8/08/2020

Sastra Klasik Jawa Islam: Naskah Suluk Sujinah.

Apero Fublic.- Mengenal suluk dalam kesastraan Jawa klasik. Terdapat banyak suluk dalam kesastraan Jawa pengaruh Islam, seperti Suluk Sujinah. Menurut Sastroamidjojo (1984) mendepenisikan suluk dengan dua pengertian. Pertama, suluk sejenis puisi Jawa yang berisikan ajaran tasawuf atau mistik.

Kedua, nyanyian atau sejenis tembang yang dilakukan oleh dalang untuk menggambarkan situasi dan kondisi disuatu tempat, atau emosi seperti menggambarkan perasaan sedih, gembira, tenang, marah, dan terkejut dari tokoh wayang (kulit) yang dilakonkannya. Dalam pembahasan ini, pengertian suluk yang pertama. Yaitu, berupa naskah puisi atau tembang yang berisi tentang ajaran Islam.

Suluk juga dapat diartikan “tali pengikat” karena karya-karya yang berupa puisi dan yang berisi ajaran tasawuf itu dipakai sebagai petunjuk atau tali pengikat antara mahluk dengan sekelilingnya, atau petunjuk seseorang untuk sampai pada makrifat Tuhan (Abdul Haq, 1960). Dalam memahami suluk yang berupa puisi harus diterjemahkan oleh orang yang mengerti bahasa dan kebudayaan Jawa. Sehingga makna dan nilai-nilai terkandung di dalam suluk menjadi jelas.

Naskah Suluk Sujinah merupakan koleksi Perpustakaan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia yang bertulis aksara Jawa dan berbahasa Jawa. Berjumlah 187 halaman dan terdiri dari 24 pupuh.

Pupuh adalah judul sub bab dalam naskah. Dalam kesastraan Jawa-Bali klasik pupuh menjadi sub bab pembagi jalan isi naskah. Baik itu naskah berupa hikayat, dongeng, naskah, pupuh menjadi pembentuknya.

Pupuh sub bab yang monoton dimana setiap naskah memakai nama pupu yang sama walai cerita dan isi berbeda dari naska yang berbeda pula. Contoh pupuh: Sinom, Dhandanggula, Asmaradana, Durma, Mijil, Maskumambang, Kinanti, Girisa, dan lainnya.

Bahkan penelitian di Bali menemukan sekitar 200-an nama-nama pupuh. Pemakaian nama pupuh juga selalu berulang-ulang dalam satu naskah. Berikut ini cuplikan dari Naskah Suluk Sujinah, pada pupuh Asmaradana.

Kaca 1
Branta Kingking: Asmaradana
1.Wonten carita winarni.
Prawestri bekti mring priya.
Rabine pandhita kaot.
Kalungkung denya utama.
Aran dewi Sujinah.
Iku priyoga tiniru.
Pawestri bekti mring priya.
 
2.Mulane estri alaki.
Amrih kacangking ing priya.
Aja muhung dunya bae.
Nek teka dunya akheret.
Tan arsa malecaa.
Mulane geguru kakung.
Amrih sampurnaning krama.

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia.

Branta Kingking: Asmaradana 1.
1.Ada suatu cerita mengenai,
Seorang perempuan yang berbakti kepada suami.
Istri dari seorang pendeta.
Yang melebihi kebanyakan orang dan sangat utama.
Perempuan tersebut bernama Dewi Sujinah.
Ia patut untuk diteladani.
Sebagai seorang istri.
Yang berbakti kepada suami.
 
2.Oleh karena itu menjadi seorang istri.
Supaya dapat mengimbangi kedudukan suami.
Jangan hanya memikirkan masalah duniawi saja.
Tetapi juga masalah akhirat.
Agar tidak terpelecok.
Jadi bergurulah pada suami.
Supaya sempurna dalam berumah tangga.

Buku transliterasi Naskah Suluk Sujinah diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, pada tahun anggaran 1992/1993. Apa bila Anda tertarik ingin lebih tahu mendalam. Dapat mencari buku pada perpustakaan-perpustakaan tingkat provinsi di daerah Anda. Atau mengunjungi Perpustakaan Pusat Jakarta.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang. 9 Agustus 2020.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment