment