11/28/2019

Perang Kemerdekaan di Kecamatan Sungai Keruh Tahun 1947

Apero Fublic.- Pada tanggal 1 Januari 1947 perang Palembang dimulai selama lima hari lima malam. Setelah perang lima hari lima malam di Kota Palembang usai. Tentara Republik Indonesia (TRI), Laskar rakyat, dan Rakyat di Kota Palembang mundur ke daerah-daerah. Sehingga medan perang meluas.

Belanda yang bernafsu ingin menjajah kembali Indonesia terus melakukan penyerangan terhadap pertahanan rakyat. Salah satu daerah yang paling bernafsu dikuasai adalah Kabupaten Musi Banyuasin atau Sekayu. Waktu itu nama Musi Banyuasin adalah Kewedanan Musi Ilir dan Sekayu sebagai Ibu Kotanya.

Kewedanan Sekayu masih melingkupi Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Banyuasin sampai ke Kilometer lima sekarang. Sebagian Kabupaten PALI khususnya Panukal. Luasnya wilayah dan banyaknya kilang minyak bumi adalah alasan terbesar Belanda mati-matian menaklukkan Sekayu.

Untuk merebut Sekayu Belanda melakukan dua jalur penyerangan. Dari arah Palembang sepanjang jalan lintas Palembang-Jambi sekarang. Jalan lintas Betung Sekayu adalah medan perang yang tak sudah-sudah. TRI (Tentara Republik Indonesia) kelak menjadi TNI. Laskar Rakyat seperti Tentara Hisbullah, GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), Pasukan Berani Mati, Laskar Sabilillah dan Rakyat.

Mempertahankan mati-matian dengan sekuat tenaga. Namun apa daya, dengan sedikit senjata rampas dari Jepang, bedil kecepek, gobang, pedang, tombak. Tentu tidak dapat melawan tank baja, panser, senapan mesin, sniper, senjata otomatis, pengeboman dari pesawat, mortir, dan granat. Namun perlawan sangat sengit membuat pertempuran berjalan alot.

Sementara itu, pasukan Belanda telah menguasai Pendopo pusat minyak  bumi. Mereka mulai menggerakkan pasukan menuju Kecamatan Sungai Keruh. Tentu saja masyarakat Sungai Keruh yang telah siap untuk perang. Sebab peperangan dengan Jepang telah mereka lakukan sebelumnya di tahun 1945. Maka kordinasi setiap desa tidak terlalu sulit.

Laskar GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), Laskar Hisbullah telah siap sedia. Rakyat telah siap mengungsi setiap waktu ke hutan-hutan kalau pecah perang. Belanda terus menjajaki pertahanan republik di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan waktu itu.

Pertempuran pertama di Kecamatan Sungai Keruh terjadi di Lesung Batu atau Lubuk Kepayang, 30 Juli 1947. Terletak tidak jauh dari Talang Sungai Dua. Pasukan dipimpin oleh Marimin dan Mardikun keduanya Polisi Tentara. Jumlah pasukan kita sekitar seratus orang. Terdiri dari TRI, GPII, Hisbullah dan Rakyat.

Tentara Belanda terdiri dari satu Peleton KL dan satu Peleton KNIL. Satu peleton kurang lebih lima puluh orang jadi kurang lebih tentara Belanda juga seratusan orang. Pasukan Belanda tersebut melakukan patroli langsung mengamankan perbatasan Pendopo dengan Kecamatan Sungai Keruh.

Seperti biasa pihak pemilik senjata moderen selalu menembak membabi buta untuk mengalakan musuh. Mereka sangat takut mati. Pasukan kita hanya membalas sekali-sekali saja, sambil bersembunyi. Seperti biasa senjata kita senapan karabin rampasan dari Jepang yang menembak sekali-sekali. Kemudian kecepek yang mengisi lama dengan mesiu (obat).

Sedangkan yang memegang tombak, golok, pedang hanya melongok sambil mengintip bersembunyi. Ada seorang dari pasukan kita yang lengah sehingga dia tertembak dan gugur hari itu. Di Lubuk Kepayang tentara Belanda kemudian menembak sesuka hatinya dengan senjata otomatis mereka. Sehingga ada sebelas orang Indonesia mati hari itu, termasuk seorang wanita dan seorang anak-anak. Rumah-rumah penduduk di sana habis dibakar oleh tentara Belanda.[1]

Pada tanggal 1 Agustus 1947, pasukan di Sungai Keruh berencana menyerang markas tentara Belanda di Jirak tepatnya di Gasplant. Tengah malam mereka melakukan pendekatan markas Belanda. Pasukan datang dari Desa Pagarkaya, Sukalali, Kertayu, dan Kertajaya.

Pasukan kita berjumlah 500 orang tapi senjata tradisional seperti biasa. Dari Pagarkaya berjalan menyusuri jalan setapak ke Jirak. Dari Kertayu dan Sukalali berjalan menyusuri jalan dari Pagarkaya menuju Pas Sebelas lalu ke Jirak. Sedangkan pasukan dari Kertajaya melalui jalan setapak Lubuk Batu ke Jirak.

Penyerangan ini diketahui pihak Belanda. Sehingga mereka menunggu dan bersiap di sekitar markas mereka. Saat pasukan kita sampai mereka disambut hujan peluru, dan hujan mortir. Tidak ada korban jiwa, hanya banyak pasukan yang cidera dan luka-luka. Perang ini berlangsung dua jam dari pukul tiga pagi sampai pukul lima pagi.[2]

Untuk menghambat dan memutus hubungan laju tentara Belanda. Maka dikirimlah satu unit pasukan untuk menghancurkan Jembatan Manau Koneng. Karena perhubungan lalu lintas Jirak-Pendopo. Saat pasukan datang mereka disambut peluru tentara Belanda. Belanda yang lebih mengerti setrategi perang telah menjaga tempat-tempat pital. Pasukan kita gugur satu orang dan kemudian mereka mundur.[3]

Tiga hari setelah penyerangan ke Jirak. Kini tentara Belanda juga yang melancarkan penyerangan, 4 Agustus 1947. Sebelumnya telah dikirim Laskar Hisbullah dari Sekayu ke Pagarkaya. Mereka berjalan kaki sejauh 42 kilometer ke Pagarkaya. Dengan perintah langsung untuk menyerang tentara Belanda di Jirak.

Tapi sebelum perintah dilaksanakan Belanda terlebih dahulu menyerang ke Pagarkaya. Pasukan yang baru datang, TRI, Rakyat, Laskar Rakyat sedang melakukan musyawarah di rumah Bahrun pemimpin GPII Sungai Keruh. Musyawara membahas penyerangan kedua ke Jirak. Kemungkinan ada mata-mata Belanda yang menginformasikan atas kedatangan Pasukan dari Sekayu di Pagarkaya.

Saat sedang musyawara tersebut terdengar suara tembakan senjata tradisional Kecepek, di garis penjagaan. Datang melapor beberapa pasukan bahwa Belanda telah menyerang. Pasukan menyebar, kembali Husaini Sidik atau Luin memimpin pasukan.

Husaini Sidik atau Luin orang Pagarkaya pemimpin Laskar Hisbullah dengan pangkat Letnan Dua. Pertempuran sengit berlangsung berjam-jam. Tentara kita dan tentara Belanda bergantian maju dan mundur. Namun kembali senjata yang menentukan. Teknik hujan peluru dan mortir kembali diterapkan.

Pasukan kita berlompatan menghindari peluru dan ledakan mortir yang meledak memekakkan telinga dan merobohkan pohon-pohon. Selain persenjataan kurang pasukan kita yang terdiri dari rakyat biasa, hanya mengandalkan semangat saja. Pasukan terpaksa mundur dan ada lima orang gugur sebagai kesuma bangsa hari itu.[4]

Mundur dari Pagarkaya pasukan kita melakukan konsolidasi di Tebing Bulang. Tebing Bulang adalah markas pusat pasukan kita di Sungai Keruh. Tebing Bulang tempat kedudukan Sub Sektor Selatan Sungai Keruh di Markas Pendopo yang dipimpin Kapten Animan Achyat.

Tebing Bulang tempat yang setrategis di simpang empat, Sekayu, Sindang Marga, Kertayu dan Kertajaya. Enam hari setelah menguasai Desa Pagarkaya. Pasukan Belanda kembali melakukan serangan menuju Tebing Bulang, 10 Agustus 1947. Tentara kita terdiri dari dua seksi yang dikomandoi oleh Letnan Dayat dan Lettu Sunardi, yang dipimpin langsung oleh Kapten Animan Achyat.

Pertempuran berlangsung selama tiga jam. Dari pukul sembilan pagi sampai masuk waktu zuhur. Pertempuran tidak seimbang tentu kembali tentara kita mundur. Satu seksi mundur ke Kertajaya dan satu seksi mundur ke Desa Gajah Mati.

Di Gajah Mati rakyat dan laskar rakyat telah mempersiapkan semua kemungkinan terjadi. Pertempuran di Tebing Bulang tentara kita gugur lima orang dan tentara Belanda lima orang. Di Kertajaya tentara kita membangun pertahanan di bukit Selensing.

Tanggal 12 Agustus 1947 Belanda langsung menyerang dari dua jurusan. Bukit Selensing di Kertajaya dan Ke Desa Gajah Mati. Hari itu ada dua medan pertempuran. Belanda menggerakkan dua Seksi pasukan KL dan KNIL. Pertempuran di Kertajaya atau di Bukit Selensing gugur dua orang dan tentara Belanda tewas dua orang.

Sementara di Gajah Mati telah terbangun post cukup kuat. Pasukan Husaini Sidik sudah diperintahkan membangun post di Gajah Mati sejak 6 Agustus 1947 setelah mundur dari Pagarkaya. Tentara di sini terdiri dari satu regu tentara Gajah Mati, satu regu tentara Sabililah dari Babat Toman di pimpin H. Kopli. Tentara Belanda terdiri satu Kompi KL dan satu Kompi KNIL. Berkekuatan 200 orang tentara dengan senjata sangat lengkap.

Untuk menaklukkan kecamatan kecil Sungai Keruh. Diperkirakan Belanda mengerahkan pasukan mencapai ribuan tentara. Dari pasukan logistik, pengamanan, dan penyerbu. Selain melakukan penyerangan mereka juga menggerakkan pasukannya membangun markas di Tebing Bulang. Setelah kedudukan kuat di Tebing Bulang. Belanda mulai menyelidiki rakyat yang ikut membantu perang. Yang kemudian akan dilakuakan pembersihan dengan menangkap dan membantai rakyat sipil dua minggu setelah perang tersebut.

Pertempuran di Gajah Mati berlangsung dari pukul tujuh pagi sampai pukul sebelas siang. Pasukan Sabillah menjaga rumah-rumah masyarakat. Mereka berada di dalam rumah untuk melakukan perang duel kalau tentara Belanda masuk rumah penduduk. Hari itu, pertempuran di Gajah Mati tentara kita gugur lima orang dan tentara Belanda tewas delapan orang.

Mundur kembali, pasukan kita bertahan di Desa Rantau Sialang. Membangun pertahanan di kiri-kanan Jembatan Sungai Sake. Belanda menyerang dengan kekuatan satu peleton KL dan satu Peleton KNIL, kurang lebih 100 orang tentara. Pasukan kita terdiri dari Laskar Hisbullah dipimpin M. Qorik Ujud.

Laskar Berani Mati dipimpin Korik Bailangu. Pertempuran berlangsung dua jam, dari pukul satu siang sampai pukul tiga sore. Waktu pertempuran berlangsung datang bantuan dari Sekayu. Yaitu TRI (Tentara Republik Indonesia) yang dipimpin oleh A. Kosim Dayat. Pasukan TRI adalah pasukan istimewa waktu itu.

Karena perlawanan hebat dan bertahan mati-matian akhirnya tentara Belanda mundur ke Tebing Bulang dimana mereka telah membangun markas kuat. Pengiriman pasukan Belanda menyerang di Rantau Sialang hanyalah taktik menjauhkan tentara kita dari Tebing Bulang dan misi membaca medan perang untuk menaklukkan Desa Rantau Sialang.

Hari itu ada enam orang pasukan kita yang gugur dan rakyat semua mengungsi ke hutan. Pasukan kita bermusyawara dan juga mengetahui kalau Belanda telah membaca pola penyerangan selanjutnya ke Rantau Sialang. Maka, malam itu pasukan kita mundur ke Kilometer 17 untuk membuat pertahanan.

Pada tanggal 16 Agustus 1947, pasukan GPII dan Laskar Hisbullah yang dipimpin oleh Sersan Matseri Jimbun melakukan pemantauan pergerakan tentara Belanda. Mereka bertemu dengan tentara Belanda yang berpatroli dan terjadi kontak tembak di Rantau Sialang. Tidak beberapa lama pasukan kita mundur karena dikhawatirkan pasukan bantuan Belanda datang.

Pertempuran yang cukup membuat Belanda terpukul hebat adalah pertempuran di Jembatan Ketip Monel. Berjumlah 50 orang lebih tentara Belanda tewas ditempat. Kembali Belanda mundur ke Tebing Bulang. Di tengah jalan mundur itu, karenah marah pasukan Belanda kembali melakukan perbuatan keji. Mereka membakar sebuah rumah warga bernama Alwi yang memiliki penyakit tuli. Sehingga mati terbakar bersama rumahnya.

Penangkapan Rakyat di Kecamatan Sungai Keruh
Sudah di ceritakan sebelumnya kalau Belanda membangun markas di Tebing Bulang. Karena letak Tebing Bulang yang sangat setrategis. Sebagaimana dilakukan pasukan kita sebelumnya. Maka Belanda mulai melakukan pembersihan rakyat yang dianggap anti Belanda.

Belanda menyadari dan mengetahui kalau masyarakat Sungai Keruh sudah dari masa Jepang berperang. Tidak ada jalan lain selain mereka antisipasi dan membumihanguskan bibit-bibit perlawanan. Seandainya masyarakat Sungai Keruh terlati dan memiliki cukup senjata pastilah mereka akan kalah oleh segerombolan orang desa kecil di Sungai Keruh.

Dengan demikian Belanda menyelidiki dari markas mereka di Tebing Bulang untuk menangkap semua yang diperkirakan militan. Tebing Bulang adalah sasaran pertama karena disekeliling mereka. Pada tanggal 7 September 1947. Terdapat 25 orang yang berhasil Belanda tangkap, diantaranya:

1. Benih bin Benah (Tebing Bulang)
2. Daud bin Benih (Tebing Bulang)
3. Badri bin Djahamad (Tebing Bulang)
4. Nurdin bin H. Aman (Tebing Bulang)
5. Rahusin bin Sein (Tebing Bulang)
6. Sahunil bin H. Siin (Tebing Bulang)
7. Syamsuddin bin Kerun (Tebing Bulang)
8. Duwi bin Mail (Tebing Bulang)
9. Ropal bin Ali Arab (Tebing Bulang)
10. Utjin bin Akim (Tebing Bulang)
11. Soleh bin Jabal (Tebing Bulang)
12. Nurdin bin Soleh (Tebing Bulang)
13. Aso bin Remah (Tebing Bulang)
14. Malik bin Deris (Tebing Bulang)
15. Bahrun bin Bahri (Tebing Bulang)
16. Asis bin Unang (Tebing Bulang)
17. Su’un bin Musa (Tebing Bulang)
18. Nurdin bin Marsup (Tebing Bulang)
19. Suro (Gajah Mati)
20. Yusup Keria Kertajaya (Kertajaya)
21. H. Zainal bin Sayip (Asal Sekayu)
22. Basri bin Ujud (Asal Sekayu)
23. Malik bin Samiun (Asal Sekayu)
24. Ayub bin Djasam (Tebing Bulang)
25. Nunsi bin Rahman (Tebing Bulang).[5]

Mengapa hampir semua warga Tebing Bulang dan yang tinggal di Tebing Bulang. Hanya ada dua yang tinggal di luar Tebing Bulang tertangkap. Padahal hampir semua masyarakat di desa-desa di Kecamatan Sungai Keruh ikut perang dan membantu perang. Seperti di desa Pagarkaya misalnya.

Karena saat mendengar kabar adanya penangkapan tersebut yang di desa-desa lain segerah melarikan diri kehutan-hutan. Sementara di Tebing Bulang berada disekitar markas Belanda di Sungai Keruh. Mereka juga menjadi target pertama dan tidak menduga. Barulah informasi tersebut disebarkan oleh penduduk ke desa-desa lain setelah terjadi penangkapan-penangkapan di Tebing Bulang.

Mengenang tentang H. Zainal bin Sayip yang diperlakukan dengan biadab oleh tentara Belanda. Badannya diikat lalu ditarik dengan mobil. Di lehernya digantung tulisan yang berbunyi, “orang yang membakar jerambah.” Waktu kecil dahulu aku mendengar orang-orang tua barisan kakekku bercerita tentang Kakek Suro yang ditangkap Belanda.

Mendengar itu hampir semua laki-laki yang ikut membantu peperangan atau ikut perang bersembunyi ke hutan. Hanya Kakek Suro yang tertinggal informasi dan dia tertangkap oleh Belanda. Tentu juga ada pihak-pihak penghianat dari orang-orang kita. Semoga para penghianat yang sok bersih itu mendapat balasan di hari akhir nanti.

Semua yang ditangkap dibawa ke Pabel. Kemudian dimasukkan kedalam satu lubang dan dieksekusi mati. Kemudian hari setelah kemerdekaan keberadaan kuburan masal mereka dicari, bertemu. Lalu dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan di Pendopo. Sebagai putra daerah Sungai Keruh tentu kita bangga dengan kakek-kakek kita zaman dahulu.

Walau mereka bukan tentara tapi ikut mempertahankan kemerdekaan negara. Mereka berkorban jiwa dan raga, harta dan materi lainnya. Mereka membantu apa saja yang dapat mereka bantu. Sudah selayaknya perjuangan mereka semua dihargai. Dikenang, dikenal, diketahui oleh generasi sekarang.

Mari kita suarakan pembangunan sebuah Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA), di Tebing Bulang. Di MONPERA harap ditulis nama-nama yang telah dibantai Belanda tersebut. MONPERA juga mengenang dan menghargai semua jerih payah rakyat Sungai Keruh dari masa perlawanan terhadap Jepang dan Belanda. Rakyat Sungai Keruh telah membuktikan kalau mereka adalah pejuang dan pemberani.

Pengertian:
KNIL: Koninklijk Nederlandsch Indisce Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Banyak anggota tentara KNIL dari orang-orang Indonesia asli, dan orang Indo-Belanda (keturunan campuran). Mereka yang non-Muslim tetap setia dengan Belanda semasa perang kemerdekaan. Sementara yang muslim bergabung dengan tentara dan rakyat berperang melawan Belanda. Misalnya seperti Presiden Soeharto semasa penjajahan sebelum Jepang datang juga menjadi KNIL. Tapi saat perang kemerdekaan dia dan kawan-kawan menjadi tentara republik.
KL. Juga bagian dari KNIL tapi penulisan untuk membedakan kelompok parajurit KNIL orang Belanda tulen.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 29 November 2019.
Sumber: Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, t.pn. ttp, 2010.


[1]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, t.pn. ttp. H. 108.
[2]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, h. 109.
[3]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, h. 110.
[4]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, h. 111.
[5]Yusman Haris, Pergolakan-Pergolakan di Daerah Musi Banyuasin, h. 117.


By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment