7/10/2020

Dari Kopia ke Peci: Pan-Islam dan Nasionalisme Arab

Apero Fublic.- Pan-Islam atau Panislamisme yang digerakkan oleh Kekhalifaan Turki Usmani berpusat di Istambul.[1] Adalah gerakan intelektual dan penyadaran kaum Muslimin dunia akan pentingnya rasa solidaritas bersama-sama dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme Barat.

Pan Islam, memberikan kesadaran bahwa hebatnya Islam. Serta menghancurkan rasa inferioritas umat Islam di seluruh dunia. Pan-Islam sama dengan Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama kaum muslimin. Pan Islam yang disebut oleh akademisi barat sebagai panislamisme. Dimana mereka menyamakan dengan ideologi teologi dan mengaitkan dengan jihad atau perang suci.

Gerakkan Pan Islam adalah gerakan yang muncul pertengahan abad ke 19 Masehi. Gerakan yang dimotori pemikir-pemikir moderen ini didukung oleh Khalifah terakhir umat Islam, Sultan Abudul Hamid II. Untuk melegimitasi dari gerakan Pan Islam. Sultan menandatangai seruan untuk umat Islam diseluruh dunia untuk bangkit melawan kekuatan Barat yang hendak menghancurkan Islam.

Bukan hanya melawan dominasi kolonialisme dengan senjata. Tapi juga melawan dengan pemikiran, kebudayaan, dan rasa solidaritas persaudaraan sesama muslim atau ukhuwah islamiyah atau Pan Islam. Dokumen kebangkitan dan perlawanan ditandatangani oleh Sultan Abdul Hamid II pada 23 November 1914 Masehi. Juga ditandatangani oleh Syeik Al-Islam di Istambul, Turki.[2]

Sultan merestui dan mendukung penuh gerakan Pan Islam yang selama ini bergerak dan berjuang. Dalam pemahaman orang Barat, jihad yang dikobarkan oleh Sultan Abdul Hamid II hanyalah sebatas perang suci atau perang agama dalam Islam. Kobaran jihad Pan Islam dianggap kalah saat Turki Kalah perang Dunia I dan Runtuh pada 1922 Masehi. Mereka tidak mengerti kalau arti jihad adalah bentuk perjuangan yang bersunguh-sungguh dalam melakukannya.

Jihad yang dimaksud Sultan, seperti belajar atau menuntut ilmu, mendidik, menjadi pengusaha, menjadi jurnalis, menjadi sejarawan, mendirikan partai-partai, membangun pasukan dan mendirikan organisasi untuk memajukan sosila budaya umat Islam adalah bagian dari jihad yang sesungguhnya.

Walau gerakan Pan Islam tenggelam seiring runtuhnya Kekhalifaan. Tetapi Pan Islam telah menjadi ruh atau motor penggerak umat Islam. Selama ini umat Islam terpuruk dan diam. Kemudian perlahan mulai bergerak liar. Hasilnya, waktu demi waktu satu persatu negara umat Islam yang dikuasasi oleh Kolonialisme Barat, merdeka.

Salah satu kebudayaan Turki Usmani yang dijadikan simbol bersatunya umat Islam adalah topi penutup kepala. Topi penutup kepala yang telah digunakan oleh seluruh umat Islam waktu itu. Termasuk umat Islam yang ada di Asia Tenggara. Dengan memakai topi Sultan dan topi masyarakat Kekhalifahan.

Muslim memberikan isyarat kalau mereka berbaris di belakang Kekhalifaan. Di Asia Tenggara topi tersebut dikenal dengan nama Kopia. Kopia menjadi simbol kebankitan Islam dan dipakai sebagai identitas budaya oleh kaum pergerakan. Kita dapat melihat foto-foto kaum pergerakan yang memakai kopia hitam.

Kopia itu, adalah simbol Pan Islam dari Turki Usmani. Pesebaran melalui,  dari aktifitas ibadah haji. Para jamaah haji membeli kopia sebagai oleh-oleh dari Mekkah. Lalu membagi-bagikan ke tempat asal mereka saat pulang.

Karena banyak yang menyukai kopia. Muncul juga pengrajin kopia di Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Sehingga kopia menjadi simbol orang Islam sampai sekarang di Asia tenggara. Kata kopia diserap dari salah satu nama topi tradisional orang Turki, yaitu kopye atau kopje.

Snouck Hurgronje berusaha keras menghentikan pengaruh Pan Islam di Hindia Belanda (Indonesia). Selain melakukan politik kooperatif dengan ulama yang lunak. Juga menyarankan untuk mengawasi ulama fanatik dan orang-orang Arab di Hindia Belanda. Pemerintahan Kolonial Belanda juga menghentikan semua corong informasi dan komunikasi. Seperti menghentikan masuknya media massa, majalah dari Turki Usmani.

Selain itu mempersulit muslim Indonesia yang akan berangkat haji. Sebab di Mekkah dan Madinah waktu itu masih satu dengan Kekhalifaan Islam Turki Usmani. Dengaan demikian, seandainya Muslim pergi haji. Maka pengaruh Pan Islam langsung memapar mereka.

Salah satunya jamaah haji yang mengikuti pemikiran Pan Islam, adalah Kiai Ahmad Dahlan. Beliau banyak mempelajari pemikiran toko Pan Islam, Jamaluddin Alafghani. Sehingga menjadi tokoh pergerakan dan mendirikan Muhammadiyah.

Salah satu media informasi yang dilarang masuk ke Indonesia  adalah majalah Maklumat yang terbit di Turki. Walau dilarang tapi majalah maklumat Turki masih dapat diselundupkan ke Indonesia. Masuk lewat Singapura, lalu ada yang dibawa ke Aceh, ke Palembang, dan ke Pulau Jawa.[3]

Kekalahan Turki Usmani dan Jerman pada Perang Dunia I. Membuat gerakan Pan-Islam menjadi lemah karena pusat pergerakannya menjadi lemah. Perlahan gerakan Pan Islam menghilang termasuk di Indonesia. Namun, bibit perlawanan dan kesadaran akan keislaman telah tumbuh di setiap kawasan dunia Islam. Di setiap pelosok dunia, dimana ada kelompok kaum muslimin disana mereka mulai melakukan perlawanan terhadap dominasi Barat (sekutu). Baik perlawanan secara fisik atau pemikiran.

Setelah perang Dunia I. Sekutu kemudian melakukan infiltrasi kewilayah Kekhalifahan Turki Usmani. Dimana agen-agen mereka menghasut dan membujuk penduduk setempat memberontak pada Kekhalifaan. Mereka membantu dengan materi dan persenjataan. Sehingga timbullah gerakan kebangsaan atau nasionalisme di kawasan pemerintahan Turki, terutama di Arabia.

Di kawasan Arab, bangkit nasionalisme Arab. Dengan menguatnya nasionalisme Arab dan kalahnya Turki Usmani. Belanda mendapat angin segar dan mereka tidak perlu lagi berusaha menghentikan Pan Islam di Indonesia. Walau demikian api Pan Islam telah membakar di setiap sudut Hindia Belanda. Orang-orang Arab di Indonesia akhirnya juga menjadi pro nasionalisme Arab. Mereka meninggalkan Pan Islam dari Turki memihak, kebangsaan Arab.

Memanfaatkan kelemahan Turki yang baru saja kalah perang. Orang-orang Arab memberontak karena terpengaruh propaganda politik Barat yang ingin menghancurkan Kekhalifaan Islam. Maka, Barat membuat dan mendukung pion-pion dikawasan Turki Usmani. Untuk menghantam Kekhalifaan Islam Turki Usmani dari dalam. Bagi sekutu sesungguhnya tidak peduli dengan bangsa-bangsa orang Islam. Karena mereka hanya ingin mengalahkan Islam. Sebab Islam telah begitu lama mencengkeram Eropa.

Diantara orang-orang yang dijadikan pion-pion Barat dalam menghancurkan Kekhalifaan Islam. Seperti, Syarif Husein di Hijaz yang memberontak pada Kekhalifaan Turki Usmani dan memihak terhadap sekutu (Barat). Karena ingin mendapatkan dukungan dari sekutu untuk keberlangsungan politik mereka. Kemudian putra-putra Syarif Husein menjadi raja-raja di Arabia yang sebelum perang adalah wilayah Kekhalifaan Turki Usmani, yang sudah lebih 500 tahun lamanya. Faisal menjadi raja di Irak, Abdullah di Yordania dan Ali di Suriyah.[4]

Dengan demikian Kekhalifaan mulai hancur dari dalam. Satu demi satu wilayah memisahkan diri. Bersamaan dengan itu, Sultan Abdul Hamid II berusaha keras mempertahankan Palestina dari Sekutu. Namun, sekelompok orang Arab menikam dari belakang demi menghancurkan kekhalifaan Turki Usmani dan melanggengkan kedudukan politik mereka.

Bukan bermaksud menjelekkan Arab atau rezim Arab sekarang. Tapi sebagai bahan kajian kalau politik dapat mengalahkan keimanan dan dapat membunuh saudara sendiri. Sampai sekarang Palestina dalam cengkeraman Yahudi Zionis Israel yang dibentengi Sekutu. Mengapa Sekutu memberikan Palestina pada Yahudi.

Karena Sekutu atau orang Kristen tidak mau bermusuhan secara langsung dengan umat Islam. Kita sadari, Yahudilah yang dibenci oleh Umat Islam atas Palestina sekarang, bukan orang Kristen atau Barat. Mereka (sekutu) tidak ingin Palestina dikuasai umat Islam. Hanya ingin mengakhiri dominasi atas nama Islam. Sekaligus ingin memiliki tempat suci mereka di Yerusalem tanpa harus berperang lagi dengan Umat Islam.

Di Turki sendiri akhirnya juga muncul paham kebangsaan Turki sekuler ekstrem. Yaitu, Mustafa Kemal Attaturk yang juga menjadi pion sekutu dalam mengalahkan Kekhalifaan Islam. Sehingga Kekhalifaan dihapus oleh orang Turki sendiri dimana nenek moyang mereka yang bersusah payah membangunnya.

Dengan keringat dan darah tetapi dihancurkan oleh anak cucu mereka sendiri. Akibat termakan propaganda kebangsaan dan ingin memiliki kekuasaan sendiri serta mabuk ingin menjadi pahlawan. Bukan menyalahkan kelompok sekuler ekstrem Turki, tapi hanya sebatas pengetahuan untuk kita renungkan.

Kalau kita perhatikan paham kebangsaan sangat efektif menghancurkan kekuatan Islam. Dimana kaum muslim sendiri yang saling menyerang, bertikai. Selain menghancurkan, paham kebangsaan juga dapat menghentikan kekuatan Islam sebagaimana di Indonesia dan negara-negara Islam lainnya.

Dengan runtuhnya Kekhalifaan Turki Usmani. Maka berakhirlah juga gerakan Pan Islam (ukhuwah islamiyah). Nasionalisme Arab terus meningkat dan berdirilah Kerajaan Arab Saudi sebagaimana kita kenal. Maka, ketika orang Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam atau muslim di Asia tenggara pergi haji.

Dahulu mereka pulang memakai kopye atau kopia seperti pada masa Mekkah dan Madinah dalam Kekhalifaan Turki Usmani. Kini perlahan berubah, dan sampai sekarang. Kita tidak lagi melihat mereka, jamaah haji kita dengan kopia hitam sebagaimana masa Kekhalifaan dulu, masa Pan Islam.

Tapi jamaah haji sekarang memakai peci putih yang menutup kepala. Sesungguhnya itu menandakan telah bergantinya penguasa di Mekkah dan Madinah. Dari Kekhalifaan terakhir umat Islam Turki Usmani ke kerajaan dinasti Ibnu Saud. Dari nama Saud itulah, mereka menamakan dengan Kerajaan Arab Saudi.

Mungkin Anda pernah mendapat oleh-oleh peci putih dari orang yang pulang haji. Begitu juga dahulu semasa Kekhalifaan masih berdiri, umat Islam yang pulang dari haji membagi-bagikan oleh-oleh kopia hitam yang kita pakai untuk shalat seperti sekarang. Sekarang, kopia sudah menjadi budaya umat Islam Indonesia dan Asia Tenggara.

Sudah!! semua itu adalah sejarah. Mari kita lupakan permasalahan kopia dan peci. Kita dapat memakainya bergantian saat kemesjid, menghadiri hajatan atau tahlilan. Kita tidak perlu mempermasalahkannya lagi, telah terjadi. Mulai sekarang kita menata dunia Islam yang baru. Damai dan bersahabat dengan bangsa lain tanpa perlu perang seperti zaman lampau.

Kita ganti senjata dengan pena, kita ganti medan perang dengan ruang musyawarah dan diskusi. Kita bangun jalan yang baru bersama-sama. Bukan masalah itu ada pada Timur atau Barat. Bukan pula ada pada Islam atau non Islam. Tapi masalah itu, “ada di dalam diri kita sendiri.” Salam Himpunan Muslim.
Pada foto dapat diamati penggunaan kopia oleh kaum pergerakan bangsa Indonesia. Kopia menjadi simbol kesatuan pada saat itu. Walau Pan Islam telah berakhir karena keruntuhan Kekhalifaan Umat Islam. Tapi api perjuangan dan kebangkitan Islam terus membesar.
Fada foto diambil pada film Turki berjudul Payitaht yang bercerita tentang masa-masa Kekhalifaan Turki Usmani pada masa Sultan Abdul Hamid II. Coba amati topi Sultan, cara berbaju sama dengan yang digunakan kaum pergerakan masa awal. Bandingkan dengan foto teratas. Masa ini, gerakan Pan Islam atau Ukhuwah Islamiyah sedang menggema sekali.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang. 11 Juli 2020.

Daftar Baca:
George Lenczowski. Timur Tengah Ditengah Kanca Dunia. Terj. Asgar Bixby. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1992.
Hamid Algadri. Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia. Jakarta: Haji Masagung. 1986



[1]Hamid Algadri. Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia. Jakarta: Haji Masagung. 1986, h. 75.
[2]George Lenczowski. Timur Tengah Ditengah Kanca Dunia. Terj. Asgar Bixby. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1992. h, 35.
[3]Hamid Algadri. Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia, h. 81.
[4] Hamid Algadri. Politik Belanda Terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia, h. 113.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment