12/02/2020

Wacana Kekhalifaan Modern Asia Barat dan Afrika Utara

Apero Fublic.- Pemerintahan demokrasi Islam dimulai dari kepemimpinan sahabat Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Kemudian kekhalifaan mulai berganti dengan sistem monarki. Pada masa dinasti Ummayah, sampai dengan Kekhalifaan terakhir, Turki Usmani.

Memang sistem monarki memang lebih baik pada masa-masa lalu. Sebab sistem politik yang belum dewasa pada masyarakat zaman dahulu. Sehingga politik monarki absolut cukup cocok untuk masyarakat yang berwatak keras dan kaku.

Kekhalifaan terakhir runtuh oleh Blok Barat, dimotori Inggris. Salah satu cara yang paling berhasil oleh kelompok Barat adalah dengan memecah belah masyarakat Kekhalifaan Turki Usmani. Membangkitkan pemberontakan dan digerakkan nasionalisme kebangsaan.

Kekhalifaan Turki di belah-belah menjadi negara-negara kecil, sehingga kesatuan wilayah hancur. Paham kebangsaan selain menghancurkan kesatuan kekhalifahan, sekaligus menghancurkan sistem politik kesatuan Islam. Di seluruh wilayah kekhalifahan terakhir rakyat dan tokoh setempat bangkit melawan Khalifah dengan alasan nasionalisme kebangsaan mereka. Seperti, terbentuknya Negara Suriyah yang awalnya provinsi dari Kekhalifahan Turki Usmani. Begitu juga dengan wilayah lainnya, sehingga runtuhnya kekhalifahan berdiri empat puluhan negara Islam baru.

Seperti Suriyah didukung menjadi Kerajaan Suriyah sebelum kudeta militer. Irak juga berkuasa seorang raja, yang kemudian juga dikudeta militer. Mesir menjadi kerajaan Mesir sebelum dikudeta militer. Arab menjadi Arab sebagaimana sekarang Kerajaan Arab Saudi, begitu juga dengan Libyah, Sudan, Tunisia, Albania dan wilayah lainnya.

Kekhalifaan Turki Usmani dianggap penjajah oleh bangsa-bangsa Asia Barat, dan wilayah lainnya. Padahal pada masa sebelumnya wilayah tersebut merupakan wilayah yang tidak bertuan. Rezim dapat tumbuh dan berganti. Masyarakat di sana dapat tinggal di mana saja.

Isu kebangsaan menjadi komponen menghancurkan kesatuan dari dalam. Senjata dan perang dibantu oleh Inggris. Tetapi, isu kebangsaan hanya digunakan sekelompok orang untuk mencari dukungan rakyat setempat. Karena  pada hakikatnya kelompok itu, hanya membangun ambisi pribadi untuk berkuasa. Mereka mendirikan kerajaan dinasti mereka.

Itu tercermin dari dengan berdirinya kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan Irak. Kemudian Kerajaan Arab Saudi dimana negara itu milik dinasti Saud. Kelompok yang menentang Kekhalifahan tersebut bukan karena ingin kehidupan politik yang baik. Tapi untuk berkuasa secara kelompok dan dinasti.

Kekhalifaan Turki Usmani atau Ottoman  memang masih menganut sistem lama. Yaitu, monarki absolut dan terlalu bersifat kebangsaan Turk. Sehingga membuat masyarakat Kekhalifahan kawasan lain menjadi cemburu sosial. Kemudian pada masa pergulatan politik modern. Kekhalifahan masih dalam kehidupan politik lama.

Lambatnya reformasi sistem pemerintahan membuat Kekhalifahan goyang. Tidak siap dengan politik modern yang banyak memainkan instrumen pemikiran: seperti permainan isu, propaganda dan adudomba.

Dari pengalaman itu, dapat kita ambil pelajaran dalam membangun Kekhalifaan Islam kembali dan menata kekhalifahan modern. Yaitu, melalui sistim Demokrasi Islam dan meninggalkan sifat kebangsaan atau kesukuan. Kebangsaan cukup pada batas wilayah dengan sistem federal. Dimana setiap wilayah negara yang bersatu tetap dipimpin oleh putra bangsa mereka. Secara nasional bersatu dengan Pemerintah Pusat atau Kekhalifahan.

Mulai memilih daerah baru untuk membangun pusat pemerintahan. Memunculkan bendera baru untuk mempersatukan. Hal yang dapat dilakukan untuk bersatu bukan dengan perang seperti zaman dahulu, tapi, dengan momerendum (pemilihan umum). Pan Islam adalah landasan bersatunya negara Islam dan umat Islam.


Halangan-Halangan Berat.

Tentu saja tujuan mendirikan Kekhalifaan Islam akan mendapat tantangan yang besar sekali. Tantangan tersebut akan lebih besar dari golongan Islam sendiri. Yaitu, penguasa Islam berbentuk kerajaan atau otoriter, dan junta militer. Kedua, akan ditentang dari kalangan orang-orang Islam penganut sekulerisme, dan ketiga dari kelompok penentang keislaman, seperti Blok Barat, Komunis, dan kelompok agama lainnya.

 

1.Pemerintahan Otoriter Setempat

Apabila masyarakat dikawasan Asia Barat dan Aprika Utara ingin membentuk kekhalifaan kembali. Maka rintangan terberat adalah pemerintahan otoriter kawasan tersebut. Seperti di Mesir, dimana kekuatan otoriter militer yang mengendalikan politik dan sosial. Mereka dengan kekuatan tangan besi akan berusaha menghancurkan keinginan masyarakat Islam bersatu membentuk kekhalifaan modern.

Mesir yang sebelum perang dunia pertama adalah bagian dari Kekhalifaan Turki Usmani. Akan selalu menjegal pemikiran persatuan dan persaudaraan keislaman atau Pan Islam. Untuk menghadapi Pemerintahan Otoriter sesungguhnya tidak sulit. Yang diperlukan masyarakat setempat adalah kesatuan aksi dan perjuangan bersama. Kemudian masyarakat melakukan boikot sosial dan tidak mengakui Pemerintahan tersebut dengan tindakan.

Lalu melakukan mobilisasi masa, masyarakat, pemuda dan mahasiswa untuk berdemo secara damai tapi terus menerus. Apabila berhasil revolusi demikian, singkirkan semua kelompok militer dari pemerintahan, terutama yang pernah bersama-sama rezim lama. Jangan sampai tertipu seperti masyarakat Mesir, ditipu oleh El-Sisi. El-Sisi yang awalnya pura-pura mendukung kelompok demokrasi Ikhwanul Muslimin. Kemudian dia mengkudeta presidem demokrasi Mesir pertama, Muhammad Mursi.

Begitu juga dengan pemerintahan monarki seperti Arab Saudi, akan berbuat sama. Mereka akan menentang habis kelompok yang akan mendirikan Demokrasi Islam. Sebab mereka ingin mempertahankan eksistensi mereka sebagai penguasa. Apabila demokrasi yang dipilih masyarakat Asia Barat dan Aprika Utara lalu menyatu menjadi satu kekuatan besar, Kekhalifaan Islam. Maka secara individu dan dinasti mereka tersingkirkan.

Tidak ada lagi gubernur keluarga mereka, jendral hanya keluarga mereka, mentri keluarga mereka. Oleh sebab itulah, mereka akan mempertahankan kekuasaan mereka dengan cara apa pun. Kalau hanya bekerjasama dengan pihak Israel, itu hanya urusan kecil. Mereka akan berbuat apa saja yang lebih dari itu. Karena mereka bukan untuk Islam, tapi untuk kekuasaan.

 

2.Pihak Barat

Pihak Barat dimana kekuatan manusia munafiq yang banyak bersatu. Blok Barat yang disebut-sebut mendukung demokrasi tidaklah demikian. Demokrasi hanya ada dalam wacana politik mereka. Tidak ada demokrasi untuk kelompok Islam. Demokrasi hanya ada pada kelompok masyarakat non muslim atau kelompok sekuler.

Pihak Barat juga akan berusaha menggagalkan upaya demokrasi Islam. Seperti embargo ekonomi sebagaimana Iran yang mendirikan Pemerintahan Islam. Kemudian menghentikan bantuan-bantuan sosial dan pemerintahan. Kemudian melakukan aneksasi kekacauan, salah satunya mendukung pemberontak non muslim, mendukung pemberontak wilayah, mendukung kudeta militer.

Lalu mendukung oposisi, atau bilah perlu mereka menyerang dengan senjata untuk meruntuhkan Pemerintahan Islam. Sebagaimana kita lihat demokrasi di Mesir, saat militer melakukan kudeta menggulingkan presiden Muhammad Mursi. Yang terpilih secara demokratis. Dunia Barat diam dan cenderung mendukung diam-diam. Mereka tahu, Islam akan tumbuh dengan sangat baik apabila dalam iklim demokrasi.

 

3.Kaum Sekuleris

Kaum sekuler adalah kelompok yang sangat anti otokrasi.  Demokrasi kelompok sekuler sesungguhnya tidak pernah tumbuh baik pada masyarakat yang mayoritas Islam. Demokrasi hanya ada bagi mereka yang ingin sekuler, tapi tidak ada untuk kelompok Islam. Demokrasi Islam tidak boleh tumbuh, yang boleh tumbuh adalah demokrasi sekuler.

Kelompok sekuler ini juga akan bekerja keras menghalangi. Mualai menyerang secara ideologis, menyerang secara akademis, menyerang melalui propaganda. Kemudian melakukan oposisi yang keras dan berupaya keras. Kelompok sekuler ini dimotori oleh orang-orang yang takut hidup susa, kurang beriman dan tidak begitu percaya dengan adanya hari pembalasan. Selain itu, kelompok sekuler juga didukung oleh kelompok non muslim.

Mengapa non muslim begitu takut dengan terbentuknya pemerintahan Islam. Ada dua alasan, pertama rasa iri dengki yang dimotori sentimen agama mereka. Kedua, mereka takut tidak mendapat posisi apa-apa pada Pemerintahan Islam. Padahal, dalam Islam menjamin demokrasi yang lebih baik daripada demokrasi sekuler.  Sebab demokrasi sekuler hanya akan digerogoti oleh orang yang beruang dan ladang korupsi yang subur.

Kelompok sekuler ini, adalah kelompok masyarakat yang terpengaruh secara pemikiran dan akademisi pada kebudayaan Barat. Kelompok ini, tidak mampu mengolah pemikiran sendiri, hanya memiliki inspirasi dan mencontoh kehidupan masyarakat Barat.

Non muslim mengira kalau di negara Islam mereka tidak bisa menjadi menteri, atau pejabat tinggi. Padahal Islam akan menerima mereka dengan terbuka menjadi pejabat tinggi.

Pemilihan Umum Memilih Khalifah

Pada masyarakat Islam dalam upaya membentuk pemerintahan Islam dapat dengan sistem demokrasi. Yaitu dengan pemilihan umum untuk kepemimpinan umat Islam, seorang Khalifah. Lalu kepemimpinan dibatasi waktu dengan kesepakatan bersama.

Kalau kita merujuk pada masa pemerintahan Khulafaurasidin. Seorang Khalifah paling sebentar memimpin dua tahun sebagaimana Abu Bakar. Lalu paling lama sepuluh tahun sebagaimana Umar Bin Khatab. Sehingga dalam waktu sepuluh tahun sekali umat Islam melalukan pemilihan umum untuk memilih seorang khalifah.

Untuk pencalonan umat Islam dapat mencalonkan pimpinan masing-masing dengan pertimbangan tertentu. Kedua pencalonan dengan dukungan partai Islam di negara mereka. Pemilihan umum yang adil akan membentuk iklim politik Islam yang baik.

Penyatuan Wilayah Kawasan Asia Barat dan Afrika Utara

Sebuah negara adalah milik rakyat yang mendiaminya. Bukan milik raja, bukan milik militer dan pemerintahannya. Bukan milik kelompok tertentu dengan dinastinya. Kalau penyatuan wilayah pada masa lalu dilakukan perang menaklukkan penguasa setempat.

Pada masa sekarang, penyatuan wilayah tidak dapat lagi dilakukan dengan senjata atau penaklukkan. Sebab manusia sekarang telah memiliki pengetahuan tentang kehidupan mereka. Manusia tidak lagi dapat dikontrol dengan senjata. Maka penyatuan wilayah dapat dilakukan dengan cara momerendum atau penentuan hak bersama. Setelah itu, apabila pemilihan memenangkan keinginan bersatu.

Maka wilayah akan bersatu secara sah. Wilayah-wilayah menjadi kawasan otonomi yang demokrasi, baitu berupa negara bagian, provinsi atau daerah. Keamanan masyarakat tanpa terkecuali dijamin negara. Sehingga masyarakat tidak boleh memiliki senjata api pribadi. Diharapkan, rakyat secara ikhlas menyerahkan senjata-senjata api yang mereka miliki.

Dengan demikian, akan mengakhiri perang antara kelompok di Kawasan Asia Barat dan Afrika Utara. Sekaligus mengakhiri kepemilikan wilayah oleh sekelompok dinasti dan mengakhiri kelompok otoriter seperti di Mesir. Wilayah Kekhalifaan Turki Usmani sebelum runtuh dapat kembali bersatu dalam satu Pemerintahan Islam Demokrasi.

Pemerintahan Pusat dapat membangun kembali ibu kota yang baru dengan sistem yang baru. Bukan berasal dari satu keluarga atau bangsa. Bukan juga berdasarkan ras atau suku bangsa. Tapi berdasarkan Islam yang satu. Islam yang bersaudara, dan Islam yang rahmatan. Pemerintahan Islam dibangun berdasarkan Demokrasi dan Pan Islam. Memiliki perwakilan rakyat dan hukum adalah kekuasaan tertinggi. Kesamaan derajat antara golongan dan bangsa, dalam hal apa pun.

Untuk melakukan konsolidasi masyarakat Islam tidak perlu memperdulikan rezim-rezim yang ada. Rakyat harus mendeklarasikan bersama-sama dengan kemauan bersama. Tinggalkan panatisme kesukuan, panatisme kebangsaan. Kedepankan persaudaraan atas nama Islam untuk membentuk kekhalifaan. Jangan terpancing adu domba pihak mana pun.

Sebab pertarungan dengan senjata akan merugikan. Sebagaimana kita saksikan sekarang di Timur Tengah, Libya, Yaman dan lainnya. Perang saudara hanya merugikan kita. Tapi sikap boiokot dan tidak mengakui pemerintah adalah senjata yang mematikan penguasa setempat. Seperti boikot bayar pajak dan usahakan pertanian sendiri tanpa perlu ketergantungan makan dari pemerintah.

Apabila kekhalifaan Islam Demokrasi terbentuk di suatu kawasan Asia Barat dan Afrika Utara. Kawasan lain dimana wilayah mayoritas Islam seperti Balakan dapat juga melakukan penyatuan wilayah melalui momerendum (Albania). Maka lambat laun akan terbentuk di seluruh dunia, sebab umat Islam dapat menyatukan diri secara individu atau secara negara.

Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah penyadaran umat Islam bahwa bersatu dalam persaudaraan itu lebih baik. Dari pada tercerai berai seperti saat ini. Kedepankan Islam, buang panatisme kesukuan, ras dan kebangsaan. Kekhalifaan modern yang bersifat universal akan berdiri.

Oleh. Karim Abdulah Sayfullah.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra
Palembang, 1 November 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment