-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Dongeng Hikayat Lebung Lintah Di Desa Gajah Mati
Dongeng

Hikayat Lebung Lintah Di Desa Gajah Mati

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
30 Aug, 2020 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 

APERO FUBLIC.- Pada Zaman dahulu Desa Gajah Mati masih berupa talang kecil yang sederhana sekali. Baru sekitar seratus lima puluh rumah saja. Tempat tinggal berupa pondok yang dibangun dengan kayu, beratap daun serdang, berdinding kulit pohon, dan berlantai bilah bambu. Bentuk pondok dengan latai menurun. Pola pemukiman memanjang mengikuti badan sungai. Rumah-rumah pun menghadap ke sungai. Sungai adalah jalur transportasi mereka. Serta memenuhi kebutuhan hidup, seperti mandi, mencuci, dan menangkap ikan.

Belum ada kerajaan yang memerintah di tanah Melayu. Penduduk masih hidup dalam pemerintahan taradisional mereka, bernama Pedatuan. Gelar pemimpin pedatuan adalah Depati, pemimpin talang atau kampung yaitu Datu. Sedangkan gelar kehormatan atau gelar bangsawan, Puyang.

Perahu dan rakit tertambat di tepian madi. Anak-anak selalu bermain di sungai, dan para orang tua bekerja di ladang. Suasana Sungai Keruh selalu ramai hilir mudik perahu-perahu warga. Yang pulang dari ladang atau pulang dari menangkap ikan.

*****

Di ceritakan pada masa itu. Dimana tahun dan tanggal belum ada. Di sisi Talang Gajah Mati hiduplah seorang wanita berumur limapuluhan tahun. Dia tinggal sendiri, karena suaminya telah meninggal lima tahu lalu. Sedangkan sepuluh orang anaknya telah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Warga Talang Gajah Mati memanggilnya, Puyang Malinta.

Puyang Malinta hidup dengan bergelimang harta. Dia selalu meminjamkan emas, perak, padi kepada orang-orang membutuhkan. Tapi dengan bunga yang tinggi sekali. Bunga kalau tidak dibayar akan berbunga juga, lalu bunga itu kalau belum lunas berbunga lagi. Walau kaya tapi dia tidak mau serumah dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Dia lebih suka hidup sendiri dan bersenang-senang. Keluarga dia anggap pengganggu yang membuat dia boros.

*****

Puyang Malinta, seperti biasa duduk berkumpul dengan ibu-ibu. Kebiasaan ibu-ibu berbincang-bincang bercerita apa saja. Menghabiskan waktu senggang mereka. Namun berbeda apabila Puyang Malinta yang berbicara. Dia selalu menyalahkan semua aktivitas orang dan orang tidak pernah benar di matanya. Lewatlah seorang ibu-ibu yang selalu beribadah pada tuhan. Dia membawa persembahan di dalam bakul dan yang dia junjung di atas kepala. Ibu itu wanita yang baik dan jujur.

“Uh, meminta pujian supaya di bilang baik. Ibadahnya cuma meminta dibilang rajin ibadah.” Ujar Puyang Malinta. Tidak lama kemudian lewat seorang ibu-ibu tua yang tidak pernah beribadah. “Uh, rambut sudah uban, selalu keluyuran. Ibadah apa sekali-sekali. Sebentar lagi mati, juga.” Kata Puyang Malintah.

Orang rajin dia bilang serakah dan tamak. Orang malas dia bilang tidak tahu diri, miskin malas. Menikah cepat dia bilang kecepatan. Menikah lambat dia hina-hina. Bukan hanya orang lain, anak dan menantunya juga begitu dia perlakukan. Sehingga mereka semua pindah rumah karena tidak tahan dengan tabiat dari Puyang Malinta.

Puyang Malinta merasa dirinya selalu benar dan tidak pernah salah. Kalau dia salah dengan berbagai jalan dia mau membenarkan dirinya. Kalau dia gagal menguasai seseorang. Dia mulai mengarang cerita bohong untuk mengajak orang membenci orang tersebut. Mulut dan pikiran Puyang Malintah benar-benar buruk dan jahat.

*****

Peristiwa buruk menimpa seorang lelaki yang sudah beristri. Akibat ulah dari mulut Puyang Malinta dia mendapat masalah besar. Ceritanya berawal ketika dia membantu seorang janda yang terjatuh saat menggendong kayu bakar. Seorang warga bercerita tentang hal itu. Tapi ceritanya tidak bermaksud memfitnah. Hanya sebatas bercerita kejadian itu saja, sebab terpelesat.

"Tadi pagi mengambil kayu bakar bersama Ayuk Raya. Kasihan, dia terpelesat, jatu berguling di bukit. Untung keranjang tak menimpa badan. Dia hampir jatuh kebawa bukit. Kalau tak ada Kak Bajau yang membantu. Tak tahu apa yang terjadi." Cerita ibu-ibu itu, pada teman-temannya.

"Memang kasihan ayuk Ruya, ya. Ditinggal mati suami, sekarang mengurus anak seorang diri." Ibu yang di sebelah berkata. Sementara Puyang Malinta diam mendengar cerita itu.

“Sepertinya sudah masak bua beluluk, kita.” Kata ibu muda seraya menggendong anaknya di punggung. Ibu-ibu sering mengolah buah enau bersama-sama untuk membuat kolang-kaling. Setelah masak, mereka mengangkat rebusan buah, lalu ada yang membelah dan ada yang mencongkel buah. Selesai dibagi rata, dan pulang kerumah masing-masing membuat minuman segar.

“Siapa tidak ada buah kelapa, ambil di rumah saya.” Kata salah satunya dan semuanya mengiakan.

“Aku tak ada, boleh minta buah kelapamu.” Kata Puyang Malintah. Sesungguhnya Puyang Malintah memiliki banyak buah kelapa, tapi dia memang serakah.

Sepulang dari sana, dan membawa dua biji kelapa tua. Puyang Malintah pulang kerumahnya. Di soreh harinya dia kemudian bercerita juga dengan ibu-ibu tetangganya. Tapi berbeda, cerita itu ditambah-tambah dengan hal yang mengarah pada perselingkuhan. Puyang Malinta yang memiliki sifat buruk punya niat bikin gaduh. Kemudian memanfaatkan cerita itu yang dia tambah-tambah. Semua ibu-ibu di sana percaya dan asik bergosip yang tidak-tidak.

“Bagaimana bisa si Bajau disana. Bisa-bisanya kebetulan sekali. Padahal Bajau ladangnya jauh.” Kata Puyang Malintah menghasut pemikiran ibu-ibu itu.

“Tak baik, kalau laki-laki terlalu dekat dengan janda. Ibarat pepatah, kalau elang berteman dengan ayam, cepat atau lambat disambar juga.” Kata seorang ibu-ibu lainnya.

Cerita yang bertambah-tambah itu berkembang menjadi fitnah. Dari mulut ke mulut dan sampai ke telinga istri si Bajau. Padahal Bajau hanya kebetulan lewat hendak pergi berburu ke hutan. Akhirnya mendapat fitnah dan dia menjadi bertengkar hebat dengan istrinya. Bahkan hampir saja bercerai. Begitulah mulut Puyang Malinta selalu berbuat demikian sepanjang hidupnya. Hasut dan hasad adalah ahlak dirinya. Sangat pandai membaca keburukan orang. Tapi dia lupa atas keburukan dirinya sendiri.

*****

Memasuki bulan kemarau di tahun itu. Seperti biasa ibu-ibu tetangga Puyang Malinta duduk bergabung dengan kerumunan warga. Tempat duduk berupa bangku sederhana berlantai bilah batang pinang diteduhi pohon beringin. Sore itu, lewat seorang anak berumur tiga belasan tahun. Anak itu, menjual makanan dan sayuran. Berbaju sederhana dan ada tambalannya. Melihat anak itu, dia bertanya anak siapa.

“Anak siapa itu?. Tanya Puyang Malintah.

“Anak Uwa Badun.” Jawab seorang ibu-ibu. Mendengar nama Pak Badun, Puyang Malinta mengenali Pak Badun. Mulai Puyang Malinta bercerita keburukan keluarga besar Pak Badun. Mulai dari kakek-nenek Pak Badun sampai anak yang baru saja lewat dia rendahkan.

“Jangan kalian mau menjadikan anak itu menantu, sebab keluarga mereka semua miskin dan tidak baik. Agar keturunan kalian tidak tertular keburukan keluarga mereka.” Ujar Puyang Malinta, di lehernya tampak menggantung kalung emas besar.

*****

Suatu hari yang cerah, Puyang Malintah jalan-jalan di tengah Talang. Dia memamerkan kalung emas dan perhiasan lainnya. Bajunya juga tenunan sutra terbaru, paling indah pada masanya. Dia membelih dari pedagang Tiongkok yang datang berdagang. Berjumpalah dia dengan seorang anak muda yang sedang bekerja membersihkan kayu gaharu untuk dijual ke pedagang Tiongkok di kota Pedatuan.

"Kamu kalau masih bujang jangan rajin bekerja. Karena, saat sudah menikah nanti kamu akan jadi pemalas." Ujar Puyang Malinta. Puyang Malinta iri pada anak muda itu. Dia takut nanti anak muda itu lebih kaya dari dirinya. Selain itu, dia iri sebab anak-anaknya semua pemalas dan bodoh.

"Puyang, sebagai anak muda kita memang harus bekerja. Mencari pendapatan sendiri, untuk membantu ekonomi keluarga. Menabung untuk keperluan sendiri, untuk keperluan belajar, untuk menikah dan lainnya. Kalau masah muda dihabiskan bermalas-malas, bagaimana punya tabungan di saat sudah menikah. Bukerja juga harus di biasakan, agar hidup terlatih bekerja keras. Mengapa negeri kita tidak maju-maju, sebab hampir semua anak muda  membuang masa muda dengan perbuatan salah. Lihat para pedagang dari negeri seberang. Mereka rajin saat muda dan berusaha setelah menikah." Jawab anak muda itu. Mendengar jawaban si pemuda membuat Puyang Malintah malu sendiri.

Sampai sekarang di Desa Gajah Mati dan di kecamatan mereka, penduduk masih percaya dengan mitos kalau seorang pemuda rajin bekerja saat masih bujangan, saat sudah menikah akan menjadi pemalas. Orang bilang yang percaya dan berkata demikian kemungkinan dia keturunan Puyang Malinta.

*****

Suatu hari, Puyang Malinta berkeliling talang, dia kemudian berjumpa dengan beberapa orang anak muda yang malas-malasan.

“Aku nak menasihati kalian ini. Janganlah kalian malas-malas begitu. Harus sadar diri, awak miskin, rupa pun jelek. Apalah guna bujang macam kalian ini. Baiklah kalian bekerja sibukkan diri dengan yang bermanfaat." Kata Puyang Malintah. Menurutnya dia menasihati. Tapi si pemuda menjadi marah besar.

“Ah, Puyang ini. Sibuk menasihati orang. Coba nasihati dirimu sendiri, sudah tua masih sombong. Dimana kau berkata, disitu kau membuat onar.” Kata seorang anak muda dan semua temannya tampak marah juga.

*****

Waktu berlalu dan Puyang Malinta tidak pernah sadar diri. Pada suatu hari, datanglah seorang pedagang alat-alat rumah tangga. Menjual piring, cangkir, cerek, semuanya terbuat dari gerabah. Hari itu, semua barang-barang habis terjual. Di perahu kajang juga sudah terjual semua. Sehingga banyak mendapat kepingan emas dan perak. Kepingan emas dan perak alat tukar menukar barang masa itu. Wadah kepingan emas atau perak berupa kantong yang terubat dari kain.

Pedagang itu, meletakkan kantong emas dan kantong perak di dalam keranjang. Sebelum dagangan habis, keranjang itu wadah barang jualannya. Karena lelah, si pedagang beristirahat di bawah sebatang pohon liar di tepi jalan. Puyang Malinta lewat di hadapan si pedagang. Lalu terjadilah percakapan diantara keduanya.

“Sudah habis semua barang-barangnya, Tuan?.” Tanya Puyang Malinta.

“Iya, sudah habis semua.” Jawab si pedagang tersenyum bahagia. Puyang Malinta mendekat dan tanpa sengaja melihat kantong emas di dalam keranjang si pedagang gerabah. Timbul niat jahat, dia ingin mencuri kantong emas itu. Maka dia mencari akal bagaimana mencurinya. Di ujung jalan terdengar suara anak-anak yang akan lewan di hadapan mereka. Tampak empat orang anak-anak laki-laki mendekat. Puyang Malinta berpikir keras, dia pun menemukan ide. Dia panggil ke empat orang anak itu.

Anak-anak polos itu menurut dan mendekat Puyang Malinta dan si Pedagang Gerabah yang sedang beristirahat. Puyang Malinta akhirnya duduk di sisi pedagang. Dia berkata pada anak-anak kalau dia mau berandai-andai tentang kancil yang cerdik. Tapi dengan syarat harus menari berkeliling tempat duduk dimana dia dan si pedang gerabah istirahat, sebanyak lima keliling. Anak-anak polos itu mau dengan syarat yang mudah sekali. Dua tangan diletakkan dibahu kawan dan berlari kecil beriringan. Andai-andai adalah hiburan yang luar biasa pada masa itu.

Pada putaran ke empat, Puyang Malinta menarik kayu kecil melintang. Sehingga membuat anak-anak terjatuh. Tanpa ampun empat anak-anak itu terjatuh dan menyerempet si pedagang gerabah. Lalu tubuh pedang gerabah terdorong dan dia menjadi lengah.

Dalam keadaan itulah, tangan Puyang Malinta menyambar kantong keping emas di dalam keranjang. Lalu dengan cepat dia masukkan kedalam saku bajunya.

“Dasar anak-anak tidak sopan. Begitu saja tidak bisa, menabrak orang tua.” Ujar Puyang Malinta marah-marah. Dia meminta anak-anak itu untuk minta maaf pada si pedagang. Ke empat anak-anak itu saling menyalakan dan meminta maaf pada si pedagang. Kemudian Puyang Malinta pamit pergi dia beralasan ke empat anak-anak tidak sopan. Jadi dia tidak mau berandai-andai. Anak-anak itu kecewa dan pulang juga. Tinggal si pedagang gerabah yang kebingungan. Saat dia menyadari kepingan emas dan peraknya hilang. Barulah dia sadar, kalau telah dipermainkan Puyang Malinta.

Pedagang gerabah pergi mengadu ke rumah Datu Talang Gajah Mati. Mendengar cerita itu, Datu meminta hulubalang untuk memanggil Puyang Malinta dan empat anak-anak itu. Karena merekalah yang berdekatan dengan si pedagang di bawah pohon saat dia beristirahat.

“Puyang Malinta, Baku, Tuwa, Luga dan Mana. Jawablah dengan jujur, siapa yang mengambil emas dan perak Tuan Pedagang ini. Kalau kalian mengaku dan mengembalikan, maka tidak dihukum. Serta berjanjilah tidak akan mengulangi perbuatan jahat itu!.” Kata Datu Talang Gajah Mati dengan suara tegas.

Anak-anak yang polos hanya menjawab tidak dan menggeleng polos. Sementara Puyang Malinta berkata sangat pandai dan bersilat lidah yang sangat lihai. Bahkan dia menyudutkan kalau salah satu di antara anak-anak itu yang mungkin mengambil.

“Tidak mungkin Aku. Aku memiliki banyak emas, perak, tembaga dan harta benda lainnya. Kurang ajar sekali kalau sampai menuduh Aku. Aku sudah tua, mana mungkin berbuat memalukan begitu. Lihat di tanagn dan leherku, semuanya emas.” Kata Puyang Malinta dengan marah-marah. Dia berakting menutupi salahnya. Karena datu dan hulubalang tidak dapat membuktikan. Maka salah satu jalan terakhir adalah bersumpah. Maka dipersipakanlah acara persumpahan.

Tapi Puyang Malinta tidak mau bersumpah. Dia bilang sumpah tidak berguna sebab orang masih bisa berbohong. Dia hanya ingin bukti yang jelas bukan bermain sumpah. Karena itu, pedagang akhirnya mengalah dan mengiklaskannya. Sebelum pergi, si pedagang gerabah berkata.

“Aku serahkan pada tuhan yang maha kuasa. Hukuman dan balasan terbaik datang dari tuhan semesta alam. Terimakasih waktunya, saya pamit untuk pulang, Puyang Datu dan adinda Hulubalang selamat tinggal.” Katanya. Pedagang itu, pulang berjalan menuju Sungai Keruh. Dijalan, dia melihat banyak kubangan kerbau, lalu dia melempar batu ke dalam kubangan. Entah apa yang dia baca, kemudian dia melanjutkan perjalanan menuju Sungai Keruh dimana perahu kajang miliknya tertambat.

"Siapa nama tuan pedagang itu, hulubalang?." Tanya Datu, sambil matanya memperhatikan langkah pedagang yang semakin jauh.

"Dia dijuluki Puyang Makbol Kato, saudara seperguruan dari Puyang Kilat Kemaru dan Puyang Burung Jauh. Tempat tinggalnya di Minanga, Datu." Jelas hulubalang yang memang mengetahui sebab dia kepala keamanan, tentu orang asing datang dalam pengawasanya. Datu Talang Gajah Mati terkejut. Sekarang mereka tahu berhadapan dengan orang sakti.

*****

Keesokan harinya cuaca kurang baik. Angin dan mendung terus-menerus dari pagi sampai siang. Puyang Malinta merasa gembira sekali mendapat emas dan perak curian. Dia tertawa-tawa dan menyebut pedagang gerabah yang bodoh. Karena hari sudah siang, Puyang Malinta ingin mandi ke Sungai Keruh. Dia masukkan emas dan perak curian kedalam kotak penyimpanan yang terbuat dari kayu belian atau kayu besi. Kayu yang sangat baik kualitasnya.

Puyang Malinta menatap langit yang mendung dan gerimis. Dia akhirnya pergi mandi menuju tepian mandi. Di pertengahan jalan, tepat di sisi kubangan kerbau. Angin berhembus kencang dan kilat berkali-kali menyalah. Terdengar suara guntur, petir dan hujan turun lebat.

Tiba-tiba petir menyambar tubuh Puyang Malinta. Tanpa ampun tubuhnya hangus terbakar oleh sambaran petir. Puyang Malinta tewas seketika. Tubuhnya yang menghitam jatuh kedalam lumpur kubangan kerbau di sisi jalan. Air kubangan menciprat kesana kemari saat tubuhnya terjatuh.

“Ya tuhan, puyang Malinta tersambar petir.” Beberapa orang warga berlarian bermaksud menolong. Namun petir terus menyambar-nyambar. Sehingga penduduk berlai pulang, memberi tahu Datu dan keluarga Puyang Malinta. Hujan turun dengan lebat dan deras sekali, selama tiga hari tiga malam.

*****

Air menggenangi sekitar kubangan kerbau itu. Jenaza Puyang Malinta tampak mengapung. Anak-anak puyang Malinta dan warga Talang Gajah menemukan jenazanya yang mengenaskan. Keluarga Puyang Malinta dibantu warga mencoba mengambil jenazah.

Tapi saat mereka akan masuk air kubangan kerbau mereka melihat ribuan hewan aneh yang belum pernah mereka lihat. Hewan-hewan kecil hitam itu menyerang mereka dengan cara menggigit lalu menghisap darah. Warga yang terkena gigit terpekik dan semua berlarian keluar kubangan kerbau. Menjerit-jerit saat melepaskan hewan mengerikan itu. Dari bekas gigitan mengucur darah segar. Membuat semua orang takut dan tidak mau membantu mengambil jenazah Puyang Malinta. Lalu hewan itu dinamakan, Lintah.

Dengan terpaksa, jenazah Puyang Malinta terkubur di dalam kubangan kerbau. Waktu demi waktu, bulan berganti dan tahun berlalu. Kubangan kerbau yang awalnya sukuran sepuluh meter persegi. Waktu demi waktu air terus menggenang dan terjadi pengikisan tanah. Kubangan kerbau terus melebar dan melebar.

Seiring waktu, berabad-abad telah berlalu lamanya. Kubangan kerbau yang melebar kini menjadi lebung. Warga Talang Gajah Mati menamakannya dengan, Lebung Lintah. Lebung lintah, masih ada sampai sekarang di sisi Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin.

*****

Demikianlah, kisah manusia yang mendapat hukuman akibat sifat buruknya. Sombong, suka berkata-kata buruk, menghasut dan berkata-kata bohong. Suka membicarakan kekurangan orang dan tidak menyadari kekurangan diri sendiri. Suka berkata buruk yang menyebut aib orang dari kakek-nenek sampai anak cucunya. Suka menghasut orang banyak dengan kata-kata yang dia tambah-tambah sesuai nafsunya. Mengarang-ngarang cerita tahayul, juka suka untuk merendahkan orang lain. Hanya karena dirinya punya sedikit harta atau jabatan.

Konon penduduk Talang Gajah Mati yang memiliki sifat demikian masih keturunan dari Puyang Malinta. Selain itu, keturunan juga menyebar di Marga Sungai Keruh dan dibelahan dunia ini. Salah satu ciri-ciri keturnan puyang Malinta dia suka berkata-kata.

“Masih bujang jangan rajin bekerja, nanti kalau sudah menikah akan jadi pemalas.”

Selain itu, orang-orang berkata demikian adalah orang bodoh yang tidak punya pengetahuan hidup. Dia beranggapan masa muda baiklah dihabiskan berbuat buruk dan tidak baik. Agar orang tersebut kelak menjadi orang miskin dan bodoh seperti dirinya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 30 Agustus 2020.


Daftar kata: Lebung: Tempat penampungan air alami terletak di kawasan tanah renah. Lebung bentuknya seperti danau hanya saja ukurannya lebih kecil. Selain menampung air hujan lebung juga menjadi bagian penampungan air hujan saat terjadi banjir alami di sepanjang aliran sungai-sungai (daerah tanah renah).

Hulubalang: Perwira atau pemimpin prajurit semasa kerajaan zaman dahulu. Datu: Gelar kepala desa zaman dahulu sebelum masuknya pengaruh hindu-budha dan Islam. Pedatuan: Pemerintahan bersifat genoalogis atau sistem marga pada zaman kedatuan Sriwijaya-Kesultanan.

Talang: Nama pemukiman penduduk Melayu pada zaman dahulu. Kalau sekarang desa. Seiring waktu Talang  berubah makna misalnya kebun buah-buahan atau pemukiman kecil yang sederhana di dalam hutan. Gerabah: Barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat.

Sy. Apero Fublic.
Via Dongeng
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

PWI Sumatera Selatan

PWI Sumatera Selatan
Seluruh Wartawan PWI Sumatera Selatan Mengucapkan Selamat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 Tahun

Post Populer

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
Tegaskan Komitmen Sinkronisasi Pembangunan Daerah

Tegaskan Komitmen Sinkronisasi Pembangunan Daerah

Sunday, June 15, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
PERJUANGAN: Kisah Akan Terukir Bagi Yang Tak Pernah Menyerah

PERJUANGAN: Kisah Akan Terukir Bagi Yang Tak Pernah Menyerah

Tuesday, August 05, 2025
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Kunjungan Tim 1 Patriot Universitas Diponegoro ke Pustu UPT 2 Trans Air Balui

PT. Media Apero Fublic- Friday, August 29, 2025 0
Kunjungan Tim  1 Patriot Universitas Diponegoro ke Pustu UPT 2 Trans Air Balui
APERO FUBLIC . MUSI BANYUASIN .- Musi Banyuasin, 29 Agustus 2025 – Tim 1 Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kunjungan pra-survei ke Puskesmas …

PUBLIKASI PEMKAB

PUBLIKASI PEMKAB
Kabupaten Musi Banyuasin

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 2025323
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019281

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Andai-Andai APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Berita Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Biruisme Bola Brand Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Daratan Daratan dan Hutan Dongeng Dongeng Dunia Dunia Anak e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi FASHION Fauna Film Flora Fotografi Gatget Healthy & Fitness Himpunan Muslim Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ilmu Kesastraan Info Desa Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial Jurnal AF Jurnalisme Kita Kabar Buku Kampus Kata Mutiara Kepemimpinan Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita kesenian Kisah Legenda Kriminal Kuliner Laporan Penelitian Majalah Kaghas Mask Mitos Musik Olah Raga Opini Otomotif Pantun Pariwisata PDF Pemerintahan Pendidikan Penyakit Masyarakat Pertanian dan Alam Politik Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi PraLeader Problematika Seks Propaganda Public Figure Puisi Puisi Akrostik Pustakawan PWI PWI SumSel Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Seniman Sepeda Listrik Sepeda Motor Skil Wanita Smart TV Sosial dan Masyarakat Sport Sudut Pandang Sumber Air Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Teknologi Tokoh Wanita UKM-Bisnis Video Women World

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal
    APERO FUBLIC. MUBA.- Setelah berhasil melakukan peralihan pengelolaan kelistrikan dari PT MEP ke PLN, Bupati Muba H M Toha bersama Wakil Bup...
  • Tegaskan Komitmen Sinkronisasi Pembangunan Daerah
    APERO FUBLIC. SUMATERA SELATAN.- Palembang – Bupati Muba H. M Toha, didampingi Kepala Dinas Kominfo Muba Herryandi Sinulingga dan Kepala Ba...
  • e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II
    Apero Fublic.- Ilalang atau juga sering di sebut alang-alang memiliki nama ilmiah  imperata cylindrica . Ilalang jenis rumput berdaun ...
  • PERJUANGAN: Kisah Akan Terukir Bagi Yang Tak Pernah Menyerah
    APERO FUBLIC. OPINI.- Perkenalkan saya Nurkarima, lahir 24 tahun silam. Anak kedua dari empat bersaudara. Perjumpaan kita melalui tulisan k...
  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • Malam Grand Final Pelopor Anak Muba 2025: Selamat Alya dan Rakha Terpilih sebagai "Pelopor Anak Muba 2025"
    APERO FUBLIC. MUSI BANYUASIN.- Malam gemilang Grand Final Pemilihan Pelopor Anak Muba Tahun 2025 di Gedung Dharma Wanita Sekayu, Kamis (21/...
  • JAWA BARAT: PWI Sumatera Selatan Terima Undangan Kongres 2025
    Kurnaidi Ketua PWI SumSel Saat Menyerahkan Bantuan Bersama Pengurus PWI SumSel beberapa waktu lalu (Doc: PWI Sumsel) APERO FUBLIC. PALEMBANG...
  • Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.
    APERO FUBLIC.- Raden Kamandaka sebuah cerita rakyat dari dari daerah Banyumas, Jawa Tengah. Cerita Rakyat ini bercerita tentang Keraja...
  • Kisah Singkat Perjuangan Seorang Penjaga Sekolah dan Penjual Makanan di Kantin Sekolah yang Berusaha Untuk Menyekolahkan Anak-Anaknya
    APERO FUBLIC. OPINI.- Perkenalkan Nama saya Nurkarima, saya berusia 24 tahun dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara Ini adalah kisa...
  • Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
    Apero Fublic.- Pantun Daerah dari Dataran Negeri Bukit Pendape ini adalah warisan pantun berbahasa Melayu. Hadir dari buah pemikiran ne...

Editor Post

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Mengenal Masjid Berkubah Tertua di Indonesia

Mengenal Masjid Berkubah Tertua di Indonesia

Tuesday, April 21, 2020
Dongeng si Kera dan si Bangau. Dari Sulawesi Utara

Dongeng si Kera dan si Bangau. Dari Sulawesi Utara

Saturday, January 18, 2020
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
Legenda Kisah Cinta  I Jayaprana dan Ni Layonsari dari Bali

Legenda Kisah Cinta I Jayaprana dan Ni Layonsari dari Bali

Tuesday, January 14, 2020
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025

Popular Post

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
Tegaskan Komitmen Sinkronisasi Pembangunan Daerah

Tegaskan Komitmen Sinkronisasi Pembangunan Daerah

Sunday, June 15, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
PERJUANGAN: Kisah Akan Terukir Bagi Yang Tak Pernah Menyerah

PERJUANGAN: Kisah Akan Terukir Bagi Yang Tak Pernah Menyerah

Tuesday, August 05, 2025
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Malam Grand Final Pelopor Anak Muba 2025: Selamat Alya dan Rakha Terpilih sebagai "Pelopor Anak Muba 2025"

Malam Grand Final Pelopor Anak Muba 2025: Selamat Alya dan Rakha Terpilih sebagai "Pelopor Anak Muba 2025"

Saturday, August 23, 2025
JAWA BARAT: PWI Sumatera Selatan Terima Undangan Kongres 2025

JAWA BARAT: PWI Sumatera Selatan Terima Undangan Kongres 2025

Friday, August 08, 2025
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Kisah Singkat Perjuangan Seorang Penjaga Sekolah dan Penjual Makanan di Kantin Sekolah yang Berusaha Untuk Menyekolahkan Anak-Anaknya

Kisah Singkat Perjuangan Seorang Penjaga Sekolah dan Penjual Makanan di Kantin Sekolah yang Berusaha Untuk Menyekolahkan Anak-Anaknya

Tuesday, August 05, 2025
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020

Populart Categoris

Andai-Andai 1 Artikel 38 Berita 319 Berita Daerah 494 Berita Internasional 20 Berita Nasional 396 Brand 117 Budaya Daerah 29 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 23 Cerita Rakyat 12 Cerpen 10 Dongeng 66 Ekonomi 14 Elektronik 21 FASHION 9 Fauna 4 Flora 62 Healthy & Fitness 14 Ibu dan Anak 1 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 2 Jurnalisme Kita 17 Kampus 107 Kesehatan 6 Kisah Legenda 10 Kuliner 20 Mitos 15 Olah Raga 41 Opini 61 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 36 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 47 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 1 Sastra Kita 22 Sastra Klasik 53 Sastra Lisan 12 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 28 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 7 Tablet 20 Teknologi 126 Tokoh Wanita 9 UKM-Bisnis 12 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23 kesenian 3
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us