6/03/2020

Kisah Asal Usul Serai dan Lengkuas.

Apero Fublic.- Kamu tahu, mengapa serai dan lengkuas selalu bertemu di dalam belanga saat ibu-ibu memasak, gulai. Serai dan Lengkuas menjadi sepasang bumbu yang tidak terpisah. Terutama gulai pindang yang sering di masak oleh masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Tahukah kamu, kalau serai dan lengkuas hadir karena cinta kasih ibu dan cinta sejati sepasang suami istri. Masakan menandakan rasa cinta sebuah keluarga.

Di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape masa itu terdapat beberapa talang. Talang adalah nama tempat tinggal masyarakat waktu itu. Hampir semua talang terletak di pinggir tebing sungai-sungai, terutama tebing Sungai Keruh. Rumah-rumah warga sebagian menghadap aliran Sungai Keruh. Perahu dan rakit tertambat di tepian mandi mereka. Sungai Keruh adalah jalur transportasi masyarakat Melayu di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Cerita ini, terjadi di Talang Gajah Mati pada masa lalu.
*****
Sebuah rumah panggung di tepi Talang Gajah Mati. Beberapa rumpun pisang dan pohon kelapa tumbuh subur di belakang rumah. Rumput hijau membentang di halaman rumah. Beberapa ayam tampak berkais di sisi halaman rumah. Dari rumah ini, kira-kira berjarak lima puluh meter baru ada rumah warga lainnya. Masa itu, lahan masih luas sehingga rumah agak berjauhan satu sama lain.

Suatu sore yang cerah, tampak seorang gadis cantik berumur dua puluhan tahun. Memakai baju kurung tenun songket, berkain sepinggang, dan rambutnya panjang terurai. Tangan indahnya sibuk merajut benang dengan tenunan. Dia sedang menenun kain songket. Jauh di depan rumah puluhan anak-anak sedang berlari-lari, bermain perang-perangan.

“Samida, jangan terlalu sore selesai menenun. Sebentar lagi, ajaklah adikmu mandi di sungai. Aku nak menumbuk padi, beras lah habis. Tinggal untuk menanak sore ini.” Ujar Ibu Samida, dia turun dari tangga dapur. Menjinjing bunang, nyirau. Kemudian dia menuju gudang kecil di bawah rumah. Mereka menamakannya bilik, atau tempat penyimpanan pangan mereka. Tersimpan padi, jagung kering, keladi-keladian, berbagai jenis labu-labuan. Ibu Samida kemudian menumbuk padi di lesung. Terdengar suara bertalu-talu, ayam-ayam pun mulai mendekat.
*****
“Samida, tunggulah. Kami juga nak mandi.” Seorang gadis manis berkulit putih memanggil. Samida dan adik gadis remaja menoleh kebelakang. Dua orang gadis seusia Samida berjalan cepat menuju mereka, Miku dan Yapi. Mereka akhirnya mandi di tepian bersama-sama.

Samida gadis tercantik di Talang Gajah Mati waktu itu. Banyak sekali bujang-bujang menyukainya. Namun belum ada yang berani melamar atau mendekati. Kecantikan Samida terkenal ke seluruh Dataran Negeri Bukit Pendape. Saat mereka sedang mandi, melintaslah sebuah perahu. Di dalam perahu ada empat orang.

Sepertinya mereka keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dua pemuda laki-laki. Seorang pemuda yang berumur dua puluh tiga tahun menatap pada Samida. Pandangannya lekat seakan tak mau lepas. Samida tersenyum, dan dua temannya mulai jahil menggoda Samida.

“Adu, Kak Kadram tampan ya.” Kata Yapi sambil tersenyum lebar. Samida memandangi wajah kedua sahabatnya. Dia tahu kalau sahabatnya itu menggodanya.

“Ia, memang tampan, tapi sayang sebentar lagi ada yang mau dia lamar. Taku berharap, nanti kecewa.” Ujar Miku diiringi tawa ringan. Begitu pun adik Samida ikut tertawa melihat kakaknya tampak malu.

“Melamar siapa, Miku. Jangan patahkan pucuk yang mau bertunas. Nanti getahnya mengucur deras.” Tambah Yapi dengan bersemangat sambil senyum-senyum.

“Yah, melamar gadislah. Yang setiap kali mandi selalu main mata dan tersenyum padanya.” Semuanya tahu kalau yang dimaksud Miku adalah Samida. Memang diam-diam Samida menyukai pemuda yang selalu pulang dari ladang dengan perahu, selalu melintas setiap sore melewati tepian madi mereka.

Sementara itu, si pemuda bernama Kadram terus mengayu perahu ke hulu Talang. Terdengar suara dayung memecah permukaan air sungai yang deras. Wajah tampan itu tampak merenung dan melamun. Dunia seakan sunyi dan hening sebab senyum si gadis cantik mengganggunya.

“Koyong, jangan melamunlah. Nanti kita menabrak tebing tanjung sungai ni.” Adik menggoda.

“Ah, kau ini. Pandai nak mainkan perasaan kakak kau. Nanti aku putar telingamu.” Si pemuda tampak kaget dan berusaha menutupi kalau dia memang melamun. Sang adik tertawa dan ayah-ibunya tersenyum.

“Kalau kau suka sama anak Ayuk Tartan. Nanti malam umak dan bak kau melamar dia untukmu. Ibu juga suka sama Samida. Gadis yang baik, sopan, berbudi bahasa yang luhur, rajin, pandai sekali menenun. Tak susa kau nak buat baju anak-anak kau nanti.” Ibu si pemuda berkata. Kata-kata itu juga di jawab ayahnya, dengan senyum dan mengiakan.

“Dah, kalau kakak tak mau. Biarlah Garnam, Mak.” Ujar sang adik sambil tertawa. Remaja berumur lima belas tahun itu berhasil membut sang kakak meradang. Namun semua kemudian tertawa ringan. Kebahagian terlihat dalam keluarga itu.
****
Di sebelah utara Talang Gajah Mati, berjarak setengah hari perjalanan kaki. Terdapat sebuah talang penduduk. Talang ini, bernama Talang Merbau Due. Di talang itu, hidup seorang lelaki jahat dan serakah. Dia kaya, banyak anak buah, dan banyak istri. Dia selalu ingin menikahi gadis-gadis cantik. Dia telah memiliki tiga orang istri, sekarang. Ketiga istrinya itu semuanya hasil merampas dengan penuh kelicikan.

Cara orang itu, pertama orang tua si gadis diberi pinjaman emas yang berbunga. Sehingga semakin banyak hutang mereka ketika belum lunas. Bunga hutang juga berbunga lagi. Begitulah buruknya tabiat orang itu. Karena tidak sanggup membayar lagi. Maka dia meminta anak gadis mereka sebagai bayarannya. Dialah yang dikenal orang dengan nama, Puyang Bulanak.

Puyang Bulanak mendengar kabar kalau di Talang Gajah Mati ada seorang gadis yang sangat cantik. Maka dia mengutus dua orang anak buahnya mencari tahu. Sehingga datanglah dua anak buah Puyang Bulanak memata-matai Talang Gajah Mati. Mereka pulang melapor dan menceritakan kalau gadis itu memang sangat cantik. Namanya Samida anak Uwa Rimbing dan nama ibunya Tartan.

Puyang Bulanak mengirim utusan melamar Samida. Mereka membawa satu kuintal emas, sepuluh bilah pedang dan mata tombak sebagai hadia. Selain itu, akan ditambah hewan ternak, kerbau, sapi, kambing. Saat melangsungkan pernikahan Samida dengan Puyang Bulanak, kata utusan itu.

Ayah Samida yang sudah tahu tabiat dan kelakuan Puyang Bulanak menolak mentah-mentah. Kebusukan Puyang Bulanak sudah terkenal ke seluruh Pedatuan. Tidak ada kompromi ayah Samida dengan manusia busuk seperti Puyang Bulanak. Hal tersebut membuat Puyang Bulanak sangat marah. Dia membawa pasukan sebanyak seratus orang untuk merampas Samida.

Terjadilah perang antara keluarga Samida dan Puyang Bulanak. Perang itu terjadi, namun ternyata keluarga Samida yang tidak seberapa adalah pendekar silat handal. Warga Talang Gajah Mati juga membantu, termasuk Kadram. Anak buah Puyang Bulanak hancur lululantak. Hanya tersisa dua orang anak buah Puyang Bulanak selamat, itu pun terluka para.

Puyang Bulanak berlari seperti tikus bersama dua orang anak buahnya. Di sana sini bajunya robek karena sabetan pibang. Darah mengucur dari setiap luka. Hampir saja dia juga tewas. Sejak saat itu, Puyang Bulanak tidak lagi berani dengan orang-orang Talang Gajah Mati. Namun, dasar manusia busuk yang licik dan jahat. Dia menyimpan dendam dan rasa sakit hati. Memikirkan rencana membalas kekalahannya.

Dia tidak terimah atas kekalahan telak, dan lamaran yang ditolak. Sehingga dia menyiapkan rencana. Untuk menculik Samida diam-diam. Dikirimlah mata-mata ke Talang Gajah Mati. Dua orang mata-mata tersebut bersembunyi di sekitar Talang Gajah Mati memperhatikan aktivitas Samida dan keluarganya.
****
Waktu berlalu, Kadram ditemani ayah, ibu dan keluarganya melamar Samida. Lamaran diterimah dengan sukacita oleh keluarga Samida. Mereka berdua memang cocok, satu cantik dan satunya tampan. Kulit keduanya sama-sama putih. Dilaksanakanlah upacara pernikahan. Beberpa kambing disembelih, satu ekor sapi juga disembelih. Pernikahan meriah sekali, tarian Melayu dengan diiringi gendang menghibur warga. Sungguh indah pernikahan Kadram dengan Samida.

Satu bulan berlalu, Kadram dan Samida hidup bahagia. Karena masa itu, kehidupan masyarakat hidup dari bertani ladang berpindah. Maka, Kadram dan Samida juga mulai membuka hutan untuk ladang mereka. Keduanya memulai hidup baru dan menata masa depan.

Semua kejadian tersebut, tentu saja diketahui oleh Puyang Bulanak dari laporan mata-matanya. Tempat mereka berladang pun dicari tahu. Sehingga pada suatu hari, saat Kadram dan Samida sedang beristirahat disiang hari di ladangnya. Mereka berdua begitu bahagia, dunia sangat indah untuk mereka. Duduk berdua di serambih pondok ladang mereka.

"Adik, sudah berapa bulan anak kita?." Tanya Kadram seraya memegang perut istrinya dengan lembut. "Baru satu setenga bulan." Jawab Samida dengan bahagia.

Terbentang ladang mereka yang subur. Tampak tanaman sudah mulai tumbuh. Pekerjaan Kadram sedang bersiap membuat pagar ladang mereka. Agar nanti saat tanaman sudah tumbuh besar tidak diserang hama babi. Pada waktu itu keduanya terkejut. Ketika tiba-tiba, muncul tiga puluh orang laki-laki bersenjata pibang. Ada juga yang membawa tombak. Samida dan Kadram tahu kalau mereka dalam bahaya besar.

Keduanya bersiap mengambil pibang milik mereka yang tergantung di dinding pondok berdinding kulit kayu. Tidak banyak basah basih. Puyang Bulanak berkata kalau dia akan membunuh Kadram dan merampas Samida. Dia tidak suka direndahkan dan tidak terima keinginannya ditolak orang. Apalagi yang menolak itu orang biasa dan miskin.

Tiga puluh orang anak buah Puyang Bulanak menyerang. Tidak mudah menaklukkan sepasang suami istri muda itu. Mereka pandai bermain silat. Sehingga mereka mengeroyok dengan tidak tahu malu. Tapi Kadram mampu mengalakan satu demi satu, penyerangnya. Sekarang sudah lima orang roboh ditangan keduanya. Puyang Bulanak mencari akal, lain. Kalau tidak, mereka akan kalah lagi.

Dia mengatur setrategi dengan cara menyerang dan mundur sambil mengurung. Mempersempit ruang gerak Kadram dan Samida. Dia mempersiapkan serangan lemparan tombak. Banyaknya ayunan mata pibang membuat keduanya kerepotan. Kali ini, kembali lima orang anak buah Puyang Bulanak roboh bersimbah darah. Sementara Kadram dan Istrinya sudah ada beberapa sabetan mata pibang di tubuh mereka. Keduanya berdiri beradu belakang untuk saling menjaga.

Puyang Bulanak memerintahkan lima anak buahnya melemparkan tombak bersamaan. Dua tombak diatasi oleh Kadram dan dua lagi diatasi oleh Samida. Namun mata tombak ke lima tidak dapat dielakkan Samida. Kadram melompat menjadikan tubuhnya perisai tombak untuk melindungi Samida. Mata tombak menghujam tepat di dadanya tembus ke punggung belakang.

Tubuh Kadram lunglai dia tewas seketika. Kakinya tertekuk dan tubuh tersandar pada batang tombak, merunduk. Tampak mata tombak menembus satu jengkal di punggungnya. Samida histeris, tubuhnya gemetar. Suami tercinta telah tiada. Tubuhnya lemas dan lemah seketika. Pibang ditangannya terlepas. Jiwanya tidak dapat menerima dan goyah. Tentu kejiwaan wanita lebih lemah. Samida merasa tiada gunanya lagi hidup.

Puyang Bulanak melompat, dia menerjang dan mengenai tepat di punggung Samida. Samida terpental dan jatuh berguling-guling. Melihat dirinya sudah terkepung, dan Puyang Bulanak terus mendekat untuk menangkapnya. Samida tahu, dia akan ditangkap dan diculik. Lalu akan menjadi budak seks Puyang Bulanak. Dia tidak mau, dan akan menjaga kesuciannya sebagai seorang wanita dan seorang istri. Samida bergeser perlahan di tanah. Puyang Bulanak menyergap dan berada dihadapannya sejarak satu langkah. Senyum mengerikan dan buas menatap Samidah.

“Akhirnya kau menjadi milikku. Aku akan bersenang-senang setiap saat. Aku tidak akan pernah menerima kekalahan. Siapa yang berani menentang aku, maka dia akan mendapat balasan setimpal.” Kata Puyang Bulanak dengan sombong.

“Dasar manusia sombong, licik, busuk dan jahat. Aku sumpahi kau akan mati sengsara dan anak keturunanmu terusir dari Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Kau akan menjadi manusia terkutuk, selamanya.” Samida mengucapkan sumpahnya dengan tajam. Puyang Bulanak membungkuk lalu memegang baju Samida dan menarinya sehingga wajah mereka berdekatan. Tiba-tiba.

“Crassss.” Sepotong kayu kecil menancap tepat di mata kiri Puyang Bulanak. Darah mengucur deras, diiringi jeritan keras. Samida terlepas, Puyang Bulakan terhuyung menjerit kesakitan. Dua puluh anak buah Puyang Bulanak mengacungkan pedang. Samida, yang tidak lagi mau hidup bertekad menyelamatkan harga dirinya.

Maka dia nekat menerabas mata-mata pibang yang terarah kearahnya. Karena tidak mau melukai Samida anak buah Puyang Bulanak menarik pibang mereka. Begitulah, sikap wanita Melayu yang selalu menjaga hargadirinya dengan baik. Adat itu sampai sekarang masih dipegang teguh oleh wanita Melayu.

Anak buah Puyang Bulanak Salah menduga. Samida ternyata ingin menabrakkan dirinya ke mata tombak yang menembus di punggung Kadram. Sehingga mata tombak juga menembus tubuhnya. Lalu tubuh keduanya terjatuh. Samida pun tewas menyusul suaminya. Puyang Bulanak begitu kesal dan gusar. Betapa ruginya dia hari itu. Sepuluh anak buahnya tewas, dan mata kirinya pecah. Dia dan sisa anak buahnya pun meninggalkan mayat Kadram dan Samida.
*****
Ayah Kadram dan adik remajanya mendatangi ladang Kadram. Maksud hendak membantu Kadram membuat pagar ladang. Gernam berteriak-teriak dari tepi ladang memanggil sang kakak. Dia bergembira sebab sudah dua minggu tidak bertemu saudara tuanya. Namun keadaan sepi dan lengang sampai mereka tiba di halam pondok.

Keduanya hampir jatuh terduduk menjumpai tubuh Samida dan Kadram yang sudah membiru kaku tertembus tombak. Di sekitar tampak sepuluh mayat tergeletak. Mereka tahu kalau ada pertempuran hidup mati beberapa saat lalu. Tangis keduanya pecah dan Talang Gajah Mati berduka.

Ayah Kadram dan Ayah Samida sangat yakin kalau pelaku adalah Puyang Bulanak. Kelak, saatnya yang tepat mereka akan menghukum Puyang Bulanak. Samida dan Kadram dikubur di sisi Talang. Kuburan pengantin baru itu berdampingan. Tangisan keluarga, terutama ibu keduanya tiada henti. Semua menyayangkan kejadian itu.

Mereka akhirnya melaporkan ke Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Masalah itu, dalam penyelidikan. Belum dapat bertindak karena belum ada bukti tepat. Bukti yang paling kuat adalah, satu biji bola mata yang tertancap pada sepotong ranting kayu.
*****
Ibu Samida dan ibu Pekalang terus bersedih. Keduanya menangis terus menerus tanpa henti. Membuat pilu seluruh Talang Gajah Mati. Tubuh kedua orang berbesan itu kini mulai kurus. Sebab keduanya sangat mencintai anak-anak mereka dan menantu mereka. Tidak ada yang dapat membujuk mereka berdua. Sehingga semuanya menyerah dan membiarkan saja.

Suatu malam, ibu Samida dan ibu Kadram tertidur setelah lelah menangis. Ibu Samida tertidur di sisi dapurnya. Dia mengenang Samida sering memasak, terutama memasak gulai pindang. Sedangkan ibu Kadram tertidur di serambi dapurnya. Dimana Kadram sering membuat bubu. Keduanya bermimpi bertemu Samida dan Kadram. Mimpi mereka sama jalan ceritanya. Dalam mimpinya, Samida dan Kadram datang bertamu kerumah. Anak pengantin baru anak tercinta mereka datang mengobati rindu.

“Kalian datang tepat pada waktunya. Ibu sudah rindu sekali.” Dalam mimpi tampak kandungan Samida sudah besar. Mereka bercerita kalau hidup di tempat yang sangat indah. Ada sebuah istana yang megah yang mereka diami. Mendengar cerita itu, ibu Samida dan Ibu Kadram menjadi bahagia sekali.

“Oh, iya. Ibu membikin gulai pindang jamur kesukaan kalian.” Ujar Ibu mereka. Memang Samida dan Kadram menyukai masakan gulai pindang jamur. Memang orang berjodoh memiliki kesamaan selera dan kesamaan kejiwaan.

“Ibu, kalau mau menggulai pindang, nanti. Supaya lebih enak, berilah sepotong serai dan sepotong lengkuas. Batang lengkuas muda juga enak dijadikan bumbu gulai pindang. Di tempat tinggal kami yang baru. Setiap kali membikin gulai pindang dibumbuhi serai dan lengkuas. Ini Samida bawakkan untuk ibu.”

Kata Samida dalam mimpi ibu dan dalam mimpi mertuanya. Sehingga gulai pindang menjadi sangat sedap. Keluarga mereka makan dengan lahap, sampai kekurangan nasi. “Baru sekali ini, kita kekurangan nasi." Ujar Ibu Samida. Semua tertawa dan ayah mereka berkata. “Karena ada bumbu yang baru itu. Membuat gulai sangat sedap." Kata ayah mereka.

Ibu Samida dan Mertua Samida terbangun. Dia melihat sekeliling, adik Samida membawakkannya sepiring nasi, lalu menyuapinya. Di rumah Kadram sendiri, Gernam juga meminta ibu-nya untuk makan. Karena mimpi itu, kedua wanita itu berubah sekarang. Hati keduanya menjadi tentram. Keduanya sadar, kalau mereka telah salah, bersedi yang sudah berlebihan.

Satu bulan berlalu, Ibu Pekalang bertandang ke rumah Ibu Samida. Keduanya menceritakan mimpi yang ternyata sama persisi. Siang itu, untuk mengobati rindu pada anak kesangan mereka. Keduanya bermaksud ziarah ke kuburan anak dan menantu mereka. Setiba di kuburan, mereka melihat ada tumbuhan yang tumbuh di atas gundukan kuburan kedua anaknya. Di atas kuburan Samida tumbuh serai sebagaimana yang di lihat dalam mimpi mereka. Di atas kuburan Kadram tumbuh lengkuas seperti dalam mimpi juga. Sehingga keduanya bersyukur, walau anak mereka telah tiada di dunia ini. Tapi mereka selalu ada untuk mereka.

Sejak saat itu, lengkuas dan serai dijadikan bumbu memasak gulai. Atau berbagai jenis kuliner berkuah lainnya. Awalnya hanya ditanam di pekarangan rumah keluarga Samida dan keluarga Kadram. Kemudian warga Talang Gajah Mati juga menanam di pekarangan rumah mereka masing-masing. Lalu tersiar tentang bumbu masakan itu ke Talang-Talang lainnya. Sehingga semuanya juga menanam serai dan lengkuas di halaman rumah masing-masing.

Di lanjut juga, di tanam di ladang-ladang warga. Dari waktu ke waktu tanaman serai dan lengkuas terus tersebar ke wilayah lain. Jauh dan jauh hingga sampai sekarang serai dan lengkuas tersebar luas di bumi. Menjadi bumbu masakan gulai dan masakan berkua lainnya. Serai selalu di pasangkan dengan lengkuas untuk bumbu penyedap. Sebab memang sepasang cinta.

“Anakku, kalian tetap bersatu walau di dalam belanga. Cinta suci kalain tidak memisahkan kalain. Bahkan memberi cinta pada semua manusia.” Ujar kedua ibu mereka saat sedang memasak gulai pindang di suatu saat.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 3 Juni 2020.
Daftar Kata: Dataran Negeri Bukit Pendape: Nama tradisional dari kawasan Kecamatan Sungai Keruh, Jirak Jaya, Pelakat Tinggi dan sekitar Bukit Pendape. Atau wilayah Musi Banyuasin seberang, yang terbentang dari tebing sungai Musi sampai ke perbatasan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI.

Talang: Dusun, Kampung, Pemukiman tradisonal orang Melayu. Puyang: Gelar pemimpin atau gelar kehormatan, orang tua, orang sakti, bangsawan. Orang tua dari kakek-nenek kita. Gelar puyang sama seperti gelar: Tun, Tuan, Tengku, Teuku, Datuk, Daeng, Sunan.

Pibang: Senjata tradisional berbentuk pedang. Biasanya pibang sepasang yaitu pibang kidau dan pibang kanan. Pibang kidau berupa pisau dan pibang kanan berupa pedang pendek.

Koyong: Kakak. Bak: Ayah. Umak: Ibu. Pedatuan: Pemerintahan tradisional masyaraat di pulau Sumatera, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumsel, Jambi. Bersifat monarki dan menurut genoalogis mereka.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment