3/19/2020

Muslim Indonesia. Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati "CORONA"


Apero Fublic.- Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan kebudayaan. Terutama pada sastra lisan. Seperti pepatah lama kita, berbunyi, “mencega lebih baik dari pada mengobati.” Tentu pepatah lama ini sangat berguna dan bermanfaat untuk kehidupan kita. Nasihat bijak orang tua-tua.

Tidak ada kesulitan kalau kita mencegah. Namun kalau kita sakit tentu sangat banyak kesulitan timbul. Saat kita masuk rumah sakit, keluarga kesulitan menjaga, perlu biayah, dan merugikan diri kita sendiri. Tidak mustahil kalau kita akan kehilangan nyawa kita atau orang yang kita sayangi.

Sekarang sedang mewabah virus covid 19 atau corona di Indonesia. Apakah masyarakat Indonesia masih ingat dengan pepatah lama itu. Dikutif dari Kompas TV menjelaskan per 20 Maret 2020 pukul 17:53 WIB. Di Indonesia sudah 369 orang terinfeksi positif corona. Ada 32 orang meninggal dan 17 orang sudah sembuh. Dengan demikian virus ini sudah mewabah di Indonesia. Pencegahan yang sangat perlu kita lakukan. Sekarang pemerintah mensosialisasikan social distance atau penjagaan jarak antar individu dan antar aktivitas. Antar aktivitas yang dimaksud adalah seperti menghentikan aktivitas belajar tatap muka langsung atau lainnya.

Namun sayang banyak masyarakat Indonesia yang meremehkan virus corona ini. Merasa tidak takut dan tidak percaya dengan keburukannya. Banyak masyarakat menggunakan libur 14 hari untuk jalan-jalan ke tempat wisata atau mal-mal.

Apabila sampai virus corona tidak terbendung dan mewabah sangat luas. Maka kita sendiri yang rugi dan menderita.  Tidak mustahil kita kehilangan orang yang kita cintai. Maka dari itu, mulailah menyadari kepentingan libur dua minggu untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Tetap di rumah dan bermain dengan orang-orang dicinta.

Dalam hal sholat berjamaah kita harus berpikir bijak. Misalnya menunda shalat Jumat di kawasan masjid padat yang jamaahnya terdiri dari masyarakat jauh atau datangan. Sholatlah di masjid-masjid dilingkungan sendiri. Kalau anda merasa pernah berkunjung ke luar daerah yang telah banyak terinfeksi agar tidak sholat berjamaah dahulu. Sebagai muslim kita memang wajib beribadah. Namun saat ibadah itu mengancam jiwa. Maka kita harus menggunakan akal kita dimana hukum agama untuk mempermudah dan melindungi kehidupan manusia.

Dapat kita ambil kesimpulan. Misalnya sholat yang wajib menghadap kiblat. Ketika kita di dalam perjalanan di dalam pesawat. Kita tidak perlu berdiri menghadap kiblat. Begitupun daging babi yang haram. Apabila kita dalam keadaan kelaparan serta dikhawatirkan kita akan mati kelaparan di hutan. Maka kita juga diperbolehkan untuk memakan daging babi untuk menyelamatkan nyawa kita.

Masjid adalah rumah Allah tempat ibadah. Namun bangunan masjid bukalnlah satu-satunya tempat sholat dan untuk berjamaah. Kita bisa sholat di lapangan, di tepian pantai, di hutan, di halaman rumah dan dimana saja kecuali ditempat yang dilarang dan bernajis.

Maka kita dapat berjamaah dimanapun dengan membatasi kerumunan orang di suatu tempat yang banyak. Misalnya jamaah dibatasi 40 orang saja. Yang terdiri dari masyarakat lingkungan itu saja (RT). Atau sesuai keputusan MUI.

Begitupun dengan ulama-ulama Indonesia dalam hal virus menular seperti ini. Tentu kedepannya memerlukan fatwah untuk persiapan menghadapi kemungkinan virus-virus yang akan datang. Sebagai muslim yang beriman dan berakhlak ketika ada himbauan untuk tidak berkumpul harap kita patuhi.

Karena virus corona bukan hanya mengancam jiwa-jiwa kita dan saudara muslim kita. Tapi juga akan mengguncang perekonomian, keamanan, ketenangan sosial bangsa kita secara menyeluruh. Maka dari itu kita harus bekerjasama dengan pemerintah dalam menanggulangi wabah virus corona ini. Salah satunya adalah mengikuti instruksi-intruksi pemerintah dan pihak berwenang. Ingatlah dengan pepatah lama kita, “mencegah lebih baik dari pada mengobati.”

Memang malaikat maut sudah ada daftar nama yang akan dia jemput. Namun kita juga berdosa kalau kita takabur, dan berlebih-lebihan, serta mencari mati. Mencari mati sama saja bunuh diri. Bunu diri dosa besar. Dosa besar neraka jahanam. Jangan sampai negara kita seperti negara Italia.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S. Sos.
Palembang, 20 Maret 2020.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment