1/26/2020

Contoh Paham Neofeodalisme Derajad Dirinya Diukur Dengan Makanan

Apero Fublic.- Apakah ubi goreng makanan yang buruk, merusak kesehatan, atau apa???. Bagaimana dengan makanan mewah, harga ratusan ribu satu porsi. Apa begitu baik untuk kesehatan???. Apakah ubi goreng dan jajanan pasar lebih mulia dari makanan yang dibeli dengan uang hasil korupsi???. Apakah makanan yang rupanya bagus, wadah mahal, dimakan di tempat mewah atau di hotel berbintang saat keluar dari dubur kita bukan kotoran???.

Yang perlu dicatat, nilai sebuah makanan dinilai dari, kehalalan, kebaikan untuk tubuh (gizi), dan kebersihan. Bukan dinilai dari harga, rupa, rasa, wadah, dan tempat makannya. Pada pembahasan ini, bagaimana mencontohkan paham orang yang berpaham neo-feodalisme. Orang tersebut seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Orang ini merasa dirinya memiliki derajad, kedudukan, posisi, yang tinggi atau kelas orang elit, orang muliah. Untuk melegitimasi dia sebagai orang mulia. Maka perlakuan orang pada dirinya harus spesial. Sebab dia seorang anggota DPR. Ke spesialan ini dia ukur dengan hal yang luar biasa. Karena dengan perlakuan istimewa dia baru merasa kalau dia orang yang dihargai. Penghargaan itu dari simbol-simbol materi, dan sandiwara.

Misalnya, kita harus berkata lemah-lembut. Selalu mengalah dan membenarkan kata-kata dia. Begitupun dalam penyajian makanan harus yang mewah dan mahal. Sebab dia orang yang terhormat dan kelas tinggi. Apabila dia tidak mendapatkan hal tersebut. Maka dia akan tersinggung dan merasa tidak dihormati.

Kalau kita memberikan jawaban yang tidak membenarkan pendapat dia. Maka darah akan mendidih marah. Karena dia merasa dianggap bodoh atau digurui. Ketika dia disuguhi makanan sederhana sudah pasti dia akan tersinggung. Sebab makanan sederhana menurut dia tidak selevel dengan dirinya seorang pejabat. Dalam pemikiran orang-orang feodalisme. Kelas pejabat negara haruslah disuguhkan makanan mewah dan mahal.

Sebagai bentuk ilustrasi. Perhatikan di film-film bagaimana seorang raja makan dengan hidangan berhamparan. Tidak suka sedikit, langsung membanting sesuatu atau mumukul orang. Bagi mereka ukuran tingginya seorang pejabat yaitu dengan simbol-simbol tersebut, kekasaran. Bukan dengan prestasi dan kinerja Dirinya.

Ukuruan kemewahan tersebut menjadi letak tingginya derajad dirinya. Dia tersinggung karena menganggap singkong atau ubi dan makanan sederhana lainnya adalah makanan kelas orang rendah. Orang rendah misalnya petani, rakyat biasa. Padahal dari pada anggota dewan tersebut lebih bergunahlah petani. Sebab petani membayar pajak dan hasil pertaniannya dijual dan memenuhi kebutuhan manusia lainnya.

Orang ini menilai kualitas sutu makanan dari rupa dan rasa. Tidak dinilai dari kandungan gizi dan manfaat untuk kesehatan tubuh. Kalau dibandingkan dengan coklat, kue manis-manis. Ubi lebih sehat dan lebih bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Pola pikir yang menilai makanan dari rasa dan rupa adalah pola pikir masyarakat primitif dan pola pikir anak-anak. Bukan pola pikir manusia moderen dan berpikir.

Bahasan sedikit ini menjelaskan bentuk paham neofeodalisme manusia Indonesia. Paham seperti ini, hanya akan hilang dengan ilmu pengetahuan. Kalau manusia tidak memiliki cukup ilmu pengetahuan maka sulit lepas dari paham neofeodalisme. Neofeodalisme sumber korupsi dan awal korupsi di Indonesia. Di negara kita manusia yang sedikit menyimpan uang saja sudah berpaham neofeodalisme. Apalagi sekelas anggota dewan atau berkedudukan lainnya.

Bagi orang-orang yang merasa dirinya tinggi oleh sebab simbol dan materi. Agar merenenungkan diri dengan mengambil hikmah dari Rasulullah SAW. Rasulullah adalah seorang nabi, sekaligus seorang pemimpin negara. Namun beliau tidak menjadi feodal pada zamannya. Pada suatu hari seorang sahabat mendatangi beliau yang sedang mengambil kayu bakar.

Rasulullah SAW, dapat memerintahkan siapa saja untuk mengerjakan keperluan hidup beliau. Tapi beliau tidak melakukan hal tersebut. Beliau tidak mentang-mentang dan tidak mengambil kesempatan. Tidak merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Dia tahu kalau manusia itu sama saja. Di Indonesia, baru kredit mobil dengan DP lima belas juta saja, gayanya sudah selangit.

Sebab dia sudah merasa sukses dari orang yang belum punya mobil. Karena dia menganut paham feodal. Bagi yang belum mengerti makna paham feodalisme. Feodalisme suatu paham yang merasa berhasil dengan simbol-simbol, seperti memiliki kedudukan dan materi, bukan diukur dari prestasi dan kebaikan.


Sebagai contoh lagi, ada seorang pemuda desa yang Kulia di kota. Kemudian dia bekerja disebuah perusahaan. Pemuda ini karena sudah bekerja di perusahaan tersebut merasa derajatnya sudah tinggi. Lalu dia merasa elegan, tidak mau kotor lagi. Agak rumit dengan makanan.

Dahulu makan di warteg, air putih gratis. Sekarang merasa tidak pantas lagi makan di warteg dikarenakan sudah bekerja di kantoran. Inilah orang yang disebut penganut paham neo-feodalisme. Dimana ukuran kesuksesan dan derajad diukur dari simbol-simbol materi dan yang tampak, alias sombong.
Paham feodalisme muncul bukan karena monarki tapi karena kebodohan intelektual, kesombongan, ingin dipuji, ingin dihormati, ingin dipandang tinggi derajadnya dan merasa lebih dari orang-orang, dan egoisme individu. Neo-feodalisme adalah bentuk feodal baru. Kalau dizaman monarki kaum bangsawan dan borjuisme yang menganut paham ini. Dizaman sekrang penganut paham ini adalah orang-orang yang sedikit berkedudukan di tengah masyarakat.
#Salam Revolusi Biru.
#Barisan Indonesia Baru (BIRU).

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 26 Januari 2020.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment