8/29/2020

Hikayat Lebung Lintah Di Desa Gajah Mati

 

Apero Fublic.- Andai-Andai dari puyang Hikayat Lebung Lintah. Hikayat asli dari masyarakat Dataran Negeri Bukit Pendape telah diceritakan turun temurun. Dataran Negeri Bukit Pendape adalah nama tradisional dari wilayah seberang Kabupaten Musi Banyuasin. Meliputi Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, dan sebagian dari Kecamatan Sekayu dan beberapa kecamatan lainnya.

Hikayat ini muncul dari Desa Gajah Mati di Kecamatan Sungai Keruh. Zaman dahulu Desa Gajah Mati masih berupa pemukiman Talang. Baru sekitar seratus lima puluh rumah saja. Rumah-rumah masih sederhana sekali masa itu.

Belum ada kerajaan yang memerintah di tanah Tua Melayu. Penduduk masih hidup dalam pemerintahan taradisional orang Melayu, Pedatuan. Gelar pemimpin adalah Datu. Gelar bangsawan adalah Puyang. Puyang orang yang dianggap sakti atau memiliki kekuatan gaib. Datu kalau di daerah Batak adalah seorang dukun.

Rumah-rumah penduduk Talang Gajah Mati berada di pinggiran Sungai Keruh. Rumah panggung tipologi basepat yang lantainya bertingkat tangga. Atap terbuat dari sirap bambu dan ijuk. Perahu dan rakit tertambat di tepian madi. Anak-anak selalu bermain di sungai, dan para orang tua bekerja di ladang. Suasana Sungai Keruh selalu ramai hilir mudik perahu-perahu warga. Yang pulang dari ladang atau pulang dari menangkap ikan.

Lebung Lintah pada awalnya tidak ada. Hanyalah hutan yang terdiri dari banyak bekas kubangan kerbau. Penduduk sering melewati saat akan mandi ke Sungai Keruh. Posisi lebung linta berada di sisi tepi Desa Gajah Mati. Tidak jauh dari Masjid Thoibatul Ihsan sekarang.
*****
Pada masa itu, dimana tahun dan tanggal belum ada. Di sisi Talang Gajah Mati hiduplah seorang wanita berumur limapuluhan tahun. Dia tinggal sendiri, karena suaminya telah meninggal lima tahu lalu. Sedangkan sepuluh orang anaknya telah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Orang Talang Gajah Mati memanggilnya, Puyang Malinta.

Puyang Malinta hidup dengan bergelimang harta. Dia selalu meminjamkan emas, perak, padi kepada orang-orang. Tapi dengan bunga yang tinggi sekali. Bunga kalau tidak dibayar akan berbunga juga, lalu bunga itu kalau belum lunas berbunga lagi. Walau kaya tapi dia tidak mau serumah dengan anak-anaknya. Dia lebih suka hidup sendiri dan bersenang-senang.
******
Puyang Malinta memiliki sifat yang buruk sekali, jahat, culas, keji, dan dengki. Dia selalu menjelekkan orang, menggosipkan orang, membuat cerita palsu, membesar-besarkan isu-isu yang tidak ada buktinya, dan sangat suka membicarakan aib orang. Puyang Malinta sangat suka berkata menyakitkan hati orang lain. Membicarakan keburukan keluarga orang dan yang paling parah dia lebih-lebihkan dan dia tambah-tambah. Sehingga semakin buruk pandangan orang pada yang mereka perbincangkan.

*****
Puyang Malinta seperti biasa duduk berkumpul dengan ibu-ibu. Kebiasaan ibu-ibu berbincang-bincang tanpa arah, kesana kemari entah apa yang dibahas. Namun berbeda apabila Puyang Malinta yang berbicara. Dia selalu menyalahkan semua aktifitas orang dan orang tidak pernah benar di matanya. Suatu hari saat mereka duduk-duduk di pangkeng. Lewatlah seorang ibu-ibu yang selalu beribadah pada tuhan. Ibu itu wanita yang baik dan jujur.

“Uh, sok alim dan sok baik. Ibadahnya cuma meminta dibilang rajin ibadah.” Ujar Puyang Malinta. Tidak lama kemudian lewat seorang ibu-ibu tua yang tidak pernah beribadah. “Uh, rambut sudah uban, selalu keluyuran. Ibadah apa, kan sebentar lagi mati, juga.” Kata Puyang Malintah. Perilaku Puyang Malinta terus begitu. Orang berbuat A dia bilang salah. Orang Berbuat apa selalu ada salahnya.

Orang rajin dia bilang serakah dan tamak. Orang malas dia bilang tidak tahu diri, miskin malas. Menikah cepat dia bilang kecepatan. Menikah lambat dia hina-hina. Bukan hanya orang lain, anak dan menantunya juga begitu dia perlakukan. Sehingga mereka semua pindah rumah karena tidak tahan dengan tabiat dari Puyang Malinta.

Selain orang salah terus dan tidak pernah benar. Puyang Malintah juga pandai berbuat gosip. Menambah-nambah omongan orang yang tidak memiliki sumber. Berbekal kata orang, lalu dia mengarang cerita disertai caci maki. Menghina dan merendahkan orang lain.

Puyang Malinta merasa dirinya selalu benar dan tidak pernah salah. Kalau dia salah dengan berbagai jalan dia mau membenarkan dirinya. Kalau dia gagal menguasai seseorang. Dia mulai mengarang cerita bohong untuk mengajak orang membenci orang tersebut.
*****
Sebuah kejadian buruk pada seorang lelaki beristri. Akibat ulah dari mulut Puyang Malinta. Cerita berawal ketika seorang lelaki bersuami membantu seorang janda yang terjatuh saat menggendong kayu bakar. Si lelaki bersuami membantu memungut kayu bakar yang berserakan dan membantu mengangkat. Seorang warga Talang Gajah mati bercerita tentang hal itu. Karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tapi ceritanya tidak bermaksud memfitnah. Hanya sebatas bercerita kejadian saja.

"Tadi, Ayuk Ruya terjatuh berguling di bukit, saat mengangkut kayu bakar dengan keranjang. Kasihan sekali menyaksikannya. Jalan licin karena baru selesai hujan. Untunglah, ada Kakak Bajau yang membantu." Cerita ibu itu.
"Adu, kasihan Ayuk Ruya. Ditinggal mati suami, sekarang mengurus anak seorang diri." Ibu yang di sebelah berkata. Puyang Malinta yang mendengar cerita itu. Kemudian bercerita juga dengan kelompok gosip ibu-ibu. Tapi dia cerita itu ditambah-tambah dengan hal yang mengarah pada perselingkuhan.

Puyang Malinta yang jahat dan berhati busuk. Kemudian menyebar cerita itu dengan dia tambah-tambah. Dia tambah kalau si janda dan suami orang itu sering bertemu. Keduanya sangat dekat dan suka saling membantu.

Entah hubungan apa yang mereka lakukan. Cerita yang bertambah-tambah itu berkembang menjadi fitnah. Si Bajau, yang hanya menolong baru sekali itu saja. Akhirnya mendapat fitnah dan dia menjadi bertengkar dengan istrinya. Bahkan hampir saja bercerai. Puyang Malinta selalu berbuat demikian sepanjang hidupnya. Hasut dan hasad adalah ahlak dirinya. Sangat pandai membaca keburukan orang. Tapi dia lupa atas keburukan dirinya sendiri.

*****

Memasuki bulan kemarau di tahun itu. Seperti biasa penduduk Talang Gajah Mati duduk-duduk di pangkeng. Semacam bangku yang terbuat dari kayu dan bambu. Puyang Malinta kembali datang melihat kerumunan warga. Sore itu, lewat seorang anak berumur lima belasan tahun. Anak itu, menjual makanan dan sayuran. Berbaju sederhana dan ada tambalannya. Melihat anak itu, dia bertanya anak siapa.
“Anak siapa itu?.
“Anak Uwa Badun.” Jawab seorang ibu-ibu. Mendengar nama Pak Badun, Puyang Malinta mengenali Pak Badun. Mulai Puyang Malinta bercerita keburukan keluarga besar Pak Badun. Mulai dari kakek-nenek Pak Badun sampai anak yang baru saja lewat dia caci maki. Dia menceritakan keburukan tiap orang keluarga Pak Badun.

*****
"Kamu kalau masih bujangan jangan rajin bekerja. Karena kalau sudah menikah kamu tidak rajin bekerja lagi, jadi pemalas." Ujar Puyang Malinta. Puyang Malinta iri pada anak muda itu. Dia takut nanti anak muda itu lebih kaya dari dirinya. Pemuda itu menjawab.
"Puyang, sebagai bujang kita memang harus bekerja. Mencari pendapatan untuk membantu ekonomi keluarga. Membantu ibu dan ayah, menabung untuk keperluan sendiri. Belajar ilmu agama, belajar bekerja. Sebab masa muda tidak dua kali. Kalau rajin bekerja tidak tergantung masih bujang atau sudah menikah. Itu tergantung pada pemikiran kita. Mengapa daerah kita 95% penduduknya miskin karena mereka membuang masa muda dengan perbuatan salah." Jawab si pemuda dengan tegas. Suatu hari Puyang Malinta bertemu dengan pemuda yang pemalas.
"Aku nak menasihati kau. Janganlah kau malas-malas begitu. Harus sadar diri, awak miskin, rupa jelek juga. Apalah guna kau ini, dan manfaat manusia seperti kau ini. Berentilah kau jadi pamalas begini." Kata Puyang Malintah.

*****
Waktu berlalu dan Puyang Malinta tidak pernah sadar diri. Pada suatu hari, lewatlah seorang pedagang alat-alat rumah tangga. Menjual piring, cangkir, cerek, semuanya terbuat dari gerabah. Hari itu, semua barang-barang habis terjual. Di perahu kajang juga sudah terjual semua. Sehingga banyak mendapat beberapa lempengan emas dan perak. Lempengan emas dan perak hasil tukar menukar dia simpan di kantong yang terubat dari kain. Lalu dia letakkan didalam keranjang kecil menggantung di bahunya. Zaman itu, orang berdagang masih sistem barter atau tukar menukar.

Karena lelah, si pedagang beristirahat di bawah sebatang pohon liar di tepi jalan. Puyang Malinta lewat di hadapan si pedagang. Lalu terjadilah percakapan diantara keduanya.

“Sudah habis semua barang-barangnya?.” Tanya Puyang Malinta.

“Iya, sudah habis semua.” Jawab si pedagang tersenyum bahagia. Puyang Malinta mendekat dan tanpa sengaja melihat buntalan emas di dalam keranjang si pedagang gerabah. Timbul niat jahat, dia ingin mencuri buntalan itu. Dia tahu ada beberapa keping emas dan banyak perak. Maka dia mencari akal bagaimana mencurinya. Di ujung jalan terdengar suara anak-anak yang akan lewan di hadapan mereka. Tampak empat orang anak-anak laki-laki mendekat. Puyang Malinta berpikir keras, dia pun menemukan ide. Dia panggil keempat orang anak itu.

Anak-anak polos itu menurut dan mendekat Puyang Malinta dan si Pedagang Gerabah yang beristirahat. Puyang Malinta akhirnya duduk di sisi pedagang. Dia berkata pada anak-anak kalau dia mau berandai-andai tentang kancil yang cerdik. Tapi dengan syarat harus menari berkeliling tempat duduk dia dan si pedang gerabah sebanyak lima keliling. Anak-anak polos itu mau dan itu syarat yang mudah sekali. Dua tangan diletakkan dibahu kawan dan berlari beriringan.

Anak-anak itu lalu berkeliling bersamaan. Pada putaran ke empat Puyang Malinta menarik kayu kecil melintang saat anak-anak itu berkeliling tempat duduk mereka. Tampa ampun empat anak-anak itu terjatuh dan menyerempet si pedagang gerabah. Lalu tubuh pedang gerabah terdorong dan dia menjadi lengah.

Dalam keadaan itulah, tangan Puyang Malinta menyambar buntalan keping emas di dalam keranjang si pedagang. Lalu dengan cepat dia masukkan kedalam saku bajunya. Karena anak-anak itu terjatuh. Terjatuh karena perbuatan Puyang Malinta sendiri. Puyang Malinta pura-pura marah pada anak-anak itu.

“Dasar anak-anak tidak sopan.” Ujar Puyang Malinta. Dia meminta anak-anak itu untuk minta maaf pada si pedagang. Keempat anak-anak itu saling menyalakan dan meminta maaf pada si pedagang. Kemudian Puyang Malinta pamit pergi dan anak-anak juga pulang. Tinggal si pedagang gerabah yang kebingungan. Saat dia menyadari kepingan emas dan peraknya hilang. Barulah dia sadar, kalau telah dipermainkan Puyang Malinta.

Pedagang gerabah pergi mengadu ke rumah Datu Talang Gajah Mati. Datu sama saja dengan Kepala Desa zaman sekarang. Mendengar cerita itu, Datu meminta hulubalang untuk memanggil Puyang Malinta dan empat anak-anak itu. Karena merekalah yang berdekatan dengan si pedagang di bawah pohon saat dia beristirahat.

“Puyang Malinta, Baku, Tuwa, Luga dan Mana. Jawablah dengan jujur, siapa yang mengambil emas pedagang ini. Kalau kalian mengaku dan mengembalikan, maka tidak dihukum. Serta berjanjilah tidak akan mengulangi perbuatan jahat itu!.” Kata Datu Talang Gajah Mati dengan suara tegas.

Anak-anak yang polos hanya menjawab tidak dan menggeleng. Sementara Puyang Malinta berkata sangat pandai dan bersilat lidah yang sangat lihai. Bahkan dia menyudutkan kalau salah satu diantara anak-anak itu yang mengambil.

“Tidak mungkin, aku memiliki banyak emas, perak, tembaga dan harta benda lainnya. Kurang ajar sekali kalau sampai menuduh aku. Aku sudah tua, mana mungkin berbuat memalukan begitu.” Kata Puyang Malinta dengan marah. Dia berakting menutupi salahnya. Karena datu dan hulubalang tidak dapat membuktikan. Maka salah satu jalan terakhir adalah bersumpah. Maka dipersipakanlah acara persumpahan.

Tapi Puyang Malinta tidak mau bersumpah. Dia bilang sumpah tidak berguna sebab orang masih bisa berbohong. Dia hanya ingin bukti yang jelas bukan bermain sumpah. Karena itu, pedagang akhirnya mengalah dan mengiklaskannya. Sebelum pergi, si pedagang gerabah berkata.

“Aku serahkan pada tuhan yang maha kuasa. Hukuman dan balasan terbaik datang dari tuhan semesta alam. Terimakasih waktunya, saya pamit untuk pulang, Puyang Datu dan adinda Hulubalang selamat tinggal. Pedagang itu, pulang berjalan menuju Sungai Keruh dimana perahunya tertambat.

"Siapa nama tuan sebenarnya?." Tanya Datu.

"Aku dijuluki Puyang Makbol Kato, saudara seperguruan dari Puyang Kilat Kemaru dan Puyang Burung jauh." Kata pedagang itu. Datu dan Hulubalang Talang Gajah Mati terkejut. Sekarang mereka tahu berhadapan dengan orang sakti.

Di jalan itu dia tidak tampak bersedih. Sambil berlalu dia melihat kubangan kerbau di sisi jalan. Lalu dia pun tiba di perahunya dan pulang ke Minanga. Minanga adalah sebuah daerah yang sudah banyak pendudukanya. Kelak di daerah Minanga itulah asal mulanya Kedatuan Sriwijaya.

Keesokan harinya cuaca kurang baik. Angin dan mendung terus-menerus dari pagi sampai siang. Puyang Malinta merasa gembira sekali mendapat emas dan perak curian. Dia tertawa-tawa dan menyebut pedagang gerabah yang bodoh. Karena hari sudah siang, Puyang Malinta ingin mandi ke Sungai Keruh. Dia masukkan emas dan perak curian kedalam kotak penyimpanan yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi atau kayu belian.

Puyang Malinta menatap langit yang mendung dan gerimis. Dia akhirnya pergi mandi menuju tepian mandi. Di pertengahan jalan, tepat di sisi kubangan kerbau. Angin berhembus kencang dan kilat berkali-kali menyalah. Terdengar suara guntur, hujan perlahan melebat. Tiba-tiba.

Petir menyambar tubuh Puyang Malinta. Tanpa ampun tubuhnya hangus terbakar sambaran petir. Puyang Malinta tewas seketika dan tubuhnya yang menghitam jatuh kedalam lumpur kubangan kerbau di sisi jalan. Air kubangan menciprat kesana kemari saat tubuhnya terjatuh. Hujan terus deras dan deras sampai tiga hari tiga malam.

Air menggenangi sekitar kubangan kerbau itu. Air tampak menggenang, jenaza Puyang Malinta yang tampak mengapung. Anak-anak puyang malinta dan warga Talang Gajah Mati mencari-cari Puyang Malinta. Akhirnya mereka menemukan jenaza Puyang Malinta di Kubangan Kerbau di Belakang Talang Gajah Mati. Keluarga Puyang Malinta mencoba mengambil jenazah.

Tapi saat mereka akan masuk air kubangan kerbau mereka melihat ribuan lintah besar yang siap menyerang. Begitu juga di jenaza Puyang Malinta tampak ratusan lintah sebesar ibu kaki orang dewasa dengan panjang dua puluhan sentimeter menempel di jenaza Puyang Malinta. Berbagai upaya dilakukan, tapi tetap tidak mampu mengabil jenazah Puyang Malinta.

Sehingga jenazah Puyang Malinta terkubur di dalam kubangan kerbau itu. Waktu demi waktu, bulan berganti dan tahun berlalu. Kubangan kerbau yang awalnya sukuran empat meter persegi, kemudian tergenang air hujan saat tubuh Puyang Malinta tersambar petir menjadi tiga kali lipat lebarnya. Kemudian terus melebar karena air hujan terus menggenang ditempat itu.

Karena ukuran sudah melebar, tempat air tergenang itu warga tidak lagi menyebutnya kubangan kerbau. Sekarang dinamakan lebung, dengan nama Lebung Puyang Malinta. Seiring waktu, berabad-abad lamanya. Nama lebung menjadi singkat dengan sendirinya. Sehingga berubah menjadi lebung lintah. Nama diambil dari penyebutan Malinta. Lebung ini, masih ada sampai sekarang di Desa Gajah Mati. Itulah, kisah manusia yang mendapat hukuman akibat sifat buruknya.

Konon orang-orang yang memiliki sifat seperti Puyang Malinta adalah keturunan dari Puyang Malinta. Sehingga hati-hati kalau Anda memiliki sifat seperti itu. Bisa jadi Anda keturunan dari Puyang Malinta. Anak cucu puyang Malinta tersebar di Desa Gajah Mati, di Kecamatan Sungai Keruh atau di kecamatan lainnya. Selain itu, keturunan Puyang Malintah juga tersebar di dunia ini.

Apabila kamu melihat kerumunan orang sering di pangkeng atau gardu di tengah Desa Gajah Mati atau dimana saja. Hati-hati pada orang yang selalu membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Bisa jadi orang itu adalah keturunan Puyang Malinta. Atau tertular tabiat Puyang Malinta sebab tinggal di Desa Gajah Mati. Mengapa harus berhati-hati; karena Anda akan menjadi korban mulutnya yang busuk dan hatinya yang jahat. Sifat yang seperti lintah, pengisap darah.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 30 Agustus 2020.


Daftar kata: Lebung: Tempat penampungan air alami terletak di kawasan tanah renah. Lebung bentuknya seperti danau hanya saja ukurannya lebih kecil. Selain menampung air hujan lebung juga menjadi bagian penampungan air hujan saat terjadi banjir alami di sepanjang aliran sungai-sungai (daerah tanah renah).

Hulubalang: Perwira atau pemimpin prajurit semasa kerajaan zaman dahulu. Datu: Gelar kepala desa zaman dahulu sebelum masuknya pengaruh hindu-budha dan Islam. Pedatuan: Pemerintahan bersifat genoalogis atau sistem marga pada zaman kedatuan Sriwijaya-Kesultanan.

Talang: Nama pemukiman penduduk Melayu pada zaman dahulu. Kalau sekarang desa. Seiring waktu Talang  berubah makna misalnya kebun buah-buahan atau pemukiman kecil yang sederhana di dalam hutan. Gerabah: Barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment