1/24/2020

Legenda Puyang Putri Salabure. Sumatera Selatan.

Apero Fublic.- Kisah bermulah dari kehidupan masyarakat Melayu yang mendiami wilayah di lembah sebelah hilir, dan di sekitaran kaki Bukit Pendape. Pada masa itu, wilayah dikenal dengan nama Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Sistem pemukiman penduduk memanjang terletak di pinggir-pinggir tebing sungai-sungai. Sebab sungai sebagai jalur transportasi dan pemenuhan kebutuhan keluarga.

Nama pemukiman mereka, Talang. Nama talang diambil dari keadaan atau sejarah dimana sewaktu talang didirikan. Misalnya saat membuka talang banyak ditemukan pohon meranti. Talang di namakan, Talang Meranti. Pemimpin Talang digelari Datu. Pemimpin yang diangkat langsung oleh rakyat dan berasal dari rakyat digelari, Puyang.

Sebuah talang yang terletak tidak jauh dari aliran Sungai Keruh. Talang yang cukup besar masa itu. Terdapat sekitar tiga ratusan kepala keluarga. Aktivitas mereka bertani ladang berpindah, berburu, dan menangkap ikan di sungai. Rumah-rumah mereka berbentuk panggung dan terbuat dari kayu. Talang tersebut bernama Talang Manau.

Datu Talang Manau bernama Lakulah. Umurnya sekitar lima puluh tahun. Selain itu, ada juga orang yang dihormati di Talang Manau, keluarga yang mahsyur. Keluarga sederhana bukan dari keluarga kaya, bukan golongan bangsawan. Namun kebaikan budi keluarga tersebut sangat terkenal. Kalau ada masalah, belajar ilmu pengetahuan, belajar ilmu kuntau (silat). Penduduk selalu mendatangi keluarga ini, namanya Puyang Salikuliku. Puyang Salikuliku memiliki sepuluh orang anak. Sembilan laki-laki dan si bungsu perempuan bernama, Putri Salabure.
******
Suatu sore Puyang Salikuliku dan tiga anak laki-lakinya sedang latihan ilmu silat (kuntau). Anak laki-laki ke enam bernama Lindu, anak ke tujuh Jujuka, anak ke delapan Pulana. Ketiganya berganti-ganti berlati dengan Puyang Salikuliku. Terdengar suara saling menyerang dengan garang. Mereka latihan dengan tangan kosong. Kadang juga dengan menggunakan khas masyarakat Pedatuan Bukit Pendape, Pibang.

“Heeaaaaa. Heeaaaa. Trannn. Trannggg.” Begitulah suara gaduh kakak beradik berlatih ilmu bela diri.  Puyang Salikuliku mengamati dan kadang terjun ke kanca latihan. Tubuh mereka basah oleh keringat. Tampak pada baju Teluk Belango mereka basah. Berlatih dengan semangat dan penuh dengan perhatian.

“Serangan kakak, jurus bulan bintang tambah mantap. Sulit aku nak mengimbangi kak.” Ujar Jujuka memuji kehebatan Lindu. Lindu hanya tersenyum simpul, dia bilang jangan memuji. Perkataan Jujuka didukung oleh Pulana. "Betul kak, bukan nak memuji. Kakak bisa kembangkan dapat jadi jurus andalan Kakak.

Pulana menegak air di dalam teko gerabah. Terdengar suara tegukan. Setelah puas dia melemparkan teko ke arah Jujuka yang tampak mengisyaratkan kalau dia juga mau minum. Saat teko sedang melayang mengarah ke Jujuka. Melesat sebuah batu sebesar telur ayam menghantam teko. Lalu diiringi suara teriakan dahsyat.

Bayangan serba hitam dengan pibang di punggung, menyerang Pulana. Puyang Salikuliku dan tiga anaknya kaget bukan kepalang. Jujuka, Pulana, dan Lindu melompat mundur sejauh dua langkah ke belakang. Tendangan beruntun si penyerang luput.

Mereka tidak dapat mengenali penyerang, bertopeng cadar hitam. Berbaju serba hitam dan hanya matanya yang terlihat. Orang tidak dikenal ini terus menyerang tiada henti silih berganti. Kali ini si penyerang menghantam Lindu. Terjadilah pertarungan hebat. Lindu akhirnya mampu menyambar topeng yang berbentuk cadar yang dililitkan ke seluruh kepala itu.

“Salaaaaa....” Teriak mereka berempat. Lindu berhenti dan berdiri mantap. Putri Salabure sekarang ketahuan. Tapi dia masih saja menyerang Lindu. Lindu tidak menanggapi, pukulan Putri Salabure berkali-kali mengenai dada, tendangan menghantam pinggang. Tapi Lindu diam saja.

“Dah, berhenti. Kau ini.” Ujar Lindu melangkah pergi sambil melemparkan topeng ke Putri Salabure. Putri Salabure berteriak kalau dia mau ikut latihan silat.

“Balik, dah soreh. Siapa bantu Umak memasak!!!.” Ujar Lindu melangkah dan duduk.

“Untung punya satu saja adik perempuan macam kau, ini. Kalau ada lima saja, hancur Talang Manau ini." Serga Pulana.

“Kak, Sala mau ikut latihan. Mesti ajaklah aku.” Ujar Putri Salabure merengek, sambil cemberut dan merajuk.

“Sudah besar masih manja, saja.” Kata Jujuka yang kemudian duduk di hadapan Puyang Salikuliku. Puyang Salikuliku melambaikan tangan agar Putri Salabure juga duduk di hadapannya disamping kakak-kakaknya. Putri Salabure duduk sambil cemberut di sisi Pulana. Mereka mendengarkan nasihat sang ayah. Beberapa saat kemudian Putri Salabure pulang dia diminta mengantar air minum.

"Pulang, siapa bantu Unak masak." Ujar Putri di jalan dengan nada kesal meniru suara kakaknya tadi. Sambil mulutnya dimenyong-menyongkan.

Di sepanjang jalan pulang dia masih merajuk. Baginya tidak mengapa wanita ikut laki-laki latihan. Tapi itulah adat, dan wanita harus ikut kodratnya sebagai wanita. Nasihat Puyang, wanita hebat bukan dinilai dari kehebatannya, tapi dari akhlak dan kasih sayangnya. Setiba di rumah Putri Salabure langsung masuk kamar dan mengurung diri. Sang ibu hanya menarik nafas dalam. Terpaksa si ibu yang mengantar air minum.

Waktu berlalu sekarang memasuki musim kemarau. Kemarau belum begitu lama. Namun sungai, lebung, paya-paya dan tempat penampungan air sudah kekeringan. Penduduk terpaksa menggali tanah di dasar sungai kering untuk mendapatkan air bersih. Kemudian memasuki musim hujan. Hujan belum begitu lebat tapi sudah banjir saja. Begitupun tahun berikutnya, kemarau panjang dan air kering kembali. Sementara itu, Bukit Pendape telah gundul dan menjadi ladang masyarakat semuanya.

Memasuki musim penghujan tahun itu, untuk pertama kalinya banjir bandang melanda. Banyak yang menjadi korban. Beberapa talang terdekat hancur dilanda banjir bandang. Musim kemarau datang kembali, belum begitu lama, air telah menghilang. Lalu tahun berikutnya lebih kering karena kemarau cukup panjang. Ribuan orang meninggal dunia akibat wabah kolera, sebab sering mengkonsumsi air kotor.

Para tetua masyarakat, para datu-datu talang, dan para puyang lainnya bermusyawarah. Mencari tahu apa yang menyebabkan bencan-bencana menimpa kawasan Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Apa sumber masalahnya, bahkan mereka mulakukan sedekah bumi dengan menyembelih puluhan ekor sapi. Namun tahun berikutnya, banjir bandang kembali melanda. Merusak tanaman dan menghancurkan pemukiman penduduk. Kembali ribuan orang mati.

Kemarau kembali datang dan kembali wabah penyakit kolera lagi, diare menyerang dan ribuan orang mati. Akibat kekurangan air bersih. Begitulah bencana melanda dan melanda. Entah apa sebabnya, semua tidak dapat menjawabnya.
******
Nun jauh di hutan-hutan di atas bukit barisan. Ribuan orang pasukan suku kubu berbaris mencari makanan menuju Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Mereka ingin menjarah, menyerang dan menghancurkan Negeri Bukit Pendape. Mereka bersenjata tombak, panah, dan pedang, berjalan tanpa lelah. Mereka memiliki pasukan bergajah. Rupanya suku Kubu mampu menjinakkan gajah liar yang banyak terdapat di hutan Sumatera.

Tibalah pasukan Suku Kubu di perbatasan wilayah Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Pasukan penjaga menghadang dan dimulai perang. Pasukan penjaga mengirim kabar ke Puyang Datu Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Mengetahui kabar tersebut, Puyang Datu mengumpulkan para hulubalang, prajurit, para tetua, dan segenap rakyat. Mengumumkan kalau sekarang dalam keadaan darurat perang. Mereka bermusyawara mencari panglima perang sebagai pemimpin sentral pasukan yang akan memimpin pasukan pedatuan.

“Barang siapa yang dapat mengangkat, menggunakan dan memainkan Pusaka Pibang Sakti milik pedatuan, maka dialah yang akan memimpin perang besar ini. Di persilahkan kalian satu per satu mengangkat pibang dari dalam kotak, bergantian." Jelas Puyang Pedatuan.

Maka bergiliranlah kaum laki-laki mengangkat pibang sakti. Dimulai dari Puyang Pedatuan, Para Datu talang, para Puyang, termasuk Puyang Salikuliku, dan anak-anaknya. Seluruh kaum laki-laki sampai usia lima tahun. Dari petani, pedagang, prajurit, hulubalang, orang biasa dan lainnya ikut mencoba mengangkat Pibang Pusaka Pedatuan.

Namun tidak satupun ada kaum laki-laki yang dapat mengangkat. Bahkan sekedar menggeser saja tidak bisa. Apalagi sampai mencabut mata pibang pusaka dari sarungnya. Sekarang giliran kaum wanita yang akan dipersilahkan mengangkat. Kaum wanita juga dimulai dari istri Puyang Pedatuan, Istri Puyang lainnya. Termasuk istri Puyang Salikuliku dan semua istri orang berpengaruh dan lainnya.

Dari nenek-nenek, ibu-ibu, dan para gadis tapi tidak ada yang dapat mengangkat Pibang Pusaka. Semua menjadi cemas, karena tidak mendapatkan orang yang dapat mengangkat Pibang pusaka. Menurut mereka akan kalah perang melawan pasukan Suku Kubu yang sudah berada di perbatasan Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

“Kita akan berperang tanpa Pibang Pusaka, tetap akan menang Puyang. Kita bersatu dan melawan pasukan orang Kubu itu.” Kata Jujuka berapi-api. Jujuka berdiri di samping Puyang Pedatuan, menyatakan kalau dia siap berperang sampai titik darah penghabisan. Perkataan Jujuka disambut gemuru oleh semua lapisan masyarakat dan prajurit Pedatuan. Para hulubalang juga berkata demikian. Maka mereka semua bertekad bulat untuk berperang dan memenangkan peperangan.

“Mereka menyerang kita, karena hendak merampas negeri kita. Hendak merampas anak perempuan dan istri kita. Maka kita akan melindungi keluarga kita dan kita akan menghancurkan mereka.” Ujar Datu Talang Gajah Mati ikut berorasi membakar semangat pasukan dan semangat masyarakat.

Semua berteriak perang, mencabut pibang masing-masing dan mengacungkan ke atas. Teriakan bergemuru dan mereka mulai mengatur barisan dan siap bergerak ke perbatasan menyonsong penyerang, Suku Kubu. Pasukan diatur, ada pasukan yang berjaga disekeliling perbatasan, agar tidak ada serangan dari belakang. Orang tua, wanita dan anak-anak diungsikan. Menjelang sore hari, dua pasukan berhadapan di perbatasan Pedatuan Negeri Bukit Pendape. Tanah lapang dan berbukit menjadi medan perang.

“Puyang Pedatuan, harap segerah mengirim bantuan. Pasukan perbatasan kita kewalahan. Mungkin tidak dapat bertahan lama, kalah jumlah. Hulubalang Muntaka juga terluka di paha kiri terkenah panah lawan.” Lapor seorang prajurit. Puyang segerah memberi isyarat pada semuanya untuk segerah mengambil tempat yang sudah direncanakan. Pasukan panah, pasukan tombak, pasukan penyergap, dan pasukan pemancing. Perang dahsyat terjadi antara rakyat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape dengan pasukan Suku Kubu dari Bukit Barisan.
*****
Sementara itu, Putri Salabure bangun dari tidurnya. Mengucak-ucak matanya yang merah. Lalu merapikan rambut dengan ikat songket. Rambut yang panjang hitam dia sisir rapi. Berderik pintu kamar saat dia membuka dan kedapur untuk meminum. Beberapa kali dia manggil keluarganya, ayah, ibu, kakak-kakak satu demi satu dia panggil. Tapi keadaan sepi dan hening, begitupun disekitar rumahnya. Berdiri di jendela dapur Putri Salabure menatap ke tengah pemukiman Talang Manau yang tampak sepi.

Kemudian muncul sepuluh orang laki-laki berlari-lari tergesah-gesah membawa perlengkapan perang, tombak, panah, dan pibang. Dari jauh dia melihat lelaki tua seumuran ayahnya melompat turun dari serambi rumah panggung tanpa melewati tangga yang diiringi dua orang anak laki-lakinya, Uwa Nantata. Mereka juga berlari dengan alat perang.

Talang Manau kemudian gaduh muncul kaum ibu-ibu, semuanya dari arah Kota Pedatuan. Mereka kemudian sibuk masuk kerumah dan membawa buntalan pakaian. Ada yang menggendong padi, membawa peralatan masak.

Ibu Putri Salabure datang, naik tangga rumah tergesah-gesah. Juga membuat gerakan yang sama, sibuk berbenah seperti orang mau pindah. Butalan pakaian, senjata perang, garam dan batu api. Beras dan bumbu dapur, periuk dan lainnya.

“Ada apa Umak, sibuk semua orang Talang?. Tanya Putri malas.
“Dah siap-siaplah, kita nak pegi mengungsi. Negeri kita diserang suku Kubu dari Bukit Barisan.” Ibu Putri Salabure menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari kedatangan pasukan Suku Kubu, pencarian pemimpin yang dapat menggunakan Pusaka Pibang Sakti di istana Pedatuan. Barulah Putri Salabure mengerti.

Dia juga ikut berbenah dan siap mengungsi. Ayah dan kakak-kakak sudah pergi berperang. Timbul rasa khawatir dan takut kalau orang-orang yang dia cintai terjadi sesuatu. Membuat Putri Salabure menangis sambil mengingat ayah dan kakak-akaknya. Ibunya hanya mengurut dada dan meminta agar putri bersabar. “Ibu mengerti, tapi kita harus segerah pergi. Ini perintah ayahmu.
*****
Perang terjadi dan kedua belah pihak sama ganas. Sudah banyak korban di pihak suku Kubu. Namun mereka tidak mau menyerah. Mereka terus membabi buta, dan sekarang mulai menggerakkan pasukan gajah mereka. Orang suku kubu terkenal dengan teknik penaklukan gajah. Sehingga mereka memiliki pasukan gajah. Pasukan pedatuan terpaksa bertahan dengan cara menyerang, mundur, bertahan, menyerang, mundur, bertahan.

Sehingga terus terdesak oleh kekuatan Suku Kubu. Malam menjelang dan perang berhenti. Keesokan pagi kembali peperangan berkobar. Seperti kemarin untuk menghadapi pasukan gajah terpaksa menerapkan setrategi gerilya. Menjelang sore pasukan Pedatuan Bukit Pendape terdesak hebat. Maju mereka binasa oleh pasukan gajah, mundur bukit terjal dan sungai-sungai. Sehingga gerak pasukan Bukit Pendape sempit. Teknik bertahan, menyerang, dan mundur tidak efektif lagi. Maka perang prontal terpaksa diterapkan. Tentu saja pasukan Pedatuan perlahan kalah dan berjatuhan korban di pihak Pedatuan Bukit Pendape.

“Kak, awassss. Arah belakang!!!. Teriak Pulana. Jujuka mengelak, lemparan tombak lewat. Tapi kembali ada bayangan melompat membabat dengan pedang, ditangkis. Jujuka kembali diserang dua orang dengan tombak. Melihat Jujuka dikeroyok, Pulana berlari membatu. Sehingga mereka dapat mengalahkan lima penyerang itu. Habis itu, kembali berdatangan pasukan suku kubu yang lainnya. Menyeruak dari semak-semak, mengelilingi. Membuat kakak beradik itu sangat kerepotan. Suku Kubu sangat ganas dan tidak ada belas kasihan.

Lindu datang membatu, dan keadaan agak berimabang. Namun kembali bertambah pasukan suku kubu itu. Kini ketiganya dikepung lima puluhan orang. Mereka melihat sekeliling sudah tidak ada lagi pasukan Pedatuan bersama mereka. Semuanya sudah terkapar tewas. Sedangkan pasukan bantuan tidak ada.

Serangan mendadak, serentak, dengan kepungan tentu membuat mereka tidak dapat menghindar, menangkis sekaligus. Beberapa sayatan dan tebasan mengenai tubuh mereka masing-masing. Mereka bertiga bergandengan belakang dan tubuh mulai basah oleh keringat dan darah. Mereka sudah tidak berharap hidup lagi.

“Heeeaaaaa. Crass, trang, trang, trang. Teriakan dahsyat dan bayangan hitam melompat menyerang. Pedang-pedang pasukan kubu yang berbenturan dengan senjata si bayangan hitam putus. Lalu si bayangan hitam menyabet balik lima orang pasukan kubu roboh. Kembali bergemuru pertarungan hidup mati. Tapi lain dengan si bertopeng hitam dan senjatanya yang hebat. Beberapa gerakan saja puluhan orang tewas tertebas. Sisanya berlari dan menghilang dikelebatan hutan.

“Kakak.” Suara si topeng hitam terdengar lembut dan bercampur tangis. Tahulah mereka kalau itu adik bungsu mereka yang manja, Putri Salabure.

Pertarungan terus berlangsung keesokan harinya. Kini Putri Salabure dinobatkan menjadi panglima pasukan Pedatuan Bukit Pendape. Ternyata sebelum pergi mengungsi, Putri Salabure mencoba mengagkat Pibang Pusaka di istana Pedatuan. Ternyata dia bisa dan segerahlah dia menyusul ke medan perang.

Putri Salabure di anugerahi gelar, Puyang. Semua pasukan mematuhi komando Puyang Putri Salabure. Kali ini mereka menyerang balik pasukan suku Kubu diwaktu pajar. Mendapat serangan mendadak dan keadaan tidak begitu siap. Membuat pasukan suku kubu kalang kabut. Gempuran terus tak berhenti. Matahari yang cerah disambut jeritan dan teriakan dahsyat peperangan.

Pasukan gajah tidak berdaya saat berhadapan dengan pusaka Pibang Sakti. Satu sabetan membuat kaki gajah putus atau perutnya robek. Putri Salabure seperti elang sekarang. Kesaktiannya bertambah dengan memainkan Pibang Sakti. Menjelang sore, pasukan suku kubu hancur. Pimpinannya tewas ditangan Puyang Putri Salabure. Maka berakhirlah peperangan.

Kemenangan dipihak Pedatuan Negeri Bukit Pendape. Sejak saat itu, Puyang Putri Salabure diakui sebagai panglima pedatuan. Dia dihormati dan mendapat tunjangan hidup sebagai seorang pembesar lainnya. Kehidupan kembali normal di Pedatuan. Namun bencana belum berakhir.

Kembali kemarau datang dan korban berjatuhan kembali. Nahas tahun ini Puyang Salikuliku juga terkenah wabah dan dia meninggal dunia. Kesedihan mendalam di hati Puyang Putri Salabure dan keluarganya. Dari itu, dia bertekad mengakhiri bencana yang setiap tahun terus melanda mereka.

Kemarau dengan kekeringan parah, dan penghujan dengan banjir dan banjir bandang dari atas Bukit Pendape. Dia kemudian mengadakan penyelidikan dan mengamati alam, bertanya pada orang-orang tua tentang masa lalu dan masak sekarang. Setelah melakukan penyelidikan maka ada kesimpulan yang Puyang Putri Salabure pahami.

1. Dahulu Bukit Pendape hijau dan banyak pepohonan. Maka Bukit Pendape harus ditanami kembali. Hutan harus di jaga sebab hutan penyimpanan air dan pengurai air hujan agar tidak mengalir langsung saat hujan turun deras.

2. Saat musim penghujan mereka pindah ke atas Bukit Pendape untuk menghindari banjir sungai dan banjir bandang dari atas bukit. Saat musim kemarau mereka pindah ke hilir didekat sungai karena masih dapat menggali sumur di dalam badan sungai yang kering.

Dari kesimpulan itulah mereka akhirnya terhindar dari bencana untuk pertama kalinya. Bukit pendape kini mulai ditanam pepohonan dan tidak boleh ditebang apalagi dijadikan ladang. Harus dijaga kelestarian hutan di atas bukit, di lereng bukit, dan disekitar bukit.

Waktu berlalu, sekarang Puyang Putri Salabure dan ketiga kakak telah menikah. Mereka sekarang sudah memiliki anak-anak. Benar saja, dalam waktu sepuluh tahun mereka mulai mendapat hasil dari kegiatan mereka. Hutan yang mereka tanam sudah mulai lebat kembali, dan kembali menyimpan air. Saat kemarau daerah hilir tidak langsung kering sebab mata air masih mengalir hasil penyimpanan akar pohon di perbukitan.

Musim penghujan tidak lagi terjadi banjir bandang. Karena air hujan telah terurai oleh pepohonan. Sepuluh tahun kemudian, hutan di Bukit Pendape benar-benar lebat dan kembali seperti dulu lagi. Sehingga kekeraingan di Pedatuan Bukit Pendape hanya terjadi apabila sudah kemarau yang sangat panjang. Kalau kemarau biasa, tebat, lebung, Sungai Keruh Sungai Sake, dan sungai lainnya tidak kering parah. Tidak ada lagi wabah diare dan kolera dimusin kemarau. Bahagialah penduduk Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.
*****
Puyang Putri Salabure sekarang sudah tua, rambutnya sudah memutih. Suatu hari Puyang Putri Salabure mengajak penduduk ke puncak Bukit Pendape. Mereka berjalan mendaki dan melihat-lihat hutan yang lebat hasil tanaman mereka puluhan tahun lalu. Pohon meranti, pohon unglen atau ulin, merbau, mangris sudah tampak besar. Sampai sekarang pepohonan tersebut masih dapat dijumpai di atas Bukit Pendape.

Puyang Putri berdiri dihadapan masyarakat yang ikut mendaki ke atas bukit. Dia berkata agar menjaga Bukit Pendape, jangan dirusak hutannya. Karena akan mendatangkan malapetaka dan bencana bagi seluruh penghuni Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Lalu dia bersumpah dengan suara lantang menggema.

"Aku menyumpahi segenap anak manusia di bumi. Terkhusus untuk anak cucuku yang mendiami Dataran Negeri Bukit Pendape ini. Barang siapa menebangi hutan dan menyebabkan hutan rusak. Atau orang menebang pohon karena keserakahan, untuk jual beli dengan tujuan keuntungan pribadi. Barang siapa berbuat dosa, seperti berzina, berbuat mesum, berjudi, mabuk-mabukan di hutan ini. Maka aku sumpahi semua keturunannya tidak senono.

Barang siapa membakar hutan ini aku sumpahi hidupnya tidak akan bahagia dan selalu menderita sampai tujuh keturunan. Barang siapa yang menjaga hutan, menjaga Bukit Pendape dan berbuat baik disini. Maka kebahagiaan dan kesejahteraan untuk dirinya dan untuk kalian semua. Tuhan akan memberikan hadiah surga di hari kiamat nanti." Itulah bunyi sumpah Puyang Putri Salabure agar di taati oleh masyarakat sekarang dan sampai kapanpun.

Lalu Puyang Putri Salabure mencabut Pusaka Pibang Sakti dari warangkanya. Lalu menusukkan ke tanah. Beberapa saat kemudian dia cabut kembali. Dari bekas tusukan mata Pibang Sakti muncrat mata air. Mata air terus mengalir dan mengalir. Kelak mata air menjadi sungai kecil yang mengalir terus di atas bukit. Sampai sekarang sungai kecil itu masih ada. Dapat dijumpai di kawasan Bukit Pendape saat kita berkunjung ke sana.

Seperti manusia biasa, Puyang Putri Salabure meninggal dunia layaknya manusia biasa. Dari atas kuburannya tumbuh sebatang pohon. Pada awalnya masyarakat ingin mencabutnya. Namun diurungkan takut terjadi apa-apa. Setelah pohon itu besar berbua bulat-bulat warna hijau. Saat masak berwarna merah dan bijinya asam manis. Penduduk menamakan buah tersebut dengan nama, buah Salabure. Pohon Salabure tumbuh tersebar dan penduduk mengenali pohon ini.

Semua masyarakat mendengar sumpah Puyang Putri Salabure. Semua berjanji akan mematuhi semua sumpah tersebut. Sampai sekarang hutan di Bukit Pendape tetap lestari dan terjaga. Entah keajaiban apa terjadi di zaman kita sekarang. Pemerintah menetapkan hutan di Kawasan Bukit Pendape menjadi hutan lindung dan tidak boleh ditebang pepohonannya.

Masyarakat diwajibkan ikut menjaga hutan. Mungkinkah kesaktian Puyang Putri Salabure yang menggerakkan pemerintah kita. Kita tidak tahu hal demikian. Namun semua ada dan terbukti. Mari kita jaga dan lestarikan alam kita. Satu pohon memberikan satu kehidupan. Menebang satu pohon berarti membunuh satu kehidupan.
Foto kondisi sungai di kawasan hutan Bukit Pendape. Sumber foto dari facebook Puncak Tertinggi Muba (Explorer Pendape).

Oleh. Joni Apero.
Palembang, 19 Januari 2019.

Arti kata:
Pibang: Senjata tradisional masyarakat Dataran Negeri Bukit Pendape. Pedatuan: sama dengan kabupaten pada masa sekarang. Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape nama tradisional yang sekarang meliputi wilayah seberang Kabupaten Musi Banyuasin.

Dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI. Meliputi Kecataman Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Palakat Tinggi, sebagian kecamatan Sekayu, Sebagian kecaman lainnya yang sejajar lainnya.

Puyang: Pemimpin yang diangkat rakyat. Talang: Kampung/Desa. Datu: kepala desa/kepala dusun/pinpinan talang bahasa itu sebelum masuknya pengaruh hindhu dan budah. Umak: Ibu. Bak: Ayah.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment