6/16/2020

Mitos: Harimau Kumbang dan Buaya Kumbang.

Apero Fublic.- Kisah mitos Buaya Kumbang dan Harimau Kumbang pada masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh sungguh melegenda. Mitos yang diceritakan turun-temurun. Namun hanya berupa penggalan-penggalan cerita tidak lengkap.

Menceritakan kalau seorang nenek moyang atau Puyang masyarakat memiliki mahluk penjaga daerah. Yaitu, Buaya Kumbang berdiam di muara Sungai Keruh. Menjaga Sungai Keruh agar tidak dimasuki buaya buas. Sedangkan Harimau Kumbang adalah penjaga wilayah dari serangan harimau kejadian.

Hamau Kumbang dan Buaya Kumbang adalah jelmaan dari dua orang manusia sakti. Yaitu, Puyang Bomi Sejemput menjelma menjadi Harimau Kumbang dan Puyang Raje Ayo menjelma menjadi Buaya Kumbang. Mereka berdua kakak beradik yang menghabiskan waktu bertapa di sebuah gua di atas Bukit Pendape. Mereka juga di kenal dengan julukan Puyang Pertapa Sakti.
*****
Pada masa itu, keadaan penduduk Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape dalam keadaan sulit sekali. Bagaimana tidak, penduduk tidak dapat berbuat banyak untuk kehidupan mereka. Karena, mendapat teror dari dua arah, di perairan dan di daratan. Teror di darat, banyaknya harimau siluman dan harimau jejadian yang menyerang warga. Di perairan terutama di Sungai Keruh penduduk diserang oleh Siluman Buaya atau buaya jejadian.

Penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape sangat ketakutan dan kesulitan menghadapi permasalahan itu. Air adalah sumber penghidupan, keperluan mandi, mencuci, dan menangkap ikan. Hutan tempat berburu, mencari tumbuhan, dan berladang untuk menanam padi untuk kebutuhan pokok lainnya.

Otomatis, membuat kehidupan masyarakat lumpuh. Bencana kelaparan segera menanti. Sekarang masyarakat masih memiliki persediaan padi hasil panen tahun lalu. Seandainya harimau biasa atau buaya biasa masih dapat penduduk atasi. Tapi berbeda apabila harimau dan buaya memiliki pengaruh jahat dari siluman.

Penduduk Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape pernah melakukan perburuan bersama-sama. Namun mereka tidak dapat menemukan harimau atau buaya jejadian tersebut. Bahkan kalau ada di antara mereka yang lengah. Maka pasti menjadi korban. Sehingga perburuan mereka hentikan untuk menghindari korban yang lebih banyak lagi.
******
Puyang Mato Kilat sebagai Depati pimpinan tertinggi di Dataran Negeri Bukit Pendape menjadi gunda dan sedih. Dia memikirkan nasip rakyatnya dan juga keluarganya. Namun apa daya dia hanyalah manusia biasa. Hanya berpikir, apa yang dapat mereka perbuat sekarang.

Tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun untuk mengalahkan siluman-siluman buaya dan siluman harimau. Suatu hari yang cerah, puluhan prajurit berjaga disekitar rumah Depati. Dua hulubalang tampak berdiri sigap di sisi Depati. Depati berdiskusi dengan kedua hulubalngnya. Mereka berpikir keras untuk mengatasi masalah ini.

“Depatii, Depatiiii.” Seorang ibu-ibu berlari-lari dan terjatuh-jatuh. “Anak gadisku, Puyang Depati, telah diserang buaya saat berusaha mengambil air di sungai kecil di belakang rumah. Adu Depati, bagaimana Depati.” Ibu itu mengadu dengan histeris. Puyang dan dua hulubalangnya hanya dapat berkata sabar, menenangkan si ibu-ibu.

Ibu-ibu itu datang mengadu ke Depati Puyang Mato Kilat. Belum lagi redah tangisan ibu itu. Datang juga seorang kakek-kakek dan cucu laki-lakinya. Keduanya juga mengadukan kalau anaknya, atau ayah dari anak lelaki remaja telah diserang harimau saat ke ladang. Mereka bermaksud mengambil padi di ladang karena persediaan padi di lumbung diruma sudah habis.

Keesokan harinya datang juga surat dari penduduk talang-talang di wilayah Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Mereka juga mengadukan kejadian yang sama. Sehingga bertambah sedihlah Puyang Depati.

Suatu hari, Depati mengundang semua datu-datu talang, anggota dewan pedatuan, hulubalang dan panglima pedatuan, para tetua-tetua pedatuan. Ada juga masyarakat yang ikut rapat untuk memecahkan permasalahan yang sulit tersebut.
*****
“Puyang Depati, aku pernah mendengar cerita dari orang tua-ku. Bahwa di atas Bukit Pendape ada dua orang laki-laki petapa. Mereka bersaudara kembar dan memiliki kesaktian yang sama. Hidup mereka di habiskan untuk bertapa dan mendekatkan diri pada sang pencipta. Menurutku, apakah kita dapat bermusyawara pada dua orang petapa sakti itu. Paling tidak meminta pendapat untuk mengatasi permasalahan kita ini. Nama kakaknya seingatku, Puyang Raje Ayo dan adiknya Puyang Bomi Sejemput.” Ujar seorang anggota dewan pedatuan. Dia sudah tua, rambutnya sudah uban memutih. Tapi ada kebijaksanaan diwajahnya.

Semuanya untuk beberapa saat terdiam dan tenggelam dalam lamunan masing-masing. Puyang Pedatuan diam dan berpikir keras. Lalu dia berkata dengan pelan tapi tegas.

“Aku juga pernah mendengar tentang kedua puyang pertapa sakti itu. Tapi apakah benar mereka masih hidup, dan masih bertapa di gua di atas Bukit Pendape. Kita tidak dapat memastikan. Tapi, dalam keadaan seperti ini, kita tidak dapat berpikir banyak. Tindakan dan usahalah yang harus banyak.” Ujar Depati Puyang Mato Kilat.

Semuanya mengangguk dan memberikan pendapat masing-masing. Beberapa saran dan pendapat untuk waktu jangka pendek juga diajukan. Puyang Depati mendengarkan semua saran dan masukan dari rakyatnya. Setelah semuanya jelas dan terbahas, maka Puyang Depati memberikan kesimpulan dari hasil musyawarah itu.

“Untuk semua datu-datu talang, rakyat, dan para tetua pedatuan. Ada tiga pokok yang harus kita laksanakan dan mohon kerjasama yang baik. Pertama, melarang warga mendekati sumber air terlebih dahulu. Untuk itu, harus membuat sumur dan memanfaatkan air hujan. Kalau terpaksa, harus bekerja sama dan saling menjaga. Kedua, setiap warga harus bekerjasama dalam mencari kebutuhan hidup. Saling membantu saat pergi ke hutan atau pergi ke ladang.

Ketiga, memerintahkan seorang hulubalang untuk menemui dua pertapa sakti di gua di puncak Bukit Pendape. Kemudian akan memilih anak-anak muda untuk di utus ke pedatuan lain guna mencari batuan.” Itulah kata Puyang Depati. Semua pun setuju dan siap melaksanakan.

Hulubalang Pagrap dan dua puluh prajurit pedatuan yang ditugaskan pergi ke Bukit Pendape menemui pertapa sakti. Utusan-utusan dikirim ke Pedatuan lainnya. Diantaranya, ke Pedatuan Basema, Pedatuan Meranjat, Pedatuan Ranau, Sumbai Hulu dan Sumbai Ilir, Pedatuan Minanga, serta pedatuan lainnya di Bumi Batanghari Sembilan.
*****
Berangkatlah Hulubalang Pagrap bersama para prajurit. Mereka membawa persenjataan lengkap. Senjata pibang kanan dan pibang kidau. Beberapa juga membawa tombak dan sepuluh orang prajurit membawa panah.

Di sepanjang perjalanan mereka terus diserang harimau siluman. Prajurit terlatih cukup kuat untuk bertahan. Namun, ketahanan manusia ada batasnya. Sehingga saat sampai di Bukit Pendape ada lima orang prajurit yang gugur. Tinggal 15 orang prajurit lagi.

Saat tiba, mereka mencari gua pertapa sakti itu. Hampir satu hari baru bertemu dengan gua tersebut. Di sekitar gua itu, ada mata air yang mengalir jernih. Dua orang prajurit mengambil air. Mereka lengah, tiba-tiba harimau muncul entah dari mana. Kedua prajurit itu pun tewas.

Di mulut gua hulubalang memberi salam dan meminta izin masuk. Lama tidak ada jawaban, hampir setengah hari mereka menunggu. Baru ada suara bergema mempersilahkan masuk. Sepuluh prajurit berjaga di mulut gua. Selebihnya menemani hulubalang bermusyawarah dengan dua pertama sakti itu. Baju keduanya sangat sederhana, terbuat dari kulit rusa.

“Ada apa kalian datang jauh-jauh kesini. Apa gerangan yang sangat penting?.” Tanya seorang diantara mereka.

“Maaf Puyang, kami di utus Depati untuk menemui puyang. Pedatuan kita dalam masalah besar. Dalam tahun ini, harimau jejadian dan buaya jejadian mengganggu penduduk dan membunuh. Prajurit saya saja sudah tujuh orang tewas dalam perjalanan kemari.” Jelas Hulubalang. Kemudian hulubalang memberikan surat depati pada seorang petapa sakti itu.

Cukup lama mereka berbincang membahas permasalahan itu. Banyak yang ditanyakan dua pertapa. Baru setelah itu, keduanya berkata akan berusaha dan akan menemui depati. Keduanya meminta hulubalang kembali ke pedatuan segerah. Mereka akan menyusul pergi katanya.

Puyang Pertapa Sakti juga menganjurkan mereka mengambil kayu gaharu. Lalu dibakar sepanjang jalan. Untuk menangkal serangan harimau jejadian itu. Hulubalang dan pasukan yang tinggal 13 orang selamat sampai di pedatuan lima hari kemudian. Saat mereka sampai dan hendak melapor kalau tugas sudah di laksanakan.

Mereka terkejut sekali, dua pertapa sakti sudah duduk bermusyawara dengan depati, panglima dan hulubalan Yantuan, para datu-datu talang, para tetua pedatuan dan masyarakat lainnya. Penduduk bercerita kalau petapa sudah lima hari yang lalu datang. Mengapa mereka baru sampai hari ini, aneh. Itulah sebabnya mengapa sudah ada musyawara besar di pedatuan. Mereka pun sadar, kalau sedang berhadapan dengan bukan manusia sembarang, lalu berdecak kagum.
******
“Baiklah Depati, Aku dan Adikku akan berusaha mengatasi permasalahan ini. Tapi akan memerlukan beberapa syarat yang cukup sulit.” Kata Puyang Rajo Ayo.

“Puyang Rajo Ayo, Puyang Bumi Sajemput, coba katakan apa syarat yang harus dipenuhi. Kami akan mengupayakan untuk memenuhinya.” Ujar Depati.

“Benar puyang, kami akan berusaha.” Datu Talang Gajah Mati ikut berbicara. Begitu juga dengan hadirin yang lainnya.

“Aku dan kakak akan menjadi makhluk yang berbeda dari manusia biasa. Tapi kami bukan suban, bukan pulah manusia. Sebab itu, kehidupan kami juga akan berbeda dengan manusia dan suban. Ada pun yaratnya; pertama, carilah dua orang wanita yang tidak bersuami dan mau menikah dengan kami. Syaratnya wanita itu haruslah masih dapat mengandung anak. Kedua, buatkan lemang padi arang setiap malam bulan purnama. Letakkan di tepian mandi kalian dan di pinggiran talang-talang kalian.” Jelas Puyang Bomi Sajemput.

Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape berpikir sejenak. Lalu dia menatap sekeliling ruangan. Para tetua, para datu-datu, dan hulubalang, panglima satu persatu. Mereka semua diam dan tenggelang dalam pikiran masing-masing.

Depati, bertanya apakah di antara mereka ada pendapat atau saran. Kemudian mereka mengangguk-angguk dan berkata akan berusaha bersama-sama. Mengenai dua wanita yang akan dinikahkan pada Puyang Rajo Ayo dan Puyang Bumi Sajemput akan diusahakan. Mudah-mudahan ada wanita yang bersediah dengan tulus.

Tiga hari kemudian, dua orang janda yang bersedia menikah dengan Puyang Rajo Ayo dan Puyang Rajo Batu didapat. Janda berumur tiga puluhan tahun bersedia demi kebaikan wilayah pedatuan. Apa lagi mereka mendengar kalau kedua puyang pertapa sakti itu akan berubah menjadi makhluk lain untuk selamanya. Hati mereka tersentuh sebab pengorbanan kedua puyang itu.

Penduduk bergotong royong membangunkan dua pondok sederhana untuk pasangan yang baru menikah itu. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan waktu berlalu. Penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape membuat lemang padi arang seperti yang di janjikan setiap bulan purnama.

Pada awalnya kedua istri puyang merasa biasa saja. Hidup tenang di pondok berdua suami mereka. Yang mereka tidak mengerti semakin hari semakin jarang pulang suami mereka. Biasanya tiap hari pulang, sekarang seminggu sekali, kemudian sebulan sekali. Yang aneh mereka selalu menemukan bekas tapak harimau dan buaya di sekitar pondok mereka.

Istri kedua puyang telah mengandung. Penduduk tidak mendengar kejadian apa pun. Tapi yang ada yang aneh, serangan harimau jejajdian terus berkurang. Ada juga penduduk sering melihat harimau kumbang. Begitu juga di sungai, sering melihat buaya kumbang.

Setahun kemudian istri Puyang Rajo Ayo dan istri Puyang Bomi Sajemput melahirkan anak laki-laki. Menurut orang-orang anak laki-laki itu adalah ringkarnasi dari dua puyang itu. Masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape mulai tenang dan aman. Mereka telah berani Sungai Keruh dan sungai lainnya. Begitu juga masuk hutan dan keladang. Tidak pernah lagi ada diserang harimau jejadian.
*****
Pada suatu hari, depati dan hulubalang ditemani sepuluh orang prajurit mencoba berburu ke hutan. Mereka ingin mencari tahu apakah sudah aman untuk berburu. Selama ini dia tidak pernah mendengar kejadian aneh.

Seumpanya menemukan harimau mati atau buaya mati. Hanya sering mendengar adanya harimau kumbang dan buaya kumbang berkeliaran di wilayah mereka. Entah mengapa Puyang Depati dan pasukan tertsesat. Sehingga mereka tiba di muara Sungai Keruh di Sungai Musi. Dalam keadaan letih mereka istirahat dimuara.

“Prajurit, agar bergantian berjaga-jaga.” Hulubalang memerintahkan anak buahnya. Saat mereka sedang istirahat dan memakan perbekalan. Tiba-tiba air muara sungai bergemuru. Banyak gelembung-gelembung udara muncul kepermukaan air. Pertanda ada makhluk yang berjalan di dasar sungai. Semua terkejut bukan kepalang ketika di permukaan air muncul buaya kumbang yang besar.

Belum lagi hilang keterkejutan mereka semua. Tiba-tiba auman harimau memekakkan telinga. Kemudian seekor harimau kumbang muncul dari balik semak-semak. Semuanya bersiap dengan mencabut pibang kanan. Ada memegang tombak dan siap memanah.

“Depati, hulubalang dan prajurit sekalian. Aku adalah Puyang Bumi Sajemput. Jasad kasarku telah menjelma berubah menjadi harimau. Sedangkan anak yang dilahirkan istriku adalah titisan darahku. Tolong jaga mereka kerana kami tidak dapat berubah kembali menjadi manusia. Aku akan terus berkeliaran di Kawasan Dataran Negeri Bukit Pendape dari muara Sungai keruh ini sampai ke balik Bukit Pendape. Agar penduduk pedatuan tidak diganggu oleh harimau jejadian lagi.” Kata harimau kumbang itu.

“Benar depati, hulubalang dan prajurit sekalian. Aku Puyang Rajo Ayo, yang menjelma menjadi buaya kumbang. Jasadku juga tidak dapat kembali berubah menjadi manusia biasa. Tolong jaga anak titisanku yang telah dilahirkan istriku. Aku berdiam dimuara Sungai Keruh untuk menjaga Sungai Keruh agar tidak dimasuki buaya jejadian dan buaya sihir dari dukun buaya. Jangan khawatir dukun buaya itu telah menyadari kesalahan mereka dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan mereka lagi.” Kata buaya kumbang jelmaan Puyang Rajo Ayo.

Puyang Bomi Sajemput berkata. Kalau pertarungan mereka dengan harimau siluman atau buaya siluman tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Itulah mengapa penduduk hanya dapat melihat jejak-jejak kaki saja. Bahkan harimau jejadian pernah menyerang mereka di pondok. Itulah mengapa istri keduanya sering melihat banyaknya jejak harimau dan jejak buaya. Dengan penjelasan itu, mengertilah depati dan pasukannya. Mereka juga mengetahui apa yang terjadi.

Depati dan pasukan menjadi tenang dan gembira, sekarang. Ternyata mereka berhadapan dengan jelmaan puyang pertapa sakti itu. Sejak saat itulah, puyang depati dikenal memiliki dua peliharaan sakti, harimau kumbang dan buaya kumbang. Mitos itu sampai sekarang masih diceritakan turun temurun di Kecamatan Sungai Keruh dan sekitarnya. Sampai sekarang juga di Sungai Keruh tidak ada buaya walau sungai cukup besar.
*****
Dari kebiasaan membuat lemang pada malam bulan purnama itulah. Penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape akhirnya terbentuk tradisi membuat lemang. Lemang padi arang atau lemang ketan. Kebiasaan tersebut berlanjut turun temurun sampai harimau tidak ada lagi di zaman sekarang. Tradisi membuat lemang beramai-ramai masih dapat dijumpai di Desa Gajah Mati, Desa Kertayu, Desa Pagarkaya. Kadang juga penduduk membuat lemang secara pribadi.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 16 Juni 2020.
Arti Kata: Puyang; Pemimpin, gelar kehormatan, orang sudah tua. Hulubalang; Perwira. Pibang Kanan; Pedang khas penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape. Pibang Kidau; pisau pasangan dari pibang kanan. Pendape; Nama bukit di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin.

Pedatuan: Kawasan berpemerintahan kecil yang bersifat genoalogis atau seketurunan (marga). Datu; Pemimpin talang; pemimpin kelompok (kepala desa). Talang; kampung, dusun, desa, pemukiman tradisional.

Dataran Negeri Bukit Pendape; Kawasan tradisional yang meliputi Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, Sebagian Kecamatan lain di wilayah seberang Kabupaten Musi Banyuasin. Ukuran wilayah dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment