4/25/2020

Cabik Uman. Filosofi dan Budaya Ketahanan Pangan Nenek Moyang

Apero Fublic.- Mengenal cabai salah satu tanaman pangan di Indonesia. Walau cabai hanya sebatas bumbu penyedap masakan. Namun cabai menjadi bumbu kebutuhan pangan di Indonesia. Monopoli dan permainan harga sangat kental dengan bisnis cabai. Cabai menjadi komoditas yang bernilai ekonomis tinggi. Permainan harga biasanya menjelang bulan puasa sampai lebaran. Begitupun saat gagal panen. Harga cabai kadang dapat menyerang perpolitikan tanah air.

Cabai dalam bahasa Melayu bernama Cabik (cabik uman atau cabik talang). Bahasa Inggris bernama cayenne pepper, siling labuyo di Filipina dan di Thailand phrik khi nu. Cabai atau cabik memiliki nama ilmiah capsicum annuum, dari keluarga solanaceae. Cabai atau cabik memiliki beberapa jenis. Yaitu, cabik uman atau cabai rawit. Cabik panjang atau sering disebut media cabai keriting. Ada juga jenis cabai sayur dan beberapa jenis lain seperti paprika.

Khusus dalam tulisan ini membahas cabai dalam kebudayaan Melayu. Yaitu, tentang cabai rawit atau cabik uman dalam bahasa Melayu. Mengapa menyangkut kebudayaan Melayu yang dibahas. Hal ini bertolak pada pembelajaran budaya nenek moyang kita. Dimana saya mengingat kebudayaan kakek nenek dahulu.

Mereka memiliki budaya agraris ladang berpindah. Dimana keadaan alam dalam tahun-tahun kadang tidak menentu. Sedangkan kebutuhan pangan harus selalu ada dan berkelanjutan. Nenek moyang kita tidak memiliki pasar berjaringan seperti sekarang. Mereka hidup terisolir di kampung-kampung terpencil satu sama lain.

Dalam sangkutan dengan topik cabik uman atau cabai rawit. Penduduk zaman dahulu memiliki bibit cabai tersendiri. Nama yang masyakat berikan cabik uman, cabik burung, cabik talang dan lainnya. Kualitas pedas cabik uman yang sangat kuat. Dua biji cabai rawit atau cabik uman dapat memedaskan satu belanga gulai. Mengapa demikian, karena kualitas bibit tradisional sangat baik. Bagaimana nenek moyang kita memenuhi kebutuhan cabai mereka. Sedangkan umur cabai tidak lebih satu tahun. Mereka harus menebang hutan terlebih dahulu untuk membuat ladang baru.

Salah satu hal yang mereka buat adalah mengawetkan cabai. Yang mereka sebut dengan cabai kering. Cabai yang sudah masak berwarna merah di pungut dan diolah. Dicuci bersih dan ditiskan, langsung dijemur dengan wadah lebar yang bersih. Cabai yang dikeringkan dengan cara dijemur di terik matahari. Setelah dijemur beberapa hari. Cabik uman yang sudah kering sampai mengempes tersebut disimpan didalam wadah yang sejuk dan kering. Terhindar dari basah dan sinar matahari langsung. Ketahanan cabai kering ini mencapai dua tahunan.

Biasanya mereka menyimpan di dalam bumbung bambu, guci. Di zaman agak lebih moderen kemudian di dalam toples. Wadah di tutup rapat agar tidak dimasuki serangga besar atau kecil. Kebiasaan nenek moyang kita dalam mengawetkan pangan seperti cabai. Adalah salah satu bentuk budaya ketahanan pangan mandiri. Bayangkan kalau setiap rumah-rumah di Indonesia memiliki cadangan cabai-cabai kering seperti ini. Tentu, pada saat gagal panen, saat harga cabai melonjak karena permainan mapia cabai. Saat menjelang lebaran atau akhir tahun.

Penduduk dapat menggunakan cabai kering yang disimpan. Dalam kondisi negara darurat virus corona seperti sekarang (2020). Atau darurat perang dan krisis ekonomi yang bersifat nasional atau dunia. Tentu sangat membantu sebuah rumah tangga dalam ketahanan pangan mandiri. Penggunaan cabai kering cukup direndam dengan air panas sampai mengembang. Setelah itu dapat dijadikan untuk bumbu masakan.

Mari kita budidayakan cabai uman atau cabai rawit di dalam pot disekitar rumah kita. Mari kita membudayakan membuat stok pangan mandiri di rumah masing-masing. Agar tercapai keluarga yang sejahtera dan kuat untuk ketahanan pangan. Keadaan dunia semakin sulit, kedepannya. Sesungguhnya dalam kurun waktu sepuluh tahun, dunia selalu mengalami masa-masa sulit.

Dengan membudayakan ketahanan pangan mandiri setiap keluarga. Maka kita akan tumbuh menjadi negara yang kuat dan mampu berdiri sendiri. Mari kita budayakan, ketahanan pangan mandiri dalam menyonsong masa depan. Memiliki bilik pangan atau gudang pangan sendiri.

Oleh. Rama Saputra
Editor. Desti. S.Sos.
Foto. Dadang Saputra
Palembang, 26 April 2020.
Bumbung Bambu: Bumbung adalah istilah penyebutan ruas banbu yang di potong dengan satu batas keras sehingga membentuk wadah mirip botol. Masyarakat juga menyebutnya ogoh.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment