7/16/2020

Sastra Klasik Melayu Nusatara. Hikayat Raja Indra Dewa.

Apero Fublic.- Hikayat Indra Dewa adalah sastra klasik bangsa Indonesia yang bercerita tentang anak raja bernama Raja Indra Dewa. Naskah klasik ini ditulis dengan aksara Arab Melayu atau aksara jawi. Naskah terdiri dari 260 halaman, koleksi Musem Pusat Jakarta. Berikut cuplikan dari Naskah Hikayat Indra Dewa.

Wa bihi nasta ‘inu bi i-Lahi (a’ala).
1. Inilah hikayat ada seorang raja bernama Sultan Ahmad Bersyah Jaya. Adapun nama negerinya Rakab Syahrum terlalu besar kerajaannya. Maka negeri Rakab Syahrum itu antara Arab dan Ajam.

“Sebermulah Sultan Ahmad Bersyah Jaya itu ada berputra seorang anak laki-laki bernama Raja Indra Dewa, terlalu elok parasnya dengan bijaksana daripada segalah pengajian dan permainan surat-menyurat dan tulis menulis. Maka ayahanda bundanya terlalu kasih sayang hati ayahanda bundanya melihatkan anaknya seorang itu serba bagai permainannya. Lama kelamaan anakda Raja Indra Dewa pun besarlah. Maka ayahanda dan bunda pun teringat di dalam hati hendak memberi anakda beristri. Maka pada suatu hari bunda bertanya kepada anakanda. “Haii....

447. Besaran Allah// subhanahu wa Ta’ala itu. “Maka tuan putri kedua pun dan permaisuri pun mandilah bertiba berputra kedalam kolam itu. setelah sudah mandi lalulah kembali ke balai itu. mana baginda dan segala anak-anak itu pun datang mandi kepada kolam itu. Maka sekalian pun heranlah melihatkan perbuatan kolam itu terlalulah indah-indah. Maka sekaliannya pun mandilah. Setelah sudah mandi /mandi/ bagindapun kembalilah ke balai, duduklah diadap oleh segalah anak raja-raja dan mentri dan hulubalang sekaliannya segalah rakyat duduk di tanah. Seketika lagi hari pun malamlah, maka dipasang/lah/ oranglah dian, tanglung, pelita dan kendil itulah. Habislah Hikayat Raja Indra Dewa.[1]

Hikayat Raja Indra Dewa adalah karya sastra zaman peralihan dari kebudayaan Hindu-Budha ke zaman Islam. Perpaduan cerita ini sangat kental dengan nuansa keislaman dan budaya kehinduan. Sebagaimana nama Indra Dewa adalah nama dewa di dalam agama Hindu. Sedangkan sultan adalah gelar dari raja negari Islam.

Perpaduan sastra ini untuk berdakwa dan memberikan kesan kebersamaan dan persamaan dalam beragama. Sehingga masyarakat yang beragama hindu atau budah tidak merasa kaget dengan suatu perubahan radikal. Sastra digunakan untuk berdakwah dan menguatkan keislaman penduduk Nusantara  yang baru memeluk Islam. Cerita Hikayat Raja Indra Dewa yang merujuk pada kesastraan hindu diantara memiliki ciri-ciri umum.

1.Tuhan yang dijunjung tinggi mula-mula adalah Dewata Mulia Raya. Kemudian menjadi Raja Syah Alam atau Allah Subhanahu wa Taala.
2.Cerita berasal dari India atau Asia Tengah. Mengingat kata Syah adalah penyebutan raja dari Asia Tengah. Kemungkinan cerita ini semasa India dalam kekuasaan Bangsa Mongol Islam.
3.Tema wanita yang diculik, baik itu oleh raksasa, jin, atau raja jahat.
4.Kesaktian-kesaktian yang sangat luar biasa.
5.Memiliki senjata sakti seperti pedang, jimat, mantra yang hebat, dan kekuatan super.
6.Dapat berganti rupa sesuka hati peran utama, dapat menjadi manusia lain, menjadi hewan. Atau jin yang menyerupa manusia dan lainnya.
7.Adanya sayembara-sayembara oleh raja atau oleh orang tertentu.
8.Peran utama dapat mengalahkan musuh-musuh yang super hebat dengan kekuatan sakti miliknya atau dengan akal yang sangat cerdik. Berperang dan menghancurkan negeri musuh sehancur-hancurnya.

Buku penelitian Naskah Hikayat Indra Dewa di terbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sampul buku warna coklat yang terdiri dari 195 halam dan lampiran sebelem halaman. Buku cukup lengkap, ada intisari cerita, ringkasan cerita, dan transliterasi naskah. Kalau kamu tertarik dengan buku naskah dapat mencari buku sesuai identitas pada sumber.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang. 17 Juli 2020.
Sumber: Haniah. Hikayat Indra Dewa dalam Sastra Indonesia Lama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.


[1]Haniah. Hikayat Indra Dewa dalam Sastra Indonesia Lama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984. H. 26 dan 191.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment