10/31/2019

Mitos Hantu Air di Sumatera Selatan

Apero Fublic.- Hantu Air adalah sejenis mahluk halus atau siluman yang tinggal di dalam air, seperti lautan, sungai atau danau. Di Sumatera Selatan nama Hantu Air bermacam-macam nama. Di Kota Palembang lebih sering disebut hantu banyu. Nama hantu banyu adalah nama baru, karena bentuk pengaru bahasa jawa.

Di berbagai tempat di Sumatera Selatan sering disebut dengan dugokDugok adalah nama untuk hantu air. Di sebagian lagi dinamakan indung dogok. Indung bermakna induk. Dinamakan demikian karena hantu air dipercayai wanita tua. Di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin sendiri dikenal dengan nama Dugook. Ada juga yang menamakan dengan Suban Ayo.

Suban bermakna siluman, dan ayo bermakna air. Mitos ini dahulu lebih di kenal dengan nama Suban Ayo, Suban Aek, Suban ayek, tergantung logat bahasa Melayu Sumatera Selatan. Penyebutan Hantu Air adalah pengindonesiaan istilah-istilah tersebut.

Ciri-ciri yang dikenal oleh masyarakat luas di Sumatera Selatan. Yaitu, wujud Hantu Air adalah seorang wanita tua berumur limapuluhan tahun. Warna kulit kuning langsat dengan alis mata yang hitam dan lebat. Matanya berwarna merah dan hitam. Tinggi badan seukuran wanita normal sekitar 160 cm. Kuku tangan sepanjang lima senti meter, runcing. Memiliki dua gigi taring diatas dan bawah. Taring sedikit lebih panjang dari gigi-gigi lainnya.

Yang menjadi ciri khas dari Hantu Air ini adalah rambutnya yang sangat panjang. Panjang rambut Hantu Air dua kali panjang tubuhnya. Sehingga saat berjalan rambutnya menyeret di atas tanah. Maka akan tampak bekas seretan rambutnya. Apabila rambut itu basah saat baru keluar dari air maka tampak basah dari seretan rambutnya pada apapun yang dilewati.

Rambut panjang Hantu Air memiliki kekuatan ajaib. Dapat bergerak hidup seperti ular-ular. Melilit, melibas, dan mencekik. Rambut-rambut panjang menyatu lalu membuat gulungan-gulungan menyerupai tali litam. Rambut-rambut dikendalikan oleh kemauan si Hantu Air. Misalnya kemauannya membelit maka akan membelit. Kemauannya menggantung maka akan menggantung. Kemauannya memukul akan memukul. Sehingga rambutnya seperti ular hidup yang bergerak-gerak.

Hantu Air tetap selalu ingin didekat air yang dapat membuat dia menyelam. Apabila dia ingin menjangkau korban yang tidak pernah ke sungai atau tidak pernah di kedekat sumber air. Dia akan menunggu musim banjir. Hantu Air kalau malam bulan purnama suka muncul ke permukaan air. Disekitar dia tinggal. Lalau duduk atau bergelantungan pada tumbuhan merambat di atas air. Tempat yang dia sukai adalah sumber air yang dalam dan tenang.

Hantu Air menyerang korban saat manusia berada di dalam air seperti saat mandi. Saat berada di atas perahu atau rakit. Manusia yang di Serang berada di sekitar tebing sungai atau danau yang di diaminya. Seandainya dia marah pada manusia akan didatanginya saat musim banjir. Dari dalam air rambut Hantu Air bergerak menyerang. Seperti membelit, melibas mulut, lalu menarik kedalam air. Korban mati lemas atau mati tercekik saat rambut yang membentuk seperti tali melilit lehernya.

Menurut masyarakat yang percaya pada mitos ini. Korban Hantu Air yang paling banyak adalah anak-anak. Hampir setiap kali musim banjir anak-anak sering jadi korban. Hantu Air yang merasa kesepian tinggal di dalam air. Sehingga dia mencari korban untuk teman hidup di dalam air. Ada juga yang berpendapat anak-anak tersebut dijadikannya mainan seperti boneka. Namun karena dibawak kedalam air Dimana manusia tidak dapat bernafas, akan mati.

Mitos Hantu Air berasal dari daerah Kecamatan Sungai Keruh, di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Lalu menyebar ke seluruh bagian pulau Sumatera Bagian Timur. Seperti Bengkulu, Jambi, Lampung, Bangka Belitung, Sumatera Selatan. Mitos ini berkembang pesat zaman dahulu karena sangat berguna untuk orang Melayu yang rata-rata pemukimannya di sekitar sumber air (laut, sungai, danau). Mitos berawal dari seringnya anak-anak mati tenggelang di sungai.

Masa itu, perkampungan masyarakat Melayu di Kecamatan Sungai Keruh semuanya di tepian Sungai Keruh. Bangunan rumah menghadap ke badan sungai. Memang dahulu sungai adalah jalur transportasi masyarakat Melayu. Air sungai yang dalam dan deras, apalagi saat banjir, sangat berbahaya untuk anak-anak.

Baik itu karena jatuh, terseret air, atau taberak[1] di dalam air. Kesukaan anak-anak terhadap air telah menjadi kekhawatiran orang-orang tua. Dimana mereka harus ke ladang untuk bekerja. Meninggalkan anak-anak di rumah. Maka dicarilah bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut. Lalu dikaranglah mitos tentang hantu air. Masa itu, orang-orang tua suka berandai-andai atau mendongeng. Saat itulah diceritakan tentang Hantu Air. Hantu Air yang menghuni lubuk-lubuk yang dalam di sungai-sungai atau danau.

Hantu air juga akan selalu keluar saat musim banjir mencari korban. Dengan cerita hantu air yang menakutkan ini. Menjadi pengendali kenakalan anak-anak yang suka bermain air. Sangat efektif menakuti anak-anak masa itu. Sehingga mereka hanya mau mandi di sungai, di danau, atau bermain air saat banjir. Apabila bersama-sama orang tua mereka.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 1 November 2019.
Sumber. Cerita masyarakat.


[1]Taberak bermakna orang yang terjatu ke air sungai atau danau dan tidak dapat berenang. Sehingga dia tenggelam dan lemas. Kalau tidak di tolong atau di tarik keluar maka dia akan mati lemas.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment